Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Jokowi Adalah Simbol Paradoks Demokrasi

Geger Riyanto oleh Geger Riyanto
4 November 2020
A A
jokowi
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Penyelewengan demokrasi di masa kepemimpinan Jokowi terjadi justru karena sang presiden “terlalu merakyat”, alias tidak punya kendaraan dan afiliasi politik.

Tentu saja saya tak mau memburuk-burukkan presiden. Saya cuma mau bilang: Jokowi adalah simbol paradoks demokrasi. Dan mungkin dia akan jadi inspirasi yang tak habis-habis untuk perenungan praktis dan akademis tentang politik Indonesia di masa depan.

Jokowi, tak bisa tidak, adalah presiden pertama yang terpilih pascareformasi tanpa latar belakang yang wah. Ia tak berlatar belakang militer, tak dibekingi ormas agama terbesar atau partai, juga tak lahir dari trah politik tertentu. Karier politiknya ketika memenangi pilpres baru seumur jagung.

Sebagai bagian dari “rakyat biasa”, kemenangan-kemenangan Jokowi seolah menyimbolkan bahwa demokrasi berjalan di Indonesia. Kemenangan Jokowi dalam Pilgub 2012 dan Pilpres 2014 disambut euforia yang luar biasa. Ya, seluar biasa itu kalau kalian ingat.

Bukan hanya warga Indonesia, para pengamat politik dari dalam maupun luar negeri juga ikut tercantol dalam euforia ini. Jokowi dianggap selayaknya pahlawan yang menyelamatkan wajah demokrasi. Dia sudah mengalahkan lawan yang merupakan pengejawantahan dari oligarki.

Namun, lantaran statusnya sebagai “orang luar” yang tak punya modal sama sekali di dunia politik Indonesia selain citra merakyatnya —yang bisa membantunya cuma ketika pemilu datang— Jokowi harus menerima kenyataan bahwa dia sejatinya tersandera di mana-mana.

Di partainya sendiri, ia sering tidak dianggap (gestur yang menunjukkan bahwa ia adalah petugas atau subordinat partai sering sekali dipajang terang-terangan). Dia juga tidak punya afiliasi-afiliasi belakang layar yang bisa membantunya untuk lobi ke parpol-parpol. Pada akhirnya, dia mengandalkan sosok seperti Luhut yang sudah jadi sponsornya sedari awal sejak ia maju sebagai walikota Solo. Luhut punya semua yang tidak dipunyai Jokowi: afiliasi dengan parpol (khususnya Golkar), afiliasi dengan militer, serta modal bisnis yang kuat.

Apa yang kemudian bisa dilakukan Jokowi sebagai “paria politik”? Yang paling utama tentu saja adalah transaksi politik. Menawarkan imbalan sebesar-besarnya bagi yang bisa membantu melancarkan dan memuluskan kebijakan-kebijakannya.

Langkah lainnya adalah mengangkangi prosedur bahkan membatalkan pencapaian reformasi. Militer dilibatkan dalam program-program eksekutif. Dwifungsi diam-diam diaktifkan lagi. Dengan partai yang tak berada di bawah kendalinya ditambah dengan kerumitan birokrasi, Jokowi mencoba membentuk pengaruh lewat polisi dan militer yang memang jaringannya tersebar sampai ke tingkat desa.

Pelibatan polisi dan militer ini jadi gamblang pasca 2019. Menteri-menteri dipilih dari mantan petinggi polisi atau militer. Sebagai presiden yang disponsori bekas petinggi militer, dia tampaknya belajar dan diajari bahwa aparatus inilah yang memang terbukti efektif untuk memuluskan kebijakan.

Kalau Jokowi tampak sungkan mengintervensi UU kontroversial dan merugikan yang diajukan bukan hanya oleh DPR tapi juga kementeriannya sendiri (ehem, UU KPK), itu lebih karena keleluasaan politik yang diserahkannya kepada partai-partai.

Yang termutakhir tentu saja UU Cipta Kerja. Saya merasa banyak sekali pasal selundupan dalam UU besar yang merombak 76 UU ini. Selundupan partai maupun selundupan pengusaha. Motif Jokowi sendiri melalui UU ini sepertinya adalah menadah investasi sebanyak-banyaknya.

