Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Fyi, Pengalaman Menstruasi Pertama Nggak Kalah Awkward dari Mimpi Basah

Audian Laili oleh Audian Laili
15 Agustus 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pengalaman menstruasi pertama itu tidak mudah. Ia bikin nggak bebas beraktivitas, hingga merasa diri begitu kotor.

Saat masih duduk di bangku SD, saya tumbuh dengan badan kerempeng. Ketika ada beberapa teman perempuan saya yang mulai mendapatkan menstruasi pertama, saya tidak berpikiran akan mendapatkannya dalam waktu dekat—seperti mereka. Pasalnya, dari observasi saya dengan kemampuan yang pas-pasan itu, teman-teman yang sudah menstruasi adalah mereka yang punya badan bongsor atau lebih berisi. Alias, sepertinya mereka sudah cocok untuk masuk usia reproduksi.

Secara perawakan dan pemikiran, saya rasa mereka-mereka ini adalah orang-orang yang sudah cukup dewasa. Maka, wajar kalau mereka mendapatkan pengalaman menstruasi pertama di kelas saya.

Sebaliknya, menjadi hal yang mengejutkan bagi teman-teman saya—termasuk diri saya sendiri, saat mereka tahu kalau saya juga sudah mendapatkan menstruasi pertama dengan waktu yang tidak jauh berbeda. Pasalnya, perawakan saya ini sungguh berbeda dengan mereka.

Mungkin, mereka juga melakukan observasi kecil-kecilan seperti yang saya lakukan. Hingga tak mungkin rasanya bentuk tubuh yang kurus dan kelakuan yang masih sangat polos, sudah mendapatkan menstruasi pertama.

Mengetahui hal itu, teman-teman mengolok-olok saya dengan sebutan, “bawang merah”. Ya, sebetulnya sebutan ini sangat tidak kreatif. Hanya karena darah haid berwarna merah, lantas mereka mencari sebutan lain yang mengandung kata “merah”. Dan menyematkan frasa tersebut pada diri saya selama beberapa minggu.

Mendapatkan sebutan “bawang merah” dan anggapan tidak pantas untuk mendapatkan menstruasi di usia tersebut, tentu saja membuat saya malu. Saya jadi merasa bahwa mendapatkan hadi terlalu dini adalah sebuah dosa besar. Hal ini sempat membuat saya membenci badan saya yang kerempeng. Maksud saya, kenapa sih, badan saya harus kerempeng, sehingga sulit masuk dalam lingkaran mereka?

Kan saya juga pengin kalau bisa bergaul akrab dengan kumpulan teman saya yang berada pada barisan pertama sudah menstruasi. Saya merasa iri dan tersisih, karena nggak bisa ngobrol dan ikut saling berkeluh kesah mengenai kondisi yang baru—atau setidaknya untuk saling berbagi informasi dan pengalaman.

Kalau tidak pada mereka, harus pada siapa saya bercerita soal pengalaman yang baru terjadi pada tubuh saya? Cerita sama ibu? Sungguh untuk memulainya rasanya malu sekali.

Pertama kali tahu kalau saya menstruasi, saya kaget karena ada darah merah agak coklat di celana dalam. Karena saat itu saya tinggal di rumah nenek, akhirnya saya tanya ke nenek saya soal darah itu. Ada perasaan takut kalau saya kena kanker.

(((kanker)))

Lalu, tanpa banyak omong, nenek saya memberikan saya pembalut dan memberi tahu cara menggunakannya. Lantas bilang, kalau itu artinya saya sudah menstruasi. Saya sudah balig. Jadi salatnya betul-betul nggak boleh bolong lagi.

Sementara ibu saya, mengetahui saya sudah menstruasi, beliau justru meminta saya untuk melakukan hal yang menjengkelkan. Ibu meminta saya untuk membersihkan darah haid saya sendiri. Mencuci pembalut saya dengan bersih—tidak boleh dengan diijak-injak, mencuci celana dalam yang terkena bleberan darah sampai betul-betul tanpa bekas noda dan bau—supaya tidak najis. Hingga mencuci baju atau sprei yang juga terkena darah yang tembus saat saya sedang tidur dengan tingkah polah yang nggak karu-karuan.

Sungguh, wejangan dari ibu itu rumit dan sulit banget bagi saya. Ya, tahu kan, kalau darah haid tidak semudah itu dienyahkan? Hal ini membuat saya berpikir bahwa noda darah itu sangat kotor sehingga sangat tidak baik kalau ia tampak, membuat saya juga merasa kotor saat mengalami haid.

Iklan

Ya obrolan dengan ibu, mungkin hanya bisa mentok sebatas itu. Saya malu kalau harus menanyakan hal-hal yang aneh. Pasalnya, saya belum pernah mendengar topik soal ini dibicarakan di dalam keluarga saya. Jadi, saya merasa sungkan kalau harus menceritakannya.

Apalagi, tante saya—adik terakhir bapak—bukannya menenangkan dan ngasih tahu kalau yang terjadi pada saya itu normal, malah terus-terusan ngece. Semacam,

“Cieee, udah mens.”

“Awas, bocor, loh.”

“Wah, roknya merah, tuh!”

