Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih

Arman Dhani oleh Arman Dhani
16 Maret 2026
A A
Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih MOJOK.CO

Ilustrasi: Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Duanju, atau drama pendek China memang nagih. Sekalian belajar komunisme ala negeri Tirai Bambu.

Petir bergelegar memancarkan cahaya terang ketika Tuan Ceng terduduk di hadapan rumah keluarga Zhao. Jiwanya yang mati menderita di tahun 2025 kembali ke masa lalu, 1980, ketika China masih dipimpin kamerad Deng Xiaoping. Di hadapan keluarga tirinya, Tuan Ceng berteriak, menghajar saudara tirinya, kemudian memutuskan hubungan keluarga dengan Zhao.

Saya menonton cerita ini dengan zuhud, sehabis salat Isya, menolak menguatkan kaki untuk salat tarawih. Kamerad Ceng, begitu kini ia dipanggil, kembali ke Desa Bisik Dedalu (Liǔ fēng). 

“Aku akan memuliakan ibuku, menyelamatkan adikku dari kawin paksa, dan membangun desa kami untuk berdikari,” katanya di hadapan layar biru yang tak tampak oleh orang lain.

Kamerad Ceng harus berjibaku melawan kerabat yang brengsek, anak kepala pabrik yang culas, dan kebijakan pembatasan Republik Rakyat China di awal 1980. Sistem layar biru di hadapannya membantu Kamerad Ceng menemukan ginseng 100 tahun, lantas menjualnya ke Koperasi Komune. 100 YUAN! 

Keluarga Kamerad Ceng bergembira, akhirnya setelah lima tahun paceklik, malam ini mereka bisa makan babi panggang!

Duanju, drama pendek vertikal China yang nagih

Ini adalah cerita dari drama vertikal yang banyak ditonton di Tiongkok. Di sana drama ini disebut sebagai duanju (短剧), yang diterjemahkan sebagai “drama pendek” atau “drama mikro”.

Biasanya dikembangkan sebagai serial berformat vertikal (9:16) yang diprioritaskan untuk pengguna ponsel. 

Setiap episode berdurasi satu sampai tiga menit dengan tempo cepat yang dirancang untuk ditonton dengan cepat di platform seperti Douyin, dan seringkali berfokus pada plot yang intens dan melodramatis.

Indonesia, demam duanju tak kalah meriah. Orang-orang Indonesia lebih familiar menyebutnya sebagai dracin, istilah yang sebenarnya untuk menyebut drama dengan durasi lebih panjang, sekitar 30 menit per episode.

Drama pendek asal China ini membius jutaan penduduk dunia. Laporan, bertajuk Streaming’s Next Frontier: Capitalizing on the Rise of Short Dramas in the Southeast Asian Market, menyebutkan bahwa pada tahun 2024-2025, Indonesia menempati peringkat ke-2 secara global dalam hal jumlah unduhan aplikasi drama pendek.

Drama pendek yang membius dunia

Pertumbuhan industrinya luar biasa. Pada tahun 2024, pasar duanju menghasilkan pendapatan lebih dari 50 miliar yuan, sekitar tujuh miliar dolar Amerika, dan diperkirakan menciptakan lebih dari enam ratus ribu lapangan kerja. Dalam waktu singkat, format ini berubah dari sekadar eksperimen konten digital menjadi salah satu sektor paling dinamis dalam industri hiburan Tiongkok.

Mengapa saya menonton duanju ketimbang tarawih? Tentu karena saya punya kendali diri yang buruk. Lagipula, cuma ini waktuku menghibur diri. 

Dunia sedang sibuk bertikai. Israel dan Amerika menyerang Iran, sementara umat sibuk mendebat apakah Syiah itu Islam atau bukan, sembari tutup mata atas derita orang Sudan. Kita, di internet, hanya menghabiskan energi dan perhatian hanya kepada yang dianggap penting.

Iklan

Kembali ke duanju, saya jadi paham kenapa banyak ojek online, penjual cilok hingga mas Adam suami Inul Daratista, ketagihan cerita-cerita pendek dari China ini. Selain menawarkan cerita yang aduhai konyol, mereka juga memberikan harapan. 

