MOJOK – Sebagai pengajar yang mendapat julukan dosen kalcer oleh mahasiswa, penulis dapat tekanan psikologis, apakah mahasiswanya akan jadi bagian dari satu juta sarjana yang menganggur?
Pagi di Gorontalo selalu punya cara sendiri untuk menyapa, udara lembab yang merambat dari Teluk Tomini, aroma ayam iloni yang mulai mengepul di sudut-sudut jalan Nani Wartabone, dan matahari yang rasanya sudah siap memanggang siapa pun yang berani melangkah keluar rumah dengan kemeja flanel berlapis kaus oblong.
Saya berdiri di depan cermin, merapikan tali sepatu New Balance yang belakangan ini oleh anak muda disebut sebagai bagian dari seragam wajib “Dosen Kalcer”.
Istilah “kalcer” atau culture ini sebenarnya lucu sekaligus menyedihkan. Ia seolah-olah menjadi label bagi kami, para pendidik muda, yang mencoba tampil beda dari prototipe dosen konvensional yang kaku, berjarak, dan hobi menumpuk diktat usang.
Dosen kalcer adalah juru ketik administratif yang menyamar jadi intelektual
Menjadi “kalcer” bagi mahasiswa berarti Anda adalah oase. Anda adalah orang yang bisa diajak diskusi di Mary Coffee atau di 230 cafe tanpa sekat hierarki yang mengintimidasi.
Namun, bagi sistem birokrasi pendidikan kita di tahun 2026 ini, menjadi “kalcer” sering kali hanyalah sekadar ornamen visual yang menyembunyikan kenyataan bahwa kami sebenarnya adalah juru ketik administratif yang menyamar sebagai intelektual.
Langkah saya menuju kampus pagi ini terasa berat, bukan karena materi kuliah yang sulit, melainkan karena beban moral yang saya bawa dalam tas ransel saya. Di sana, terselip data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru 2026 yang menunjukkan bahwa angka pengangguran sarjana di Indonesia telah resmi menembus angka satu juta orang.
Hal ini diperkuat dengan beberapa berita yang saya baca, “Hampir 1 Juta Sarjana Menganggur Tiap Tahun, 3 Masalah Disorot”. Bayangkan, di ruang kelas nanti, saya akan berdiri di depan 20 puluh pasang mata yang penuh harap, mengajar tentang Teori Komunikasi Modern.
Sementara dalam hati saya tahu bahwa kemungkinan besar sepuluh persen dari mereka akan berakhir menjadi barista yang over kualifikasi. Atau admin media sosial yang ijazahnya hanya menjadi prasyarat administratif yang absurd.
Ini adalah ironi terbesar dalam sejarah pendidikan kita. Indonesia sedang berada di puncak bonus demografi, tetapi negara seolah-olah sedang merayakan festival pengangguran terdidik dengan kebijakan-kebijakan yang semakin tidak masuk akal di tahun 2026 ini.
Nalar kapitalistik sedang mencengkeram pendidikan di Indonesia
Masuk ke ruang kelas, saya disambut oleh kebisingan mahasiswa yang sibuk dengan gawai mereka. Dalam kacamata Ekologi Media Marshall McLuhan, saya melihat bahwa ruang kelas ini bukan lagi sekadar tempat transfer pengetahuan. Melainkan sebuah lingkungan teknologi yang membentuk kesadaran mereka.
Medium adalah pesan, kata McLuhan, dan hari ini mediumnya adalah algoritma media sosial yang mendikte selera intelektual mereka. Sebagai dosen muda yang hidup dalam satu rentang generasi dengan mereka, saya mencoba masuk melalui celah itu.
Saya tidak lagi menggunakan model komunikasi linear yang satu arah di mana saya adalah pusat kebenaran tunggal, melainkan menerapkan model transaksional yang dialogis. Saya ingin membangun apa yang oleh Martin Buber disebut sebagai hubungan “I-Thou” (Aku-Engkau).
Sebuah mutualitas di mana mahasiswa bukan sekadar klien atau produk pabrik ijazah, melainkan mitra dalam menegosiasikan makna.
Namun, idealisme komunikasi dialogis ini langsung terbentur tembok tebal saat saya teringat pernyataan pejabat kementerian yang menyebut bahwa pendidikan tinggi hanyalah tertiary education sebuah pilihan, bukan kewajiban. Sehingga negara merasa tidak perlu terlalu serius mengintervensi soal biaya atau keterjangkauan.
Pernyataan sembrono ini adalah puncak dari nalar kapitalistik yang sedang mencekik universitas kita. Di tahun 2026, kampus perlahan-lahan kehilangan ruhnya sebagai laboratorium peradaban dan berubah menjadi lini produksi yang dipaksa tunduk pada nalar pasar.
Kebijakan penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri adalah bentuk pragmatisme sempit yang sangat berbahaya. Jika kita hanya mencetak lulusan sesuai pesanan pabrik, lantas siapa yang akan menjadi kritikus sosial?
