Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Derita di Jakarta Barat: Derita Warga Kolong Jalan Tol Angke 2

Kalau ujung-ujungnya menyuruh warga di permukiman di bawah kolong jalan tol Angke 2 Jakarta Barat relokasi secara paksa, jangankan wakil rakyat, gedebok pisang pun saya rasa juga bisa memikirkan hal tersebut.

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
27 Juni 2023
A A
Derita di Jakarta Barat Derita Warga Kolong Jalan Tol Angke 2 MOJOK.CO

Ilustrasi Derita di Jakarta Barat Derita Warga Kolong Jalan Tol Angke 2 (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Warga di permukiman kolong jalan tol Angke 2 Jakarta Barat diperhatikan hanya setelah viral. Wakil rakyat dan pejabat itu ngapain aja sih kerjanya?

“Nasib manusia ada di tangan vlogger yang mengarahkan kamera ke wajahnya,” kata kawan saya. Dan setelah permukiman kolong jalan tol Angke 2 Jakarta Barat viral, pendapat teman saya menemui kebenarannya.

Ada sebuah kehidupan di kolong jembatan jalan tol Angke 2, Jelambar, Jakarta Barat. Kehidupan yang sebelumnya seperti tidak pernah masuk ke dalam peta kehidupan di ibu kota. Namun, berkat seorang vlogger yang menelusuri permukiman itu, kita paham bahwa di sana ada warga yang terhimpit oleh kerasnya kehidupan.

Si vlogger itu tidak hanya menemukan tempat tinggal saja. Di sana bahkan sudah ada tempat ibadah sampai sekolah. Semua bereaksi. Termasuk para pejabat dan wakil rakyat yang tiba-tiba saja sok peduli dengan mengatakan bahwa lingkungan itu harus segera ditertibkan. Katanya, perkampungan di bawah kolong jalan tol Angke 2 itu mengganggu sanitasi, sirkulasi udara, dan estetika kota, khususnya Jakarta Barat.

Ironi pejabat atas permukiman di bawah kolong jalan tol Angke 2 Jakarta Barat

Sebenarnya pendapat para orang-orang sok penting itu ada benarnya. Bagaimana aspek kesehatan di permukiman di bawah kolong jalan tol Angke 2 Jakarta Barat harus diperhitungkan. Lha iya, nggak mungkin ibu kota yang mentereng dengan gedung bertingkat menyimpan ironi macam ini.

Namun, yang menjadi pertanyaan, ke mana para pejabat sebelum permukiman di bawah kolong jalan tol Angke 2 ini viral? Bukankah tugas mereka adalah menjadi wakil rakyat, yakni manusia-manusia kolong tol itu sendiri? Ini menjadi ironi yang lain.

Jika mau membuka mata, lingkungan kumuh di ibu kota bukan hanya itu-itu saja. Mana mau itu pejabat membuka mata atas kenyataan yang terjadi. Coba deh naik transportasi publik seperti KRL dari arah Kebayoran ke Palmerah. Di sana banyak lingkungan kumuh yang tumbuh di samping rel kereta.

Jika mereka keluar berpendapat ketika viral, ya apa bedanya wakil rakyat dengan para netizen? Bedanya cuma wakil rakyat mendapat gaji dan tunjangan, sedangkan netizen hanya mendapatkan meme di kolom komentar.

Pejabat kok malas

Inilah pentingnya pejabat untuk setidaknya naik kendaraan umum ke kantornya. Kantor yang berpendingin ruangan dengan pengharum nyemprot tiap lima menit sekali. Menjadi wakil rakyat itu artinya menjadi corong suara semua lapisan rakyat. Termasuk juga para warga di permukiman di bawah kolong jalan tol Angke 2 Jakarta Barat.

Saya selalu curiga jika pejabat berkomentar setelah sebuah isu viral, lantas mereka kerja apa nggak, sih? Bukankah seharusnya yang lebih memahami “halaman belakang” rumah sendiri ketimbang orang lain? Apa jadinya jika berpendapat setelah viral? Berbahaya.

Efek yang ditimbulkan juga berkepanjangan. Kini, warga kolong permukiman di bawah kolong jalan tol Angke 2 Jakarta Barat itu membatasi diri. Lingkungan menjadi tertutup dan menaruh curiga kepada siapa saja yang “muncul” di sana. Tentu saja mereka takut untuk direlokasi secara paksa. Apalagi mereka sudah nggak mungkin menghindarinya.

Jika para wakil rakyat muncul lebih dulu dari sorot kamera vlogger, tentu akibatnya nggak begini. Para wakil rakyat, dibantu dinas terkait, seharusnya lebih duluan melakukan pendekatan kepada para warga di sana. Semua dilakukan secara bertahap. Itu yang dinamakan kerja.

Jika dilakukan secara bertahap, ketakutan nggak bakalan terjadi di masyarakat. Warga permukiman di bawah kolong jalan tol Angke 2 Jakarta Barat tentu akan lebih terbuka. Mereka nggak akan menyimpan ketakutan akan relokasi paksa, tetapi paham bahwa wakil rakyat itu peduli sama nasib mereka.

Sebuah pemaksaan

Kekacauan di Jakarta, bagi saya, adalah pemaksaan pemindahan hunian tanpa memahami aspek psikologis warga miskin kota. Sebaik apapun hunian baru yang mereka tempati, seperti pendapat George Orwell dalam bukunya yang berjudul The Road to Wigan Pier, belum tentu menyelesaikan masalah perkotaan secara menyeluruh.

Iklan

Memaksa wakil rakyat untuk memahami warga miskin kota, juga masalah yang lain. Jarak antara kaya dan miskin terlalu jauh. Pola pikir tentang kebersihan terlalu jauh untuk dijabarkan. Satu pihak bisa menyewa jasa bersih-bersih, satu pihak lagi 24 jam miliknya digunakan seutuhnya untuk mencari uang.

