Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Bukan Cuma Tengku Zulkarnain Saja yang Suka Rendahkan Profesi Pembantu

Nurhidayah oleh Nurhidayah
13 Juli 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Tengku Zulkarnain dianggap telah rendahkan profesi pembantu gara-gara twitnya. Tentu blio membantah. Ustaz kondyang ini.

Seorang kawan lama tiba-tiba mengeluarkan celetukan yang membuat hati saya ketawa-ketawa sedih. Kawan saya itu bicara dengan orang lain. Saya yang sedang lesehan ngecas hape mungkin tak terlihat.

Iklan

Begini celetuknya, “Kok gini ya sekarang pemimpin orang-orang Islam?”

Saya ikuti lagi pembicaraannya. Ternyata mereka sedang mengomentari twitnya Tengku Zulkarnain.

Saya bingung mau nimbrung percakapan itu atau meneruskan ketawa dalam hati saja. Akhirnya saya mengambil pilihan kedua. Saya cuma mbatin dan terpingkal diam-diam.

Bagi yang belum tahu, Tengku Zulkarnain akhir-akhir ini kembali menghebohkan dunia maya. Setelah komentarnya soal RUU PKS yang secara tidak langsung menyuruh wanita jadi “gedebok pisang”, kini Tengku Zulkarnain bikin twit yang bagi banyak orang dianggap merendahkan profesi pembantu.

Kronologinya bermula dari sebuah akun yang mengabarkan bahwa karyawannya telah meminta dibaptis tanpa didorong dan dipaksa-paksa. Seolah tak mau kalah, Tengku Zulkarnain membalas cuitan tersebut dengan membanggakan bahwa dia sudah memualafkan hampir 200 orang.

Oke, sampai di sini sih no problemo. Ish, paan, cuma soal saing-saingan.

Sayangnya, Tengku Zulkarnain kemudian kasih komentar bahwa rata-rata orang yang dimualafkan adalah orang pintar berpendidikan, bukan pembantu. Catet yak, “bukan pembantu”.

Lalu twit itu diakhiri dengan nyebut Alhamdulillah. Sedangkan saya yang baca twit itu jadi pengen nyebut, “Astagfirullah.”

Alhamdulillah sdh hampir 200an orang masuk Islam di tangan ku. Dari seluruh penjuru dunia… Dan rata rata orang pintar berpendidikan bukan pembantu…
Alhamdulillah…

— tengkuzulkarnain (@ustadtengkuzul) 7 Juli 2019


Gara-gara twit itu, Tengku Zulkarnain dianggap merendahkan profesi pembantu. Namun tentu saja Ustaz kondang yang terhormat ini menolak disebut demikian.

Saya sih embuh dengan pembelaan yang bersangkutan. Rasanya kita sebagai manusia normal bisa kok menilai. Atau lebih tepatnya, siapa yang ternyata pikirannya agak-agak bias kelas dan tanpa sungkan mengatakannya di muka publik.

Tapi ya sedihnya, dengan gelar ustaz dan jumlah pengikut yang banyak, yang kena imbas atas setiap cuitan yang dilontarkan Tengku Zulkarnain ini akhirnya adalah umat Islam secara keseluruhan. Makanya, terdengarlah komentar-komentar bernada sumbang seperti yang dicetuskan oleh kawan saya di atas tadi.

Kalau saja saya ini punya perusahaan televisi swasta, pengen rasanya saya orbitkan ustaz-ustaz yang bisa menandingi efek absurditas ustaz model-model begini. Misalnya dengan menayangkan ustaz yang peduli lingkungan atau malah mendukung kesetaraan gender.

Iklan

Selain biar dunia Islam lebih progresif, tentu saja juga agar citra Islam tak jelek di mata umat lain. Ya, daripada ngomongin seks dan aurat perempuan mulu atau paling mentok Illuminati, mbok ya ngomongin sains, teknologi, isu lingkungan, atau sejenisnya yang berfaedah. Saya yakin, umat Islam pasti akan terlihat lebih bermartabat dengan itu.

Nah, soal profesi pembantu yang disebut-sebut tadi, saya juga ingin sedikit berbagi pandangan. Begini, sebetulnya kalau kita mau jujur-jujuran, saya yakin banyak pengkritik Tengku Zulkanain juga punya pikiran bias kelas juga.

Dulu, seorang teman pernah menyentil kami yang sedang bangga karena ajaran Islam tak mendiskriminasi orang berdasarkan apapun—entah suku, entah harta, entah jabatan.

Lalu kawan saya membalas, “Okelah, kita nggak punya sistem kelas de es te, tapi kita sendiri nyatanya masih melihat orang dari tingkat ekonomi, pendidikan, de el el, kan?”

Gotcha!

Kalau mau instropeksi, hal demikian sih nggak salah-salah amat. Maksud saya, kita boleh menyangkal pernyataan ini dengan galak. Ngegas juga boleh. Tapi yang saya lihat, secara umum manusia memang mempunyai pikiran serupa Tengku Zulkarnain. Hanya saja, pikiran jelek ini tersimpan diam-diam karena budaya political correctness.

