Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Mahasiswa S3 Tertawa di Koridor Kampus Bukan karena Bahagia, tapi Menertawakan Nasibnya Sebagai Pabrik Akademik dan Nasib Jurnal Ditolak 5 Kali

Muhammad Ifan Fadillah oleh Muhammad Ifan Fadillah
14 November 2025
A A
Derita Mahasiswa S3 Sebelum Gila, Tertawakan Diri Sendiri Dulu

Ilustrasi Derita Mahasiswa S3 Sebelum Gila, Tertawakan Diri Sendiri Dulu. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kuliah S3 adalah negosiasi tanpa akhir, dengan supervisor, reviewer, dan kadang dengan diri sendiri yang ingin menyerah tapi gengsi.

Dulu, saya kira S3 itu perjalanan intelektual yang megah. Bangun pagi, menulis teori besar, bisa minum kopi dengan harga Rp125 ribu, lalu di sore harinya membaca jurnal sambil mengangguk bijak seakan telah memahami isi dunia. 

Ternyata, S3 lebih mirip proyek panjang yang spesifikasinya berubah setiap rapat, anggarannya seret, dan panitianya tidak pernah benar-benar setuju satu sama lain. Di brosur beasiswa, S3 tampak seperti jalan sunyi menuju pencerahan. Di realitas kampus, S3 adalah negosiasi tanpa akhir, dengan supervisor, reviewer, dan kadang dengan diri sendiri yang ingin menyerah tapi gengsi.

Label “elit intelektual” tidak selalu sejalan dengan kondisi material. Banyak dari kami adalah kelas menengah akademik yang terjepit. Kesempatan kerja sering tak sejalan dengan kualifikasi, pendapatan tidak stabil, biaya hidup terus naik, sementara target publikasi terus menumpuk. Di grup keluarga, kami dipanggil “calon doktor” dengan nada bangga. Tapi di rekening bank, kami disebut “Maaf, saldo Anda tidak mencukupi.”

Akademia sebagai mesin: Pengetahuan menjadi produk

Dalam imajinasi romantik, kampus adalah taman pengetahuan. Di kenyataan kapitalisme pengetahuan, kampus beroperasi seperti korporasi. Ada target output (publikasi), indikator kinerja (indeks sitasi, H-index, Sinta/Scopus), segmentasi pasar (Q1-Q4), dan audit mutu (akreditasi). 

Di brosur, kata-kata yang dipakai seperti “inovasi”, “kolaborasi”, “impact”. Di meja mahasiswa S3, kata-kata sehari-hari: “deadline”, “reject”, “turnitin 15%”.

Ilmu pengetahuan berubah jadi komoditas yang diukur, dipasarkan, dan diproduksi massal. Tugasmu sebagai mahasiswa S3 adalah memasok pabrik jurnal dengan artikel yang rapi, punya kebaruan, dan patuh format. 

Keren kalau terbit di Q1, lumayan Q2, masih bisa Q3, dan mohon introspeksi kalau Q4. Idealisme boleh tinggal, tapi format harus rapi semata karena, sebagaimana dalam pabrik, cacat ukuran 1 milimeter bisa bikin produk ditolak manajer mutu yang bernama Reviewer 2.

Kita semua tahu ini absurd. Mahasiswa S3 membaca untuk mengerti dunia, tapi sistem menilai dari berapa kali orang lain mengutip kita. Riset, untuk menjawab masalah sosial, tapi yang menentukan nasib adalah impact factor yang bahkan tak menjamin solusi. 

Di titik ini, Marx terasa sangat relevan. Relasi produksi pengetahuan menghasilkan fetisisme komoditas akademik—artikel, metrik, indeks—seolah angka-angka itulah kebenaran, bukan realitas yang ingin kita ubah.

Baca halaman selanjutnya: Bikin gila, tapi harus terus lanjut.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 14 November 2025 oleh

Tags: disertasijurnal s3mahasiswa s3S3scopusujian s3
Muhammad Ifan Fadillah

Muhammad Ifan Fadillah

Seorang mahasiswa yang lagi lanjut studi di bandung, kebetulan suka bacaan “kiri” yang manis hehe.

Artikel Terkait

Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)
Pojokan

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
S3 di Bandung, Istri PNS Makassar- Derita Jungkir Balik Rumah Tangga MOJOK.CO
Esai

Jungkir Balik Kehidupan: Bapak S3 di Bandung, Istri PNS di Makassar, Sambil Merawat Bayi 18 Bulan Memaksa Kami Hidup dalam Mode Bertahan, Bukan Berkembang

1 Desember 2025
Keculasan Dosen dalam Publikasi Jurnal Internasional bikin Integritas dan Kualitas Riset Kampus di Indonesia Dipertanyakan. MOJOK.CO
Mendalam

Keculasan Dosen dalam Publikasi Jurnal Internasional bikin Integritas dan Kualitas Riset Kampus di Indonesia Dipertanyakan

10 Juli 2025
dosen, lulusan s3, jogja.MOJOK.CO
Kampus

Mahal-mahal Bayar Kuliah sampai S3 tapi Menolak Jadi Dosen karena Tahu Sisi Gelap Dunia Pendidikan di Jogja

5 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Membenci tradisi tukar uang alias penukaran uang baru menjelang lebaran untuk bagi-bagi THR MOJOK.CO

Tak Ikut Tukar Uang Baru buat THR ke Saudara karena Tradisi Toxic: Pilih Jadi Pelit, Dibacotin tapi Bahagia karena Aman Finansial

9 Maret 2026
Kuliner Sunda yang tidak ada di Jogja, seblak buat perantau ingin mudik Lebaran

Alasan Orang Sunda Ingin Mudik Bukan Hanya Keluarga, tapi Tak Tahan Siksaan Makanan Jogja yang Rasanya “Hambar”

10 Maret 2026
Makanan Khas Sunda dan Jogja Bikin Muak- Bau Busuk dan Manis (Wikimedia Commons)

Makanan Khas Sunda Bikin Menderita Orang Jogja, Sama Seperti Perantau Sunda Muak dengan Makanan Jogja yang Serba Manis

11 Maret 2026
Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis Itu Mojok.co

Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis

12 Maret 2026
Rasa Sanga (5): Docang, “Makanan Orang Susah” yang Lekat dengan Ajaran Rendah Hati Sunan Gunung Jati di Cirebon.,MOJOK.CO

Rasa Sanga (5): Docang, “Makanan Orang Susah” yang Lekat dengan Ajaran Rendah Hati Sunan Gunung Jati

9 Maret 2026
Sarjana Ekonomi pilih berjualan ayam penyet

Sarjana Ekonomi Pilih Berjualan Ayam Penyet, Sempat Diremehkan Banyak Orang, tetapi Bisa Untung 3x Lipat UMR dan Kalahkan Gaji Pekerja Kantoran

9 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.