Indonesia dalam Amarah dan Tawa: Mojok Rewind 2017

mojok-rewind-mojok.co

[MOJOK.CO] “Ini bukan tahun terbaik, tapi setidaknya lebih baik dari 2016.”

Selain karena timeline 2016 lebih ambyar karena rembetan isu politik, candaan 2016 jelas tidak seluar biasa 2017. Om telolet om? Ketimbang menghibur, guyonan satu itu lebih pantas disebut mengganggu. 2017 jelas lebih baik karena kita punya… punya apa? Yak, benar. Macan Cisewu.

Lupakan Habib Rizieq dan rombongan buzzer pro-Jokowi, meme dan kolom komentar akan lebih menghibur Anda. Mungkin kita denial ketika memilih menertawakan peristiwa politik. Atau itukah ekspresi tertinggi skeptisisme kita pada negara?

Apa pun jawabannya, bagi sebagian orang, menikmati lelucon adalah mekanisme bertahan. Di antara sejumlah kasus depresi dan bunuh diri yang bertebaran tahun ini (dari bunuh diri artis sampai bunuh diri yang disiarkan live), ada yang berusaha tetap waras dengan meme qasidah yang makin hits setelah dipakai di review suka-suka Ayat-Ayat Cinta 2.

Pencapaian terbesar Mojok di 2017 adalah memancing makian massal ketika sudah bersendu-sendu tutup situs dan dua bulan kemudian kemudian buka lagi. Kalian perlu tahu, kami serius saat mengumumkan tutup dan serius juga ketika mengumumkan buka lagi. Tidak ada yang bercanda di sini.

Sepanjang 2017 dengan dua bulan vakum, Mojok membukukan 1.115 konten, sebagian besar artikel, beberapa puluh adalah video Movi yang mengorbitkan bintang baru nan jarang mandi, Ega Balboa. Di antara ribuan konten, beberapa di antaranya viral sekaligus menjadi catatan perjalanan tangis, marah, hm doang, dan tawa di semesta media sosial dan internet Indonesia.

Iqbal Aji Daryono menulis “Muhammadiyah Garis Lucu, Mungkinkah?” di Februari 2017 dan segera direspons banyak orang, yang sebagian besar nggak terima, hahaha. Aslinya Iqbal cuma mau mengeluh, anak-anak Muhammadiyah kok jarang melucu sih, beda dengan anak-anak NU.

Balasan paling bagus datang dari Wildan Wahied. Dalam “Mengapa NU Lucu dan Muhammadiyah Tidak”, ia menjelaskan kenapa orang Muhammadiyah nggak pernah melucu. Pertama, karena Muhammadiyah punya konsep musuh dan NU tidak. Kedua, ya karena orang Muhammadiyah nggak usah melucu sudah lucu.

Tapi, sebelum Iqbal membawa isu sektarian, lebih dulu muncul gugatan yang menyuarakan isi hati mayoritas orang Indonesia. Itulah “Surat Terbuka kepada Danramil Cisewu” yang menggugat TNI karena membongkar macan unyu kesayangan Indonesia.

Haha hihi lain datang dari rubrik baru Mojok, Otomojok. Bintang utamanya tidak lain dan tidak bukan adalah orang terkaya se-Bantul Raya: Edi AH Iyubenu. Bersama caci makinya kepada Alphard, Fortuner, sampai Mercy, ia membawa pembaca tertawa sampai berlinangan air mata lewat kisah masa lalunya bersama mobil pertamanya saat belum sugih dulu, Daihatsu Zebra seken bobrok.

Otomojok memang berhasil membuat pembaca kami marah karena menyerang Avanza atau cekikikan karena nostalgia dengan Honda Karisma, tetapi jika Anda mau tahu naskah Mojok terlucu tahun ini jatuh kepada siapa, itu adalah “Gaj Ahmada dalam Pusaran Tragedi Pertanyaan ‘Kapan Kawin?’” Tulisan ini membuat kisah tragis Perang Bubat yang mennguncang Majapahit seketika menjelma drama FTV.

Pertanyaan “kapan kawin?” itu bajingan sejak dulu memang.

Perkara kawin ini memang ruwet. 2014 dan 2015 boleh dibilang tahun bullying jomblo, sedangkan 2016 dan 2017 adalah tahun panik kawin. Artinya apa? Tidak lain bahwa media sosial kita sebenarnya diisi oleh anak-anak ’90-an yang sedang deg-degan menjelang masuk kepala tiga. Dan di situlah Vitra Fardy maju dan mencoba menjelaskan “Faktor-Faktor Penyebab Kids Jaman Now Kebelet Nikah”.

