Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Evolusi yang Terjadi pada Manusia Pecinta Drakor

Nurjanah oleh Nurjanah
18 September 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Saat mulai menonton drakor dan terasa seru di episode pertama, hal pertama yang mengalami evolusi adalah pantatmu.

Beberapa waktu lalu di Twitter, seorang ibu membagikan cerita soal kebiasaannya menonton drama Korea (Drakor). Kebiasaan ini ternyata menimbulkan efek buruk. Bukan pada dirinya, tapi pada sang anak.

Singkatnya, sang anak mengalami speech delay alias terlambat bicara. Dan itu semua gara-gara si ibu jarang mengajak anaknya ngobrol. Si anak lebih sering diberi gawai biar si ibu bisa menonton Drakor dengan tenang.

Sebagai pecinta Drakor—walau tidak kecanduan-kecanduan amat—sedikit banyak saya bisa paham kenapa si ibu bisa sampai segitunya. Karena menonton Drakor tanpa kendali memang bisa mengubahmu sih.

Saat mulai menonton Drakor dan terasa seru di episode pertama, hal pertama yang mengalami evolusi adalah pantatmu. Bukan, bukan jadi kencang atau tepos. Pantatmu akan berubah jadi lebih “pendiam”.

Jika biasanya ia lincah bergerak ke sana dan ke mari, saat diberi Drakor ia akan diam seperti kena lem. Kamu tidak bisa ke mana-mana selain terus menonton Drakor sampai beres. Ya, minimal beres episode pertama lah.

Sialnya, setelah beres episode pertama, sebuah bisikan gaib itu segera muncul, “Satu episode lagi aja, tanggung!”

Begitu seterusnya sampai kamu tidak sadar sudah melahap tiga episode berturut-turut. Padahal satu episodenya saja durasinya ada yang sampai 1,5 jam.

Sebagai pecinta Drakor semenjak masa awal gelombang Hallyu sampai ke Indonesia, hal ini sudah saya rasakan dari dulu. Misalnya, setiap kali serial Full House tayang di Indosiar, pantat ini rasanya tidak bisa diapa-apakan.

Jika ada hal yang mendesak seperti ingin boker pun, hanya akan dilakukan saat iklan. Semata karena tidak ingin ketinggalan sedetik pun adegan-adegan lucu antara Han Ji-eun dan Lee Yeong-jae.

Begitu juga saat Drakor kolosal Jewel in the Palace tayang. Tidak peduli emak sudah screaming minta dibelikan beras ke warung misalnya, rasanya lebih baik gelut daripada kehilangan momen berharga saat Jang Geum dan Dayang Han menemukan jati diri satu sama lain.

Bahkan, saat Drakor ini sudah selesai, lagu yang mengiringi credit title-nya pun tidak akan dilewatkan begitu saja. Semua ditonton sampai tidak tersisa.

Alhasil, lirik lagunya menempel terus sampai sekarang. Itu lho, yang liriknya: onara onara aju ona… gadara gadara aju gana (nggak perlu dinyanyikan juga ya, Lisa Manoban).

Menonton Drakor, baik dulu di Indosiar atau sekarang di Netflix, juga bisa mengubah lidahmu jadi lebih latah.

Iklan

Latah ini mirip anak-anak yang suka menonton serial Upin & Ipin. Saat berbicara, satu atau dua kata bahasa Melayu pasti akan mereka tirukan. Entah itu sekadar bilang “tak nak” untuk mengganti kata “aku nggak mau” atau melengos sambil bilang “yeuuulaah!” saat diminta membuang bungkus Chiki ke keranjang sampah.

Begitu juga dengan orang dewasa pecinta Drakor. Saat tokohnya berkata “aigoo”, “gomawo”, “arraseo”, “ottoke”, “jin-jja”, hingga “michoso” lidahmu bakal meronta-ronta ingin mengatakannya juga.

Bedanya, orang dewasa pecinta Drakor kadang menggunakannya secara random atau sengaja menggunakannya dalam konteks yang tidak tepat. Ya, entah karena memang tidak tahu artinya atau mungkin karena hanya digunakan buat lucu-lucuan.

Contohnya terpampang di dunia per-Twitter-an. Di sana kita bisa melihat sapaan Hyung dipakai siapa saja. Tidak peduli siapa yang bicara dan yang diajak bicara, semua serba di-Hyung-kan. Yang penting mah lucu aja bisa kokoreaan. Dikit.

Kakak laki-laki saya sendiri pun ketika menelepon misalnya, dengan penuh kegaringan sering memanggil saya “eomeoni”, “ahjumma”, hingga “ahjussi”.

Saya balas memanggilnya “agassi” atau “seonsaengnim”. Hassshhh… ikan hiu makan tomat!

