Setelah main Facebook dan isinya tak lebih dari postingan hoax dan tulisan-tulisan bombastis nirmakna, Twitter tampaknya jadi tempat pelarian yang pas di tengah kesunyiannya karena ditinggal penghuninya entah ke mana. Tapi sial, karena akhir-akhir ini—meski mencoba untuk tak peduli—agaknya Twitter, saya pikir, lebih cocok jadi arena pertarungan gulat bebas dibanding kehidupan yang damai, dan tetap tidak lebih baik dari Facebook.

Para selebtwit yang saya follow dan pada akhirnya beberapa saya unfollow senang sekali ribut ngomongin politik dengan haters-nya bahkan ketika hari masih pagi maupun saat hari sudah sangat larut. Bikin saya pusing. Karenanya, saya putuskan pindah ke Instagram.

Satu dua minggu oke lah Instagram jadi tempat yang damai apalagi selebgram-selebgram yang saya follow termasuk dalam kategori penyegaran timeline. Saya sempat bergumam, Apakah ini yang dinamakan surga duniawi? Bisa jadi. Tapi karena nasib malang tidak ada yang menduga, tiba-tiba saya muak begitu saja dengan Instagram.

Pemicunya, teman-teman yang saya follow kok ya jadi gemar sekali membuat Instagram Stories maupun postingan-postingan tentang pernikahan disertai caption—semacam telik sandi yang mesti dipecahkan, atau tulisan-tulisan yang bikin baper padahal tidak sama sekali. Seolah kegiatan tersebut adalah satu-satunya solusi dari setiap permasalahan yang ada. Tai lah.

Karena hal itu, agar tidak mengganggu kemaslahatan umat, saya rasa, perlu dibuat faktor-faktor apa saja sih yang membuat kids jaman now kebelet nikah.

Tabel Usia Pernikahan dalam Sudut Pandang Ekonomi dan Masa Depan

Sudah agak lama, tapi sampai sekarang saya masih takjub ketika sedang berselancar di internet dan kemudian melihat sebuah tabel dengan judul mengintimidasi, “Tabel Usia Pernikahan dalam Sudut Pandang Ekonomi dan Masa Depan”, yang memberi estimasi usia seorang menikah, punya anak pertama, hingga sang anak menikah, dengan membaginya ke dalam empat kategori: ideal, cukup, waspada, dan siaga.

Seketika saya jadi kalap mengingat berapa usia saya sekarang, dan segera menghitung-hitung berapa tahun lagi saya harus menikah agar bisa berada di kategori ideal, atau sesial-sialnya, kategori waspada. Seolah-olah kalau saya telat menikah, ketika punya anak nanti saya sudah terlalu tua dan tidak mampu lagi membiayai anak saya, padahal siapa tahu, bisa saja saya jadi konglomerat.

Hal tersebut secara tidak langsung berdampak pada pola pikir, yang awalnya masih dalam tahap menikmati hidup, kini jadi tahap cepat-cepat membangun rumah tangga alias kebelet nikah. Meski akhirnya saya sadar kalau untuk menuju ke arah sana masih lama, tetap saja ada yang mengganggu pikiran. Rasanya saya masih ingin memaki, “Lu aja sono lah yang nikah, gua masih ada orang tua yang perlu dibahagiain.”

Untuk laki-laki, mungkin tidak terlalu mempermasalahkan tabel tersebut. Tapi saya tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi kaum hawa, mungkin, lebih tertekan secara psikologis apalagi tahu kalau teman seusianya telah menikah lebih dulu.

Teman yang Telah Menikah Lebih Dulu

Boro-boro menikah, untuk bisa dapat IPK 3 saja masih harus berpikir seratus kali. Dan di usia saya yang masih bisa main di Tim Nasional U-22 ini, sebagai pemuda apalah-apalah, pernah mentraktir teman-teman main futsal mungkin bisa dibilang sebagai capaian bersejarah dalam hidup. Sialnya, sampai sekarang belum sempat tercapai.

Maka saya kagum dengan teman-teman saya, terutama yang perempuan, yang berani memutuskan untuk menikah—meninggalkan orang tua dan tinggal bersama suami—bahkan ada yang sudah punya anak.

Tapi akibatnya, jadi timbul kecemburuan sosial. Keinginan-keinginan masa lampau untuk menikah yang awalnya sudah terpendam dalam-dalam, akhirnya bangkit kembali setelah tahu beberapa teman sudah banyak yang menikah. Akibatnya dalam hati bilang, “Dia aja bisa, masa gua kagak.”

Sering Kondangan

Ini rumit. Mau tidak datang, tapi diundang. Kalau datang, yang ada hanyalah hati yang tersayat-sayat. Apalagi setelah tahu, yang mengundang adalah mantan kekasih, dan konyolnya, di depan undangan tersebut tertulis “(nama Anda) dan partner, di tempat”, padahal keadaan masih sendiri dan berselimut sepi. Sebenarnya tidak ada maksud menyinggung, datang bareng nenek pun itu bisa disebut partner. Tapi namanya juga sentimentil, rasanya ingin makan bangku hajatan saja. Akhirnya timbul keinginan cepat menikah.

Sebenarnya ada cara-cara agar keinginan menikah tidak menimbulkan efek domino, caranya, kalau datang ke kondangan tidak perlu lah postang-posting hal yang menyedihkan, bikin kebelet saja. Tapi itu terserah sih, memangnya saya fasis apa suka mengatur-ngatur.

Chat Viral Pria yang Melamar Wanita Lewat Whatsapp

Terlepas dari benar atau tidaknya chat tersebut, kalau saya jadi Euis—wanita dalam chat tersebut, ya saya terima lah lamarannya si Romi. Mau bagaimana lagi, hati sedang kering, makan susah, hidup cuma begini-begini saja, lalu tiba-tiba ada yang menyiramnya.

Dari sini, kolom komentar dalam suatu postingan di sosmed membanjir, dan isinya apalagi kalau bukan remaja-remaja yang baper setengah mati dan akhirnya kepengin dilamar dengan cara seperti itu. Hadeh.

Mendengar Lagu Akad Payung Teduh

Bisa dibilang, lagu ini sudah sebanding dengan Surat Cinta Untuk Starla, Asal Kau Bahagia, dan yang paling baru, Despacito. Ngehe banget. Saya berani bertaruh kalau lagu ini langsung masuk ke dalam otak walau baru pertama kali mendengar, meski tidak hafal liriknya, minimal alunan musiknya. Saya kesal dengan lagu ini sebenarnya, tapi karena bebep kesayangan saya, Via Vallen, telah meng-cover lagu ini, apa boleh buat, saya jadi menyukainya.

Coba sebut kegiatan apa saja yang sedang dilakukan: motong bawang, buka pintu kulkas, atau berak, pasti yang terngiang di kepala adalah lagu ini. Saya kalau jadi perempuan, mungkin bakalan meleleh dan menitikkan air mata ketika dinyanyikan lagu ini. Karena memutar lagu ini berulang-ulang, bisa membuat saya atau mungkin Anda, ingin segera mengakhiri masa lajang.

Dan selain bikin saya jadi orang paling lemah sedunia, tampaknya, seperti lagu cinta yang lain, lagu ini memang sudah pantas untuk dijadikan template wedding song yang biasa didendangkan di pesta-pesta pernikahan, bersamaan dengan lagu Malam Terakhir-nya Rhoma Irama x Rita Sugiarto, dan versi koplo Someone Like You-nya Adele.

No more articles