Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Hikmah dari Kasus Yusuf Mansur: Sedekah Ya Sedekah, Investasi Ya Investasi

Edi AH Iyubenu oleh Edi AH Iyubenu
18 Juli 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Masjidil Haram. Lima tahunan silam. Sesosok yang saya kenal lewat televisi itu tiba-tiba ada di hadapan saya. Ustadz Yusuf Mansur! Azan maghrib masih setengah jam lagi. Saya menguntitnya hingga ke dalam masjid, duduk di sebelahnya, lalu beruluk salam. Ini momen langka!

Usai saya mengenalkan diri, beliau memberi banyak wejangan. Beberapa sampai kini masih saya ingat betul: Satu, semakin banyak sedekahmu, semakin melimpah kekayaanmu. Dua, cuekin urusan ikhlas itu, action saja. Jangan dibalik, katanya, baru akan sedekah kalau hati ikhlas. Ikhlas itu datang karena kebiasaan.

Dari sini, saya percaya bahwa YM mengajarkan sedekah yang artifisial itu sebagai proses awal. Sedekah yang pamrih kaya sebagai permulaan. Dari pertemuan perdana itu, saya menangkap kesan bahwa YM tahu betul puncak keutamaan sedekah adalah tanpa pamrih alias ikhlas. Mari kita sadari bersama, mustahillah ujuk-ujuk orang ikhlas sedekah 50 juta tanpa proses pembiasaan yang panjang. 

Yogyakarta. Tiga tahunan silam. Saya mengikuti pengajian YM. Di pengujung acara, sebelum doa, beliau menantang jemaah untuk bersedekah saat itu juga. Sebagian jemaah spontan bersedekah, kebanyakan tidak. Saya masukkan semua isi dompet ke dalam kardus yang diedarkan panitia. 

Usai acara, saya menyalaminya. Puji Tuhan, beliau masih ingat saya. Sambil tersenyum miring kayak biasanya, beliau berkata, “Ente sudah biasa sedekah, kan?” 

“Insya Allah, Ustadz.” 

“Ahsanta. Lanjutkan. Makin ikhlas bakal makin dimudahkanNya.” 

Selain kesan yang saya tangkap sendiri, banyak sekali testimoni jemaah YM yang menyatakan beliau orang baik; dengan visi universal yang baik. Mustahil ribuan orang sekongkol ngapusi saya. 

Salah satu visi baiknya sebagai orang baik ialah memotori praktik ekonomi syariah dengan pola patungan modal. Orang berekonomi terbatas pun jadi bisa ikutan berbisnis dan dapat profit. Sungguh mulia. 

Tapi, niat baik saja tidak cukup. Niat baik hanya nyala di pikiran, dan praktik selalu nyala di lapangan, apalagi jika meliputi hajat hidup orang banyak.

Kini, beliau dililit masalah pelik seputar bisnis investasinya. Bukan sedekah. Sedari awal, saya memang tak berkeinginan sedikit pun mengikuti program Patungan Usaha yang digagasnya itu. Pikiran saya sederhana: sedekah ya sedekah, investasi ya investasi. Tak elok dicampur-aduk. 

Hotel Siti yang tak kunjung menghasilkan adalah wujud praktik lapangan atas niat baik YM, melalui program Patungan Usaha yang diluncurkan sejak 29 November 2012. Karena tidak diiringi persiapan, sistem, dan manajemen yang baik, muncullah berbagai persoalan. Mulai sempritan pemerintah melalui Menteri BUMN dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perihal legalitas formal usaha penggalangan dana masyarakat, hingga blunder pengelolaannya.

Jika ada satu orang investor mendanai saya untuk bikin Kafe Kemroyil, misalnya, dan kemudian dalam pengelolaannya muncul masalah, urusannya simpel: antara saya dan dia. Bayangkan bila ada 2.029 investor, dengan total modal Rp. 24,3 miliar masuk ke rekening saya, bakal luar biasa iyig pertanggungjawabannya. 2.029 orang itu tentu berpamrih, minta keuntungan. Toh dari awal itu memang investasi, bukan sedekah. Dengan iming-iming imbal hasil yang sangat tinggi (high rate of return investment) dan tanpa risiko pula.

Ketika sekian tahun proyek Hotel Siti itu tak tuntas-tuntas, artinya secara riil belum beroperasi dan tak ada keuntungan, berapa banyak dari 2.029 orang itu yang bisa sabar menunggu? Wajar belaka bila kini muncul gugatan-gugatan dari sebagian investornya. Salah satunya ialah gugatan sekelompok investor yang berakhir damai. Pihak YM mengembalikan uang investor plus keuntungannya. Dari mana sumber keuntungan itu, kan hotelnya belum beroperasi? Dari tombokan pribadi YM. Pertanyaannya lagi, berapa lama beliau kuat menomboki? Ngeri membayangkannya ….

Iklan

Keseleo di Hotel Siti tak membuat YM berhenti melangkah. Selain soal “tanggung” (karena dana yang telah disuntikkan ke Siti Hotel begitu besar), tombokan-tombokan kepada para investor tadi juga jadi biang keladinya. YM membuka lagi penggalangan dana sejak 22 Februari 2014 bernama investasi Condotel Moya Vidi, di Jogja. Melalui PT Veritra Sentosa Internasional (VSI), perusahaan yang mengeluarkan produk PayTren, YM menyatakan akan membeli 200 kamar di condotel yang belum dibangun itu. YM butuh 59.800 sertifikat investasi untuk menuntaskan pembelian 200 kamar itu. Total uangnya Rp. 161,5 miliar.