Misal, hidupmu blangsak karena susah cari kerja sementara semua lapangan kerja diisi polisi dan tentara? Tenang, sistem akan membantumu mendapatkan gadis cantik dengan cara mengubah sampah jadi emas.

Mengenal propaganda Komunis China lewat duanju

Namun, duanju yang  saya tonton ternyata tidak hanya menawarkan fantasi. Ia juga membuka jendela kecil menuju sejarah komunis di sana. Di beberapa episode, misalnya, diperlihatkan bagaimana masyarakat desa dan kota hidup dalam sistem kupon pangan yang ketat. Sistem ini mulai diberlakukan pada 1955 di bawah kepemimpinan Mao Zedong. 

Kupon tersebut dikenal sebagai liangpiao (粮票), atau kupon gandum. Tanpa kupon ini, seseorang tidak bisa membeli beras, minyak goreng, kain, atau bahkan batu bara. 

Di awal komunisme China, setiap keluarga menerima jatah kupon setiap bulan, jumlahnya berbeda-beda tergantung usia, pekerjaan, kontribusi di masyarakat, dan tempat tinggal. 

Ini adalah wujud sosialisme paling purba, setiap orang bekerja untuk dirinya sendiri, setiap hasil didapat dari apa yang dikerjakan. Di awal hal ini banyak dikeluhkan oleh warga, tetapi di sisi lain ia adalah upaya menjamin keadilan akses kebutuhan. 

Karena untuk membeli kebutuhan pokok, orang harus membawa kupon sekaligus uang. Tanpa kupon, bahkan jika seseorang memiliki uang, ia tetap tidak bisa membeli bahan makanan.

Sistem ini dirancang untuk mengendalikan kelangkaan pangan sekaligus mendukung industrialisasi negara. Pemerintah membeli hasil pertanian dari desa dengan harga yang ditentukan negara, kemudian mendistribusikannya ke kota dengan harga murah agar buruh industri dapat hidup dengan biaya rendah.

Sistem yang jelas antara masyarakat desa dan kota

Di desa-desa, pemerintah juga menerapkan sistem kuota produksi melalui komune rakyat. Para petani wajib menyerahkan sejumlah hasil panen kepada negara sebelum mereka boleh menjual sisanya di pasar. 

Model ekonomi ini menciptakan pembagian yang jelas antara masyarakat desa dan kota. Kota menjadi pusat industri, sementara desa menjadi pemasok bahan pangan. 

Nah, menariknya duanju kita akan melihat praktik-praktik korup bawah tanah dari pejabat, warga yang memiliki kupon, dan kepala desa yang diberi tanggung jawab mendistribusikan kebutuhan. Di bawah komunisme Mao, setiap spekulan dan penimbun dihukum berat, ditembak di lapangan desa setelah dipermalukan keliling pemukiman. 

Karakter seperti Kamerad Ceng menjadi hero partai, tunduk pada garis haluan negara sembari melawan 7 setan desa.

Sisi lain komunisme di duanju

Perubahan besar baru terjadi setelah reformasi ekonomi yang dimulai pada akhir 1970-an di bawah kepemimpinan Deng Xiaoping. Pemerintah mulai melonggarkan kontrol negara, memperkenalkan mekanisme pasar, dan secara bertahap menghapus sistem kupon. Pada 1993, kupon gandum resmi dihapuskan, menandai berakhirnya salah satu simbol utama ekonomi terencana dan indoktrinasi anak muda.

Salah satu indoktrinasi yang sering muncul dalam duanju adalah Gerakan “Naik ke Pegunungan dan Turun ke Desa” (Up to the Mountains and Down to the Countryside Movement), yang sering disingkat sebagai Down to the Countryside Movement. Kebijakan ini muncul ketika Mao Zedong menilai bahwa pemikiran “pro-borjuis” mulai berkembang di kalangan pemuda perkotaan selama Cultural Revolution. 

Saat itu banyak intelektual, keluarga pengusaha, atau pedagang yang memiliki keluarga berpendidikan tapi tercerabut dengan masyarakatnya. Mao melihat ada potensi kontra revolusioner jika ini dibiarkan. 

