Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Haul Tan Malaka untuk Mahasiswa Kismin dan Aktivis Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
23 Februari 2021
A A
Haul Tan Malaka untuk Mahasiswa Kismin dan Aktivis Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran

Haul Tan Malaka untuk Mahasiswa Kismin dan Aktivis Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Tan Malaka punya tempat spesial bagi muda-mudi kekirian maupun mereka yang agak konservatif di grup Indonesia Tanpa Pacaran.

Oke. Tanggal 21 Februari kemarin, kita seharusnya memperingati hari gugurnya Tan Malaka. Pantas disebut “gugur” karena sang bapak republik ini ditembak mati oleh tentara. Bukan tentara Belanda ya, melainkan tentara Indonesia.

Apa boleh bikin, banjir Jakarta dan kasus perselingkuhan telah mengalihkan isu penting soal haul Tan Malaka di republik ini.

Bukan apa-apa, memperingati haul ini penting. Sebab Tan Malaka adalah tumbal dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tokoh yang dulu pernah “dititipi Indonesia” oleh Sukarno ini harus tewas di tangan bangsa yang dia perjuangkan sendiri.

Sudah 72 tahun berselang, seruan Tan Malaka, “Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi,” menjadi kenyataan.

Hari ini, banyak muda-mudi yang menjadikan blio sebagai idol. Foto wajah datuk yang kurang gizi ini bersanding dengan wajah revolusioner seperti Che Guevara dan Widji Thukul. Madilog, opus magnum Tan Malaka, kini seperti buku wajib muda-mudi revolusioner.

Pokoknya harus dibaca, urusan paham belakangan.

Ini menarik perhatian saya. Tan Malaka seperti lebih diidolakan daripada sosok kekirian lain. Padahal, Indonesia tidak kekurangan tokoh kiri. Apa mungkin karena blio ini dianggap “babon”-nya kalau soal republik ya?

Ya maklum, banyak tokoh berpandangan kiri yang tampil dalam panggung perjuangan Indonesia. Tapi, Tan Malaka tetap punya tempat spesial bagi muda-mudi kekirian yang (pengen) progresif sekaligus yang agak konservatif.

Tentu ada alasannya. Jika tidak, mana mungkin Tan Malaka cuma berakhir sebagai catatan kaki sejarah dan selalu jadi bahan ghibah?

Dibandingkan Aidit dan Musso, mengidolakan Tan Malaka lebih suci dari dosa negara

Berbeda dengan tokoh kiri sekelas Musso atau Aidit, Tan Malaka adalah tokoh paling suci. Suci di sini bukan urusan religi, tapi “dosa” kenegaraan.

Kedua tokoh sebelumnya erat dengan PKI. Dan kita tahu bagaimana posisi PKI dalam percaturan politik Indonesia. Bersama partai palu arit ini, Musso dan Aidit sudah telak jadi kambing hitam.

Sedangkan Tan Malaka terbebas dari jeratan tapol ini. Ketika dituduh komunis, para pemujanya hanya tinggal bilang, “Tan Malaka dipecat PKI karena menolak pemberontakan.”

Nah, posisi Tan Malaka yang kiri tapi berseberangan dengan PKI menjadi alasan kuat untuk memujanya. Minimal, kamu bisa mengelak dari tuduhan PKI ketika memakai kaos Tan Malaka.

Iklan

Kalau perkara tetep diciduk karena aparatnya nggak baca sejarah sih, ya itu urusan lain.

Tan Malaka adalah penulis meski tulisannya nggak pernah tembus di Mojok.co

Sebagai orang yang hobi travelling (baca: jadi buruan interpol), Tan Malaka tetap menjadi penulis yang produktif. Tidak kurang 27 buku dan karya tulis yang telah dibuat.

Tentu tidak terlupa 3 karya yang jadi “kitab suci” kaum kekirian: Madilog, Gerpolek, dan Aksi Masa. Dan bagi muda-mudi nasionalis, tentu mereka mengenal “Menuju Republik Indonesia” yang konon menjadi panduan para pendiri bangsa.

Ini juga menjadi alasan Tan Malaka menjadi idola. Meski tulisan Tan Malaka tak pernah sekalipun nonggol di Mojok.co, tapi ngoleksi buku karya blio menjadi syarat wajib muda-mudi yang sedang gandrung literasi.

Apalagi karya Tan Malaka pernah dibredel Orde Baru. Makin keren nan seksi lagi dah karya bapak republik satu ini.

Tan Malaka layak jadi tokoh inspirasi aktivis gerakan Indonesia Tanpa Pacaran

Untuk golongan kiri yang susah mendapat jodoh, Tan Malaka adalah simbol yang keren paripurna. Menumbalkan asmara dan hidup rumah tangga demi kemerdekaan. Nah lho kurang seksi apa coba?

Sedangkan bagi golongan kanan yang menjaga diri untuk tidak pacaran, Tan Malaka bisa saja dijadikan contoh pula. Menjaga hati untuk menjauh dari zina dengan cara menghabiskan waktu untuk memikirkan bangsa. Tuh, kurang agamis dan nasionalis apa coba?