Kita coba bersopan-sopan padahal dalam hati sering memandang sebelah mata. Jarang sekali orang yang betul-betul memiliki pikiran murni bebas dari pembedaan berdasarkan tingkat ekonomi, pendidikan, agama, dan lain sebagainya.

Mungkin anak-anak kecillah yang bisa diharapkan untuk punya pikiran suci demikian. Bukannya para akademisi, pekerja seni, atau para pemuka agama—apalagi saya.

Secara kolektif, ini kemudian membentuk masyarakat yang cenderung abai terhadap mereka yang dianggap punya klasifikasi kelas sosial “rendahan”. Berbagai kebijakan dari bidang kesehatan, pengupahan, dan lainnya menyingkirkan mereka yang tingkatnya di bawah.

Memang betul, ada banyak sekali pembantu yang digaji terlalu kecil dan disuruh ini itu yang sebetulnya udah mirip-mirip kayak hubungan tuan tanah dan budaknya di era feodal. Mereka juga harus inggih-inggih dengan majikan. Kalau nggak inggih-inggih ya bisa dianggap pembantu kurang ajar dan dipecat saat itu juga.

Kelas menengah-ngehe-liberal-kayak-kita boleh saja membenci sedemikian rupa feodalisme ini dan membanggakan budaya egaliter barat. Tapi ketika kembali ke rumah, coba lihat diri kita masing-masing. Benarkah kita tidak memperlakukan mereka seperti Firaun memperlakukan Bani Israil?

Makanya saya sih mikir, kalau kita beneran mengecam Tengku Zulkarnain yang dianggap merendahkan pembantu ini, jangalah kita berhenti di garis political correctness semata. Jangan cuma mengecam Tengku Zulkarnain hanya karena beliau dianggap tidak sopan.

Pernyataan Tengku Zulkarnain juga sebaiknya jadi koreksi kita bersama. Saya kira, besar di lingkungan masyarakat yang penuh dengan diskriminasi begini, wajar kok kalau kita juga masih punya pandangan buruk begitu. Meski kewajaran tidak berkolerasi dengan kebaikan dan kebenaran.

Paling tidak, kita perlu memulai dari diri sendiri. Misalnya, kalau kita memperkerjakan pembantu rumah tangga, ya jangan semena-mena. Apalagi menjadikan profesi mereka sebagai perbandingan kesuksesan memualafkan orang, seperti yang dilakukan ustaz kita yang terhormat Tengku Zulkarnain.

Terakhir diperbarui pada 13 Juli 2019 oleh

Tags: pembantutengku zulkarnaintwitter
Nurhidayah

Nurhidayah

Mahasiswa Pascasarjana, tinggal di Bantul.

Artikel Terkait

MISI MULIA ELON MUSK MENGURANGI KONTEN CABUL DI TWITTER!
Video

Misi Mulia Elon Musk Mengurangi Konten Cabul Di Twitter!

2 Agustus 2023
Logo Twitter Ganti X: Langkah Sinting dari Elon Musk MOJOK.CO
Konter

Logo Twitter Ganti X: Langkah Awal dari Orang Sinting Bernama Elon Musk Menciptakan Aplikasi Super

25 Juli 2023
Belajar dari Sejarah, Twitter Nggak Akan Mati Begitu Saja karena Threads. MOJOK.CO
Kilas

Belajar dari Sejarah, Twitter Nggak Akan Mati Begitu Saja karena Threads

7 Juli 2023
Merekam Pengalaman dan Keluh Kesah PRT yang Bekerja Sejak Remaja. MOJOK.CO
Geliat Warga

Merekam Pengalaman dan Keluh Kesah PRT yang Bekerja Sejak Remaja

31 Maret 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan seorang ibu tak ragu kuliahkan anak di Universitas Terbuka (UT). Perjalanan dan pencapaian anak jadi jawabannya MOJOK.CO

Saat Ibu Dukung Anak Kuliah di Universitas Terbuka (UT): Berbuah Pencapaian Membanggakan

30 Juli 2026
Tawadhu Tidak Seharusnya Membuat Santri Diam saat Menjadi Korban MOJOK.CO

Tawadhu sebagai Pisau Bermata Dua: Santri Tidak Seharusnya Dibungkam saat Menjadi Korban

26 Juli 2026
Pengelolaan sampah di TPA Troketon oleh Pemkab Klaten. MOJOK.CO

Geliat TPA Troketon: Berpacu dengan Waktu Menjinakkan Bau Sampah dan Air Lindi Jadi Tempat yang Ramah Lingkungan

29 Juli 2026
Yamaha Sigma motor kelas bawah tapi paling bisa diandalkan MOJOK.CO

Yamaha Sigma adalah Motor pertama di Jogja hasil lungsuran dari bapak dan jadi saksi momen-momen paling serius dalam hidup saya

28 Juli 2026
Tuduhan Londo Ireng di Tengah Kekerasan yang Terus Berulang MOJOK.CO

Tuduhan Londo Ireng di Tengah Kekerasan yang Terus Berulang

27 Juli 2026
cut off pertemanan. MOJOK.CO

10 Tahun Persahabatan Berujung Cut Off Mengajari Saya Satu Hal: Kita Bukan Jahat, tapi Memang Sudah Tak Sejalan

31 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.