Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Jogja Jadi Tempat Wisata Murah kan Menurutmu

Moddie Alvianto W. oleh Moddie Alvianto W.
13 Juli 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Jogja dibilang sebagai daerah yang apa-apa murah. Dari harga makanan, tempat wisata, sampai tempat-tempat nongkrong. Ah, kata siapa?

Sebuah utas melintas di timeline twitter ketika saya sedang menikmati istirahat sore. Utas tersebut berisi tentang “daftar wisata murah di Jogja”.

Tentu saja, saya bergegas melihat, kepo dari awal sampai akhir. Bahkan sampai reply-replynya, karena itu sungguh menarik dan menggelitik. Hasilnya? Alih-alih mendukung utas tersebut, malah jadinya perang cercaan antarnetizen. Perang yang mengerucut pada satu hal, apakah benar di Jogja sekarang apa-apa masih murah?

Saya pun ngekek sejenak. Namun kemudian, berpikir. Apa masih layak Jogja dianggap tempat wisata yang ideal hanya karena murah?

Tentu saja yang dimaksud wisata di sini tidak hanya plesir ke tempat macam Candi Ijo, Bukit Teletubbies, atau Pantai Depok Baru, melainkan juga kuliner asik dari ujung Turi, Sleman hingga ke Nanggulan, Kulonprogo.

Sebagai orang yang sudah tinggal di Jogja hampir seperempat abad, sepanjang waktu itu pula Jogja banyak berubah. Wajar. Berubah ke arah lebih baik atau tidak, itu sih tergantung perspektif masing-masing.

Sebagai contoh, daerah yang sekarang saya tinggal; Nologaten. Dulu, daerah ini isinya kebun tebu, peternakan hewan, dan sebagian sawah. Kalau sekarang, masih tetap kebun sih. Cuman sebutannya yang berbeda. Kebun kos-kosan.

Lho iya, ini serius. Jarang pemilik rumah yang tak menambah ruang untuk dijadikan kamar atau terkadang malah mengontrakkan rumahnya. Pada akhirnya, wajar jika hampir sepanjang daerah tersebut sekarang adalah kos-kosan.

Bahkan, teman sekolah saya sering berkelakar kepada saya jika melihat masih ada sawah yang bertahan di situ, “Ayo ini sawah akan bertahan sampai berapa lama?”

“Ah, paling 10 tahun lagi udah jadi warung kopi apa ruko.”

Eh, ternyata dugaannya banyak yang meleset. Nggak sampai 5 tahun sawah-sawah itu sudah dijual atau disewakan.

Memang, di daerah tempat tinggal saya dulu itu, jika ada tanah “nganggur” atau pemandangan yang hijau di pinggir jalan, yah hampir bisa dipastikan tidak cukup lama akan dialihfungsikan jadi kos-kosan atau dijadikan usaha macam kedai makanan yang lagi populer saat ini, kedai kopi.

Nah, melihat menjamurnya kedai kopi di daerah itu, sempat tercipta anekdot di antara teman-teman kampung saya.

“Dalam dua minggu ke depan, akan ada dua-tiga kedai kopi baru bermunculan, tapi dalam dua bulan mendatang, akan ada empat-lima kedai kopi yang tutup.”

Iklan

Hal itu memang benar. Daerah Nologaten tempat tinggal saya dulu itu kini sudah jadi layaknya etalase kopi. Menyajikan bermacam rasa, persaingan harga, kenyamanan kedai, hingga kehangatan dari pramusaji. Eh.

Mengenai soal harga, kedai-kedai di daerah ini bisa dikatakan “wah wih wuh”. Wah, untuk harga 7 ribu ke bawah. Wih, untuk harga 10 ribu sampai 15 ribu. Sedangkan wuh, untuk harga di atas keduanya.

Barangkali kata “wah wih wuh” juga berlaku untuk urusan makanan. Kamu bisa mendapatkan harga yang amat murah jika mengunjungi angkringan. Dengan catatan, kamu hanya memesan satu bungkus nasi teri dan satu gorengan. Tentu kamu juga akan yang mendapatkan harga yang amat mahal. Bukan untuk nasi tentunya, melainkan roti bakar.

Suatu kali, saat lagi selo mampus di sebuah kedai makanan milik teman saya di daerah Wahid Hasyim, ada sekumpulan remaja yang meresahkan harga makanan di Jogja yang kian mahal. Kalau yang ngomong adalah mereka yang berasal dari luar Jogja, mungkin saya akan gatal untuk menegurnya. Namun, mereka itu sepertinya anak-anak Jogja asli, sebab dilihat dari logat bicara jika memakai kata dengan sisipan huruf B, D, dan G yang diucapkan seperti orang baca huruf idgam bigunah. Kayak ada dengung-dengungnya gitu.

“Wah, rego mie ayam saiki larang. Mbiyen, enam ribu wes oleh mie ayam karo es teh, saiki kudu mbayar sepuluh ewu. Kui wae durung ditambah parkir rong ewu. (Wah, harga mie ayam sekarang mahal. Dulu enam ribu sudah mie ayam sama es teh, sekarang harus bayar sepuluh ribu. Itu aja belum ditambah parkir dua ribu)

Pernyataan tersebut diamini oleh teman-temannya. Ini unik. Sebenarnya saya heran, mengapa mie ayam yang harus dijadikan indikator bahwa harga makanan di Jogja telah meningkat. Kenapa bukan gudeg atau brongkos yang lebih identik dengan Jogja?

