Pertanyaan dari yang aneh sampai yang berat untuk orang Pakistan
Ada juga hal-hal lucu yang sering saya alami di sini. Misalnya, orang Indonesia sering bertanya, “Kamu kalau ngomong juga geleng-geleng kepala kayak orang India, ya?”
Saya cuma bisa tertawa dan menjawab, “Kamu pernah melihat saya begitu?” Kalau mereka bilang belum pernah, saya berkata, “Nah, berarti kami beda.”
Pertanyaan lain yang sering muncul adalah soal keamanan. “Pakistan itu aman nggak? Katanya banyak kelompok radikal, ya?”
Saya bilang, memang ada sebagian kecil orang yang berpikiran keras, tapi mereka tidak mewakili seluruh rakyat Pakistan. Sebagian besar orang di sana baik, sibuk dengan hidupnya sendiri, dan sama seperti kita semua: hanya ingin damai.
Lalu, ada juga yang penasaran soal hubungan Pakistan dan India. “Masih perang, ya?”
Saya jawab, “Politiknya memang rumit, tapi warganya biasa-biasa saja.” Di luar negeri, seperti di sini, kami sering akrab. Di Jogja, saya punya beberapa teman dari India, dan kami sering nongkrong bareng. Kadang kami bercanda, “Di media kita musuhan, tapi di dunia nyata kita saudara.”
Jawaban terbaik datang dari orangnya langsung
Sebagai orang Pakistan, saya belajar banyak dari Indonesia. Khususnya tentang bahasa, budaya, dan juga tentang bagaimana orang memandang dunia.
Saya belajar bahwa sering kali persepsi dibentuk oleh media, bukan oleh kenyataan. Tapi kalau kita mau saling kenal lebih dekat, kita akan tahu bahwa manusia di mana saja punya keinginan yang sama: hidup damai, dihargai, dan punya teman untuk tertawa.
Saya teringat bait puisi Urdu yang pernah saya baca:
غیروں سے کہا تم نے، غیروں سے سنا تم نے
کچھ ہم سے کہا ہوتا، کچھ ہم سے سنا ہوتا
Artinya:
“Kamu bicara kepada orang lain tentang kami, dan mendengar dari mereka.
Andai saja kamu berbicara kepada aku, dan mendengar langsung dariku.”
Puisi itu menggambarkan banyak hal yang saya rasakan di sini. Misalnya, bagaimana prasangka muncul dari jarak dan kesalahpahaman. Tapi ketika jarak itu dijembatani, ternyata kita bisa saling memahami.
Sekarang, setiap kali orang bertanya kenapa orang Pakistan betah di Indonesia, saya cuma senyum dan bilang, “Karena di sini, saya bukan bule. Saya Wali. Karena itu nama saya.”
Penulis: Waleed Ahmad Loun
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Culture Shock Kuliah di Pakistan, Mahasiswa Sering Demo dan Kelas Sering Kosong dan pengalaman menarik lainnya di rubrik ESAI.















