Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kalau Edo Tensei Benar-benar Ada, Cina Bakal Jadi yang Terdepan, Indonesia Terbelakang

Fadhel Yafie oleh Fadhel Yafie
7 Oktober 2020
A A
edo tensei
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Dunia berlomba untuk mengembangkan teknologi menghidupkan orang mati. Dalam perlombaan itu, Cina masih berada di garis terdepan. 

Sejak dulu kala, manusia selalu berusaha, bahkan cenderung terobsesi, untuk mengakali kematian. Karena alasan itulah ilmu kesehatan dan kedokteran lahir. Obsesi yang panjang itu membuahkan hasil yang tak main-main. Sampai hari ini, manusia sudah berhasil memukul mundur banyak sekali penyakit mematikan. Pada abad ke-20, manusia bahkan sudah mampu mencatatkan prestasi luar biasa dengan melipatgandakan angka harapan hidup dari 40 ke 70 tahun.

Manusia selalu mati karena kesalahan teknis dalam tubuhnya: jantung berhenti memompa darah, arteri utama tersumbat oleh timbunan lemak, sel-sel kanker menyebar ke organ vital, virus menyerang paru-paru, dan lain sebagainya. Bagi orang-orang modern, kematian adalah sebuah masalah teknis. Dan selayaknya masalah teknis, ia selalu memiliki solusi yang teknis pula.

Dari sudut pandang manusia, kesalahan teknis itulah yang disebut sebagai penyakit. Virus corona yang masuk ke dalam tubuh dan menghuni paru-paru sehingga membuat pemilik paru-paru menjadi kesulitan bernapas itu adalah salah satu contoh kesalahan teknis. Kalau dilihat dari sudut pandang si virus corona, dia sejatinya cuma numpang hidup dan berkembang biak. Ini tak ubahnya seperti manusia yang membabat hutan dengan alasan membuka lahan demi menciptakan ruang bagi manusia untuk hidup dan berkembang biak.

Manusia memang sudah menemukan solusi teknis dari sekian banyak penyakit yang menyerang mereka. Dari kadas dan kurap sampai gangguan jantung hingga kanker. Kendati demikian, tentu saja akan selalu ada penyakit-penyakit baru dan beberapa penyakit lama yang manusia belum punya kesempatan atau kemampuan untuk menemukan solusi teknisnya.

Dalam kondisi yang demikian itulah manusia menampakkan diri sebagai makhluk yang keras kepala dan pantang menyerah. Lahirlah apa yang kemudian dinamakan sebagai teknik cryonics, semacam usaha untuk mengakali ketidakmampuan manusia dalam menemukan solusi teknis atas penyakit.

Cryonics adalah konsep manusia untuk “menghidupkan” kembali orang yang telah mati selayaknya jurus Edo Tensei dalam serial anime Naruto itu.

Teknisnya sederhana. Setelah seseorang dinyatakan mati, dia kemudian dimasukkan ke peti mati super dingin dengan nitrogen cair dengan suhu di bawah minus 130 derajat celsius agar organ-organ tubuhnya tak rusak. Kelak, jika di kemudian hari solusi teknis atas penyakit yang membunuhnya itu ditemukan, dia bisa dibangkitkan kembali dengan cara mengobatinya dari sakit alias gangguan teknis yang menyebabkan dirinya mati.

Terdengar sangat dahsyat dan mengerikan. Bahkan untuk ukuran ketika dunia teknologi sudah sangat maju seperti sekarang. Namun, tak bisa dimungkiri, tindakan cryonics ini telah menjadi sebuah perhatian tersendiri di kalangan para peneliti medis.

Peminatnya pun tak main-main. Saat ini, sudah ada 350 pasien yang dibekukan dan menunggu dibangkitkan kembali dan sudah ada ribuan orang yang menandatangani perjanjian untuk menjalani prosedur cryonics setelah mereka mati nanti. Ada empat tempat yang bisa kamu datangi jika kamu tertarik untuk mengikuti jejak orang-orang yang sudah menandatangani prosedur ini: dua di Amerika Serikat, satu di Rusia, dan sisanya ada di Cina.

Namun, tentu perlu untuk diperhatikan bahwa cryonics tak akan pernah mudah. Apa saja yang berhubungan dengan kematian memang sudah seharusnya rumit dan berbelit-belit. Sama seperti jurus Edo Tensei yang banyak dipermasalahkan oleh para ninja, membangkitkan orang mati dengan prosedur cryonics ini juga terus menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan.

