Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Ini yang Terjadi Ketika Upah Minimum Jogja Setara Jakarta

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
12 April 2024
A A
Bagi Orang Jogja, Pondok Indah Mall Tidak Ramah Orang Miskin Karena Nggak Menyediakan Parkiran Motor.MOJOK.CO

Ilustrasi Bagi Orang Jogja, Pondok Indah Mall Tidak Ramah Orang Miskin Karena Nggak Menyediakan Parkiran Motor (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Para pekerja bisa menjangkau biaya hidup di kota pelajar

Perkara pertama yang sering mengganggu isu kenaikan upah adalah urusan biaya hidup. Apakah dengan kenaikan upah yang signifikan, biaya hidup di Jogja akan ikut meroket? Berdasarkan realitas, jawabannya adalah tidak!

Jogja hari ini mengalami defisit gaji. Artinya, upah yang diterima belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, bahkan kurang. Namanya saja defisit. Makanya, kenaikan upah yang signifikan hanya untuk menutup defisit ini. Jadi jangan mengira kenaikan 10% bisa membuat warga kota gudeg langsung foya-foya. Jangan lupa, biaya hidup di sini mulai setara dengan kota-kota besar.

Perkara pangan bisa menjadi contoh sederhana. Rerata kenaikan pangan 3 tahun terakhir sebesar 5,3%. Berarti, angka kenaikan ini lebih besar daripada kenaikan upah minimum. Kenaikan kebutuhan hidup lain malah lebih parah. Misal kenaikan biaya pendidikan yang menyentuh angka 15%. Jadi, kenaikan upah minimum bukan berarti hidup bergelimang harta. Semata-mata hanya membawa hidup masyarakat menjadi lebih layak.

Jurang kesenjangan akan menyempit

Salah satu dampak upah minimum Jogja setara Jakarta adalah perkara kesejahteraan sosial. Kita patut mengingat bahwa angka kemiskinan ekstrem di Jogja termasuk tinggi. Lebih parah lagi, angka kesenjangan sosial di sini pernah jadi yang paling parah se-Indonesia pada 2022 dan 2023. Upah minimum yang naik signifikan tentu bisa menjawab perkara ini.

Upah minimum yang lebih layak membuat kita jadi punya kemampuan belanja lebih baik. Termasuk ketika berhadapan dengan investor maupun pendatang. Misalnya, untuk perkara ruang hidup, warga Jogja kini lebih mampu membeli tanah dan hunian (agak bisa) bersaing dengan orang dari Jakarta atau kota besar lainnya. Meskipun kenaikan tanah menembus 20% tiap tahun, namun warga Jogja kini lebih mampu untuk menguasai lahan.

Jika upah minimum Jogja setara Jakarta, maka jurang kesenjangan warisan upah murah akan mulai menyempit. Syukur-syukur ikut menekan gini ratio. Kita jadi tidak lagi kesulitan memenuhi kebutuhan hidup paling dasar.

Mengalami pergeseran model industri

Salah satu “kambing hitam” rendahnya upah minimum Jogja adalah perkara industri. Sektor pendidikan, pariwisata, dan UMKM masih memegang dan menjadi kekuatan industri. Ketiga industri tersebut tidak mampu bersaing dengan industri besar di daerah lain dengan upah tinggi. Nah, misalnya, jika besaran upah menjadi setara Jakarta, industri di Jogja akan ikut bergeser.

Model industri baru dengan margin profit besar akan masuk menggantikan industri lama. Tidak harus manufaktur, namun industri lain seperti perbankan maupun fintech yang kini populer. Perusahaan teknologi multinasional juga bisa mengisi sektor baru industri. Namun ini akan jadi PR besar bagi pemerintah daerah.

Berbagai intensif yang mengundang industri harus dirilis pemerintah. Pembangunan infrastruktur pendukung juga harus dilakukan untuk menarik minat industri. Tentu pemerintah juga harus menggeser doktrin pembangunan. Dari pembangunan berbasis pariwisata menjadi ramah industri. Dari transportasi sampai teknologi harus menjadi prioritas Pemerintah DIY.

Maka, dengan begitu, Jogja akan punya wajah baru. Mungkin tidak lagi romantis seperti dongeng-dongeng influencer, tapi lebih efisien bagi masyarakatnya. Eits, tenang saja, masih ada UU Keistimewaan yang menjaga kita semua, kok. Ya, kan? Ya, dong! Masak warganya nggak dijagain, sih?

Menjadi harapan baru

Upah Jogja yang setara Jakarta juga akan menggerakkan daerah di sekitarnya. Terutama kabupaten satelit DIY seperti Klaten, Magelang, dan Kebumen. Tentu masyarakat Jawa Tengah akan berbondong-bondong mencoba peruntungan di Jogja. Daerah Istimewa ini akan berubah, dari tanah lahir perantau menjadi tujuan perantau.

Sebenarnya perkara ini tidak akan jadi kejutan sosial yang besar. Mengingat selama ini, Jogja juga sudah menampung banyak perantau dari luar daerah. Namun dengan upah minimum setara Jakarta, pasti akan membuat persaingan kerja juga semakin keras. Tentu kita sudah punya modal awal dan lebih siap mengingat kita sudah jadi produsen banyak tenaga ahli di kota-kota besar.

Saya bisa saja membahas lebih jauh tentang skenario ini. Namun yang pasti, Jogja akan jadi lebih baik. Tidak ada salahnya upah minimum naik, bahkan bersaing dengan Jakarta. Pertanyaannya, apakah Jogja siap untuk itu? Dari pemerintah daerah sampai masyarakat harus memantaskan diri untuk hidup lebih layak dan sejahtera.

Saya pikir masyarakat sudah siap, bahkan rindu hidup sejahtera. Kini tinggal pemerintahnya. Siap tidak membawa Jogja ke masa lebih sejahtera? Nek kene onone mung siap, ndan!

Iklan

Penulis: Prabu Yudianto

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Menjelaskan ke Orang Jakarta bahwa Jogja itu Bukan Murah, tapi Agak Salah Urus dan analisis menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 12 April 2024 oleh

Tags: harga tanah jogjajakartaJogjapilihan redaksiumk jakartaUMP Jogjaumr jogjaupah jakartaupah jogja
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Jika artikel saya menyinggung Anda, saya tidak peduli.

Artikel Terkait

Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja
Urban

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO
Edumojok

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026
Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO
Urban

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Meme yang Viral Itu Mojok.co

Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Banyak Meme yang Viral Itu

23 Februari 2026
Rasa Sanga (1): Sunan Gresik Membawa Masuk Islam ke Jawa Lewat Dapur dan Semangkuk Bubur Harisah MOJOK.CO

Rasa Sanga (1): Sunan Gresik Membawa Masuk Islam ke Jawa Lewat Dapur dan Semangkuk Bubur Harisah

23 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Yamaha Grand Filano lebih cocok untuk jarak jauh daripada BeAT. MOJOK.CO

Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT

26 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.