MOJOK.CO – Dracin yang saat ini disukai warga dunia jadi gambaran nyata kehidupan Chindo Surabaya yang gemar memakai kaos oblong dan sandal jepit.
Membaca esainya Mbak Tiara Uci tentang “kaos oblong dan sandal jepit” sebagai fesyen Crazy Rich Surabaya di Mojok beberapa waktu lalu membuat saya tersenyum sendiri di depan layar ponsel. Saat itu, saya sedang duduk di pinggiran Sungai Li di Guilin. Sebuah kota di Cina yang pemandangannya mirip lukisan di kaleng biskuit, tetapi dinamika manusianya jauh dari kata lukisan.
Saya menulis ini sambil memperhatikan orang-orang lokal di sini, lalu membandingkannya dengan memori saya tentang koko dan cici (Chindo) yang biasa nongkrong di Galaxy Mall atau Pakuwon Surabaya.
Sebagai orang Indonesia yang sedang mukim di sini, saya menemukan sebuah kontras yang cukup mencolok. Jika di Surabaya ada semacam gaya untuk terlihat paling lusuh agar dianggap paling kaya, di daratan Cina, negeri asal para leluhur koko dan cici tersebut, logika berpakaiannya sudah bergeser ke arah yang berbeda.
Estetika kaos oblong dan trauma sejarah
Mari kita jujur, gaya lusuh koko dan cici Surabaya itu bukan sekadar soal kenyamanan atau malas dandan. Ada DNA bertahan hidup yang tertanam di sana. Di Surabaya, kalau Anda turun dari mobil mewah dengan setelan jas rapi, Anda akan dikira sopir atau sales asuransi. Tapi kalau Anda turun pakai kaos oblong yang sudah kuning di ketiak dan sandal jepit yang sudah tipis, satpam diler mobil justru akan membungkuk lebih dalam.
Namun, ada substansi yang lebih gelap di balik pilihan gaya ini. Mbak Tiara mungkin melihatnya sebagai kearifan lokal, tapi bagi saya, ini adalah residu dari trauma sentimen anti-Cina yang pernah marak di Indonesia.
Mari kita buka catatan sejarah. Pada tahun 1960-an, terutama pasca-1965, menjadi etnis Tionghoa di Indonesia itu ibarat berjalan di atas kulit telur yang sudah retak. Benedict Anderson dalam bukunya, The Specter of Comparisons, menjelaskan bagaimana kebijakan asimilasi paksa dan sentimen anti-Cina menciptakan ketakutan kolektif.
Soeharto, melalui Inpres No. 14 Tahun 1967, melarang segala hal berbau Cina di ruang publik. Pemberlakuan peraturan ini sering disebut sebagai awal perlakuan diskriminasi dari pemerintah Orde Baru terhadap warga negara beretnis Tionghoa.
Kalau kita tarik mundur lagi ke masa Demokrasi Terpimpin, ada Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1959 yang melarang orang asing, terutama etnis Tionghoa, untuk berdagang di tingkat retail di daerah pedesaan. Konon, tujuannya adalah melindungi pedagang pribumi dan menggeser posisi ekonomi Tionghoa. Adanya peraturan ini mengakibatkan eksodus massal etnis Tionghoa ke RRC, diskriminasi masif, dan ketegangan diplomatik.
Di Surabaya memakai kaos oblong dan sandal jepit adalah merayakan kemerdekaan
Sejumlah kajian tentang etnis Tionghoa pasca-Orde Baru menunjukkan bahwa kebebasan politik tidak serta-merta menghapus kehati-hatian sosial. Di kota-kota dagang seperti Surabaya, kehati-hatian itu sering muncul bukan dalam pidato politik, melainkan dalam pilihan paling sehari-hari: cara berpakaian.
Dalam kondisi sosial yang tidak stabil dan penuh kecurigaan, memperlihatkan kekayaan secara mencolok adalah tindakan cari mati. Menjadi tidak terlihat atau low profile adalah mekanisme pertahanan diri yang paling masuk akal. Kaos oblong adalah perisai agar tidak terlalu mencolok di mata birokrasi yang korup atau massa yang mudah tersulut sentimen kelas.
Gaya low profile ini menetap menjadi sebuah budaya meskipun zaman sudah berubah. Di Surabaya, menjadi kaya itu harus diam-diam karena ingatan akan kerusuhan rasial di masa lalu masih membekas di alam bawah sadar para sesepuh.
