Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Pancasila di Atas Aspal Brebes

Dian Septi Arthasalina oleh Dian Septi Arthasalina
12 Juli 2016
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jadi, gimana lebarannya? Kejebak di Brebes berapa jam? Eaaaa…

Foto macet-macetanmu kala mudik belum kekinian dan instragamable kalau keterangan lokasinya bukan di sepanjang tol Brebes. Tentu perlu dimeriahkan dengan hestek #terjebakdiBrebes #lebihbaikterjebaknostalgia #mudik2016 #idulfitri1437H #Brebesmili #kapanmoveondariBrebes #moveondarikamuajabelom.

Brebes yang tadinya hanya dikenal lewat telur asin dan bawang merahnya mendadak merajai seluruh kanal berita online dan acara berita di semua stasiun televisi swasta. Mudik lebaran yang telah menjadi ciri khas warga Indonesia seperti hanya terpusat di aspal Brebes.

Kabarnya ada yang terjebak sampai 20 jam lebih di jalan tol baru itu. Ada yang menjadi pulang kampung selama-lamanya juga akibat kelelahan hebat. Ada pula komentar Pak Menteri yang memancing hujatan netizen, meski sesungguhnya netizen Indonesia sudah otomatis menghujat tanpa dipancing.

Sangarlah netizen Indonesia itu. Peka banget, nggak kayak kamu.

Dan tentu saja ada saya yang turut meramaikan jebakan Brebes selama 14 jam lamanya. Tapi selalu ada hikmah yang bisa diambil dari setiap peristiwa. Akibat terjebak di tol Brebes selama 14 jam itu, untuk pertama kalinya saya makan sahur dengan paket panas McD yang harganya empat puluh ribu sekian-sekian.

Brebes telah menjadikan santap sahur saya pagi itu naik kelas.

Saya, yang baru pertama kali bergabung dalam barisan pemudik asal Ibu Kota, dibuat terpana dengan pemandangan sepanjang jalan. Jadi, kalau saya terlihat ndeso dengan penggambaran kekaguman yang berlebihan ini, mohon dimaklumi.

Sebab ndeso adalah kekinian yang tertunda. Percayalah.

Sebelum memasuki tol Pejagan yang berlanjut ke jebakan Brebes itu, saya disuguhi pemandangan para pemudik yang mengendarai sepeda motor dengan barang bawaan yang tak sedikit dan penumpang yang melebihi anjuran.

Sempat terlintas di benak saya untuk mengadakan pelatihan pramuka bagi para calon pemudik yang mengendarai sepeda motor. Tentu mereka butuh skill  tali-temali untuk menata barang bawaan sedemikian rupa sehingga aman sampai tempat tujuan meski melewati banyak rintangan seperti aspal yang nggronjal-nggronjal.

Baik pemudik, pemerintah, Brebes atau siapa saja sebenarnya tidak ada yang pantas disalahkan. Mencari kesalahan hanya akan menambah kadar kolesterol jahat dan menaikkan tensimu yang sudah terganggu pasca badai santan dan daging-dagingan.

Di luar berita-berita bertajuk ‘Siapa yang Salah dalam Tragedi Brebes’, saya ingin menyampaikan kekaguman yang luar biasa terhadap perwujudan Pancasila yang, jika Anda amati dengan serius, tiba-tiba hadir nyaris sempurna di atas aspal Brebes.

I: Ketuhanan yang Maha Esa

Iklan

Siapa yang tidak menjadi ingat Tuhannya kala terjebak masalah? Bukankah Tuhan memang baru terasa betul keberadaannya ketika manusia tengah menghadapi kesulitan?

Tahu foto sekeluarga yang menunaikan shalat di tepian jalan tol? Orang-orang mendadak kagum dan tersentuh hatinya. Bayangkan, dalam kondisi macet total dan tidak bisa melakukan apa-apa selain berdiam diri, disuguhi pemandangan seperti itu tentu membuat mBrebes mili. Ini cuma salah satu contohnya.

II: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Jangan dipandang dari upaya saling serobot antar pengemudi atau harga bensin yang jadi melonjak tinggi sekali. Coba lihat sisi lainnya. Warga sekitar jadi tergerak untuk berjualan makanan, minuman, dan bahan bakar sebab mereka tahu para pemudik akan sangat membutuhkan itu dalam keadaan terjebak macet. Ada pula yang mendirikan kamar mandi dadakan meski tidak digoreng dalam bentuk bulat dan gurih-gurih enyoy.

Kemacetan menjadi ladang penghasilan bagi warga sekitaran tol yang dapat digunakan sebagai dana tambahan merayakan hari raya. Kemudian para pemudik yang sebagian besar adalah golongan menengah ke atas dan pasukan individualis Ibu Kota, menjadi sadar bahwa dalam keadaan terdesak, tenggang rasa dan gotong royong adalah jalan keluar terbaik.

Paling tidak, Brebes menyadarkan mereka bahwa manusia tetaplah makhluk sosial yang perlu hidup berdampingan dengan manusia lainnya.

III: Persatuan Indonesia

Bingung sebelah mana bentuk persatuannya?

