Usia 25-an tahun buat perempuan Indonesia yang belum berpasangan memang bukan perkara mudah. Kalian yang telah berpasangan tapi tak kunjung dilamar, atau yang memang belum berpasangan baik karena belum ketemu laki-laki yang pas ataupun memang-males-aja-sih-punya-pasangan pasti jengah dengan lambe-lambe turah yang ada di mana-mana.

Ketika reuni SMA dan kamu baru pulang presentasi paper soal perkembangan ekonomi Indonesia pasca-MDGs, misalnya, pertanyaan pertama yang kamu dengar bahkan ketika baru salam-salaman adalah, “Kok calonnya nggak diajak?” Atau ketika lulus sumpah dokter dan kamu baru saja pulang dari pedalaman Nusa Tenggara buat mengabdi di sebuah puskesmas terpencil, para kanca tipis itu tetap akan bertanya, ”Terus kapan rencana nikah?”

Bahkan ketika kamu baru saja menandatangani kontrak dengan klien untuk proyek pertama yang akan jadi tambahan portofolio berharga buat hidupmu, bapak dan ibu di rumah dan selusin saudara yang telah sukses beranak pinak tetap saja menggugat, ”Nggak lebih baik nikah dulu aja?”

Kalian tidak sendiri. Saya juga punya tipikal teman-teman di media sosial yang tidak pernah mengapresiasi pencapaian saya sebagai penulis atau fasilitator. Ketika saya membagikan gagasan, mampir ngasih jempol saja ogah. Tetapi … jika saya sedang iseng nyetatus soal pernikahan, mereka cepet banget nyamber, ”Makanya, nikah dong! Biar ngerasain.” Ada juga yang bilang dengan lugas, ”Pokoknya kamu tetap belum keren kalau belum menikah.”

Dan yang paling menyebalkan adalah komentar semituduhan, “Galau ya …?”

Kadang-kadang saya ngebatin, Lu lagi galau ya gara-gara nikah tapi insecure sama suami sendiri, makanya hobi ofensif ke orang lain? *evil grin*

Rasa jengah semacam itu kadang-kadang harus banget ditambah dengan ceramah dari para ustadz yang berasal dari bagian bumi datar yang bilang kalau pakai sepatu hak tinggi dan pembalut bikin kita susah hamil, melahirkan caesar sama dengan bersekutu dengan jin, foto selfie haram, dan memakai parfum adalah tindakan melacur. Baiklah, anggap saja itu ujian kesabaran perempuan Indonesia yang kelak bisa membuat kita bebas masuk surga lewat pintu mana saja.

Tapi, meme soal laki-laki yang lari terbirit-birit dikejar perempuan dengan pendidikan S-2 dan S-3 itu bikin saya sungguh-sungguh ingin bertanya: jadi kalian yang takut sama perempuan berpendidikan tinggi itu maunya dapet pasangan yang lulusan apa? Sekolah Rakyat?

Yah … kan udah nggak ada, Akhi. Fujinkai, yang dibikin Jepang tahun ’40-an aja udah galakin program pemberantasan buta huruf dan ngedukasi macem-macem pekerjaan sosial. Gerwani, tahun ’60-an juga udah berorganisasi buat ningkatin kesadaran perempuan tani, kerja bareng Buruh Tani Indonesia (BTI), bahkan bikin banyak (((seminar nasional))) buat bahas pendidikan, hak kepemilikan tanah kaum perempuan tani, mendorong penghapusan rodi yang berlaku di desa-desa, membahas masalah pembagian harta waris, hak-hak perempuan untuk ikut serta dalam proyek-proyek masyarakat, dan menghapus sikap diskriminatif terhadap perempuan mandul.

Oh, cari contoh yang syar’i? Yawlaaa … tahun 1919, Nyai Ahmad Dahlan bareng Aisyiyah itu udah bikin TK alias busthanul athfal yang sampe sekarang jumlahnya sudah mencapai 5.865 buah. Dan sekarang, perguruan tinggi Aisyiyah itu di mana-mana. Baiklah, kali ini NU kalah karena Universitas Nahdlatul Ulama yang masih unyu-unyu itu belum punya Universitas Fatayat atau Universitas Muslimat.

Tapi, coba Akhi pikir, dosen-dosen perempuan itu apa nggak S-2 dan S-3? Apa mereka, para alimat alias para ulama perempuan itu, susah diatur seperti yang Akhi tuduhkan? Pikiran Akhi sepertinya yang susah diatur karena kebanyakan ngebayangin bidadari surga yang selalu perawan.

Terus, kalian mau dilempar ke masa kapan lagi? Nggak perlulah dilempar ke masa jahiliyah ketika para laki-laki tega mengubur hidup-hidup para perempuan lalu mengurungnya dalam rumah, tidak memfungsikan daya pikir, tangan, kaki, dan menjadikan perempuan barang pajangan kan?

Ngomong-ngomong, Akhi kok pikirannya bisa sama kayak Ibuisme Negara ala Orde Bau-nya Soeharto banget sih? Itu lo, saya jadi ingat sama Panca Dharma Wanita yang jadi hafalan wajib ibu-ibu PKK tempat ibuku hobi ikut arisan alat masak bulanan itu.

Poin-poin Panca Dharma Wanita: Pertama, wanita sebagai istri pendamping suami. Poin ini berakibat, pemimpin Dharma Wanita itu harus sesuai jabatan suami. Biasanya sih istri jenderal atau pegawai negeri tingkat tinggi. Perempuan mandiri lainnya, di zaman Orde Bau, mana boleh berkarya.

Kedua, wanita sebagai ibu rumah tangga. Ketiga, wanita sebagai penerus keturunan dan pendidik anak. Poin-poin ini nih yang bikin laki-laki semena-mena seolah-olah tugas mendidik anak itu cuma tugas perempuan. Laki-laki yang menghasilkan uang lalu merasa berhak berbuat apa saja, termasuk melanggengkan kekerasan dalam rumah tangga.

Keempat, wanita sebagai pencari nafkah tambahan. Yah, hanya sekadar tambahan sehingga layak digaji rendah dan tidak layak punya jabatan setara dengan laki-laki meskipun punya kompetensi. Dan kelima, wanita sebagai warga negara dan anggota masyarakat, pilihan politiknya harus ngikut suami sehingga kalau suaminya pilih mencoblos pohon beringin, istri dan keluarga batih semua harus ikut pilih pohon beringin.

Saya sih yakin kalian para akhi yang takut perempuan dewasa nan berbinar cemerlang ini sebetulnya nggak ngerti-ngerti amat sama sejarah. Lha wong kalian ini aslinya cuma pecundang yang malu ngakuin kepecundangan kalian.

Lagian, kalau udah lebih dari 25 belum nikah terus kalian percaya diri nggak akan milih kami juga kenapa? Kalian nggak tahu aja kalau kami lebih milih berondong cerdas atau om-om bijak yang cinta perempuan matang, berkarisma, dan multitalenta.

Lekas menikah dan alhamdulillah bahagia itu jatah dari Yang Maha Kuasa, sebagaimana kelonggaran rezeki buat sekolah tinggi lalu berkiprah dan banyak bikin manfaat buat sesama.

Jadi, kenapa perkara jodoh pakai bawa-bawa urusan gelar sama umur ketuaan?

No more articles