Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Belajar dari Gus Dur Supaya Banser Rileks di Darat, Laut, dan Bendera

Suandri Ansah oleh Suandri Ansah
27 Oktober 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Mas-mas Banser yang bakar bendera itu mungkin luput, kalau Gus Dur pernah ngajari cara rileks hadapi masalah di darat, laut, dan bendera.

Banser memang beda, sekali beraksi gempar dunia dibuatnya. Satuan elite Nahdlatul Ulama yang berada di bawah garis komando GP Ansor ini memang terkenal istimewa. Konon, menurut cerita kepangkatan Banser setingkat di atas hansip, setingkat di bawah Kodim. Membuat satuan ini sulit didefinisikan, baik struktural maupun kultural.

Saat kapanduan ormas lain masih bertugas di wilayah yang seagama, Banser selangkah di depan, ia juga mengamankan objek dan kegiatan penting umat lintas agama. Menjaga gereja, mengamankan Misa. Banser bukan ban serep, ia adalah ban itu sendiri. Sebagai satuan penjaga perdamaian dan keragaman kualitas Banser tak lagi diragukan.

Banser lahir sebelum negara bernama Indonesia ada. Kalau tidak salah sekitar tahun 1937 di Malang karena munculnya kegelisahan dunia pergerakan. Tahukah kamu, dibanding TNI saat ini, Banser memiliki jumlah anggota yang lebih banyak? Banser punya lima juta anggota yang siap “tawur” di mana saja demi Indonesia tercinta. Itu pun belum dihitung sama yang magang.

Banser juga punya detasemen khusus bernama Densus 99 yang siap menjamin keamanan dan kenyamanan warga negara dalam menjalankan agama. Saya tidak tahu, apakah satuan ini juga punya cara kerja yang sama dengan Densus 88 milik kepolisian, atau cuma dibikin mirip-mirip saja.

Sebagai satuan elite, bentengnya negara dan ulama ini dibekali berbagai macam teknik bela diri bagi setiap anggotanya. Mereka ditempa berbagai macam olah fisik, jurus-jurus, kuncian ampuh, hingga diijazahi ilmu-ilmu kanuragan.

Jadi pemandangan biasa kalau ada anggota Banser punya kemampuan kebal senapan hingga ledakan. Konon, dengan ilmu kanuragan yang dimilikinya, seorang Banser mampu menjatuhkan lawan dengan sekali kedipan. Kamu aja ngedipin cewek belum tentu bisa, ini sampai bisa bikin jatuh lawan lho.

Dengan kelinuwihan sebesar itu mestinya Banser tak perlu grasa-grusu menyikapi riak-riak kemunculan HTI. Apalagi sampai membakar benderanya di tengah suka cita Hari Santri. Selain akhirnya memantik kontroversi, beberapa umat Islam di Indonesia yang kadung marah juga belum bersepakat mengenai mana yang bendera HTI, mana yang bendera Tauhid.

Beberapa saat kemudian memang muncul klarifikasi permintaan maaf dari petinggi-petingginya, bahwa jika harus memusnahkan simbol-simbol HTI demi menjaga NKRI lakukanlah sembunyi-sembunyi agar tak terjadi bentrokan persepsi. Lalu muncul penyelasan bahwa akan lebih bijaksana kalau bendera itu diserahkan saja ke polisi.

Tolong jangan salah sangka, bukan maksud mengecilkan keberanian Banser. Saya dan umumnya rakyat Indonesia haqqul yaqin anggota Banser sakti mandraguna, tak takut apa-apa kecuali pada Tuhan, Kiai, dan—barangkali—calon mertua.

Tak ada yang meragukan cinta Banser pada NKRI. Tak perlulah diragukan juga mana yang cinta proyekan dan mana yang cinta betulan. Kalau negara menerbitkan semacam Sertifikat Cinta NKRI, niscaya sekretariat Banser yang tersebar di Nusantara tak mampu menampungnya.

Silakan kalau mau merasa paling benar dalam beragama, paling nasionalis dalam bernegara. Tapi, mengutip kata Cak Nun, simpanlah kebenaran dalam hatimu sendiri. Qulil haqqa walau kana murran, itu perlu dipelajari fakta atau situasi sosial yang melahirkannya.

Tetapi ada peta dan konteks sosial lain yang metodenya bergeser menjadi: kadang kebenaran personal perlu disimpan sejenak jika kemashlahatan bersama adalah taruhannya.

Menyatakan kebenaran bisa merupakan tindakan kepahlawanan dan kemuliaan, tetapi bisa memicu keburukan sosial apabila dilakukan tidak pada irama dan momentum yang tepat dalam konteks tata kelola sosial.

Iklan

Padahal kita pernah diajari banyak oleh Gus Dur soal perkara-perkara semacam ini.

Seperti ketika Gus Dur menyikapi isu kebangkitan PKI. Saat menjabat Presiden, Gus Dur memang terkenal dengan kontroversi. Tapi Gus Dur punya seribu argumentasi cerdas yang nakal tapi jauh dari kemlinthi. Bahkan bisa jadi Gus Dur adalah pengejawantahan sedikit nakal banyak akal ala Mojok—jauh sebelum Mojok itu berdiri.

Tahun 2000, Gus Dur berencana mencabut Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (TAP MPRS) Nomor XXV Tahun 1966 tentang Larangan Penyebaran Komunisme, Marxisme, dan Leninisme. Gus Dur membuat geger ketika menyatakan permintaan maaf kepada korban peristiwa 1965.