Lha itu, segala macam merek mobil bersatu padu meramaikan tol Brebes. Segala merek air minum, makanan ringan, serta kluster industri lain bersatu padu melalui produk-produknya di atas aspal Brebes. Bahkan para pemudik yang sibuk mengolah kesabaran di dalam kendaraannya masing-masing, barangkali di hari biasa mereka adalah para pelaku bisnis yang terus bersaing sengit.

Barangkali juga ada teman yang mengelak kala ditagih utangnya tapi berpapasan di dalam tol Brebes. Atau bisa juga ada sepasang mantan kekasih terpisah kendaraan yang gagal mudik bersama. Eaaa…

Intinya, sebagian kecil Indonesia sempat bersatu padu di atas aspal Brebes. Indah bukan?

“Indah ndasmuu!”

IV: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan.

Ingat kapan terakhir kali bermusyawarah sebelum memutuskan sesuatu bersama anggota keluargamu? Ingat kapan terakhir kali bersikap bijak dalam hidup rukun bertetangga? Brebes dapat mewujudkannya dalam sekejap.

Untuk pindah lajur saja sampeyan  tanpa sengaja telah menerapkan rukun bertetangga dengan pengendara di sebelah. Walaupun sejujurnya karena nggak mau mobilnya lecet.

Cicilane durung lunas, ndes!

V: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Kalau saja orang-orang itu sudi melihat dari sisi baiknya, kenaikan harga makanan, minuman, dan bahan bakar di sepanjang tol Brebes adalah wujud keadilan sosial: Para pemudik yang bermobil kelaparan, kehausan, dan kehabisan bahan bakar.

Menaiki mobil pribadi dipandang sebagai kemampuan finansial yang berlebih. Warga sekitar memandang fenomena ini sebagai peluang sekaligus rasa kasihan. Untuk dapat berjualan makanan dan bahan bakar, warga pun perlu menempuh perjalanan yang jauh dan repot mengingat truk-truk tanki bahan bakar pun kesulitan menjangkau SPBU.

Jerih payah warga membawakan makanan, minuman, dan bahan bakar rasanya adil diganjar dengan harga segitu. Malah mungkin tanpa upaya para warga itu, sampeyan gagal menuntaskan rindu di kampung yang ada halamannya. Lak cilaka, to! Lagi-lagi, dalam sekejap Brebes mampu mewujudkan keadilan sosial itu.

Mestinya Pak Wakapolri tidak perlu repot-repot meninjau langsung tol Brebes. Di rumah saja, Pak menikmati opor, sambel goreng ati, dan kue kering. Kirimkan saja Mbak Duta Pancasila yang goyangannya barangkali bisa sekaligus menghibur para pemudik.

Sebab di Brebes sesungguhnya tidak ada apa-apa, Pak. Hanya sedang mewujudkan Pancasila meski sekejap. Kurang nasionalis apa coba?

Terakhir diperbarui pada 14 Agustus 2021 oleh

Tags: BrebesBrexitfeatJalan TolLebaranMudikPancasila
Dian Septi Arthasalina

Dian Septi Arthasalina

Artikel Terkait

Pengunjung Candi Pramabanan di Jogja selama Lebaran 2026. (sumber: InJourney)
Kilas

InJourney Sukses Dapat Untung selama Arus Mudik dan Lebaran 2026 dengan Tata Kelola yang Optimal

2 April 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran
Catatan

Saya Kapok Naik Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

1 April 2026
Menyesal Sarapan Gudeg Jogja setelah Jadi Korban Nuthuk Rega (Unsplash)
Pojokan

Ketika Orang Jogja Dibuat Menyesal Sarapan Gudeg Jogja karena Jadi Korban Nuthuk Rega

25 Maret 2026
Stasiun Tugu Jogja lebih buruk dari Stasiun Lempuyangan. MOJOK.CO
Catatan

Kapok Naik Kereta Eksekutif karena Turun di Stasiun Tugu Jogja, Keluar Stasiun Langsung Disuguhi “Ujian Nyata”

25 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran MOJOK.CO

Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran

22 April 2026
mabar game online.MOJOK.CO

Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar

23 April 2026
Mahasiswa UNJ lulus setelah gagal seleksi PTN jalur SNBT

Penyandang Disabilitas Gagal Diterima PTN Jalur SNBT, Kini Lulus Sarjana Pendidikan di UNJ Berkat “Antar Jemput” Ayah

19 April 2026
Derita anak pintar dan siswa berprestasi yang hidup dalam kemiskinan di desa. Tak dapat dukungan pendidikan dari orang tua MOJOK.CO

Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja

22 April 2026
Supra Fit: Motor Honda yang Bikin Kecewa dan Gak Bikin Bangga MOJOK.CO

Supra Fit: Motor Honda yang Nggak Bisa Saya Banggakan Bahkan Sempat Bikin Kecewa, tapi Justru Paling Berjasa Sampai Sekarang

21 April 2026
Guru CLC di Malaysia sejahtera daripada guru kontrak. MOJOK.CO

WNI Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Jadi Guru Kontrak di Indonesia yang Hidupnya Nggak Sejahtera

21 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.