Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Hal-Hal yang Membatalkan Puasa Versi Nenek Saya

Nurjanah oleh Nurjanah
12 Juni 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sewaktu saya kecil, Nenek sering mengatakan ada empat hal paling fundamental—di luar makan dan minum—yang tidak boleh dilakukan seorang hamba ketika sedang berpuasa. Jika dilakukan, hal tersebut dapat menyebabkan puasa menjadi batal begitu saja.

Kala itu, sejujurnya saya curiga bahwa Nenek mengatakannya semata agar saya tidak rewel saja saat berpuasa. Tapi, karena gugel belum lahir, saya tidak punya banyak referensi untuk mendebat beliau. Lagi pula, Nenek adalah orang yang paling religius di keluarga kami. Jadi, segala hal terkait agama yang dilontarkannya adalah sumber hukum tepercaya. Padahal, alasannya cuma satu: Nenek telah berhaji. Sudah. Itu. Saja.

Apa sajakah empat hal yang dapat membatalkan puasa versi On the Spot nenek saya? Mari kita bahas satu per satu.

Menangis

“Jangan nangis, nanti puasamu batal!” Begitulah kalimat template yang sering dilontarkan Nenek ketika melihat ada gelagat butir-butir air mata akan jatuh dari sudut pelupuk mata saya.

Ingin sekali saya mengusut lebih jauh hubungan antara menangis dengan membatalkan puasa ini. Tapi, saya tidak berani bertanya. Takut kualat. Takut disangka mengkriminalisasi. Takut disangka membangkang. Dan lain sebagainya. Maka, jadilah pertanyaan itu saya lontarkan kepada kakak saya. Jawaban mahapenting pun akhirnya saya dapatkan.

“Soalnya, air mata kamu nanti bisa ketelen. Nah, kalau ketelen, kan batal itu puasanya,” jawabnya singkat saja.

Merasa harus tabayun dan kurang puas dengan jawaban itu, saya pun bertanya pada kerabat yang lain. Kali ini kepada sepupu jauh saya. Tak dinyana, jawaban serupa tapi tak sama saya dapatkan. “Ya, emang bisa batalin puasa atuh, soalnya nanti ingusnya ketelen.”

Karena telah dihantam oleh dua jawaban paling bernas, saya pun gentar dan mengamini poin pertama ini.

Bagi Anda yang ingin ikut memercayai nenek saya, mulai sekarang sebaiknya jangan menangis jika tidak bisa mengganti bekgron Facebook yang sempat ramai itu. Juga jangan menangis ketika mengetik kata “xoxoxo” tapi tidak berhasil menimbulkan keluarnya efek hati (aing banget ini mah, sih).

Marah

Untuk poin kedua ini, saya tidak pernah mempermasalahkannya. Karena seingat saya, ustadz-ustadz di tempat mengaji yang jarang saya datangi itu pun mengatakan hal serupa—padahal saya cukup yakin, saat sedang mengaji saya pastinya terlalu fokus ngegosip soal Jiban atau mainan BP terbaru (mainan yang ngehits pada zamannya). Jadilah saya tidak bisa membedakan mana yang membatalkan dan mana yang mengurangi pahala puasa.

Akibat didoktrin oleh poin kedua ini, alhamdulillah selama puasa saya jadi jarang bertengkar dengan adik atau kakak. Jika mereka mengusik saya dengan berbagai cara, saya biasanya akan bersabar. Ya, bersabar. Bersabar menunggu beduk Magrib tiba. Setelahnya, pembalasan dendam segera saya tuntaskan.

Namun, jika di siang hari saya ternyata tidak sanggup menahan amarah dan akhirnya bertengkar jua dengan salah satu saudara, biasanya kakak tertua saya akan melerai kami sambil berkata “Udah, buka puasa aja sana. Udah batal ini kalian mah puasanya juga!” Setelah kakak saya berkata demikian, biasanya saya pasrah dan merasa gagal. Diam-diam, saya naik ke pohon jambu di dekat rumah. Apa yang saya lakukan di situ? Ya, tentu saja makan jambu. Setelah sebelumnya mengucap doa berbuka puasa.

Iklan

Ngupil dan/atau Mengorek-ngorek Telinga

Perihal ngupil dan mengorek-ngorek lubang telinga, teman-teman di sekolah saya juga sering membahasnya. Ada yang berkata bahwa sebenarnya dua hal ini tidak membatalkan puasa selama ngupil atau mengorek telinganya tidak terlalu dalam. Sayang, saat itu tidak dijelaskan batasan dalamnya sampai mana.

Mengingat ngupil adalah salah satu kegiatan yang mengasyikkan lagi adiktif, saya tetap mematuhi perintah Nenek tapi dengan catatan: mencampurnya dengan keyakinan teman-teman. Alhasil, saya tetap sering ngupil selama berpuasa. Pikir saya, yang penting ngupilnya tidak terlalu dalam. Jadi, aman. Dan yang lebih penting lagi, saya tidak ngupil sambil makan nasi uduk. Juga tidak menggadaikan akidah dengan mengupil kemudian memakan hasilnya—hal yang waktu itu saya pikir lebih masuk akal untuk dikategorikan sebagai hal yang dapat membatalkan puasa.

Kentut dalam Air

Inilah hal pembatal puasa paling fenomenal dan tentu saja masih membekas hingga kini. Saya sempat memprotes Nenek. Karena menurut hemat saya, kentut itu terjadi dalam waktu yang sangat cepat. Rasa-rasanya tidak mungkin air bisa ikut masuk saat gas dahsyat tersebut dikeluarkan. Kecuali lubang pantatnya sering delay dan kurang refleks. Potensi masuknya air mungkin cukup besar.

Tapi, lagi-lagi dengan kekuatan kehajiannya, Nenek kembali berhasil meyakinkan saya bahwa kentut dalam air (baca: kolam renang) memang bisa membatalkan puasa. Dan pada akhirnya, saya tidak ambil pusing soal perkara kentut ini. Saya tidak ingin mendebatnya lebih lama, toh perdebatan itu hanya soal kentut belaka. Terlebih, renang juga saya mah nggak bisa. Jadi, kemungkinan kentut dalam air itu sangat kecil untuk terjadi.

Jamaah Mojokiyah yang puasa dan tidak puasa ….

Jika selama membaca artikel ini Anda tidak menemukan hikmah yang dapat dipetik, bersabarlah. Mungkin ini ujian. Tapi, kalau ada pesan moral yang bisa diambil dari tulisan ini, pastinya itu hanya satu: bijaklah dalam memilih Nenek.

Terakhir diperbarui pada 12 Juni 2017 oleh

Tags: Batal PuasaKentutMembatalkan PuasaNgupilPuasaRamadan
Nurjanah

Nurjanah

Artikel Terkait

THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO
Sehari-hari

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026
Takjil bingka dari Kalimantan
Catatan

Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan

23 Februari 2026
Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Meme yang Viral Itu Mojok.co
Pojokan

Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Banyak Meme yang Viral Itu

23 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih MOJOK.CO

Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih

16 Maret 2026
Suasana Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO

“Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten

17 Maret 2026
Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
Stasiun Pasar Senen Jakarta Pusat merampas senyum perantau asal Jogja MOJOK.CO

Stasiun Pasar Senen Saksi Perantau Jogja “Ampun-ampun” Dihajar dan Dirampas Jakarta, Tapi Terlalu Cemas Resign buat Balik Jogja

15 Maret 2026
Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik

19 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.