Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Jogja dan Lampung Memang Sama-sama Menyebalkan

Mungkin yang mukim di Jawa Tengah sudah malas saja untuk menyampaikan kritikan. Capek mengkritik, malah kena UU ITE, sudah begitu masalah nggak selesai. 

Moddie Alvianto W. oleh Moddie Alvianto W.
17 April 2023
A A
Lampung dan Jogja Memang Sama-sama Menyebalkan MOJOK.CO

Ilustrasi Lampung dan Jogja Memang Sama-sama Menyebalkan. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Jogja dan Lampung memiliki beberapa perbedaan. Namun, di sisi lain, keduanya punya persamaan, yaitu sama-sama menyebalkan.

Beberapa tahun yang lalu, untuk kali pertama, saya berkunjung ke Lampung. Bersama 20 lebih saudara, kami menghadiri pernikahan sepupu saya. Sebuah bus kecil kami sewa. Menempuh kurang lebih 48 jam, perjalanan dari Jogja sungguh berwarna. Semuanya dimulai dengan sebuah kejadian mistis.

Kami berangkat dari Jogja cukup pagi. Mungkin sekitar pukul enam kami berkumpul dan bus berangkat pukul tujuh. Titik pertama dari perjalanan panjang ke Lampung adalah jembatan Kali Progo. Beberapa meter sebelum jembatan kami berhenti. Paman saya harus melakukan semacam “ritual” demi keselamatan.

Begitu pintu bus dibuka, paman segera turun dari bus. Saya melihat dia menenteng seekor ayam jago dan sebuah kertas sepanjang kurang lebih 30 sentimeter. Di sisi jalan, terlindungi badan bus, paman saya duduk di tanah berumput di dekat jembatan Kali Progo. Sekitar 10 menit dia duduk dan terlihat membaca doa. Saya ikut turun dan bisa mendengar dia mendaraskan doa dengan cepat menggunakan Bahasa Jawa.

Setelah itu, paman mengingatkan secarik kertas itu di kaki ayam jago. Ayam itu terlihat sangat tenang. Paman saya bahkan tidak perlu memegangi ayam itu selama membaca doa. Selesai mengikat secarik kertas itu, paman melemparkan ayam ke arah bibir jurang. Jadi belum sampai jatuh ke jurang sungai Kali Progo. Sebelum mendarat ke tanah, ayam itu tiba-tiba hilang dari penglihatan saya. Sumpah, sampai sekarang saya tidak tahu bagaimana hal itu terjadi. 

Lampung dan Jogja yang memang “berjarak”

Setelah semua ritual selesai, paman mengajak semua saudara yang ikut turun untuk segera naik ke bus. Katanya, “Dah, nanti nggak bakal kena begal dan ban pecah.” Dia mengucapkan kalimat itu dalam Bahasa Jawa. Semua yang menyaksikan kejadian tadi hanya terdiam dan menurut saja masuk ke bus untuk segera cabut ke Lampung.

Yang ingin saya bilang di sini adalah betapa Lampung itu sebenar-benarnya “jauh” dari Jogja. Baik dari perhitungan jarak sampai pemahaman akan kehidupan di sana. Kami, yang berangkat dari Jogja, sampai harus menyiapkan semacam ritual khusus supaya selamat dari begal dan kecelakaan di jalan.

Perlu pembaca tahu, tahun itu, di Jogja belum populer istilah klitih. Namun, kami sudah tahu bahwa Lampung terkenal dengan masalah begalnya. Bahkan, konon katanya, di sana ada semacam kampung begal. Well, saya belum pernah ke sana dan tidak berani untuk membenarkan kabar tersebut.

Singkat cerita, setelah menyeberangi Selat Sunda, kami memang aman dari begal. Namun, kami tidak bisa menghindar dari kenyataan jalan rusak. Naik bus saja sudah terasa seperti naik kapal yang diempas ombak. Terasa sangat goyang dan mengocok perut. Tentu saja kami mengeluh. Namun, keluhan itu masih dalam taraf biasa saja karena pada kenyataan jalanan di Pulau Jawa juga tidak sesempurna itu.

Zaman bergerak, beberapa orang tidak

Yang membedakan dengan masa sekarang hanya corak netizen yang lebih spontan dan komprehensif menyampaikan kritik. Dulu, pilihan kami terbatas kepada Facebook saja. Namun, kini, anak muda bisa lebih kreatif lewat Twitter, Instagram, hingga Tiktok. Ketiganya mendukung konten yang singkat, padat, dan sesuai zaman.

Perkembangan dan perubahan corak netizen secara kontinu melahirkan konten-konten yang, sekali lagi, sesuai zaman. 

Sayangnya, ada beberapa manusia yang terjebak di zaman dulu, tidak bisa memahami cara berpikir dan kreativitas menyampaikan pendapat. Mereka, yang terjebak di zamannya, seakan-akan tidak bisa meninggalkan gaya preman ketika membredel kebebasan berpendapat.

Untuk satu ini, masyarakat Lampung jauh lebih “beruntung” ketimbang Jogja. Setidaknya, di Lampung, bagian dari penguasa itu merespons kritikan warganya sendiri. Meskipun salah langkah ketika malah menyeret warganya ke jalur hukum dan keluarga si pengkritik mendapat tekanan.