Soal kawin juga yang bikin Kalis Mardiasih mengamuk. Ketika menemukan meme yang intinya bilang, cowok sekarang tuh takut nikah sama cewek yang sekolahnya ketinggian, dia langsung kasih studium generale berjudul “Perempuan yang Sekolah Tinggi Memang Tidak Berniat Menikahi Akhi-Akhi Cupet”. Mantap mb~

Yang belum nikah punya problem, yang sudah nikah juga sama. Misalnya, menurut Anieq Fardah, udahlah, nggak usah belajar nyetir sama suami, adanya malah ngerusak rumah tangga. Sedangkan versi kaum suami, kata Farchan Noor Rachman yang bisa bikin rumah tangga pecah itu adalah… Tupperware yang hilang.

Cinta memang tema abadi. Cerita pacaran jaman SMA yang dirangkum novel Dilanku 1990 dan serinya sukses besar sampai difilmkan. Romantis, jelas. Tapi, pakar parodi Mojok, Haris Firmansyah, mengobrak-abrik skripnya dengan membayangkan Dilan dan Milea ketemuan di tahun 2017. Hasilnya? Jelas busuk.

Jelas tidak romantis dan cenderung berlendir, ialah Cipox, rubrik kisah dewasa Mojok yang dibintangi secara konsisten oleh pemuda Rambat. Dari sekian kisah Rambat, yang paling fenomenal adalah edisi “Ancaman Akibat Main Serong”. Sungguh ngeri-ngeri asu.

Pembaca setia tentu paham, isu politik dan agama adalah salah dua yang jadi perhatian Mojok, terutama ketika analisis harus dihadirkan dan keadilan perlu ditegakkan.

Katakanlah ketika konflik Rohingya di Myanmar memanas dan di Indonesia, solidaritas justru ditunjukkan dengan demo di Borobudur. Tyda betul ini. Juga ketika Jonru merendahkan Profesor Quraish Shihab saat beliau ditunjuk menjadi khatib salat Id di Masjid Istiqlal tahun ini. Salah satu alasannya, Quraish Shihab adalah ulama yang tidak mewajibkan jilbab.

Masalah jilbab memang masalah umat. Anda mesti belum lupa hujatan yang diterima Rina Nose karena melepas jilbab. Ini bukan lagi tentang pergulatan pribadi. Kata Arman Dhani, “Kalau Rina Nose Dibiarkan Lepas-Pakai Jilbab, Bakal Jadi Apa Agama Kita”. Mas Dhani sungguh SJW panutanqu~

Selain jilbab, ada masalah sabun. Menurut kisah Butet Manurung, gara-gara pemakaian sabun, angka kematian di Papua justru meningkat. Poin kedua jilbab dan sabun sama: apa yang kita pikir baik, belum tentu baik pula buat orang lain.

Dari khazanah kuliner, bintangnya masih Indomie lagi, Indomie lagi. Namun, ada dua tulisan dengan dua perspektif berbeda. Pertama, Cepi Sabre yang membayangkan “Bila Para Pesohor Masak Indomie tapi Bumbunya Nggak Ada”. Kedua, ada naskah satire level dewa yang ditulis Badrul Arifin tentang rahasia mengapa Indomie di warung burjo bisa enak.

Naskah Badrul bagus, tapi jelas mengikuti pola yang dibuat Sarinah di “Resep Rahasia Aice, Es Krim Paling Hits Saat Ini”. Tanpa ragu, kami menobatkan naskah Aice sebagai naskah Mojok paling satire tahun ini.

Dari dunia ekonomi, rubrik Nafkah adalah rubrik baru yang laris di Mojok. Hal yang kami sayangkan tidak terjadi di dua rubrik receh tapi segar tapi marai emosi, Hewani dan Nabati. Menghitung penghasilan Via Vallen dan Nella Kharisma adalah dua naskah di rubrik Nafkah yang paling banyak dibaca. Ngitung-ngitungin duitnya orang kaya memang hiburan sadomakis kesukaan pembaca Mojok yang miskin tapi cinta kemewahan.

Akhirul kalam, bila ada tokoh yang paling banyak dibincangkan di Mojok, kami tidak bisa memutuskan siapa yang lebih pantas di antara Gatot Nurmantyo (“Beberapa Hal yang Luput dari Perhitungan Jenderal Gatot Nurmantyo”) dan Sandiaga Uno (“Pengantar Memahami Logika Sandiaga untuk Ahoker”). Sebagai bentuk sikap demokratis, silakan pembaca tentukan sendiri.

Sampai jumpa di 2018. Siap-siap menghadapi kesuraman tahun politik ya, Bung dan Nona.

Exit mobile version