Untuk mengatasinya, pada pertengahan 1950-an hingga 1978 Mao memutuskan bahwa sebagian pemuda kota, terutama mereka yang dianggap memiliki latar belakang lebih “privilej”, dikirim ke daerah pegunungan atau desa-desa pertanian agar belajar langsung dari rakyat.

Tidak semua orang bisa dikirim, dalam kriteria Mao, 17 juta pemuda dikirim adalah mereka yang sekolah di kampus, tapi berjarak. Para pemuda dan mahasiswa, anak-anak pengusaha dan pedagang, yang disebut kaum terpelajar ini, turun ke wilayah pedesaan sebagai bagian dari gerakan ini. 

Biasanya anak tertua dalam sebuah keluarga yang diwajibkan berangkat, meskipun adik-adik mereka terkadang bisa secara sukarela menggantikannya.

Kebijakan Mao ini berbeda dari program “pengiriman ke desa” yang lebih awal yang diterapkan oleh presiden Tiongkok saat itu, Liu Shaoqi, pada awal 1960-an. Program Liu lahir dari konteks yang berbeda: upaya untuk mengurangi kelebihan populasi perkotaan setelah Great Chinese Famine dan kegagalan ekonomi dalam Great Leap Forward.

Sementara itu, Mao menegaskan bahwa tujuan kebijakannya adalah agar para pelajar kota dapat “mengembangkan bakat mereka sepenuhnya” melalui pendidikan dan pengalaman hidup di tengah masyarakat pedesaan. 

Banyak lulusan sekolah menengah yang baru saja menyelesaikan pendidikan mereka kemudian dikenal sebagai “pemuda yang dikirim ke desa” (sent-down youth). Di Tiongkok mereka juga disebut sebagai educated youth, sementara di luar negeri sering disebut sebagai rusticated youth.

Dalam praktiknya, banyak dari mereka dipaksa meninggalkan kota dan hidup di wilayah terpencil Tiongkok. Sebagian pengamat bahkan menyebut generasi ini sebagai “Generasi yang Hilang” karena banyak dari mereka kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke universitas.

Tragedi educated youth di drama vertikal

Kalau kalian mengikuti banyak duanju, salah satu sebab mengapa sosok educated youth ini jadi penting karena mereka jadi penggerak ekonomi desa. Tidak jarang pengetahuan, akses informasi, dan keterampilan yang dimiliki mereka membantu petani mengembangkan desa. 

Propaganda partai komunis dalam duanju, membuat gerakan Down to the Countryside Movement dibenarkan.

Salah satu tokoh penting yang sukses dari gerakan ini adalah Xi Jinping. Ia pernah menjadi bagian dari generasi pemuda yang dikirim ke desa. Ia menghabiskan tujuh tahun di daerah pedesaan sebelum akhirnya diterima di Tsinghua University pada tahun 1975 untuk mempelajari teknik kimia. Ia menyebut bahwa pengalaman ini membentuk wataknya hari ini saat memimpin partai.

Gerakan ini secara resmi berakhir pada tahun 1978. Namun, setelah kebijakan tersebut dihentikan, para pemuda yang telah dikirim ke desa tidak langsung diizinkan kembali ke kota asal mereka. Pengecualian hanya diberikan kepada mereka yang berhasil masuk universitas melalui ujian nasional Gaokao atau mereka yang memiliki keluarga dengan posisi politik tinggi.

Nah, tidak hanya itu, selain pengiriman para educated youth ini, terdapat pula kebijakan yang lebih permanen yang dikenal sebagai pemukiman ulang di pedesaan (chāduì luòhù), di mana anak muda brilian ini benar-benar dipindahkan untuk menetap di desa secara jangka panjang. 

Seringkali dalam drama, ia menjadi plot tragis, yang membuat karakter menderita.

Menariknya, potongan-potongan sejarah ini muncul dalam drama yang pada permukaan tampak seperti hiburan ringan. Melalui kisah Kamerad Ceng yang menemukan ginseng, menjualnya ke koperasi komune, dan menggunakan uangnya untuk memberi makan keluarga, penonton secara tidak langsung diperkenalkan pada mekanisme ekonomi desa pada masa awal reformasi.