Jadi, ketika Chindo di Surabaya itu merasa nyaman dengan kaos oblong dan sandal jepitnya, mereka sebenarnya sedang merayakan kemerdekaan dari sejarah yang menuntut mereka untuk selalu sembunyi.
Di Guilin, kekayaan itu harus berisik, kaos oblong dan sandal jepit itu tandanya bangkrut
Sekarang mari kita bandingkan dengan orang Cina di daratan aslinya, khususnya di Guilin. Di sini, narasi kekayaan yang berbisik (wealth whispers) mulai kalah oleh narasi kejayaan bangsa.
Di Cina, setelah era Reformasi Ekonomi Deng Xiaoping, menjadi kaya adalah sebuah kehormatan, bukan lagi dosa borjuis yang harus disembunyikan. To get rich is glorious, menjadi orang kaya adalah hal yang mulia. Gaya berpakaian orang kaya di sini, termasuk para turis domestik yang memadati sungai Li, adalah gaya yang berisik.
Jika koko dan cici Surabaya bangga dengan kaos oblong dan sandal jepit yang mereknya nggak kelihatan, orang kaya di sini akan memastikan logo Moncler, Gucci, atau setidaknya Li-Ning edisi premium terlihat dari jarak 50 meter.
Memang, ada fenomena bernama Tuhao yang digunakan untuk mengejek orang kaya baru yang kurang selera, tapi di luar itu, orang kaya lama di Cina saat ini lebih memilih gaya tech-luxury.
Mereka memakai sepatu lari seharga motor Vario keluaran terbaru namun terlihat sangat futuristik. Tidak ada estetika sederhana di sini. Mengapa? Karena mereka tidak punya sejarah harus bersembunyi dari tetangga atau penguasa hanya karena identitas etnis mereka. Di sini, mereka adalah mayoritas yang berkuasa.
Berpakaian rapi dan bermerek di Cina adalah bentuk “Mianzi” atau menjaga muka. Kalau Anda kaya tapi terlihat gembel di Guilin, orang tidak akan menganggap Anda rendah hati, tapi menganggap bisnis Anda sedang bangkrut dan justru akan membuat keluarga Anda malu.
Kontras sekali dengan Surabaya, di mana semakin gembel penampilanmu, semakin besar plafon kredit yang mungkin akan diberikan bank padamu.
Fenomena “undercover billionaire” di dracin yang sedang disukai penduduk Cina dan dunia
Namun, ada hal yang sangat lucu. Meskipun orang kaya asli di Cina senang pamer, di media sosial mereka (Douyin atau WeChat), justru sedang ngetren drama-drama pendek yang plotnya persis seperti realita koko dan cici di Surabaya.
Bukan hanya ditonton oleh penduduk Cina, tapi juga warga dunia. Lebih dari 200 negara di dunia yang kena penetrasi dari drama Cina (dracin). Anda mungkin pernah melihat potongannya di Facebook, Instagram, atau TikTok.
Polanya selalu sama dan sangat repetitif. Tokoh utama (billionaire) berpakaian sangat lusuh, biasanya jadi petugas kebersihan, pengantar makanan, atau sekadar pengangguran berbaju gembel. Dia dihina habis-habisan oleh orang kaya sombong atau calon mertua yang matre.
Di puncak penghinaan, identitas aslinya terbongkar. Biasanya, asistennya tiba-tiba datang membawa mobil Rolls-Royce dan membungkuk sambil berteriak, “Tuan Muda, pertemuan dewan direksi sudah dimulai!”. Lalu terjadi adegan kaget dan menampar muka secara metaforis kepada mereka yang tadi menghinanya.
Drama-drama ini sangat populer di Cina karena menyentuh fantasi terdalam masyarakat kelas bawah yang ingin membalas dendam pada kesombongan kelas. Tapi yang menarik bagi saya, apa yang dianggap fantasi dalam dracin tersebut, justru adalah realitas sehari-hari di Surabaya.
Kalau sutradara dracin itu pergi ke Surabaya dan nongkrong di Pakuwon atau Galaxy Mall, dia tidak perlu menulis skrip. Dia cukup memfilmkan koko dan cici yang datang pakai celana pendek dan sandal jepit, lalu dengan santainya mengeluarkan bilyet giro untuk membeli tiga unit Denza secara tunai. Itu adalah plot twist kehidupan nyata yang jauh lebih gila daripada dracin Douyin mana pun.
