Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Belajar Bahasa Inggris Adalah Tahap Awal untuk Memanusiakan Diri bagi Atlet Brain Rot seperti Saya

Rean Aqila oleh Rean Aqila
10 Juni 2025
A A
Belajar Bahasa Inggris Cocok untuk Atlet Brain Rot kayak Kamu MOJOK.CO

Ilustrasi Belajar Bahasa Inggris Cocok untuk Atlet Brain Rot kayak Kamu. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pengetahuan dasar selama belajar Bahasa Inggris

Sebelum mengambil kursus belajar Bahasa Inggris, saya sudah punya bekal koleksi vocab dan phrase dari lirik lagu, dialog-dialog dalam film, podcast, bahkan konten receh TikTok. Medium tersebut saya jadikan akses gratis untuk mengenal dunia. 

Ini menjadi basic knowledge saya terhadap budaya yang membentuk struktur Bahasa Inggris. Mengenali budaya dan dialog-dialog sesama manusia yang tumbuh dari sebuah bahasa menjadi cara yang membumi dan relevan untuk saya memahami fungsi bahasa.

Dengan pertimbangan fomo ingin ikut kabur dan melampiaskan kemarahan atas sistem pendidikan, saya akhirnya memutuskan untuk mengambil kursus belajar Bahasa Inggris di IELTS. Mentor yang saya pilih adalah mentor yang mengajar writing dan speaking karena 2 area tersebut merupakan kelemahan saya.

Di awal pertemuan, kami sepakat untuk menjadikan target skor dari institusi yang saya tuju sebagai tangga pijakan pertama. Dalam perjalanannya, ternyata tidak semulus melayangkan keputusan untuk menahan mahasiswa karena membuat meme dengan bantuan AI.

Saya merasa frustasi karena ada feedback berupa koreksi yang membuat saya merasa tidak cukup dengan diri sendiri. Koreksi yang diberikan itu sebenarnya baik, namun persepsi saya menerima itu seperti ingin membentuk kesempurnaan yang ideal–yang memang selaras dengan kesepakatan kami di awal.

Semuanya dibentuk berdasarkan standar norma sosial. Kesempurnaan yang ideal ini ternyata bukan tujuan yang saya cari.

Belajar Bahasa Inggris menumbuhkan neuron baru

Belajar Bahasa Inggris sesuai standar tidak selalu menjamin saya mengerti 12 tenses dan memilih conjunction yang tepat untuk mengharmonisasikan sebuah kalimat. Namun, kebiasaan ini cukup membuat otak yang saya rewiring dan menumbuhkan neuron baru. 

Tujuan ideal belajar Bahasa Inggris itu ternyata tidak secara langsung memaksa saya melatih fokus, mengurangi serta menahan godaan distraksi, dan memproses satu hal dalam satu waktu. Sebagai atlet brain rot, perubahan signifikan yang terasa adalah kecenderungan untuk berkomunikasi yang lebih artikulatif dan selektif. Memproses informasi bahkan bisa dilakukan dalam mode latar belakang. The brain is braining, cenah.

Satu softskill yang ternyata tidak secara langsung juga terasah selama saya belajar Bahasa Inggris yaitu kemampuan menerjemahkan dan menafsirkan. Sebagai contoh, ungkapan “Nice to meet you” belum tentu berarti seseorang menyambut dengan senang hati. Itu bisa berupa ekspresi untuk menyambut seseorang di awal pertemuan dalam konteks lingkup sosial. 

“Kapan-kapan kita main lagi ya.” Merupakan ungkapan kepuasan bahwa waktu yang dihabiskan bersama sudah terpenuhi secara baik antara orang-orang yang terlibat, walaupun kita tidak tahu “kapan-kapan” itu akan datang atau tidak. Dalam struktur yang sepadan, cara ini juga bisa membantu saya untuk menafsirkan bahwa “program makan siang gratis” berupa ungkapan atas kemampuan prematur pemerintah untuk memilah urgensi masalah dan memberi instruksi tepat guna di lingkup kenegaraan yang isinya manusia hidup.

Berbahasa membantu saya melatih kelenturan dalam menafsirkan sesuatu dalam konteks yang berbeda-beda menjadi lebih fleksibel tergantung waktu, tempat, dan orang-orang yang terlibat. Dalam satu kasus, pada titik hidup pribadi saya, saya pernah kelewat gedeg (i.e: rasa jengkel, kesal, dongkol) dengan perilaku proyeksi diri.

Tentang proyeksi diri 

Kalau melihatnya dari perspektif psikologi, proyeksi mengacu pada tindakan secara tidak sadar mengambil emosi atau sifat yang tidak disukai dari diri dan mengaitkannya dengan orang lain. Pada saat itu, menurut saya, proyeksi merupakan sikap yang tidak reliable, memunculkan bias dan kesalahpahaman tafsir.