Sesuatu yang tabu bagi negara. Alasan Gus Dur sederhana saja: kemanusiaan. Ketika ditanya soal kekhawatiran PKI bangkit lagi Gus Dur cuma menjawab:

“Kenapa Takut? PKI aja ditakuti,” jawab Gus Dur santai kayak lagi di pantai.

Sebelumnya, Gus Dur juga membolehkan bendera Bintang Fajar berkibar di tanah Papua dengan syarat lebih rendah dari ketinggian bendera Indonesia. Gus Dur saat itu menyatakan, Bintang Fajar tak lebih dari simbol kultural warga Papua. Asal reaksi pemerintah nggak berlebihan, orang juga nggak bakal nanggepi berlebihan pula.

Saat itu, Wiranto Hanura yang masih menjabat Menko Polkam melapor ke Gus Dur terkait pengibaran Bintang Kejora, bendera yang identik dengan gerakan separatis Papua.

“Bapak Presiden, kami laporkan di Papua ada pengibaran bendera Bintang Kejora,” kata Wiranto.

Mendengar laporan tersebut, kemudian Gus Dur bertanya santai kayak lagi di pantai, “Apa masih ada bendera Merah Putihnya?”

“Ada hanya satu, tinggi.”

Mendengar jawaban itu, Gus Dur menjawab enteng, “Ya sudah, anggap saja Bintang Kejora itu umbul-umbul,” ujar Gus Dur santai kayak lagi di pantai.

“Tapi Bapak Presiden, ini sangat berbahaya,” sergah Wiranto .

“Pikiran Bapak yang harus berubah, apa susahnya menganggap Bintang Kejora sebagai umbul-umbul. Sepak bola saja banyak benderanya,” ucap Gus Dur santai kayak lagi di pantai (4).

Cara Gus Dur ini yang kemudian membuat separatisme di Papua nggak berkembang. “Pancingan” kibar-kibaran bendera Bintang Kejora tersebut tidak dimakan mentah-mentah oleh Gus Dur. Coba kalau misal reaksi Gus Dur justru membabat habis para pengibar bendera itu? Wah, bisa betulan merdeka itu Papua karena punya legitimasi sudah direpresi habis-habisan oleh negara.

Cara pandang inilah yang barangkali luput mas-mas anggota Banser. Gus Dur sudah mengajari bagaimana cara kita menempatkan diri menghadapi pancingan “bendera” semacam itu. Tak perlu lah jurus auman macan untuk mengusir kucing. Lha wong HTI juga sudah tenggelam kok.

Justru gimik represif Banser yang mengapi-api malah beresiko bikin HTI bisa benar-benar bangkit lagi. Saat ormas lain sudah santai menghadapi ormas ini, Banser malah keblabasan memelihara ketakutannya sendiri. Sudahlah, santai aja kayak Gus Dur yang selalu berasa di pantai (5).

Sebagai bagian dari jamaah Nahdliyin partikelir saya berharap Banser jangan lengah untuk selalu pada jati dirinya. Gagah di segala cuaca sekaligus rileks di darat, laut, dan bendera. Bisa bijaksana kepada setiap pemeluk beda agama dan seagama.

Jika kelak suatu saat melihat bendera HTI berkibar lagi, ingat-ingat saja nasihat Gus Dur ini:

“Apa susahnya menganggap bendera itu cuma umbul-umbul?”

Terakhir diperbarui pada 26 Oktober 2018 oleh

Tags: banserbenderabintang kejoraCak NunGus DurHTIPapuaTauhidWiranto
Suandri Ansah

Suandri Ansah

Asli Boyolali, tinggal di Jakarta.

Artikel Terkait

papua.MOJOK.CO
Sosok

Tolak Tawaran Kerja di Amerika Demi Mengajar di Pelosok Papua, Berambisi Memajukan Tanah Kelahiran

18 Februari 2026
literasi rendah di Papua dan upaya mahasiswa BINUS. MOJOK.CO
Ragam

Tantangan Mahasiswa BINUS bikin Cerita Bergambar Soal Kehidupan Sehari-hari Anak Papua dan Guru Relawan

8 Januari 2026
Lupakan Garuda Indonesia, Pesawat Terbaik Adalah Susi Air MOJOK.CO
Otomojok

Lupakan Garuda Indonesia, Citilink, dan Lion Air: Naik Pesawat Paling Menyenangkan Justru Bersama Susi Air

10 Desember 2025
Rugi Buka SPBU di Papua? DPR Bisanya Cuma Omong Kosong MOJOK.CO
Esai

Rugi Buka SPBU di Papua? Kalau DPR Menantang, Korporasi Bisa Menantang Balik karena DPR Cuma Bisa Melempar Retorika

3 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tes Kompetensi Akademik, TKA, Stres, orang tua.MOJOK.CO

3 Cara Sukses Hadapi TKA Tanpa Banyak Drama, Orang Tua Wajib Tahu Biar Anak Nggak Stres

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi MOJOK.CO

Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi

26 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”

23 Februari 2026
Mekanisme beasiswa LPDP untuk kuliah di luar negeri masih silang sengkarut, awardee cemas jadi "WNI" MOJOK.CO

Mekanisme dalam Beasiswa LPDP (Masih) Silang Sengkarut: Awardee Cemas Jadi WNI, Negara Punya PR yang Harus Diberesi

23 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.