MOJOK.COHadirnya Redmi 7 lengkap dengan spesifikasinya menjadi obat penawar bagi mereka yang merasa kurang beruntung mendapatkan promo flash sale Redmi Note 7. Kok bisa?

Hoki Xiaomi tampaknya berada di angka ganjil. Hal ini tampak dari sambutan luar biasa Redmi 5 dan terutama Note 5 di pasar Indonesia. Namun, keadaannya tidak begitu baik dengan kehadiran Redmi 6 dan Note 6. Ihwal ini masih bisa ditambahkan dengan fenomena Mi A2 yang tidak secemerlang Mi A1.

Anggapan ini semakin dikuatkan dengan kehadiran Redmi Note 7, yang meski boleh disanggah kalau brand-nya tak lagi Xiaomi, tetapi Redmi tetaplah milik ‘si padi kecil’ itu. Redmi Note 7 dengan gimmick kameranya itu cukup mumpuni dalam meletakkan pondasi harga bagi smartphone mid-range.

Situasinya berlanjut ketika Xiaomi, eh maaf, Redmi kembali merilis Redmi 7 dalam waktu yang tak terlalu lama. Dirilis secara resmi pada Selasa (23/04/2019) lalu, Redmi 7 tampaknya ingin memanfaatkan betul hype yang menempel pada Redmi Note 7.

Hal yang cukup aneh adalah bagaimana Redmi memosisikan Redmi 7 ini setelah di pasar sudah lebih dulu ada Redmi Note 7. Pasalnya, spesifikasi yang ditawarkan Redmi 7 ini berada di bawah Redmi Note 7, sementara harganya hanya terpaut Rp 100.000 saja.

Posisi itupun hanya diukur dari pihak internal saja, belum lagi kalau disandingkan dengan Asus Zenfone Max M2, Samsung Galaxy M10, dan smartphone dari brand lain yang punya nilai tawar yang sama dari segi harga serta fitur yang mirip dengan Redmi 7. Kenapa, Redmi?

Sebelum memperkirakan jawaban untuk pertanyaan semacam itu, mari mengintip dulu spesifikasi yang ditawarkan oleh Redmi 7 ini.

Hal yang paling tampak dari Redmi 7 adalah bentuknya yang memang menyerupai Redmi Note 7. Dengan poni tetes air yang mereka sebut sebagai dot drop, Redmi 7 menggunakan layar 6,26 inci dengan panel IPS LCD. Sayangnya, panel ini masih berkualitas HD, belum Full HD seperti pada Redmi Note 7.

Baca juga:  Xiaomi Redmi Note 6 Pro: Benarkah Hanya Unggul di Sektor Empat Kamera Saja?

Layar ini dilindungi oleh coating dari Corning Gorilla Glass versi 5. Sementara pada bagian belakangnya, tidak ada coating apapun, hanya bodi plastik dengan desain yang cukup mainstream. Bagian belakang ini dihuni bulatan fingerprint scanner, tulisan Redmi, serta kamera belakang ganda dengan tulisan AI Dual Camera dan sensor flash di bagian bawahnya.

Kamera belakang ganda Redmi 7 terdiri dari kamera utama dengan resolusi 12 MP dengan bukaan f/2.2 plus kamera kedua dengan resolusi 2 MP yang hanya berfungsi sebagai depth sense alias pembuat bokeh. Konfigurasi kamera ganda ini bisa merekam video hingga 1080p dengan 60 fps.

Kamera depan yang terletak di poni dot drop memiliki resolusi yang kurang menarik, hanya 8 MP. Meski bisa dipakai untuk merekam video hingga 1080p dengan 30 fps, aktivitas selfie maupun vlogging rasanya tidak begitu disarankan dengan kamera depan sekecil ini.

Sekarang ke bagian jeroan Redmi 7. Smartphone ini mengusung chipset kelas menengah yang dipakai juga oleh Asus Zenfone Max M2, yakni Snapdragon 632. Chipset yang memiliki fabrikasi 14 nm ini memiliki clock speed hingga 1,8 GHz. Untuk sektor grafis, semuanya diserahkan pada Adreno 506.

Smartphone ini mendapatkan angka rata-rata benchmarking di situs AnTuTu sebesar 100-ribuan. Skor ini memang terbilang kecil untuk smartphone mid-range kekinian. Namun, untuk harga yang terbilang hampir masuk ke segmen entry level, Redmi 7 layak mendapat pujian.

Pujian tambahan pun layak disematkan ketika masuk ke software kustomisasi Android 9, yakni MIUI 10. Kustomisasi khas Xiaomi ini cukup ngebut kala dipakai untuk penggunaan sehari-hari.

Di Indonesia, Redmi hanya memasarkan Redmi 7 dengan varian RAM 2 GB dan memori 16 GB serta RAM 3 GB dan memori 32 GB saja. Di Cina, Redmi 7 juga memiliki varian 4 GB dan 64 GB. Nah, dari sini sebetulnya mulai terbaca posisi smartphone satu ini.

Baca juga:  Meizu M3S: Mengulik Kelebihan dan Kekurangan Meizu yang Tak Banyak Diketahui Orang

Xiaomi Redmi 7

Redmi 7 diposisikan sebagai obat penawar bagi mereka yang merasa kurang hoki dalam berebut dengan tengkulak konsumen lain pada ajang flash sale Redmi Note 7. Sebagaimana telah diungkap di atas, Redmi 7 bagai mendompleng hype yang dibuat oleh Redmi Note 7. Saat Redmi Note 7 dengan harga resmi cukup langka di pasaran, Redmi 7 hadir dengan harga yang wajar dan stok yang terjaga.

Redmi Note 7 memang dijual secara resmi dengan harga Rp 1.999.000 untuk varian 3 GB/32 GB dan Rp 2.599.000 untuk varian 4 GB/64 GB. Namun banyak yang mengeluh karena smartphone ini termasuk barang gaib.

Ajaibnya, setelah flash sale, Redmi Note 7 pun bergentayangan di beragam marketplace dan konter ponsel dengan harga yang naik sekitar Rp 300.000-an. Kejadian yang sama pun pernah terjadi pada Redmi Note 5. Hayooo…

Apakah Xiaomi tidak pernah belajar untuk menghitung stok yang tersedia dengan pasar yang kelaparan? Atau inikah gimmick yang memang sengaja dimainkan oleh Xiaomi? Perilisan Redmi 7 inilah (((lagi-lagi))) menjadi bukti sahih bahwa Xiaomi telah fasih untuk urusan satu ini.

Dengan tiga varian warna Comet Blue, Lunar Red, dan Eclipse Black, Redmi 7 dibanderol dengan harga Rp 1.599.000 untuk RAM 2GB/16 GB dan Rp 1.899.000 untuk RAM 3 GB/32 GB. Coba perhatikan, varian tertingginya hampir sama ‘kan harganya dengan Redmi Note 7 varian paling rendah?

Kalau menilik pertimbangan harganya sih, tentu jauh lebih baik memilih Redmi Note 7 daripada Redmi 7. Tapi perbandingan harga ini pada akhirnya tidak setara, sebab harga Redmi Note 7 sudah dikatrol tengkulak. Meski dengan harga katrolan, price-to-spec Redmi Note 7 masih oke kok, asal berani saja membayar di luar harga resminya.



Loading...



No more articles