Meski memang Jokowi sudah pening sejak lama terkait hambatan investasi, namun pendorong besar tercetusnya UU ini adalah presentasi World Bank: dari 33 pabrik yang direlokasi Cina ke Asia Tenggara, tidak ada satu pun yang direlokasi ke Indonesia.

Nah, bagaimana caranya agar UU yang sangat berpengaruh ini bisa disahkan secepat-cepatnya? Tentu saja melalui kesepakatan dengan partai-partai. Pola pada titik ini kelihatan sangat jelas. Partai-partai, atau paling tidak elite-elitenya, diberikan ruang untuk menumpangkan kepentingannya ke dalam UU tersebut.

Iklan

Beberapa media jelas-jelas mendukung UU ini. Dan mereka yang mendukung adalah yang bos-bosnya dilibatkan dalam Satgas UU Cipta Kerja. Hasilnya, di sektor penyiaran, UU Cipta Kerja berpotensi melicinkan dominasi segelintir konglomerasi media besar.

Tentu tak usah diterangkan lebih jauh lagi rasanya bagaimana UU ini disahkan dengan manuver-manuver yang sangat tidak demokratis. Kita semua rasanya sudah sangat paham.

Dan, ya, semua penyelewengan demokrasi itu terjadi di masa pemerintahan Jokowi. Presiden yang awalnya digadang-gadang sebagai simbol demokrasi, sebagai simbol kemenangan rakyat.

Sangat ironis, sebab terjadinya penyelewengan tersebut justru salah satunya karena sang presiden “terlalu merakyat”, alias tidak punya kendaraan dan afiliasi politik.

Itulah kenapa di awal saya mengatakan bahwa Jokowi adalah simbol paradoks demokrasi.

Kenyataannya, dalam sistem politik kita sekarang, dukungan rakyat memang hanya berguna pada saat pemilu. Pengecekan kekuasaan, terjadi cuma lima tahun sekali, itu pun belum tentu efektif.

Jokowi pernah mengatakan dia akan memimpin tanpa beban di periode kedua. Sekarang, terang belaka bahwa beban yang dimaksud olehnya adalah “beban elektabilitas”. Tanpa beban ini, dia dapat menunjukkan transaksi politik secara terang dengan pihak-pihak yang sudah disebutkan bisa memuluskan kebijakannya.

BACA JUGA UU Cipta Kerja dan Ucapan Selamat Datang pada Orde Baru Generasi Kedua dan artikel Geger Riyanto lainnya. 

Terakhir diperbarui pada 24 September 2025 oleh

Tags: jokowiLuhutomnibus lawUU Cipta kerja
Geger Riyanto

Geger Riyanto

Artikel Terkait

Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi.MOJOK.CO
Aktual

Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi

7 Maret 2025
3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini MOJOK.CO
Esai

3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini

26 Februari 2025
Afnan Malay: Membedah Hubungan Prabowo-Jokowi Setelah Pemilu dan Janji Program MBG
Video

Afnan Malay: Membedah Hubungan Prabowo-Jokowi Setelah Pemilu dan Janji Program MBG

18 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

omong kosong srawung di desa.MOJOK.CO

Omong Kosong Slogan “Srawung” di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati

18 Mei 2026
Ujian SIM C. MOJOK.CO

Pelajaran Berharga dari Gagal Ujian SIM C Sebanyak 11 Kali: Diam Bukan Pilihan untuk Melawan Hal yang Janggal

18 Mei 2026
Janji Bodong Revolusi Industri: Aplikasi AI Mulai Membantai Pekerja Kreatif Lokal MOJOK.CO

Janji Bodong Revolusi Industri: Aplikasi AI Mulai Membantai Pekerja Kreatif Lokal

18 Mei 2026
Tips hadapi teman toxic dalam pertemanan: tidak akrab tapi selalu datang kalau ada butuhnya MOJOK.CO

Lepas dari Teman Tak Akrab yang Selalu Merepotkan pas Ada Butuhnya, Dibenci tapi Perasaan Tidak Enakan Lebih bikin Rugi!

13 Mei 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada MOJOK.CO

Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada

11 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.