Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Cara Membaca Peta: Ilmu yang Asing Buat 88 Persen Perempuan di Dunia

Sekitar 88 persen perempuan di dunia ini nggak tahu cara membaca peta. Tidak jelas apakah ini takdir atau kutukan.

Tantrini Andang oleh Tantrini Andang
31 Desember 2021
A A
Cara Membaca Peta: Ilmu yang Asing Buat 88 Persen Perempuan di Dunia MOJOK.CO

Ilustrasi cara membaca peta. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Wahai kaum perempuan yang sering tersesat dan tidak tahu cara membaca peta, ternyata kita satu server!

Parahnya, selain nggak tahu cara membaca peta, kadang saya juga lupa sudah pernah melewati satu jalan tertentu. Oleh sebab itu, nyetir sendirian menuju sebuah lokasi yang belum pernah saya kunjungi itu susah banget. Bagi saya, semua jalan itu bentuknya sama saja. Sama-sama membingungkan. Tidak semudah jalan menuju ke hatimu.

Barusan saya tahu bahwa konon sekitar 88 persen perempuan di dunia ini nggak tahu cara membaca peta. Tidak jelas apakah ini takdir atau kutukan. Namun memang begitu kenyataannya.

Hanya ada sekitar 12 persen perempuan saja yang sanggup membaca peta. Itu saja karena mereka sudah terbiasa melakukan sebuah perjalanan. Perempuan yang tahu cara membaca peta, biasanya terlihat tomboi. Begitu ungkap dr. Aisyah Dahlan dalam salah satu seminarnya di kanal YouTube-nya. Bukan saya yang bilang, ya.

Jujurly, menyetir itu bukan masalah bagi saya. Asal saya sudah tahu tujuan yang akan saya tempuh. Semua akan lancar tanpa harus membuka GPS dan sibuk mengingat cara membaca peta. Namun, jika lokasi tujuan masih harus mencari-cari, maaf sepuluh ribu maaf, saya angkat tangan.

Google Map memang cukup membantu. Namun, kalau buat saya, bukan gambar petanya yang membantu. Saya lebih terbantu oleh suara si mbak-mbak pengarah jalan itu.

Lalu, apakah saya bisa berkunjung ke tempat yang sama tanpa Google Map? Paling sering tidak. Saya sering kesulitan menghapal jalan dan kebingungan tanpa alat canggih itu.

Bukan hal yang aneh kalau tiba-tiba saya menyadari telah melewati jalan yang sama dua sampai tiga kali. Muter-muter di suatu tempat berkali-kali itu memalukan, Markonah!

Pernah juga saya dan putri saya bingung mencari arah jalan keluar di sebuah mall. Keterlaluan memang. Waktu itu, kami sama-sama menunjuk ke dua arah yang berbeda.

“Tadi lewat sini kayaknya.”

“Bukannya tadi lewat sebelah sana?”

Lalu apa yang terjadi? Ternyata setelah dicoba, kedua arah itu salah!

Arah yang benar baru kami dapatkan berkat petunjuk satpam. Karena kami sama-sama perempuan, kejadian memalukan itu cukup kami tertawai bersama.

Namun, tentu saya tidak bisa tertawa ketika hal yang sama terjadi bersama suami. Waktu itu kami berencana untuk menghadiri sebuah acara.

Iklan

Kebetulan, tempat acara belum pernah kami datangi sebelumnya. Kami berangkat dengan berbekal peta yang tergambar dalam undangan. Setelah beberapa saat kebingungan karena nggak tahu cara membaca peta, akhirnya saya baru sadar kalau saya memegang peta terbalik. Tentu kali ini saya tidak bisa tertawa, malah ditertawai suami. Duh!

Drama berikutnya terjadi lagi saat suami berusaha memastikan petunjuk ngawur yang saya berikan.

“Yang bener kanan atau kiri?”

“Kiri, aku bilang kiriii….”

“Kiri atau kanan?” Suami bertanya lagi dengan suara yang lebih keras.

Saya akhirnya sadar bahwa mulut saya bilang ke kiri tapi tangan saya menunjuk ke kanan. Bweh!

Sejak saat itu, akhirnya suami tahu bahwa saya benar-benar tidak bisa diandalkan. Nggak tahu cara membaca peta. Jadi, ketika harus mengadakan perjalanan berdua lagi, dia harus berjuang sendiri menyetir sambil mencari arah.

Saya?

Duduk manis saja sampai ke tujuan. Saya bayangkan kalau suami kesal dan menurunkan saya di tengah jalan, pasti saya tidak nggak bisa pulang.

Namun, setelah mendapat beberapa informasi tentang hubungan perempuan dengan kemampuan cara membaca peta, saya tidak lagi merasa minder.

Ternyata, bukan hanya saya yang nggak tahu cara membaca peta. Berikut beberapa penyebab “kutukan” ini harus terjadi

Perbedaan struktur otak lelaki dan perempuan

Konon, kumpulan syaraf yang menghubungkan otak kiri dan otak kanan atau yang disebut corpus callosum pada perempuan lebih tebal daripada milik lelaki. Hal ini membuat perempuan mampu memaksimalkan kedua belah otaknya.