Lebih dari itu, menonton Drakor juga bisa mengubah preferensimu dalam menentukan alat makan hingga pasangan.

Contoh paling sederhana untuk yang pertama sih, caramu ketika makan Indomie. Ia akan berubah dari yang asalnya pakai garpu, tiba-tiba ganti jadi pakai sumpit. Sesederhana hanya karena para tokoh di dalam Drakor melakukannya.

Celaka jika kamu pecinta Drakor sekaligus seorang Wibu di saat bersamaan. Hmmm… bisa-bisa makan pilus pun disumpitin, Gaes.

Dalam kasus yang ekstrem, yang berubah bahkan bukan hanya alat makannya. Tapi hingga pilihan makanannya itu sendiri. Entah itu jadi sering ingin makan jajangmyeon, jjampong, tteokbokki, bibimbap, hingga ingin coba soju—jangan lupa di-bismillah-in dulu ya, Bun!

Terakhir soal pasangan. Gara-gara menonton Drakor yang dibintangi Park Bo-gum misalnya, memang ada yang sampai tipe idealnya berubah jadi oppa-oppa-look gitu, lho.

Ya, walaupun cuma sebatas halu. Dan walaupun look yang miripnya boleh di bagian mata saja, rambut saja, ketek saja, jempol saja, atau bahkan namanya saja.

Kalau mau cari nama pacar yang agak ke-Korea-Korea-an mah, di Bandung juga banyak sih. Kang Daniel orang Cicaheum misalnya. Itu namanya Korea banget, lho. Ada marga Kang-nya. Baiq, retceh.

Eh, atau mau cari yang oppa-oppa-look hingga ahjussi rasa oppa? Ke Bandung juga saja. Nanti main ke daerah Kosambi. Biar ketemu Mang-Oppa Ade Londok yang beberapa hari kemarin viral dengan Odading Mang Olehnya. Ih hapunten nya Mang Ade. Heureuy abi mah. Sumpah.

BACA JUGA Di Dunia Drama Korea, Wajah Tampan Saja Tidak Cukup dan tulisan Nurjanah lainnya.

Terakhir diperbarui pada 22 September 2020 oleh

Tags: Drakordrama koreaKoreaWibu
Nurjanah

Nurjanah

Artikel Terkait

Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya MOJOK.CO
Esai

Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya

27 Maret 2026
Dracin bukan sekadar kisah cinta lebay. MOJOK.CO
Ragam

Kisah Cinta “Menye-menye” ala Dracin bikin Hidup Perempuan Dewasa Lebih Berbunga dari Luka Masa Lalu yang Menyakitkan

6 Januari 2026
No Other Choice: rekaman betapa rentan nasib buruh. Mati-mati kerja sampai kehilangan diri sendiri, tapi ditebang saat tak dibutuhkan lagi MOJOK.CO
Catatan

No Other Choice: Buruh Mati-matian Kerja sampai Kehilangan Diri Sendiri, Usai Diperas Langsung Ditebang

16 Oktober 2025
Tinggalkan Probolinggo untuk kerja di Korea Selatan demi bantu Ibu. Dapat cuan gede malah dituduh tetangga jual diri MOJOK.CO
Ragam

Nekat Kerja di Korea Selatan demi Bantu Ibu, Dapat Cuan Gede Malah Dituduh Tetangga Jual Diri hingga Tak Mau Pulang Lagi

17 Juni 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Salah paham terhadap paket intimate wedding di wedding organizer (WO) MOJOK.CO

Salah Paham pada Paket Intimate Wedding di WO: Dikira Tekan Biaya padahal Bisa Tetap Mahal, Karena Intimate dan Biaya Itu Dua Hal Berbeda

4 Juni 2026
Fitur "Pilih Kursi" di KAI Access terasa percuma karena penumpang di kereta api ekonomi tidak tahu diri MOJOK.CO

Fitur “Pilih Kursi” KAI Access Terasa Percuma, Mau Duduk Nyaman di Kursi Incaran tapi Malah Makin Kesal

8 Juni 2026
Tren kalcer dan monopoli olahraga bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius MOJOK.CO

Tren Kalcer dan Monopoli Olahraga bikin Gowes Jadi Terlalu Ambisius, Mau Sekadar Bersepeda tapi Malu Dicap Cupu

3 Juni 2026
Campus League Basketball 2026 Regional Jakarta Season 1 tidak hanya jadi panggung prestasi basket, tapi juga warna baru solusi mobilitas masa depan anak muda dengan motor listrik Polytron MOJOK.CO

Puncak Campus League Basketball 2026 Jakarta S1: Tak Hanya Jadi Panggung Basket tapi Juga Hadirkan Solusi Mobilitas Masa Depan Anak Muda

2 Juni 2026
Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026
Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia MOJOK.CO

Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia

8 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.