Tentu mereka yang ngefans pada Tan Malaka bisa memanfaatkan kisah blio sebagai alibi ketika menjadi tuna asmara. Atau ketika dianggap konservatif karena dianggap patuh sekali sama perintah agama.

Ketika dirundung perkara cinta seperti ini, kaliyan tinggal jawab, “Sebenarnya aku menghidupi takdir Tan Malaka.”

Bahkan, bagi kaum tuna asmara atau aktivis gerakan Indonesia Tanpa Pacaran, Tan Malaka ini bisa jadi contoh. Bahwa pacaran itu selain dosa, juga banyak nggak enaknya. Sebab, selain perkara jomblo, Tan Malaka pernah jadi korban tikung juga.

Cinta pertamanya direbut oleh priyayi yang menjadi gedibal Belanda. Patah hati semacam ini bisa menginspirasi kaliyan yang mengalami takdir cinta se-nggerus itu agar tetap bangkit.

Oleh karena itu, jika Didi Kempot adalah the godfather of broken heart Indonesia maka pantaslah kalau Tan Malaka disebut sebagai крестный отец разбитого сердца bangsa.

Tan Malaka idola kaum kismin mahasiswa

Sukarno terkenal dengan glamornya. Aidit masyhur karena ulang tahun PKI pernah dirayakan dengan penuh kebyar-kebyar. Lalu, bagaimana dengan Tan Malaka?

Om-om ceking ini tidak pernah diidentifikasi sebagai sosok bergelimang harta, berjubel tahta, maupun kisah sinetron ikatan cinta. Dibanding tokoh nasional lain yang punya kegagahan tersendiri, Tan Malaka hadir sebagai sosok pertapa miskin harta.

Tan Malaka pantas mewakili mereka yang mengaduk kopi pakai saset bekas, kaum pengisi botol sampo pakai air supaya dapat busanya, umat pagi-kuliah-malam-jaga-warung-kopi-senja, sampai golongan penghuni gelap kontrakan temen.

Yaktul, Tan Malaka adalah wakil dari golongan-golongan yang miskinnya struktural, kultural, atau kelewatan.

Dan oleh sebab itu, Tan Malaka bakal selalu dicintai. Sebab, selain Indonesia adalah negara swa-sembada kaum kismin, celetukan-celetukan Tan Malaka memang sangat quotable, jalan hidupnya penuh kisah roman picisan, serta akhir hidup dan kisah asmaranya penuh pengkhianatan.

Tapi ya bakal segitu saja dia akan dikagumi dan diperingati haul-nya yang ke-72 tahun oleh pemuda-pemudi tanggung Nusantara. Nggak usah dan nggak perlu ada perayaan yang lebih keren dari itu.

Karena sejarah, selalu bicara dari mereka-mereka yang menang.

Karena sejarah pula, suara Tan Malaka akan tidak begitu lantang dari dalam kubur, tapi berbisik lirih ke sejarah Indonesia.

Berbisik lewat sekelabat patch, sablon, poster, totebag, buku-buku bajakan, maupun artikel dari WiFi colongan di layar smartphone Anda.

BACA JUGA Tidak Semua Mahasiswa yang Tidur di Kampus itu Aktivis dan tulisan Dimas Prabu Yudianto lainnya.

Terakhir diperbarui pada 23 Februari 2021 oleh

Tags: indonesia tanpa pacaranMahasiswatan malaka
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Jika artikel saya menyinggung Anda, saya tidak peduli.

Artikel Terkait

Horor Pendidikan di Jogja: Balita Dianiaya, Mahasiswa Dilecehkan MOJOK.CO
Tajuk

Horor Pendidikan di Jogja: Balita Dianiaya, Mahasiswa Dilecehkan

25 Mei 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan

14 Mei 2026
Mahasiswa gen Z kuliah malas baca jadi brain rot
Sekolahan

Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI

23 April 2026
Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja MOJOK.CO
Esai

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja

20 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tren kalcer dan monopoli olahraga bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius MOJOK.CO

Tren Kalcer dan Monopoli Olahraga bikin Gowes Jadi Terlalu Ambisius, Mau Sekadar Bersepeda tapi Malu Dicap Cupu

3 Juni 2026
Adegan horor tiap awal bulan di kehidupan dewasa. Gajian ludes seketika karena kebutuhan MOJOK.CO

Awal Bulan di Kehidupan Dewasa Itu Horor: Setelah Gajian Gaji Langsung Ludes di Kalkulator

2 Juni 2026
Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara.MOJOK.CO

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara

8 Juni 2026
Riset, Peneliti, Guru Besar Abal-Abal.MOJOK.CO

Sekte “Pemuja Kargo” di Ekosistem Kampus Indonesia yang Mencetak Peneliti Palsu dan Ilmuwan Abal-Abal

3 Juni 2026
Meski tanpa sosok ayah (fatherless), tapi tidak hilang arah MOJOK.CO

Hidup Tanpa Sosok dan Peran Ayah Nyatanya Tak bikin Hilang Arah, Bisa Cari Arah Sendiri dan Malah bikin Orang Lain Iri

9 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.