Perempuan sanggup melakukan beberapa pekerjaan sekaligus secara bersamaan. Jadi ingat deh, saya juga sering nungguin cucian, beres-beres rumah sambil nyuapin anak. Eh, kalau ada tetangga yang mampir juga sekalian ngegibahin artis.

Namun, kemampuan multitasking ini membuat kemampuan spasial perempuan jadi lemah. Kemampuan spasial adalah kemampuan menangkap informasi visual. Ini berhubungan dengan kemampuan navigasi. Jadi, paham deh, kenapa muncul asosiasi emak-emak yang hobi belok kanan tapi pasang lampu sein ke kiri.

Pembagian tugas perempuan dan lelaki sudah ada sejak zaman purba

Zaman nenek moyang dulu, perempuan sudah “ditugasi” menjaga gua atau sarang. Sementara itu, kaum lelaki bertugas sebagai pencari nafkah dengan menemukan tempat-tempat baru untuk berburu dan mengumpulkan makanan di luar gua.

Hal ini membuat otak perempuan terlatih dalam navigasi jarak pendek. Sementara itu, lelaki memiliki kemampuan navigasi jarak jauh. Tidak heran jika perempuan sangat hapal letak barang-barang di dalam rumah. Kaum lelaki bahkan sering kesulitan mencari kaos kakinya sendiri.

Menurut Ryu Hasan, spesialis bedah syaraf, menngungkapkan bahwa sebenarnya onderdil otak kita masih sama dengan otak nenek moyang. Cuma, di era digital sekarang ini, otak kita dipaksa beradaptasi.

Anggapan tentang perempuan dan lelaki hebat

Ada anggapan bahwa perempuan yang melakukan tugasnya di rumah dengan baik adalah perempuan hebat. Begitu juga sebaliknya, lelaki yang berhasil menjalankan tugasnya di luar adalah lelaki hebat.

Jadi nggak heran kalau kehebatan perempuan diukur dengan kemampuannya menjadi penguasa rumah. Hal ini membuat perempuan tidak tertarik mencoba hal-hal baru di luar rumah.

Meskipun demikian keadaannya, perempuan tetap bisa mengasah kemampuan spasialnya dengan berlatih. Menurut sebuah studi ilmu syaraf yang dilakukan di University College London, otak manusia itu mirip GPS yang sanggup menambah data base-nya saat menerima informasi baru.

Teori itu terbukti dari hasil penelitian pada beberapa supir taksi di London. Mereka memiliki sistem navigasi dalam otaknya yang lebih baik karena pengalamannya melewati ribuan kali jalanan yang sama. Penelitian lain di McGill University juga menyebutkan bahwa kalau kita terlalu tergantung pada GPS, sistem navigasi pada otak tidak akan berkembang, bahkan menjadi lebih buruk.

Jadi, sampai saya selesai menuliskan ini, masih belum jelas apakah kondisi nggak tahu cara membaca peta yang dialami sebagian besar perempuan merupakan takdir atau “kutukan”. Meskipun begitu, para perempuan mestinya tidak perlu merasa bersalah jika tidak menjadi ahli navigasi.

Nggak tahu cara membaca peta bukan patokan sebuah nilai diri, kok. Kamu semua tetap keren, meski masuk ke dalam 88 persen perempuan yang nggak tahu cara membaca peta. Paling cuma bakal malu saja, ketika bilang belok kiri tapi tangan menunjuk ke kanan. Sama, kayak saya ini. Demikian.

BACA JUGA Klaim Sepihak Inspirator Menu Kremesan Ayam Goreng di Yogyakarta dan artikel menarik lainnya di rubrik ESAI.

Penulis: Tantrini Andang

Editor: Yamadipati Seno

Terakhir diperbarui pada 31 Desember 2021 oleh

Tags: buta arahcara membaca gpscara membaca petaperempuan tidak bisa baca peta
Tantrini Andang

Tantrini Andang

Ibu tiga anak. Penulis Cinta dalam Secangkir Coklat, Secret Bond, Cincin Mirah Delima, Pintu Nomor Sebelas, Kota untuk Orang Patah Hati, dan Chased.

Artikel Terkait

No Content Available
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
Ironi jadi orang tunawicara (bisu) di desa, disamakan seperti orang gila MOJOK.CO

Ironi Orang Tunawicara (Bisu) di Desa: Dianggap Gila, Punya Otak Cerdas Tetap Dianggap Tak Bisa Mikir Hanya karena Sulit Bicara

15 Mei 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Janji Bodong Revolusi Industri: Aplikasi AI Mulai Membantai Pekerja Kreatif Lokal MOJOK.CO

Janji Bodong Revolusi Industri: Aplikasi AI Mulai Membantai Pekerja Kreatif Lokal

18 Mei 2026
buku remy sylado.MOJOK.CO

Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla, Harta Karun yang Sempat dianggap “Budaya Rendah”

15 Mei 2026
Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi MOJOK.CO

Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi

13 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.