“Menghidupkan” kembali orang mati, sekali lagi, bukanlah urusan remeh. Ajal itu urusan Tuhan. Manusia seharusnya tak perlu ikut campur terlalu jauh. Di poin inilah perdebatan tentang cryonics menguar.

Sepanjang sejarah, agama-agama besar di dunia secara tegas menyakralkan sesuatu di luar eksistensi duniawi. Islam, Kristen, Hindu dan banyak agama lain menegaskan bahwa makna eksistensi kita bergantung pada nasib kita di akhirat yang kekal. Kematian adalah jembatan untuk menemukan makna kehidupan sesungguhnya. Mengakali kematian tentu dianggap sebagai bentuk pengkhianatan besar pada Tuhan.

Prosedur cryonics di Amerika Serikat masih terganjal persoalan regulasi, etika dan agama. Begitu juga di Rusia. Sedangkan di Cina, cryonics tampaknya punya masa depan yang cerah.

Iklan

“Alcor dan Cryonics Institute di Amerika Serikat tidak bermitra dengan fasilitas medis apa pun. Mereka harus mengikuti hukum di bawah industri pemakaman. Setelah tubuh dimasukkan ke dalam nitrogen cair, selesai. Itu hanya fasilitas penyimpanan. Ini seperti orang-orang memiliki kuburan yang beku,” sebut Aaron Drake.

Aaron Drake adalah mantan direktur medis di Alcor, Amerika Serikat yang bergabung menjadi direktur medis di The Shandong Yinfeng Life Science Research Institute (satu-satunya pusat penelitian cryonics di Cina) pada tahun 2016.

Ia menyatakan bahwa kepercayaan masyarakat Cina jauh lebih mudah menerima konsep ala Edo Tensei ini dibandingkan dengan kepercayaan Barat.

“Pemerintah Cina tidak ingin kami hanya melakukan proyek pembekuan tubuh. Pemerintah Cina ingin proyek ini dapat bermanfaat bagi semua bidang kesehatan. Kami bekerja sama dengan ahli bedah, ahli anestesi, ahli syaraf, dan lain sebagainya. Ini adalah proyek penelitian yang besar dan hal ini yang membuat saya bergabung dengan mereka,” lanjutnya.

Kebudayaan barat memang dipersulit oleh pemikiran bahwa Tuhan memiliki rencana untuk mereka setelah mereka meninggal. Mereka juga ragu apakah agama memperbolehkan mereka untuk dibekukan. Jadi, meskipun Yinfeng memulai penelitian cryonics 50 tahun lebih lambat dari rekan-rekan baratnya, potensi kemajuan teknologi cryonics di Cina jauh lebih besar tanpa hambatan agama.

Jika kelak teknologi cryonics ini benar-benar menunjukkan gelagatnya untuk semakin sempurna, maka bukan tak mungkin Cina bakal menjadi negara terdepan dalam bidang bangkit-membangkitkan orang mati ini.

Negara-negara maju dari kelompok barat seperti Amerika dan Eropa tentu saja juga akan jaya, walau tentu saja, mereka butuh effort yang lebih besar karena faktor agama.

Sedangkan negara yang bakal menjadi yang paling tertinggal tentu saja tak lain dan tak bukan adalah Indonesia. Negara kita tercinta ini.

Ini serius. Dalam urusan per-cryonics-an, Indonesia memang tak punya potensi untuk tumbuh. Selain karena faktor teknologi yang memang tak mendukung, Indonesia juga negara yang sangat religius. Dalam survei The Global God Devide yang dilakukan oleh Pew Research Center beberapa waktu yang lalu, Indonesia diketahui merupakan negara paling religius di dunia.

Adalah hal yang mustahil bagi orang-orang Indonesia untuk “mengkhianati” takdir yang sudah ditetapkan Tuhan di Lauhul Mahfuz. Orang Indonesia tak mungkin berani untuk mengambil alih peran Tuhan. Kapasitas orang Indonesia dalam berlagak seperti Tuhan mentok hanya berada di level mengafirkan orang lain atau mengaveling surga dan neraka untuk orang-orang yang mereka kehendaki. Selebihnya, mereka tak punya nyali.

