Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Cina Ditakdirkan Perang dengan Amerika: Hitam Putih Dunia di Tangan Xi

Lantas, kalau Cina kembali kepada sosialisme-komunisme-marxisme, apakah mereka akan berperang dengan Amerika?

Ronny P. Sasmita oleh Ronny P. Sasmita
23 November 2022
A A
Cina Ditakdirkan Perang dengan Amerika: Hitam Putih Dunia di Tangan Xi

Ilustrasi Cina Ditakdirkan Perang dengan Amerika: Hitam Putih Dunia di Tangan Xi

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Menurut profesor dari Harvard University, Graham Allison, Cina dan Amerika ditakdirkan untuk berperang. Benarkah? Apa dasarnya, ya?

Profesor Stephen Mark Kotkin, sejarawan dari Princeton University yang menulis biografi Josef Stalin, dalam sebuah diskusi bertajuk “Big Three” di Hoover Institution, Stanford University tahun 2021 lalu, meyakini bahwa FDR dan Harry Truman melakukan kesalahan besar atas Stalin terkait dengan Partai Komunis Cina. 

Menurut Kotkin, jelang berakhirnya Perang Dunia II, Stalin cenderung patuh pada permintaan Amerika. Alasannya, banyaknya bantuan yang diberikan Amerika kepada Soviet untuk melawan Hitler di satu sisi dan politik akomodatif FDR atas Stalin selama Perang Dunia II di sisi lain. 

Ketika FDR meminta Stalin untuk tidak menyerang Jepang di tanah Cina (maksud FDR agar Stalin tidak menginvasi Cina), Stalin mematuhinya. Saat FDR kemudian meminta Stalin ikut membantu Amerika mengalahkan Jepang setelah teater Eropa selesai, Stalin pun mematuhinya. Pasukan Merah sudah sampai di Korea dari sisi darat lalu memasuki pulau Sakhalin jelang Hokkaido dari sisi laut. 

Lalu Truman (setelah FDR meninggal) meminta Stalin berhenti di garis 38 paralel yang sekarang jadi batas Korut dan Korsel. Stalin, lagi-lagi, mematuhinya. Tentara Merah benar-benar berhenti di sana. Lalu Truman meminta Stalin tidak menginvasi Jepang via laut. Stalin pun patuh, Pasukan Merah berhenti di Pulau Sakhalin.

Stalin tunduk ke Paman Sam

Kesimpulan Kotkin, jika saja Stalin diminta oleh FDR atau Truman untuk masuk ke Cina, menghabisi Partai Komunis Cina demi menyelamatkan Chiang Kai-shek, maka Stalin akan melakukannya. Kotkin nampaknya sangat yakin soal itu. Bahkan menurut Kotkin, Stalin adalah sosok yang paling tepat untuk menghabisi komunis Cina, “Karena Stalin adalah orang yang paling mengetahui bagaimana cara membunuh komunis,” kata Kotkin. Semua peserta diskusi tertawa, termasuk peserta yang diundang untuk menonton live via Zoom seperti saya.

Tapi, pandangan tersebut muncul puluhan tahun kemudian, setelah Amerika menyadari betapa berbahayanya Cina hari ini jika dikaitkan dengan eksistensi supremasi Amerika di tingkat global. Apalagi, Kotkin misses the point terkait FDR. FDR tentu tidak akan gegabah menyikapi sayap komunis. 

Lihat saja, setelah Revolusi Oktober 1917 di Rusia, Amerika memutus hubungan diplomatik dengan Soviet. Tapi, sesaat setelah berkuasa pada 1933, FDR membuka kembali hubungan diplomatik dengan Soviet. Jadi sangat sulit membayangkan FDR akan mengambil sikap seperti yang dikatakan Kotkin, yakni menghabisi komunis Cina dengan tangan Stalin. Itu bukan cara FDR.

Amerika sebagai big brother

Pandangan tersebut tak berbeda dengan penganut realisme politik internasional sekelas John Mearsheimer. Dalam tulisannya di majalah Foreign Affair beberapa bulan lalu, John menyalahkan politik engagement Amerika terhadap Cina. Amerika yang membesarkan Negeri Tirai Bambu, kata John, via politik engagement. Amerika menutup mata atas berbagai pelanggaran HAM di sana, termasuk terbunuhnya ribuan mahasiswa di peristiwa Tiananmen Square. Sanksi hanya sebentar diterapkan. Lalu, atas lobby Bush Senior, yang pernah menjabat sebagai kepala kantor perwakilan Amerika di Shanghai, sanksi pelan-pelan diangkat kembali. 

Amerika mendorong Wall Street menyiramkan investasi secara masif di Cina, yang membuat negara lain pun ikut berinvestasi di sana. Amerika mendorong dedengkot Wall Street, termasuk mantan Secretary of State Hank Paulson yang mantan CEO Goldman Sach, untuk melejitkan perusahaan-perusahaan Cina ke tingkat global, mendorong perusahaan-perusahaan besar di sana untuk go public di bursa global. Tapi nyatanya, Cina tak pernah bercita-cita menjadi negara demokratis seperti yang diharapkan Amerika, kata John. 