Lagi-lagi terjadi problem serius dalam plan pembelian condotel itu. Akibat kurangnya persiapan YM sendiri. Pendek cerita, para investor diberi kabar oleh pihak YM bahwa investasi condotel itu dibatalkan karena dana kurang. Lalu, dana para investor yang sudah kadung masuk dialihkan begitu saja ke investasi Hotel Siti. Maharuwet.

Well, berdasarkan laporan Tirto.id (17/7/2017), YM kini sedang menghadapi berbagai kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Pertama, urusan pelanggaran hukum atas legalitas formal yang semestinya diselesaikan sejak awal. Kedua, potensi gugatan dari para investor yang merasa haknya tidak dipenuhi. Kasus gugatan dari Medan yang berujung damai tadi, disusul pengaduan di Surabaya, hanyalah segelintir dari potensi gugatan-gugatan hukum lainnya. Ketiga, masa depan Hotel Siti yang di dalamnya mengendon miliaran dana investor itu juga makin tak jelas juntrungnya. Mau gimana lagi? Legalitas pengumpulan dananya bermasalah, dananya kurang, proyek mangkrak, plus tuntutan dari ribuan investor. Komplit-plit-plit masalahnya.

Ada dua hal yang menurut saya sangat berharga untuk disebut hikmah dari kasus ini. Ya, maklumlah, muslim itu kalau kejedot selalu mencari hikmahnya untuk dijadikan bahu sandaran.

Pertama, niat baik haruslah selalu diiringi persiapan yang baik. Anda takkan bisa menjadi imam dalam keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah bila Anda tak menyiapkan diri dulu sebaik-baiknya; asal nikah, asal ngaceng, asal bikin anak, ditambah jargon Allahlah yang menjamin rezeki tiap anak, ya laperrr, Broh …. Kalau lapar, pikiran jadi sensitif, maka berantem lagi berantem lagi. Samara dari mana, dari Hongkong? Kalau Tsamara … ya dari PSI, calon dedeknya Fahri Hamzah.

Kedua, sedekah ya sedekah, investasi ya investasi. Prinsip ini akan membuat para investor dan pengelola melek berjamaah, bahwa pihak investor harus waswas sedari awal bila dijanjikan return yang luar biasa dan pihak pengelola harus menyadari bahwa orang rela mentransfer uang itu ada maunya. Ya janji keuntungan itu tadi.

Investasi tidak ada korelasinya dengan jalan menuju ikhlas dan ahsanta. Tidak ada ayatnya. Lain cerita bila orang mentransfer uangnya buat sedekah. Return-nya dari Allah. Ini ada ayatnya (cari sendiri, jangan males). Kalau ternyata tak kunjung dapat laba sepuluh kali lipat, masak iya mau mengadukan Gusti Allah ke Polres Poliwali Mandar?

Paling-paling polisinya joget-joget di depan Anda sambil nembang Bidadari Keseleo-nya Dek Nella Kharisma:

Untumu ono kawate

Ono lomboke

Ono kangkunge

Yen mrenges ketok aslimu

Ketok wagumu

Ketok mrongosmu

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: Condotel Moya VidiInvestasiPatungan UsahaTirto.idVeritra Sentosa InternasionalYusuf Mansur
Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Yang punya Kafe Basabasi.

Artikel Terkait

Rp100 juta pertama, tabungan bersama pas pacaran itu bikin repot MOJOK.CO
Urban

Usia 30 Harus Punya Rp100 Juta Pertama, Tapi Mustahil bagi Sandwich Generation yang Gajinya Pas-pasan dan Sudah Ludes di Tengah Bulan

10 Februari 2026
Tabungan penting, tapi mahasiswa Jogja yang masih harus irit demi makan kesulitan menabung
Sehari-hari

Tabungan Itu Penting, Tapi Mahasiswa Jogja yang Masih Harus Gali Lubang Tutup Lubang Demi Makan Mana Bisa

10 Februari 2026
Pinjol Jerat Gen Z Fomo tanpa Cuan, Apalagi Tabungan MOJOK.CO
Cuan

Fakta Indonesia Hari ini: Sisi Gelap Gen Z Tanpa Cuan yang Berani Utang Sampai Ratusan Juta dan Tips Lepas dari Jerat Pinjol Laknat

3 Februari 2026
FOMO Finansial: Akhir Bulan yang Cemas Karena Gaji Tak Cukup dan Rayuan Berinvestasi MOJOK.CO
Tajuk

FOMO Finansial: Akhir Bulan yang Cemas karena Gaji Tak Cukup dan Rayuan Berinvestasi

2 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO

Sarjana Cumlaude PTN Jogja Adu Nasib ke Jakarta: Telanjur Syukuran Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Bulan Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Pakai hp android Samsung S26 terintimidasi user iPhone. Tapi tak berpaling karena Samsung lebih berguna dari iPhone yang hanya memperdaya pengguna MOJOK.CO

Pakai Samsung Terintimidasi User iPhone, Tak Berpaling karena Lebih Berguna dari iPhone yang Memperdaya Penggunanya

26 Februari 2026
Sejahtera ekonomi di Negeri Jiran ketimbang jadi WNI. Tapi berat terima tawaran lepas paspor Indonesia untuk jadi WN Malaysia MOJOK.CO

WNI Lebih Sejahtera Ekonomi dan Mental di Malaysia tapi Susah Lepas Paspor Indonesia, Sial!

21 Februari 2026
lulusan LPDP, susah cari kerja.MOJOK.CO

Curhatan Alumni LPDP yang Merasa “Downgrade” Ketika Balik ke Indonesia, Susah Cari Kerja Hingga Banting Setir demi Bertahan Hidup

23 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.