Adapun alasan yang paling besar tentu saja adalah urusan biaya. Untuk bisa melakukan prosedur pembekuan seluruh badan, seseorang setidaknya membutuhkan biaya mulai dari 200.000 USD atau setara nyaris 3 miliar rupiah. Itu belum termasuk biaya transportasi dari Indonesia dan biaya pengobatan kalau memang obatnya sudah ditemukan.

Dengan penghasilan per kapita dan UMR yang saking rendahnya sampai kerap membuat orang memilih mati saja, mustahil untuk menghidupkan iklim cryonics di Indonesia.

Di Indonesia, urusan biaya selalu menjadi prioritas. Tak sedikit orang Indonesia yang jauh lebih takut pada biaya berobat, biaya pemakaman, dan biaya tujuh harian ketimbang pada kematian itu sendiri.

Kalau sudah demikian, untuk apa cryonics–cryonics-an segala? Kok kayak orang kurang kerjaan aja.

BACA JUGA Naruto, Orang Baik yang Tetap Baik Meski Disakiti

Terakhir diperbarui pada 7 Oktober 2020 oleh

Tags: cinacryonicsedo tensei
Fadhel Yafie

Fadhel Yafie

Pengusaha yang usahanya gak maju-maju amat dan berminat banting setir jadi penulis. Lulusan fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Artikel Terkait

Tanpa Cina dan Pecel Lele, Mental Orang Jawa Pasti Ambruk (Wikimedia Commons)
Pojokan

Persahabatan Aneh dengan Anak Cina Membawa Saya ke Pecel Lele di Bawah Jembatan Janti yang Menjadi “Pelarian” bagi Orang Jawa

16 Februari 2026
Ketika Dosen UGM Mengajar di Cina saat Natal dan Tahun Baru: Libur Bukan Hadiah, tetapi Utang yang Harus Dibayar Lunas MOJOK.CO
Esai

Ketika Dosen UGM Mengajar di Cina saat Natal dan Tahun Baru: Libur Bukan Hadiah, tetapi Utang yang Harus Dibayar Lunas

2 Januari 2026
BYD M6, Raja Baru Mobil Listrik yang Membuat Wuling Ketakutan MOJOK.CO
Otomojok

BYD M6 Berhasil Menjadi Raja Baru Mobil Listrik di Indonesia yang Bisa Membuat Wuling Ketakutan

23 April 2025
Pengalaman Orang Indonesia yang Hidup di Cina: Makanannya Enak, Lingkungannya Begitu Menyenangkan, tapi Hati-hati dengan Toilet Umumnya!
Liputan

Pengalaman Orang Indonesia yang Hidup di Cina: Makanannya Enak, Lingkungannya Begitu Menyenangkan, tapi Hati-hati dengan Toilet Umumnya!

4 Juni 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

User bus ekonomi Sumber selamat pertama kali makan di kantin kereta api. Termakan ekspektasi sendiri MOJOK.CO

User Bus Sumber Selamat Pertama Kali Makan di Kantin Kereta, Niat buat Gaya dan Berekspektasi Tinggi malah Berakhir Meratapi

25 Februari 2026
Upaya 1 tahun Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang kerja untuk warga, apa hasilnya? MOJOK.CO

Upaya 1 Tahun Pemkot Semarang Bekerja untuk Warga di Tengah Ragam Tantangan dan Keterbatasan, Apa Hasilnya?

23 Februari 2026
Jangan Remehkan Supra X 125, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang Mojok.co

Jangan Remehkan Supra X 125 Lawas, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang

25 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
5 makanan khas Jawa Timur (Jatim). Beri kesempatan kaum pas-pasan cicipi kuliner terbaik/terenak dunia MOJOK.CO

5 Makanan Khas Jawa Timur yang Beri Kesempatan Orang Pas-pasan Nikmati Kuliner Terenak Dunia, Di Harga Murah Pula

1 Maret 2026
Pakai hp android Samsung S26 terintimidasi user iPhone. Tapi tak berpaling karena Samsung lebih berguna dari iPhone yang hanya memperdaya pengguna MOJOK.CO

Pakai Samsung Terintimidasi User iPhone, Tak Berpaling karena Lebih Berguna dari iPhone yang Memperdaya Penggunanya

26 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.