Siapa yang akan menjaga nalar kritis bangsa saat semua orang hanya dilatih untuk menjadi buruh terampil yang patuh pada standar industri?
Kampus terjebak pada jargon kemajuan yang dangkal
Di Gorontalo, tantangan ini terasa lebih personal. Kampus-kampus di sini sedang berjuang bertransformasi, terutama tempat saya mengajar. Tapi sering kali terjebak pada jargon-jargon kemajuan yang dangkal.
Kami, dosen muda, didorong untuk kreatif dalam mengajar menggunakan pendekatan konstruktivisme sosial Vygotsky. Kami membangun scaffolding agar mahasiswa bisa melampaui keterbatasan kognitif mereka melalui interaksi sosial dan kolaborasi.
Namun, di saat yang sama, kami dipaksa menjadi hamba bagi sistem. Setiap hari, energi kami habis untuk memindahkan angka dari satu sistem ke sistem lainnya.
Memastikan dokumen akreditasi lengkap hingga titik koma, sementara kualitas interaksi di kelas menjadi korban. Kita mengalami fetish dokumen yang luar biasa, di mana selembar bukti fisik jauh lebih dihargai daripada satu ide brilian yang lahir dari diskusi di kelas.
Mari kita bicara jujur tentang pengangguran. Data BPS periode 2025-2026 yang dirilis pada 5 Februari 2026 menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional berada di angka 4,74%. Sebuah penurunan tipis yang sering dipamerkan pemerintah.
Namun, lihatlah lebih dalam, pengangguran di kelompok usia 25-34 tahun usia emas para sarjana berada di 5,38%. Ini adalah mismatch pendidikan yang akut.
Kurikulum yang digadang-gadang memberikan kebebasan pada akhirnya sering kali hanya menjadi program magang massal yang menyediakan tenaga kerja murah bagi industri, tanpa jaminan penempatan permanen. Bagi saya, fenomena sarjana menganggur ini menciptakan tekanan psikologis yang luar biasa.
Banyak lulusan kita yang akhirnya terjebak dalam kebingungan karier atau career confusion, di mana ijazah mereka yang berstempel “sangat memuaskan” tidak mampu menandingi syarat lowongan kerja yang meminta pengalaman lima tahun untuk posisi entry level.
Baca halaman selanjutnya: Bagaimana saya bisa meyakinkan mereka bahwa kejujuran intelektual adalah segalanya, sementara mahasiswa melihat bahwa di dunia nyata, koneksi dan manipulasi sering kali lebih menentukan daripada kompetensi?
Jadi dosen kalcer itu harus memiliki ketabahan tingkat tinggi
Jadi dosen kalcer itu harus memiliki ketabahan tingkat tinggi
Menurut saya, untuk menjadi seorang dosen muda harus memiliki tingkat ketabahan yang lebih tinggi. Saya sering melihat mahasiswa yang berjuang dengan biaya pendidikan yang melonjak, sementara fasilitas yang mereka dapatkan sering kali tidak sebanding dengan janji-janji manis saat promosi kampus.
Pendidikan tinggi telah menjadi barang mewah yang eksklusif, menghancurkan fungsi universitas sebagai eskalator sosial bagi masyarakat kelas bawah. Pendidikan yang seharusnya membebaskan malah menjadi jeratan kecemasan bagi orang tua mahasiswa.
Ironisnya, saat mahasiswa berdemo menuntut transparansi, mereka sering kali dihadapi dengan narasi birokratis yang menyebut mereka tidak tahu berterima kasih. Padahal, justru di situlah inti pendidikan, membentuk kesadaran kritis, bukan sekadar kepatuhan teknis.
Kembali ke ruang kelas, saya mencoba memberikan materi tentang teori komunikasi persuasif. Saya melihat wajah-wajah lesu mahasiswa di barisan belakang.
Mungkin mereka baru saja membaca berita tentang kasus ijazah palsu pejabat atau ketidakadilan sistem rekrutmen di daerah. Bagaimana saya bisa meyakinkan mereka bahwa kejujuran intelektual adalah segalanya, sementara mereka melihat bahwa di dunia nyata, koneksi dan manipulasi sering kali lebih menentukan daripada kompetensi?
Ini adalah paradoks pedagogi yang menyakitkan. Saya yang disemati sebagai dosen kalcer oleh mahasiswa, sering kali harus melakukan perlawanan diam-diam melalui refleksi praktik.
Saya memodifikasi cara kerja saya agar lebih bermakna, membangun komunitas riset independen bersama mahasiswa. Terkadang mengabaikan sistem poin administratif demi memberikan bimbingan tugas akhir yang benar-benar substansial.
Beberapa dosen muda seperti saya, kami mencoba menciptakan ruang belajar alternatif di kedai kopi. Memanfaatkan budaya nongkrong sebagai katarsis intelektual agar mahasiswa tidak gila karena tekanan sistem.
Namun, seberapa jauh kreativitas individu bisa bertahan melawan tsunami kebijakan yang tidak berpihak pada kemanusiaan dan pendidikan?