Namun, setelah itu, kerusakan jalan yang menjadi masalah lantas diperbaiki. Well, saya tidak tahu secara pasti. Apakah jalan rusak itu diperbaiki karena kritikan netizen atau karena Lebaran sudah di depan mata dan penguasa di sana butuh semacam mitigasi citra buruk di media sosial. 

Iklan

Memperbaiki jalan itu mitigasi yang bagus ketika citra kamu di media tercoreng. Tendensi orang Indonesia untuk lupa itu sangat besar. Jadi, sekali kamu kasih “doping”, kritikan itu akan reda dengan sendirinya. Iya, apa iya?

Pembiaran masalah di Jogja

Nah, kondisi yang berbeda terjadi di jogja, di mana masalah yang terjadi itu mirip seperti masalah di Lampung. Kalau di Lampung ada begal, di Jogja ada klitih. Masalah ini sama-sama masih lestari dan bikin geram para warga. Masalah kedua adalah jalan rusak.

Kalau pembaca ada waktu, coba ketik kata kunci “jalan rusak sleman jogja” di Google. Berita yang nangkring di atas membuka judulnya dengan kalimat: “Jalan Rusak Tak Kunjung Diperbaiki, Sleman….” Berikut tersebut naik tanggal 23 Februari 2023 di Republika. 

Dari berita yang muncul paling atas di pencarian Google, kita bisa menyimpulkan satu hal, yaitu masalah yang berkaitan dengan orang banyak lebih sering didiamkan oleh penguasa. Atau, kalau mau lebih halus, mereka membutuhkan berjuta-juta tahun untuk merespons dan membuat tindakan konkret.

Tidak percaya? Silakan kamu semua untuk menyempatkan waktu membaca tulisan dari Prabu Yudianto yang berjudul, “Catatan Pemakluman Masalah di Jogja oleh Sultan Jogja Selama 10 Tahun Terakhir”. Amati betul-betul bagian “pemakluman masalah” di sana. Iya, beda Lampung dan Jogja. Di sini, masalah tidak untuk dipecahkan, tetapi dimaklumi. Sungguh luar biasa sekali nalarnya.

Skeptis terhadap perubahan 

Sikap sejak 10 tahun lalu saja begitu, apalagi sekarang. Nggak ada bedanya dalam hal kecepatan membuat tindakan konkret. Masalah nyata yang saya maksud, salah satunya, adalah rusaknya sebagian besar aspal Jalan Godean dan Jalan Kapten Haryadi. Keduanya ada di Sleman. Saking lamanya respons nyata dari Pemkab, warga malah urunan untuk menambal lubang jalan sekenanya saja. 

Yah, saya sih sebagian setuju kepada netizen yang bilang bahwa aksi mengkritik di Lampung tidak akan terjadi di Jawa Tengah. Bukan apa-apa, mungkin yang mukim di Jawa Tengah sudah malas saja untuk menyampaikan kritikan. Capek mengkritik, malah kena UU ITE, sudah begitu masalah nggak selesai. 

Masyarakat Indonesia rasa-rasanya tidak akan lepas dari “hantu” Orde Baru. Hantu itu berwujud pembredelan kebebasan berpendapat. Kalau dulu orangnya dihilangkan, sekarang diseret ke pengadilan karena sebuah kritik, yang mana artinya bentuk kepedulian kepada daerah tercintanya.

Orang cinta kok malah dipenjara. Untung warga masih cinta. Bagaimana kalau sudah tidak peduli dengan daerahnya? 

Penulis: Moddie Alvianto W.

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Lampung Tak Hanya Terbuat dari Kopi dan Gajah dan analisis menarik lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 17 April 2023 oleh

Tags: begal lampungjalan rusakJogjaklitih jogjaLampungtiktoker bima
Moddie Alvianto W.

Moddie Alvianto W.

Analis di RKI. Tinggal di Yogyakarta.

Artikel Terkait

Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO
Urban

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa
Kuliner

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Kerja Jakarta, Tinggal Bekasi Pulang Jogja Disambut UMR Sialan (Unsplash)
Pojokan

Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu

16 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mudik Gratis dari BUMN 2026. MOJOK.CO

Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang

18 Maret 2026
Bus ekonomi jalur Jogja Jambi menyiksa pemudik. MOJOK.CO

Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”

13 Maret 2026
Rif'an lulus sarjana UGM dengan beasiswa. MOJOK.CO

Alumnus Beasiswa UGM Kerap Minum Air Mentah Saat Kuliah, hingga Utang Puluhan Juta ke Kyai untuk Lanjut S3 di Belanda

15 Maret 2026
Ada kehangatan dan banyak pelajaran hidup di dalam kereta api (KA) ekonomi yang sulit didapatkan user KA eksekutif kalau terlalu eksklusif MOJOK.CO

Kehangatan dan Pelajaran Hidup di Kereta Api (KA) Ekonomi yang Sulit Ditemukan di KA Eksekutif

13 Maret 2026
Mudik Lebaran dengan travel mobil

Niat Ingin Lebih Cepat Naik Travel Malah Bikin Trauma, Sopir Tak Tahu Aturan dan Penumpang Tidak Tahu Diri

12 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.