Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Spanduk Jaga Jogja Memang Manis, tapi Sebenarnya Kita Harus Menjaga Kota Ini dari Apa dan Siapa?

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
8 September 2025
A A
Ayo Jaga Jogja Katanya, tapi Jaga dari Apa dan Siapa? MOJOK.CO

Ilustrasi - Sesuatu di Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kekerasan jalanan seakan tak pernah berhenti

Beberapa hari setelah demo mulai mereda, kejadian mengerikan terjadi di area Tajem. Gerombolan orang yang terdiri dari 12 motor, masing-masing membawa kayu, mencari seseorang dan sempat menanyakan, “Kos orang Medan di sini di mana, Mas?” 

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Merapi Uncover (@merapi_uncover)

Berselang beberapa waktu, pengeroyokan terjadi. Warga menghubungi pihak berwajib dan kasus sedang didalami.

Menurut laporan awal, penyebab utama adalah masalah koperasi. Namun, masalah ini menyebar karena diduga masalah rentenir. Banyak juga yang mengaitkan masalah ini dengan suku dan kedaerahan.

Baru beberapa hari poster jaga Jogja muncul di akun-akun besar, setelah kejadian mengerikan ini terjadi, mengapa poster itu tak dinaikan lagi seperti saat terjadi demonstrasi kemarin? 

Mengapa postingan mereka kini kebanyakan adalah kirab dan acara-acara kebudayaan seolah di sisi lain Jogja, di jalanan yang gelap dan minim cahaya di pinggiran kota, tak pernah dibahas?

Jika konsisten, sebenarnya kampanye menjaga Jogja ini bagus sekali. Menurut definisi yang lebih luas, menjaga itu memiliki arti “mengiringi untuk melindungi dari bahaya; mengawal”. Harusnya, definisi dari poster jaga Jogja itu akan bermakna bagus ketika tidak hanya dinaikkan saat rame-rame demonstrasi, namun seterusnya. Sebab, di kota ini, kekerasan jalanan seakan tak pernah berhenti.

Pertanyaannya, mengapa hal itu tidak terjadi?

Jika konteks jaga Jogja muncul tiba-tiba ketika tidak ada demo, hanya untuk merespons maraknya kekerasan jalanan yang terjadi di kota ini, maka asumsi pembaca merujuk pada satu hal: Jogja tidak aman untuk didatangi. 

Apakah ini bahaya untuk Jogja? Tentu saja. Pendapatan utama selain dana segar dari pusat melalui Dana Keistimewaan, faktor wisata menjadi daya tarik lainnya. Jika di bagian ini tak berfungsi, mau diapakan hotel-hotel dan mal milik konglomerat itu?

Efek lanjutan yang sedang menunggu

Munculnya narasi jaga Jogja di tengah aksi perlawanan seperti kemarin, sebenarnya rawan timbul bahaya yang lain. Konteks “menjaga” tadi, amat rawan dipelintir menjadi, siapa saja yang melakukan aksi demo, maka dia sudah mengkhianati kota ini yang memiliki citra “menjaga”. 

Ini bahaya sekali karena rawan terjadi konflik horizontal. Konflik yang seakan selalu dirawat oleh kota ini.

Iklan

Berbagai sentimen akan muncul, jika sebelumnya kepada kesukuan atau ras tertentu, bisa saja suatu saat kepada mahasiswa dan berbagai lapisan masyarakat yang melakukan aksi demo di kemudian hari.

2013 lalu, segerombolan anggota Kopassus menyerbu Lapas Cebongan dan menembak empat tahanan kasus pembunuhan anggota Kopassus yang lainnya. Alih-alih menyoroti eksekusi yang dilakukan di luar hukum, justru berembus narasi “anti-premanisme”. Banyak spanduk terbentang, sama seperti belakangan ini, bahwa Jogja adalah kota yang anti-preman.

Permasalahan utama bukan di narasi anti-preman. Namun, warga menutup mata akan aksi sepihak dan justru menjadikan eksekusi di luar hukum itu sebagai sebuah keadilan. Selain impunitas, ruang kritik yang terjadi di masyarakat kepada aparat juga menjadi lemah karena tertutup oleh narasi Jogja anti-preman.

Selain masalah penggunaan senjata, juga memunculkan masalah baru tentang pendefinisian preman dalam bahasa sehari-hari yang luas. Preman bisa saja merujuk pada ciri-ciri fisik atau bahkan tindakan yang mereka lakukan. Pejabat korup, walau jahat kepada masyarakat, tak akan dianggap preman karena ciri-ciri fisik mereka tak “sekotor” preman pasar.

Menjaga Jogja dari apa dan siapa?

Sama juga dengan jaga Jogja jika tidak dikaji lebih mendalam. Pertanyaannya akan terus berdengung sampai kapan pun juga: menjaga dari siapa? Menjaga dari aksi brutal di jalan raya? Dari kesenjangan sosial? Upah rendah? Atau dari pejabat yang berjarak dengan rakyat?

Lagi-lagi, pendefinisiannya akan jatuh kepada satu hal: menjaga dari aksi demonstrasi. Maka akan melebar dari yang awalnya demo ricuh, menjadi hanya sekadar kumpul-kumpul untuk bersuara. Ini mengerikan ketika ruang bersuara dibungkam oleh narasi-narasi yang berjarak dari realita di lapangan.

Dan kita layak untuk mempertanyakan apakah Jogja sudah memberikan ruang aman untuk para pelajar bersuara?

Maka, mari kita menjaga Jogja. Jaga kota ini dari narasi-narasi yang memperlemah perlawanan, menjauhkan kita dari tuntutan perihal keadilan kepada penguasa.

Penulis: Gusti Aditya

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Orang Masih Bertahan di Jogja Tak Melulu karena Nyaman, tapi Bisa Jadi karena Nggak Punya Pilihan Lagi dan catatan menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 8 September 2025 oleh

Tags: demo jogjajaga jogjaJogjapremanisme jogjaumr jogjaupah rendah
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Bercita-cita menjadi pelatih Nankatsu. Mahasiswa filsafat.

Artikel Terkait

Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO
Urban

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa
Kuliner

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Kerja Jakarta, Tinggal Bekasi Pulang Jogja Disambut UMR Sialan (Unsplash)
Pojokan

Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu

16 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ada kehangatan dan banyak pelajaran hidup di dalam kereta api (KA) ekonomi yang sulit didapatkan user KA eksekutif kalau terlalu eksklusif MOJOK.CO

Kehangatan dan Pelajaran Hidup di Kereta Api (KA) Ekonomi yang Sulit Ditemukan di KA Eksekutif

13 Maret 2026
Tuntutan sosial dan gengsi bikin kelas menengah jadi orang kaya palsu hingga abaikan tabungan demi kejar standar sukses MOJOK.CO

Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit

14 Maret 2026
Bus ekonomi jalur Jogja Jambi menyiksa pemudik. MOJOK.CO

Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”

13 Maret 2026
gojek instant.MOJOK.CO

Gojek Buka Titik Jemput Instan di Terminal Giwangan, Mudahkan Para Penumpang Bus yang Bingung Mencari Transportasi Lanjutan

12 Maret 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Nasib Suram Pekerja Jakarta Rumah di Bekasi, Dituntut Bekerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik

17 Maret 2026
Suasana Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO

“Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten

17 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.