Baca halaman selanjutnya
Jadi dosen kalcer bukan soal gaya hidup, tapi posisi politik
Di tahun 2026 ini, kesejahteraan dosen sendiri pun menjadi bahan sarkasme nasional. Tagar #JanganJadiDosen yang sempat menggema di media sosial adalah refleksi dari rendahnya apresiasi negara terhadap tenaga pendidik.
Kami dituntut untuk memiliki kualifikasi tinggi, publikasi di jurnal bereputasi, dan mahir teknologi, tetapi apresiasi finansial yang kami terima sering kali menghina akal sehat.
Pernyataan pejabat yang mengabaikan keluhan kesejahteraan dosen dinilai sangat tidak empatik. Kami dipaksa tampil elegan, bicara ilmiah, dan bersikap bijak, sementara dalam hati kami menghitung cukupkah gaji bulan ini untuk membeli paket data demi mengisi laporan sistem yang tak kunjung sinkron.
Eksistensi dosen kalcer pada akhirnya bukan hanya soal gaya hidup atau cara mengajar yang asyik. Ini adalah posisi politik.
Ini adalah upaya untuk tetap menjadi manusia di tengah mesin birokrasi yang mencoba mengotomatisasi segalanya. Kami memilih untuk tetap idealis karena kami percaya bahwa komunikasi adalah jembatan untuk memahami penderitaan orang lain, bukan sekadar alat untuk manipulasi opini.
Kami menggunakan pendekatan konstruktivis bukan karena itu tren dalam jurnal pendidikan, tapi karena kami ingin mahasiswa kami mampu mengonstruksi masa depan mereka sendiri di atas reruntuhan kebijakan yang berantakan.
Kami ingin mereka menjadi pribadi yang tidak hanya pintar, tapi juga memiliki integritas dan tanggung jawab sosial. Sehingga saat mereka menjadi bagian dari satu juta pengangguran itu, mereka tidak kehilangan harga diri dan integritasnya.
Menjadi dosen: Mengajar harapan di pagi hari, merasakan realitas yang menyesakkan di malam hari
Saat jam kuliah berakhir, saya melihat mahasiswa saya satu per satu meninggalkan kelas. Beberapa dari mereka mungkin akan pergi ke Story Coffee, Mary Coffee, atau Jack Coffee untuk sekadar melepas penat atau mengerjakan tugas yang menumpuk.
Saya hanya bisa berharap bahwa apa yang kami diskusikan tadi bukan sekadar angin lalu. Di tengah gempuran neoliberalisme pendidikan yang mengubah ilmu menjadi komoditas, saya ingin mereka tetap berani meragukan sesuatu.
Karena peradaban, seperti yang saya kutip dari para pemikir besar, tidak dibangun oleh mereka yang hanya patuh pada kebutuhan pasar. Melainkan oleh mereka yang berani mempertanyakan arah zaman bahkan jika mereka harus melakukannya sambil menyeruput kopi saset di pinggiran jalan Panjaitan Kota Gorontalo.
Tugas saya hari ini sebagai dosen belum selesai. Saya masih harus kembali ke meja kerja, berhadapan dengan tumpukan laporan yang menuntut untuk diselesaikan sebelum tengah malam.
Saya akan kembali menjadi “juru ketik” yang patuh, mengisi setiap kolom dengan bukti fisik yang valid, sambil sesekali tersenyum getir melihat ijazah saya sendiri yang tersusun rapi di dalam map.
Kita sedang berada dalam drama besar pendidikan Indonesia, dan saya hanyalah salah satu aktor yang mencoba tetap menjadi dosen kalcer meski skenarionya sering kali tidak masuk akal.
Tapi begitulah hidup sebagai dosen muda di tahun 2026, kita mengajar tentang harapan di pagi hari, dan bergulat dengan realitas yang menyesakkan di malam hari.
Namun, selama mahasiswa masih mau bertanya “mengapa” dan bukan sekadar “bagaimana cara kerjanya”, saya tahu bahwa perjuangan ini semelelahkan apa pun itu belum sepenuhnya sia-sia.
Kepada mahasiswa: Dunia memang sedang tidak baik-baik saja
Saya menutup laptop saya saat lampu-lampu kota Gorontalo mulai menyala. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara kehidupan yang berdenyut di halaman kampus.
Besok adalah hari yang lain, tantangan yang lain, dan mungkin kebijakan aneh yang lain lagi dari kementerian. Tapi saya akan tetap di sini, mengenakan sepatu “kalcer” saya, membawa idealisme yang mungkin sudah agak lecet, dan berdiri di depan kelas untuk memberitahu mahasiswa saya bahwa dunia memang sedang tidak baik-baik saja.
Namun, cara kita berkomunikasi dan berpikir secara kritis adalah satu-satunya senjata yang kita miliki untuk memperbaikinya. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan soal mencetak satu juta tenaga kerja, melainkan soal memanusiakan manusia.
Penulis: Wardoyo Dingkol
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.