“Tinggal menjaga kebersihan, apa susahnya, sih?” Oh, tentu saja susah. Coba kita memahami kondisi warga di permukiman di bawah kolong jalan tol Angke 2 Jakarta Barat. 

Pagi adalah saat yang baik untuk mencari uang. Siang dikit, ya mencari uang. Sore menjelang Magrib? Adalah saat paling suci untuk mencari uang. Malam juga tentang uang dan kelaparan masih mendera. 24 jam nggak membuat mereka kenyang.

Jangankan membersihkan comberan dan menyapu lantai rumah. Memindahkan pakaian kotor di lantai saja sudah nggak ada energinya. Itulah realita yang harus dipahami oleh para pejabat dan wakil rakyat.

Kudu memahami dinamika warga di permukiman di bawah kolong jalan tol Angke 2 Jakarta Barat

Menyadarkan untuk menjaga kebersihan, harus ditatar bertahap. Nggak bisa ujug-ujug relokasi. Itu sih hanya memindahkan masalah dari satu tempat ke tempat lainnya. Pahami dulu kondisinya, rumuskan dengan kebijakan yang nggak merugikan mereka.

Ealah malah ngomongin estetika. Sebelum ngomongin itu panjang lebar dan berbuih-buih, ada baiknya para wakil rakyat membaca dulu Sejarah Estetika-nya Martin Suryajaya. Karena keindahan beririsan dengan sikap bijak yang dilahirkan manusia.

Pejabat dan wakil rakyat yang hanya meneruskan isu dari netizen, apalagi vlogger, kok ya rasanya seperti seseorang yang habis memakan bangkai, ya? Mereka hanya memantulkan isu, lantas menyuruh pejabat terkait turun tangan.

Tugas mereka hanya berkomentar atas isu yang sudah bergulir di masyarakat. Padahal, memahami, melihat, dan merasakan penderitaan warga miskin kota sejatinya ya tugas mereka. Kita, masyarakat, bayar pajak untuk menggaji mereka menyelesaikan masalah-masalah seperti ini dengan adil dan bijak.

Kalau ujung-ujungnya menyuruh warga di permukiman di bawah kolong jalan tol Angke 2 Jakarta Barat relokasi secara paksa, jangankan wakil rakyat, gedebok pisang pun saya rasa juga bisa memikirkan hal tersebut.

Penulis: Gusti Aditya

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA 5 Tempat di Jakarta yang Sebaiknya Tidak Dikunjungi dan analisis menarik lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 27 Juni 2023 oleh

Tags: jakartaJakarta BaratJalan Toljalan tol Angke 2 Jakarta Barattol Angke
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Bercita-cita menjadi pelatih Nankatsu. Mahasiswa filsafat.

Artikel Terkait

Alwi Farhan juara Daihatsu Indonesia Masters 2026, bikin Istora Senayan, Jakarta menggelora MOJOK.CO
Sosok

The Authentic Alwi Farhan: Gen Z Muda dan Berbahaya, Mental Baja tapi Suka Belajar dari Kritik

25 Januari 2026
Akhir pekan indah di pusat Jakarta. Ajak bapak pertama kali nonton bulu tangkis langsung di Istora Senayan (Daihatsu Indonesia Masters 2026) MOJOK.CO
Ragam

Akhir Pekan Indah di Pusat Jakarta: Ajak Bapak Pertama Kali Nonton Bulu Tangkis di Istora, Obati Kesepian di Masa Tua

24 Januari 2026
Para loyalis bulu tangkis. menabung demi nonton Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan, Jakarta MOJOK.CO
Ragam

Para Loyalis Bulu Tangkis: Rela Menabung Demi ke Jakarta, Mengenang Cita-cita Masa Kecil untuk Rasakan Magisnya Istora 

23 Januari 2026
Event bulu tangkis Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan jadi berkah bagi driver obol Jakarta MOJOK.CO
Ragam

Berkah di Luar Arena: Ojol Jakarta Terciprat Bahagia dari “Pesta Rakyat” Indonesia Masters 2026 di Istora

20 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pelatihan kerja untuk calon pekerja migran di Jogja. MOJOK.CO

Skill yang Harus Kamu Kuasai sebagai Pekerja Migran “Elite” agar Nggak Dipandang Sebelah Mata

25 Januari 2026
Cerita kecil nan hangat di tengah gemuruh bulu tangkis Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan MOJOK.CO

Cerita-cerita Kecil nan Hangat di Tengah Gemuruh Istora, Orang Tua dan Anak Saling Memperjuangkan Masa Depan

21 Januari 2026
Akhir pekan indah di pusat Jakarta. Ajak bapak pertama kali nonton bulu tangkis langsung di Istora Senayan (Daihatsu Indonesia Masters 2026) MOJOK.CO

Akhir Pekan Indah di Pusat Jakarta: Ajak Bapak Pertama Kali Nonton Bulu Tangkis di Istora, Obati Kesepian di Masa Tua

24 Januari 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO

Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina

20 Januari 2026
Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

20 Januari 2026
Ulfi Rahmawati, penerima beasiswa LPDP alumnus UNY. MOJOK.CO

Tak Melihat Masa Depan Cerah sebagai Guru Honorer di Ponorogo, Pilih Kuliah S2 dengan LPDP hingga Kerja di Perusahaan Internasional

21 Januari 2026

Video Terbaru

Zainal Arifin Mochtar dan Tawa yang Tidak Sepenuhnya Bercanda

Zainal Arifin Mochtar dan Tawa yang Tidak Sepenuhnya Bercanda

24 Januari 2026
Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

21 Januari 2026
Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

20 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.