Selama Ramadan ini saya merasa bersalah karena melewatkan tarawih demi menonton drama vertikal tentang petani yang menemukan ginseng ajaib. Tetapi setidaknya malam itu saya belajar sesuatu: kadang-kadang, sejarah ekonomi tidak hanya ditemukan di buku akademik. 

Ia juga hidup dalam cerita tiga menit di layar ponsel, di antara petir, layar biru misterius, dan sepiring babi panggang yang akhirnya bisa dimakan setelah lima tahun paceklik.

Drama vertical ini tidak hanya nagih, seperti Adam Suseno suami mbak Inul, yang menghabiskan lima juta untuk beli koin. Tapi juga membuat kita paham sejarah kebijakan ekonomi Cina. Ia adalah propaganda paling aduhai dari penguasa, yang kita dengan gembira menontonnya.

Penulis: Arman Dhani
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di China Tanda Orang Bangkrut dan kisah seru lainnya di rubrik ESAI.

 

 

Terakhir diperbarui pada 16 Maret 2026 oleh

Tags: Chinadracindrama chinaduanjukomunisme
Arman Dhani

Arman Dhani

Arman Dhani masih berusaha jadi penulis. Saat ini bisa ditemui di IG @armndhani dan Twitter @arman_dhani. Sesekali, racauan, juga kegelisahannya, bisa ditemukan di https://medium.com/@arman-dhani

Artikel Terkait

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut MOJOK.CO
Esai

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut

14 Januari 2026
Dracin bukan sekadar kisah cinta lebay. MOJOK.CO
Ragam

Kisah Cinta “Menye-menye” ala Dracin bikin Hidup Perempuan Dewasa Lebih Berbunga dari Luka Masa Lalu yang Menyakitkan

6 Januari 2026
Jawa Tengah dan Fujian China kerja sama untuk penguatan sektor kelautan dan perikanan MOJOK.CO
Kilas

Kerja Sama Jawa Tengah dan Fujian China, Kuatkan Sektor Kelautan dan Perikanan

24 Juni 2025
bti, petani, tani.MOJOK.CO
Ragam

Rumus “3S-4J-4H” Wajib Dijalankan Pemerintah Kalau Mau Petani di Indonesia Maju

28 Januari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang Jawa desa pertama kali coba menu aneh (gulai tunjang) di warung makan nasi padang (naspad). Lidah menjerit dan langsung merasa goblok MOJOK.CO

Orang Jawa Desa Nyoba “Menu Aneh” Warung Nasi Padang, Lidah Menjerit dan Langsung Merasa Goblok Seketika

15 Maret 2026
Sesal suka menolong orang lain usai ketemu lima jenis orang yang tidak layak ditolong meski kesusahan. Dari tukang judi slot hingga orang susah bayar utang MOJOK.CO

Kapok Suka Menolong Orang Lain usai Ketemu 4 Jenis Manusia Sialan, Benar-benar Nggak Layak Ditolong meski Kesusahan

12 Maret 2026
Derita anak punya warisan utang dari orang tua MOJOK.CO

Derita Anak Punya Warisan Banyak dari Ortu tapi Warisan Utang, Hidup Berantakan buat Melunasi

11 Maret 2026
Bus patas Haryanto rute Jogja - Kudus beri suasana batin muram dan sendu gara-gara lagu-lagu 2000-an yang ingatkan masa lalu MOJOK.CO

Naik Bus Haryanto Jogja – Kudus Campur Aduk, Batin Seketika Muram dan Sendu karena Suasana dalam Bus Sepanjang Jalan

9 Maret 2026
Brio, Mobil Honda Paling Menderita Sepanjang Sejarah MOJOK.CO

Brio Adalah Mobil Honda Paling Menderita: Sering Dihina Murahan, tapi Sebetulnya Paling Ideal Menjadi Mobil Pertama Bagi Anak Muda yang Tidak Takut Cicilan

12 Maret 2026
Ogah mudik apalagi kumpul keluarga saat Lebaran. MOJOK.CO

Kumpul Keluarga Jadi Ajang Menambah “Dosa”: Dengar Saudara Flexing hingga Pura-pura Sukses agar Tidak Dihina Tetangga di Desa

9 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.