Jelas, hal ini membuat saya semakin malu dan tidak percaya diri. Fyi, tante saya ini jugalah yang ngasih tahu teman-teman kalau saya telah mendapatkan menstruasi. Membuat berita itu menyebar cepat dan julukan “bawang merah” tersemat.

Padahal, dalam posisi saya sedang mengalami sesuatu yang baru, saya membutuhkan penerimaan dari orang-orang sekitar. Saya harus beradaptasi saat menggunakan pembalut, supaya bisa merasa nyaman dan tidak perlu berjalan ngangkang.

Apalagi, pembalut yang saya pakai di awal-awal masa haid adalah pembalut milik Hers, karena hanya itu pembalut yang diberikan pada ibu pada saya. Pembalut ini, membuat saya tidak dapat bergerak dengan leluasa. Belum lagi, produk ini tidak dapat menyerap darah dengan baik. Sepertinya, ibu ini lupa kalau darah menstruasi anaknya keluar lebih banyak dibandingkan yang tejadi pada dirinya sendiri.

Percayalah, pengalaman pertama menstruasi ini sungguh ribet. Kalau dibandingkan sama mimpi basahnya para lelaki yang sama-sama sebagai pertanda balig, itu nggak ada apa-apanya. Ya, kalau laki-laki mimpi basah, palingan kejadiannya pas lagi tidur malam di rumah. Terus, bangun-bangun kaget kok celananya basah. Terus, paginya tinggal dicuci dan bisa berangkat ke sekolah dengan tenang tanpa merasa ribet atau awkward.

Bandingkan dengan pengalaman menstruasi, di mana darahnya nggak cuma keluar waktu di rumah aja. Di sekolah pun, darah tersebut masih keluar sehingga harus dikasih pembalut biar nggak bleber ke mana-mana. Belum kalau tembus ke rok seragam. Belum lagi perasaan nggak nyaman karena ada benda asing yang tiba-tiba menempel di badan. Belum sakit perutnya, pegel punggungnya.

Proses beradaptasi dengan urusan teknis dan fisik pertama kali haid aja sudah cukup ribet. Eh, malah ditambah ejekan yang tidak nyaman dari lingkungan. Kan ya, asem banget, yak!

Pemahaman bahwa menstruasi adalah normal, meski ia datang lebih dini, harusnya dipahamkan orang tua pada anaknya. Bayangkan saja, kalau banyak anak-anak Indonesia yang hanya karena mengalami haid lebih awal atau malah terlambat haid, lantas dianggap berbeda. Kira-kira berapa potensi para generasi bangsa yang harus tertimbun karena merasa rendah diri terus malu-malu hingga kemampuannya tidak dikembangkan dengan baik.

Fyi, saya begitu malu kalau tanya-tanya masalah ini ke teman saya. Jadi, saat saya pengin mencoba saran dari teman saya untuk pakai dua pembalut biar nggak tembus. Bukannya menggabungkan dua pembalut itu “dibariskan” di celana dalam, saya justru menggabungkannya dengan ditumpuk. Lha, apa ya nggak percuma?

Terakhir diperbarui pada 15 Agustus 2019 oleh

Tags: baligmenstruasi pertamamimpi basahpembalutSD
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

sekolah negeri, sekolah swasta.SALAM, sekolah di Jogja. MOJOK.CO
Mendalam

Sekolah Negeri Makin Tak Diminati, Mengapa Sekolah Swasta Kian Seksi di Mata Orang Tua?

28 Januari 2026
Homeschooling Sering Diremehkan, Padahal Bisa Bikin Anak Berpikir Kritis dan Mendapatkan "Kemewahan" yang Tak Diberikan Sekolah Formal.MOJOK.CO
Ragam

Homeschooling Sering Diremehkan, Padahal Bisa Bikin Anak Berpikir Kritis dan Mendapatkan “Kemewahan” yang Tak Diberikan Sekolah Formal

12 Mei 2024
Sekolah Dasar atau SD dengan Murid Paling Sedikit di DIY yang Tak Akan Tutup Meski Hanya Punya Satu Murid MOJOK.CO
Ragam

Sekolah Dasar dengan Murid Paling Sedikit di DIY yang Tak Akan Tutup Meski Hanya Punya Satu Murid

21 Februari 2024
rumus luas segitiga. MOJOK.CO
Pendidikan

Cara Menghitung Rumus Luas Segitiga, Jenis, Contoh Soal, dan Pembahasan

17 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

bpjs kesehatan.MOJOK.CO

Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif

5 Februari 2026
Jogja City Mall, Sleman bikin orang nyasar. MOJOK.CO

Megahnya Jogja City Mall Bergaya Romawi dengan Filosofi Keberuntungan, Nyatanya Makin Menyesatkan Orang “Buta Arah” Seperti Saya

3 Februari 2026
Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan Lebih Mudah Diterima daripada Gagal Jadi Sarjana Hukum UGM MOJOK.CO

Perjuangan Ojol sambil Kuliah: Pernah Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan, Kini Lulus Jadi Sarjana Hukum UGM

5 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers MOJOK.CO

Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

6 Februari 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO

5 Penginapan di Lasem: Dari Megahnya Bangunan Tionghoa hingga Sunyinya Pengunjung

3 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.