Padahal, kalo mereka mau cari mie ayam murah, mereka masih bisa jika mau melaju ke arah selatan alias ke (M)Bantul. Tempat di mana mie ayam dinobatkan sebagai makanan populer. Tapi kalau dihitung sama tenaga dan uang bensin untuk menuju ke sana dari kota, jatuhnya ya tetap nggak jadi murah juga sih.

Untuk urusan makanan di Jogja yang konon kian mahal, mungkin ada benarnya. Coba cek di Jalan Kaliurang, yang bisa dibilang “Menteng”-nya Jogja. Harga makanan sudah mencapai 15-20 ribu rupiah. Kalo pun ada yang di bawah itu, berarti kamu sedang berada di Warmindo atau Angkringan.

Apakah harga tersebut laku? Ya laku. Invasi mahasiswa luar Jogja untuk belajar di Jogja sangatlah tinggi, ya ini terkait sama mitos Jogja sejak dulu kala sebagai kota pelajar. Dan itu artinya, harga apa pun yang ada di Jogja itu harus masuk nalar dompet pelajar.

Jadi jangan heran, jika ada orang yang selalu berkata, “Enak ya di Jogja. Murah makanannya.” Murah, gundulmu.

Itu sih barangkali omongan orang yang baru sekadar singgah di Jogjakarta, atau bisa jadi orang luar Jogja baru tiga atau lima hari di sini. Kalo orang Jogja atau orang yang telah lama tinggal di Jogja, ya situasi sekarang sudah jauh berbeda.

Tentu saja, mahal dan murah itu relatif. Kalo urusan dompetmu semacam Dimas Kanjeng yang bisa mencetak uang tanpa nomor seri, ya jelas tak bakal ada kamus mahal. Tapi, kalo urusan dompetmu senasib dengan saya yang senen-kemis, ya wajar kalau makin sulit cari tempat makan yang mengenyangkan sekaligus menyenangkan pas bayar.

By the way, saya malah tambah khawatir Jogja mau dibangun jalan tol. Melayang. Dari Jogja hingga Semarang. Konon, untuk mengatasi kemacetan yang kian tak terkendali. Sebenarnya, ide pembangunan tol sudah ada sejak 2010. Namun, baru kali ini isu itu semakin santer terdengar. Mungkin ada hubungannya dengan pembangunan bandara baru, NYIA.

Bandara baru yang (lagi-lagi) jadi sorotan karena menurut cerita teman-teman kampung saya pembangunannya meniadakan rasa kemanusiaan. Sudah lihat video ibu yang mempertahankan lahannya beberapa hari lalu? Nah, itu salah satunya.

Tapi, saya kira pembangunan tersebut tetap ada, mengingat ada “pejabat-pejabat penting” yang terlibat sebagai investor di situ. Jadi, bandara hadir, tol pun akan segera terealisasi.

Lalu, bagaimana wajah Jogja dalam 10 tahun ke depan? Entahlah. Yang jelas, saya masih ingin menikmati suasana Jogja dengan segala kehangatan warganya dan segala keriuhan kedai kopi dan makanannya.

Meski saya sadar, saya juga tidak berhak menolak banyaknya pendatang dan wisatawan yang bikin apa-apa jadi tak terjangkau oleh orang-orang yang lahir dan besar di sini. Lha gimana? Cari duitnya di sono, ngabisin duitnya di sini. Gimana harga nggak makin naik tinggi sementara UMR cuma mentok segini-segini?

Jadi kalau harga di Jogja kok kelihatannya masih murah-murah, ya itu kan menurutmu.

Terakhir diperbarui pada 13 Juli 2018 oleh

Tags: bandara kulon progoBantuldimas kanjengJogjakedai kopiKulonprogoNologatenNYIAPantai DepokteletubbiesumrWahid Hasyimwisata
Moddie Alvianto W.

Moddie Alvianto W.

Analis di RKI. Tinggal di Yogyakarta.

Artikel Terkait

Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO
Urban

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau Mojok.co
Pojokan

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau 

25 Februari 2026
Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO
Urban

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia MOJOK.CO
Esai

Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia

23 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa MOJOK.CO

Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa

24 Februari 2026
Yamaha Grand Filano lebih cocok untuk jarak jauh daripada BeAT. MOJOK.CO

Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT

26 Februari 2026
Innova Reborn Terlahir Jadi Mobilnya Orang Bodoh dan Pemalas (Wikimedia Commons)

Real Jual Tanah untuk Membeli Innova Reborn Menjadi Pilihan Terbaik bagi Orang Bodoh karena yang Penting Bisa Investasi

25 Februari 2026
Honda Scoopy membawa maut saat dipakai mudik Surabaya ke Lumajang. MOJOK.CO

Alasan Saya Bertahan Pakai Honda Scoopy untuk Mudik Surabaya-Lumajang, meski Tertipu dengan Tampang dan “Fitur” Biasa Saja yang Menyiksa

25 Februari 2026
Peserta beasiswa LPDP bukan afirmasi tidak diafirmasi

Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang

21 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.