Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Bencana Asap di Batok Kepala Para Pejabat NKRI

Saleh Abdullah oleh Saleh Abdullah
21 September 2015
A A
Bencana Asap di Batok Kepala Para Pejabat NKRI

Bencana Asap di Batok Kepala Para Pejabat NKRI

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Hanya karena kebodohan seseorang menembakkan flare gun (pistol suar), yang kemudian membakar dan menghanguskan tempat konser di Montreux, Swiss, kelompok musik rock lawas Deep Purple kemudian terinspirasi menciptakan lagunya yang kondang bagi generasi Jambe (jaman biyen), Smoke on The Water:

“…But some stupid with a flare gun/ Burned the place to the ground/ Smoke on the water, fire in the sky..”

Saya membayangkan, seandainya mereka melihat bagaimana kebodohan bersekutu dengan kejahatan untuk membakar lahan-lahan gambut dan hutan di Kalimantan dan Sumatera, bisa saja Deep Purple juga menciptakan seri kedua lagu itu: Smoke On Ndasmu (asap di jidatlu!).

Sudah lebih dari 500 titik api tersebar di Sumatera, mengakibatkan Bencana Asap yang sudah berjalan dua bulan ini—dan semakin parah akhir-akhir ini. Tak terhitung kerugian yang diakibatkan Bencana ini. Jadwal penerbangan dan arus transportasi darat yang kacau. Anak-anak yang harus diliburkan sekolahnya, entah sampai kapan. Dan penyakit ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) yang menimpa banyak orang.

Bencana Asap ini sudah sangat mengganggu kehidupan masyarakat, mencemari lingkungan (udara), mengakibatkan kerugian ekonomi. Tingkat ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara) sudah di atas 300 (Berbahaya), meroketkan jumlah penderita ISPA ke level astaghfirullah: hampir tiga ribu kasus.

Ringkasnya, kualitas kehidupan sudah dibuat ringsek dan ngehek ke level yang setara pertemuan para pimpinan DPR dengan Donald Trump, atau sama bajingannya dengan upaya kriminalisasi kritik sastra Saut Situmorang. Merendahkan akal sehat. Merendahkan kualitas kehidupan. Membunuh dalam senyap, killing them softly, secara terstruktur, sistematis, dan masif.

Ajaibnya, dalam kondisi remuk-redam warga korban Bencana, baik pemerintah maupun pers masih saja menggunakan frasa “kabut asap” dalam merespons atau menuliskan berita Bencana Asap ini. Seolah dengan menggunakan frasa “kabut” dan bukan bencana, mereka ingin mengatakan bahwa asep tebal itu acceptable, terjadi karena proses alamiah, akibat ulah some stupid with a flare gun!

Eufimisme sudah jadi bagian dari SEMBAKO kehidupan berkomunikasi bangsa ini.

Di dalam konsep Penanggulangan Risiko Bencana, banyak aktivis kebencanaan sudah sampai di garis finish pemahaman bahwa Bencana adalah bertemunya Ancaman (hazard) dengan Kerentanan (vulnerability), minus Kapasitas (capacity). Konsep ini secara gamblang ingin membatasi pengertian yang mengatakan bahwa Bencana itu alamiah. Karena di dalam konteks bernegara, negaralah yang bertanggungjawab meminimalkan kerentanan dan  meningkatkan kapasitas warga, termasuk melindungi warganya dari ancaman bencana dengan perlindungan aturan ketat dari tangan-tangan jahil para penjahat.

Dengan definisi bencana seperti diurai di atas, konsep ini ingin mengatakan: Tidak ada bencana alamiah (natural disaster). Hanya Ancamanlah yang bisa bersifat alamiah, dan atau karena ulah manusia seperti pada kasus Bencana Asap—yang terjadi setiap tahun, seperti hari raya, dalam rentang puluhan tahun. Ancaman alamiah itu seperti gempa dan tsunami yang bersumber dari dinamika gesekan lempengan di perut bumi.

Dan Indonesia bukan negeri yang bebas dari ancaman alamiah. Sebagai wilayah Cincin Api, tanpa akik, Indonesia berada di atas pertemuan tiga lempeng perut bumi: Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Saling kangennya lempeng Indo-Australia dan  lempeng Eurasia menyebabkan mereka begitu bergairah dalam gesekan-gesekan pertemuan yang mengakibatkan gempa dan tsunami, seperti yang terjadi di Aceh 10 tahun silam.