Saya pun sampai mencari tau “Kenapa seseorang bisa berperilaku seperti itu? Apa yang mereka cari dari anomali itu?”

Saya terdorong mencari cara menafsirkan perilaku yang diungkapkan dalam “bahasa” proyeksi dan mencoba untuk menerimanya. Dorongan penerimaan ini pun banyak dipengaruhi oleh keinginan diri untuk bisa hidup dengan damai berdampingan dengan manusia lain di kehidupan sosial-politik dengan spektrum yang sangat beragam. 

Iklan

Selama belajar Bahasa Inggris, pendekatan keberbahasaan berhasil membuat saya melihat fenomena tersebut sebagai ungkapan ekspresi diri, alih-alih sesuatu yang janggal dan mengganggu. Perilaku proyeksi diri yang dibahasakan dengan “Lihat tuh anak tetangga udah jadi orang” saya tafsirkan sebagai ungkapan cara melindungi diri atas keterbatasan kapasitas diri dalam mengolah dan menyampaikan masalah dan kebutuhannya. 

“Kamu mah mending, kalau aku (…),” menjadi ungkapan adanya keinginan untuk meminta perhatian dan validasi dalam bentuk dialog 2 arah. Kalau “Kadang orang-orang yang terlalu pintar malah nggak jadi apa-apa”, merupakan ungkapan ekspresi diri Prabowo bahwa orang yang tidak terlalu pintar bisa jadi apa-apa. Jadi presiden, misalnya. Untuk pertama kalinya, saya nggak pernah se-relate ini dengan beliau.

Memanusiakan diri sendiri

Belajar Bahasa Inggris tidak memberi saya jaminan untuk mendapat skor IELTS yang memuaskan, namun dengan memberi power ke diri sendiri untuk mengolah dan menginterpretasikan suatu hal sepertinya sudah lebih cukup. Di situasi lain, bahasa juga memiliki power untuk mengubah narasi sejarah. 

Orang-orang yang memiliki power untuk mengubah narasi sejarah dengan membahasakan ulang pelanggaran HAM dengan tone positif bisa saja menyampaikan pelanggaran HAM dengan kesan heroik bak pahlawan nasional. Namun, koreksi-koreksi untuk mencapai kesempurnaan yang ideal itu tidak akan menahan orang-orang yang mencoba untuk memanusiakan dirinya sendiri.

Penulis: Rean Aqila 

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Belajar Bahasa Inggris Jangan Dibuat Runyam dan catatan menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 10 Juni 2025 oleh

Tags: bahasa inggrisbelajar bahasa inggrisIELTSPelanggaran HAMprabowopsikologiskor IELTS
Rean Aqila

Rean Aqila

Visual designer, suka mempelajari perilaku manusia dan bengong.

Artikel Terkait

Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
Alasan Soeharto tak layak dapat gelar pahlawan, referensi dari buku Mereka Hilang Tak Kembali. MOJOK.CO
Aktual

Buku “Mereka Hilang Tak Kembali”, Menyegarkan Ingatan bahwa Soeharto Tak Pantas Dapat Gelar Pahlawan, tapi Harus Diadili

1 November 2025
kapitalisme terpimpin.MOJOK.CO
Ragam

Bahaya Laten “Kapitalisme Terpimpin” ala Prabowonomics

21 Oktober 2025
Hentikan MBG! Tiru Keputusan Sleman Pakai Duit Rakyat (Unsplash)
Pojokan

Saatnya Meniru Sleman: Mengalihkan MBG, Mengembalikan Duit Rakyat kepada Rakyat

19 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

outfit orang Surabaya Utara lebih sederhana ketimbang Surabaya Barat. MOJOK.CO

Kaos Oblong, Sarung, dan Motor PCX adalah Simbol Kesederhanaan Sejati Warga Surabaya Utara

8 Januari 2026
Susah jadi bidan desa, niat edukasi malah dianggap menentang tradisi MOJOK.CO

Susah Payah Bidan Desa: Warga Lebih Percaya Dukun Bayi, Kasih Edukasi Malah Dianggap Menentang Tradisi

6 Januari 2026
Dari keterangan Polresta Yogyakarta: Kantor scammer berbasis love scam di Gito Gati, Sleman, raup omzet puluhan miliar perbulan MOJOK.CO

Kantor Scammer Gito Gati Sleman: Punya 200 Karyawan, Korbannya Lintas Negara, dan Raup Rp30 Miliar Lebih Perbulan dari Konten Porno

7 Januari 2026
flu.mojok.co

Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19

9 Januari 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
Film Suka Duka Tawa mengangkat panggung stand-up comedy. MOJOK.CO

“Suka Duka Tawa”: Getirnya Kehidupan Orang Lucu Mengeksploitasi Cerita Personal di Panggung Komedi demi Mendulang Tawa

13 Januari 2026

Video Terbaru

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.