Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Berkacalah pada Amerika dan Kalian akan Paham, Chocolicious Justru Sangat Toleran

Pradewi Tri Chatami oleh Pradewi Tri Chatami
25 Desember 2017
A A
chocolicious-natal-mojok.co

chocolicious-natal-mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] “Cie, ngunggah penolakan Chocolicious untuk nulis ucapan selamat Natal, pengin viral dan jadi seleb medsos yha?”

Pengujung tahun selalu menjadi waktu yang tepat untuk merasa sia-sia, entah karena hidup selama setahun kurang berfaedah, ditinggal nikah, kurang sehat, hati patah, kerja tetap diupah rendah, atau terjebak dalam perdebatan perenial: apakah haram mengucap selamat Natal? Meskipun ada enam agama yang diakui dan banyak sekali hari raya agama, tetap saja Natal dan Tahun Baru menjadi primadona sengketa.

Sebenarnya, ribut mengenai selamat Natal bukan cuma terjadi di Indonesia. Amrikiya, negara sekuler mayoritas kafir yang presidennya bikin larangan perjalanan ke negara-negara muslim dan bilang Jerusalem ibu kota Israel juga tiap tahun puyeng gara-gara Selamat Natal. Pasalnya, pada bulan Desember, ternyata ada banyak perayaan agama lain. Kalau sepanjang bulan Desember dekorasi dan kartu ucapan cuma ada “Selamat Natal”, bagaimana dengan perayaan agama lain?

Orang Yahudi merayakan Hanukkah, tanggalnya tidak menggunakan tahun Masehi, jadi wajar kalau kita tidak tahu dan tidak jadi perdebatan di Indonesia karena Yahudi adalah kilometer nol dalam perjalanan keharaman. Di hari ini, mereka merayakan penyucian Bait Allah dengan menyalakan lilin di Menorah satu per satu selama delapan hari berbarengan dengan festival.

Pada tanggal 8 Desember, orang Jepang merayakan Rohatsu, saat Siddharta memperoleh pencerahan di bawah pohon bodhi. Di tempat lain, perayaan ini menggunakan kalender lunar yang dibuat setelah Buddha meninggal. Tapi, saat Jepang mengubah kalendernya ke masehi, semua hari raya disesuaikan dengan kalender baru.

Di Kristen sendiri, sebagian umat merayakan hari Santo Nikolas pada hari kematiannya di 6 Desember. Santo Nikolas adalah santo pelindung Rusia, pelaut, dan anak-anak. Ia merupakan orang yang amat murah hati dan kerap mendermakan kekayaannya pada orang miskin. Konon, ia pernah melempar sekarung emas ke rumah anak-anak miskin dan koin itu nyangkut di kaos kaki. Dari kisah inilah legenda Sinterklas lahir. Di beberapa negara, hari ini menjadi hari istimewa dan digunakan untuk bertukar kado dan memberi derma.

Ada juga winter solstice atau titik balik matahari setiap tanggal 21 Desember. Hari ini dirayakan kaum pagan di belahan bumi utara, yang tentu saja irelevan bagi orang yang tinggal di negara tropis seperti kita.

Sebenarnya seru juga kalau kita merayakan hari raya para penghayat kepercayaan lokal di sini supaya tambah banyak libur. Apalagi hari penting buat kebanyakan penghayat berkaitan dengan siklus daur hidup bumi dan alam, yang kalaupun tidak diliburkan ya bakal meliburkan diri. Masa tanam dan masa panen, misalnya. Kan lebih bagus kalau hari libur ini disahkan supaya anak-anak di kampung tidak dikira bekerja di bawah umur dan tidak peduli pendidikan. Dan supaya toko besar kian sering bikin diskon, hehe.