Seperti tidak mau kalah dengan kemesraan para lempeng, semangat eufimistik para elit juga berkelindan dengan majalnya sensitivitas mereka. Situasi darurat Bencana Asap sudah mengganggu kehidupan ekonomi, meluas lintas propinsi dan lintas pulau, bahkan tanpa paspor dan visa sudah masuk dan menyebar lintas negara sampai ke negeri jiran, sensitivitas pemerintah daerahnya masih saja berada di titik sandal jepit!

Ya, Menkopolhukkam Luhut Binsar Pandjaitan memang terlihat gahar ketika tanpa alasan jelas Gubernur Kalimantan Selatan dan  Kepala BMKG tidak hadir dalam rapat koordinasi kebakaran hutan. Dengan tegas dan keras ia berkata: “Saya minta kepala daerah untuk tidak diwakili apabila masih hidup!” Saya hakulyakin, Menteri Luhut tidak bermaksud menganggap para pejabat negara itu sudah jadi pocong gentayangan.

Tapi apakah marah-marah saat rapat saja sudah cukup?

Saya paham, bahwa menurut aturan, bila asap yang merusak kehidupan itu ditetapkan sebagai Bencana (level daerah atau level nasional karena Pemdanya sudah lempar handuk tak mampu menangani), maka negara wajib melakukan tindakan-tindakan penanggulangan cepat dan efektif. Bahkan negara wajib memberikan kompensasi terhadap para korban, lewat kegiatan-kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi. Dan, tentu saja, tindakan hukum bagi perusahaan-perusahaan jahat pembakar lahan.

Iklan

Semua implikasi itulah yang mungkin saja membuat mereka dengan semangat-NKRI-harga-mati harus mempertahankan eufimisme mereka.

Daripada buang uang membantu, dengan segala daya tanggungjawab, mengirim masker yang saat ini mulai langka di Jambi sekitarnya, dan mendistribusikan air bersih ke pelosok-pelosok yang parah tertimpa bencana, negara nampaknya lebih rela membuang uang puluhan miliar untuk ngongkosin para politisi menyaingi kelompok studi  mahasiswa membanding-bandingkan belanjaan.

Terakhir diperbarui pada 18 Februari 2021 oleh

Tags: Asap SumateraBencana AsapLuhut Binsar Pandjaitan
Saleh Abdullah

Saleh Abdullah

Artikel Terkait

surya paloh luhut mojok.co
Kotak Suara

Surya Paloh Temui Luhut, Pertanda Hubungannya dengan Jokowi Kian Renggang?

8 Mei 2023
Ini Bukan Tentang Twitter, Ini Tentang Muka Bantal Elon Musk! MOJOK.CO
Konter

Ini Bukan Tentang Twitter, Ini Tentang Muka Bantal Elon Musk!

27 April 2022
kompilasi from this to this versi pemerintah luhut binsar yasonna laoly pembebasan napi menteri terawan jokowi indonesia mojok.co Gapapa Pemerintah Koreksi Target Herd Immunity Indonesia, Jujur Lebih Bagus
Pojokan

10 Kompilasi From This to This Pemerintah yang Menciptakan Kerut Dahi

23 April 2020
Luhut Binsar Pandjaitan corona ODP PDP MOJOK.CO
Pojokan

Pengin Percaya Diri Kayak Pak Luhut Binsar yang Nggak Takut Kualat

15 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jombang itu kota serba nanggung MOJOK.CO

Jombang Kota Serba Nanggung yang Bikin Perantau Bingung: Menggoda karena Tenteram, Tapi Terlalu Seret buat Hidup

12 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Olin, wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) pada 2025. MOJOK.CO

Pengalaman Saya sebagai Katolik Kuliah di UMMAD, Canggung Saat Belajar Kemuhammadiyahan tapi Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik

14 Januari 2026
Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

13 Januari 2026
Film Semi Jepang Bantu Mahasiswa Culun Lulus dan Kerja di LN (Unsplash)

Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

14 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.