Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Jogja Mulai Macet, Mari Kita Mulai Menyalahkan 7 Juta Wisatawan yang Datang Berlibur padahal Dosa Ada di Tangan Pemerintah

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
23 Desember 2025
A A
Jogja Macet Dosa Pemerintah, tapi Mari Salahkan Wisatawan Saja MOJOK.CO

Ilustrasi Jogja Macet Dosa Pemerintah, tapi Mari Salahkan Wisatawan Saja. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Warga memang tidak boleh liburan. Liburan bagi warga Jogja adalah menonton orang yang sedang liburan.

Libur telah tiba. Artinya, sudah saatnya mendekam di rumah untuk para warga Jogja. Akan tiba saatnya imbauan lucu muncul seperti tahun-tahun sebelumnya. “Jika tidak ada keperluan mendesak, warga Jogja disarankan di rumah saja.”

Masalahnya, liburan ke pantai ini kan masuk kategori bukan keperluan yang mendesak. Tidak ada riwayatnya, orang yang tidak pergi ke pantai tiba-tiba demam dan meronta-ronta. Arti lainnya, kita ini memang tidak disarankan untuk liburan. Liburan bagi warga Jogja adalah menonton orang yang sedang liburan.

Nah, kondisi macam ini sejatinya rawan untuk memunculkan konflik horizontal antara warga dan wisatawan. Warga akan menganggap bahwa inti permasalahan kotanya yang tiba-tiba jadi macet dan sumpek adalah wisatawan. Tapi, apakah benar-benar begitu?

Yang mengundang wisatawan adalah Jogja

Saya memandang hal ini sebenarnya cukup sepele. Wisatawan itu saya ibaratkan adalah tamu undangan untuk menghadiri pesta. Mereka diundang untuk datang, menikmati hidangan, dan menyaksikan berbagai acara. Dan Jogja saya ibaratkan adalah penyelenggara pesta.

Melalui medium apa para wisatawan ini diundang? Bukan undangan berupa kertas yang disebar, melainkan citra yang dibangun. Hotel-hotel yang menjamur, slogan-slogan indah yang bertebaran, dan hal-hal romantis yang menjadi pengikat utama.

Sayangnya, citra yang dibangun ini tidak berlandaskan oleh fakta yang terjadi saat ini juga. Misalkan daerah selatan yang rawan banjir kiriman dari sisi utara. Sebab, di sisi utara pembangunan hotel meningkat pesat, resapan menjadi kurang, dan muntahan banjir akan terlempar begitu saja tanpa filter yang cukup.

Selain itu, mengundang wisatawan artinya, selain masalah kebahagiaan mereka, juga memperhatikan keamanan mereka. Lihat saja area ring road, ketika melewati sana seakan kau sudah terlempar ke dalam dimensi yang berbeda. Lubang hitam seakan-akan menyedot dirimu. Gelap sekali seperti pasar malam pukul dua pagi yang sudah selesai beroperasi.

Slogan-slogan seperti “romantis” dan “istimewa” memang melekat. Tapi, julukan “Jogja serba murah” tentu akan lebih menggoda. Dulu sih iya, tapi sekarang kok ya rasanya sama saja. Dan ketika kami protes harga-harga meningkat drastis, maka akan ada jawaban brengsek macam, “Target pasarnya bukan kamu.”

Ketika kota ini menjadi macet, sumpek, dan menyedihkan ketika musim liburan, itu artinya kota ini sukses besar masalah promosi. Namun tidak masalah tata kelola kota. Sebab, kota ini sibuk untuk mendatangkan untung sebesar-besarnya, namun tidak memikirkan nasib warga di dalamnya.

Baca halaman selanjutnya: Siapa yang bikin Jogja macet?

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 23 Desember 2025 oleh

Tags: Jogjajogja macetliburan ke jogjanataru jogjatata kota Jogja
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Bercita-cita menjadi pelatih Nankatsu. Mahasiswa filsafat.

Artikel Terkait

Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO
Ragam

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
Kos horor di Jogja.MOJOK.CO
Ragam

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)
Pojokan

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
Mobilitas bus pariwisata menjadi tantangan tersendiri bagi Kawasan Sumbu Filosofi (KSF) dan tata kelola di Jogja MOJOK.CO
Liputan

Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata

10 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

alfamart 24 jam.MOJOK.CO

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026
flu.mojok.co

Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19

9 Januari 2026
Santri penjual kalender keliling dan peminta-minta sumbangan pembangunan masjid meresahkan warga desa MOJOK.CO

Santri Penjual Kalender dan Peminta Sumbangan Masjid Jadi Pengganggu Desa: Datang Suka-suka, Ada yang Berbohong Atas Nama Agama

8 Januari 2026
19 Tahun Gempa Jogja dan Teror di Bangsal Rumah Sakit MOJOK.CO

19 Tahun Setelah Gempa Besar Mengguncang, Ingatan akan Teror di Sebuah Rumah Sakit Besar di Jogja Datang Kembali

8 Januari 2026
“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian .MOJOK.CO

“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 

11 Januari 2026
Ngerinya jalan raya Pantura Rembang di musim hujan MOJOK.CO

Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi

12 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.