Di tengah perdebatan soal haram atau halal selamat Natal, selamat Hari Ibu, selamat Hanukkah, selamat Hari Bodhi, atau selamat karena sudah move on dari mantan dan dapat gebetan baru di tengah liburan, Chocolicious, toko kue dari Makassar, datang dengan solusi jenial. Mereka menjual kue untuk semua orang, tidak melihat latar belakang agama mereka apa, dan mempersilakan para pelanggan untuk menulis sendiri ucapan yang mereka inginkan di kartu dan papan yang sudah toko ini sediakan.

Bagus, kan? Coba kalau mereka cuma menyediakan tulisan di kue atau kartu ucapan template ”Selamat Natal”, padahal yang beli kue agamanya Buddha dan mau merayakan Rohatsu? Atau beli kue untuk ulang tahun sahabat dan dia adalah orang Towani Tolotang? Makanya, saya heran ketika mereka disebut intoleran. Apalagi mereka telah menjelaskan dengan rendah hati bahwa itu lahir dari keinginan mereka memegang teguh keyakinan mereka sendiri. Sudah demikian toleran membebaskanmu bikin ucapan sendiri, mereka juga teguh memegang agama.

Tindakan Chocolicious yang menyuruh kita menulis ucapan sendiri sebenarnya bukan cuma toleran dan saleh, tapi juga memacu kita untuk lebih kreatif, mandiri menulis sendiri. Yang keburu ngambek dan nyinyirin Chocolicious paling juga orang-orang yang nggak bisa nulis ucapan dan kalau hari raya kirim WhatsApp blast hasil salin tempel dari orang yang diganti namanya doang, itu juga kalau inget. Sering juga lho, saking kepengin paling duluan ngucapin selamat, sebelum kelar dibaca keburu di-forward ke semua orang.

Kayaknya sih ya, begini juga cara mereka membaca maklumat dari Chocolicious. Bacanya hanya sampai mereka nggak mau ngucapin selamat Natal karena agama, nggak dibaca bahwa mereka tetap melayani semua orang dan menyediakan kartu kosong. Pengumuman yang dilakukan oleh Chocolicious sangat ramah, toleran, pengertian, dan memberikan kita kemudahan. Susah memang kalau ketahanan membaca kita cuma satu persen dari hasrat berkomentar.

Nah, bagi kalian yang menganggap Chocolicious intoleran karena kepengin dapet kartu ucapan jadi untuk bilang Selamat Natal, boleh lho kontak saya. Saya bisa bikinin ucapan yang custom dan cocok buat segala suasana. Gini-gini, saya kan mantan calon penyair. Eh.

Terakhir diperbarui pada 25 Desember 2017 oleh

Tags: ChocoliciousHaram Selamat Natalkuekue coklatLebaranMakassarNatalSinterklasucapan
Pradewi Tri Chatami

Pradewi Tri Chatami

Artikel Terkait

Gen Z dapat THR saat Lebaran
Urban

3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

18 Maret 2026
Mudik Gratis dari BUMN 2026. MOJOK.CO
Kilas

Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang

18 Maret 2026
Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO
Urban

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
Bus ekonomi jalur Jogja Jambi menyiksa pemudik. MOJOK.CO
Sehari-hari

Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”

13 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pedagang sate kere di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO

Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK

16 Maret 2026
Orang Jombang iri dengan Tuban, daerah tetangga sesama plat S yang semakin gemerlap dan banyak wisata alam buat healing MOJOK.CO

Sebagai Orang Jombang Saya Iri sama Kehidupan di Tuban, Padahal Tetangga tapi Terasa Jomplang

12 Maret 2026
Naik Travel dari Jogja ke Surabaya Penuh Derita, Nyawa Terancam (Unsplash)

Naik Travel dari Jogja ke Surabaya, Niatnya Ingin Tenang Berakhir Penuh Derita dan Nyawa Terancam

13 Maret 2026
Kerja di Jakarta, Purwokerto, KRL.MOJOK.CO

Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

13 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Tuntutan sosial dan gengsi bikin kelas menengah jadi orang kaya palsu hingga abaikan tabungan demi kejar standar sukses MOJOK.CO

Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit

14 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.