Pergeseran generasi Chindo Surabaya: antara sandal jepit dan sneaker limited edition
Namun, saya mulai melihat pola menarik. Generasi Z Tionghoa di Surabaya sebenarnya mulai mirip dengan anak muda di Cina. Mereka sudah mulai meninggalkan estetika gembel leluhurnya. Mereka sudah nggak punya beban trauma secara langsung.
Mereka tetap memakai kaos oblong, tapi kaos oblongnya bermerek Fear of God atau Essentials yang harganya bisa buat bayar kosan setahun. Sandal mereka bukan lagi Swallow, melainkan Yeezy Slides atau Birkenstock.
Mereka tetap ingin terlihat santai, tapi santai yang mahal. Inilah yang disebut sebagai Quiet Luxury versi lokal, meski bagi generasi kakek mereka, ini mungkin dianggap terlalu mencolok dan berbahaya. Nah, fenomena ini yang mungkin ditangkap oleh Mbak Tiara dalam esainya tempo hari.
Koko dan cici Surabaya yang asli mungkin tetap setia pada sandal jepitnya karena mereka adalah saksi hidup betapa bahayanya menjadi terlalu mencolok di masa lalu. Bagi mereka, keamanan adalah kemewahan tertinggi. Sedangkan bagi orang Cina di daratan, kemewahan adalah alat politik dan sosial untuk menunjukkan bahwa Cina bukan lagi “Orang Sakit dari Asia Timur”.
Gaya gembel orang kaya Surabaya adalah sebuah monumen hidup
Jadi, mana yang lebih baik? Gaya gembel Surabaya yang penuh filosofi bertahan hidup, atau gaya necis Cina daratan yang penuh percaya diri?
Sebagai orang yang sedang duduk di tepian sungai di Guilin sambil membayangkan sepiring lontong balap Surabaya, saya rasa gaya Surabaya jauh lebih artistik secara sosiologis. Ada sebuah pernyataan politik dalam sepasang sandal jepit di lobi hotel bintang lima.
Ia adalah pengingat bahwa di sebuah negeri yang pernah mencoba meminggirkan mereka, mereka tetap ada, tetap kaya, dan tetap santai. Bahkan terlalu santai untuk sekadar memakai sepatu.
Pada akhirnya, gaya gembel orang kaya Surabaya adalah sebuah monumen hidup dari sejarah bertahan hidup yang panjang. Itu adalah bentuk perlawanan paling sunyi: “Aku punya segalanya, tapi aku tidak butuh pengakuanmu.”
Sementara di Cina, gaya berpakaian yang necis dan bermerek adalah simbol dari kebangkitan sebuah bangsa yang dulunya miskin dan kini ingin dunia tahu bahwa mereka telah menang. Sudah bukan lagi wong-wong kalahan.
Di Surabaya, kekayaan itu seperti hantu. Tidak terlihat tapi pengaruhnya terasa di mana-mana. Di Cina, kekayaan itu seperti kembang api saat perayaan tahun baru. Harus diledakkan agar semua orang tahu bahwa pesta sudah dimulai. Cerita fesyen orang kaya di Surabaya dan Cina ini kalau digabungkan, ya, jadi dracin.
Bagi saya, koko dan cici atau Chindo di Surabaya dengan sandal jepit dan kaos oblongnya adalah bentuk perlawanan paling sunyi terhadap sejarah.
Dan percayalah, sehebat-hebatnya plot twist di dracin di mana si gembel ternyata bos besar, tidak ada yang bisa mengalahkan kepuasan seperti ini. Kepuasan melihat satpam mal di Surabaya yang awalnya meremehkan seorang bapak bersandal jepit, lalu tiba-tiba harus membukakan pintu dengan takzim karena si bapak ternyata adalah pemilik ruko satu blok di depan mal tersebut.
Penulis: Bachtiar W. Mutaqin
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Di Surabaya, Kaos Oblong dan Sandal Jepit adalah Simbol Kekayaan: Isi Dompet Cukup untuk Beli Mall dan Segala Isinya dan kisah seru lainnya di rubrik ESAI.