Tapi, sama seperti Kotkin, John juga misses the point. Amerika diuntungkan oleh Cina. Amerika selama ini berhasil meredam inflasi karena barang impor dari sana. Oleh karena itu, saat perang dagang memanas, inflasi mulai datang ke negeri Paman Sam. Setengah dari defisit dagang Amerika dan Cina adalah intrafirm trade, yakni perusahaan Amerika yang berinvestasi dan berproduksi di sana mengirim produksinya kembali ke Amerika. 

Artinya, perusahaan-perusahaan Amerika meraup keuntungan besar setelah berinvestasi di sana. Di sinilah Trump juga misses the point soal defisit dagang Amerika dan Cina. Risikonya, Amerika kehilangan lebih dari tiga juta lapangan pekerjaan karena investasi pindah ke seberang. Nah terkait soal ini, Trump got the point. 

Indonesia juga salah memahami

Indonesia tampaknya juga demikian. Indonesia agak sedikit meleset memaknai defisit dagang dengan Cina. Defisit Indonesia jauh lebih besar dari yang tertulis di data, karena sebagian ekspor Indonesia adalah ekspor yang dilakukan perusahaan tambang milik Cina di Sulawesi dan Kalimantan atau perusahaan perkebunan sawit asing di Sumatera dan Kalimantan, alias bukan sepenuhnya ekspor perusahaan Indonesia. 

Tapi, karena perhitungannya dipukul rata, maka semua yang keluar dari Indonesia akan dianggap ekspor Indonesia (model kalkulasi PDB yang baru). Padahal omset dan profitnya berada di tangan perusahaan asing. Risikonya, jika terjadi ketidakpastian ekonomi dalam negeri, perusahaan-perusahaan ini berisiko menahan dolarnya di luar negeri saat performa rupiah memburuk (inilah yang terjadi hari ini) 

Iklan

Lihat saja di Sulawesi sana, perusahaan yang menambang dan mengolah nikel mayoritas adalah perusahaan Cina. Atau perusahaan besar yang mengekspor CPO, sekelas Wilmar misalnya, bukan perusahaan Indonesia, meskipun komisaris-komisarisnya di perusahaan joint venture dalam negeri adalah mantan-mantan petinggi di Indonesia. Tapi, Indonesia setidaknya masih dapat lapangan pekerjaan. Jadi sangat miris jika pekerjaan di investasi asing juga dikerjakan oleh pekerja asing. Lantas Indonesia dapat apa? 

Baca halaman selanjutnya

Sistem kapitalis Amerika yang cacat

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 23 November 2022 oleh

Tags: amerikacinainflasiperang amerika cinaperang dagangsoviet
Ronny P. Sasmita

Ronny P. Sasmita

Penikmat Kopi dan Penggemar Berat Billy Joe Amstrong. Analis Senior di Indonesia Strategic and Economic Action Institution.

Artikel Terkait

Perang Iran Israel Bikin Nggak Waras, Masih Hidup Aja Syukur MOJOK.CO
Cuan

Perang Iran Israel Berpotensi Jadi Krisis Global, Kelas Menengah Ikutin Cara Ini Biar Tetap Waras Selama Bertahan Hidup

5 Maret 2026
Tanpa Cina dan Pecel Lele, Mental Orang Jawa Pasti Ambruk (Wikimedia Commons)
Pojokan

Persahabatan Aneh dengan Anak Cina Membawa Saya ke Pecel Lele di Bawah Jembatan Janti yang Menjadi “Pelarian” bagi Orang Jawa

16 Februari 2026
Ketika Dosen UGM Mengajar di Cina saat Natal dan Tahun Baru: Libur Bukan Hadiah, tetapi Utang yang Harus Dibayar Lunas MOJOK.CO
Esai

Ketika Dosen UGM Mengajar di Cina saat Natal dan Tahun Baru: Libur Bukan Hadiah, tetapi Utang yang Harus Dibayar Lunas

2 Januari 2026
Belajar Bahaya Inflasi Pakai Bahasa Warteg MOJOK.CO
Esai

Belajar Bahaya Inflasi Pakai Bahasa Warteg Langganan yang Ketebalan Telur Dadarnya Semakin Berkurang dan Sayur Sop Terasa Hambar

17 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pedagang sate kere di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO

Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK

16 Maret 2026
Ada kehangatan dan banyak pelajaran hidup di dalam kereta api (KA) ekonomi yang sulit didapatkan user KA eksekutif kalau terlalu eksklusif MOJOK.CO

Kehangatan dan Pelajaran Hidup di Kereta Api (KA) Ekonomi yang Sulit Ditemukan di KA Eksekutif

13 Maret 2026
Gaji Cuma 8 Juta di Jakarta Jaminan Derita, Tetap Miskin dan Stres MOJOK.CO

Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin

19 Maret 2026
Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026
Perantau Minang di kantin kereta api Indonesia (KAI) dalam perjalanan mudik Lebaran

Perantau Minang Gabut Mudik Bikin Tanduk Kerbau dari Selimut KAI, Tak Peduli Jadi Pusat Perhatian karena Suka “Receh”

13 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.