• 23
    Shares

MOJOK.CO – Barangkali karena belum mendapatkan nama yang cocok sebagai pengganti Ketua Umum PSSI, Pak Edy Rahmayadi belum mau mundur meski yang bersangkutan akan jadi Gubernur Sumatra Utara. Nah, di sini Mojok Institute ingin membantu.

Sebelumnya kami perlu sampaikan selamat dulu untuk Pak Edy Rahmayadi yang hampir bisa dipastikan akan memimpin Provinsi Sumatra Utara untuk lima tahun ke depan. Meski harus diakui, kemenangan ini tentu memunculkan banyak pertanyaan dari berbagai pihak, terutama mengenai Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) ke depannya.

Maklum, sebagai salah satu sosok yang memegang teguh prinsip dwifungsi ABRI, Pak Edy memang pandai merangkap jabatan. Saat beliau menjabat Ketua Umum PSSI saja, yang bersangkutan juga seorang Panglima Komando Cadangan Angkatan Darat (Pangkostrad). Hanya karena Pak Edy harus turun ke daerah asalnya di Sumut, beliau rela melepaskan jabatan mentereng sebagai panglima.

Meski ke depan akan didapuk menjadi Gubernur Sumut, Pak Edy ternyata belum juga ada tanda-tanda untuk melepaskan prinsip dwifungsi. Hanya saja sekarang beda, jika dulu dwifungsi ABRI maka sekarang yang diterapkan adalah prinsip dwifungsi sipil. Menjabat sebagai gubernur, sekaligus sebagai Ketum PSSI.

Beberapa pihak ternyata ada yang tidak sepakat dengan niat tulus dari Pak Edy. Seperti misalnya Ketua Save Our Soccer Indonesia, Akmal Marhali. Seperti yang dikutip dari tirto.id, sepak bola Indonesia perlu perhatian penuh dan tidak bisa dijalankan setengah-setengah. Apalagi jabatan Pak Edy sama-sama sebagai petinggi. “PSSI ini bukan organisasi sambilan,” kata Akmal.

Walaupun di aturan tidak tercantum secara langsung larangan untuk rangkap jabatan, namun fakta bahwa kepemilikan saham PSMS Medan, klub Liga Indonesia, sebagian besar dimiliki Pak Edy—terlebih yang bersangkutan juga mengampu sebagai Dewan Pembina PSMS, maka netralitas dalam memimpin PSSI jadi dipertanyakan. Apa benar Pak Edy bisa berlaku adil terhadap klub-klub lain di Indonesia jika Ketum PSSI-nya adalah Dewan Pembina dari salah satu klub anggota?

Tentu saja ini pertanyaan yang tidak meragukan kemampuan Pak Edy Rahmayadi untuk mengurus dua lembaga dalam satu waktu, hanya saja mengutip pernyataan Gatot S. Dewa Broto, Sekretaris Jenderal Kementerian Pemuda dan Olahraga, “Alangkah lebih baik Pak Edy mempertimbangkan lagi (rangkap jabatan). Apa nggak ada orang lain?”

Nah, barangkali Pak Edy ragu ada orang yang sanggup memimpin PSSI sehebat dirinya. Untuk itu Mojok Institute menawarkan beberapa nama yang mungkin bisa dipertimbangkan untuk jadi Ketum PSSI berikutnya, agar Pak Edy bisa berkonsentrasi mengurus Provinsi Sumut. Dan berikut nama-namanya:

Baca juga:  Hasil Piala Dunia 2018 Kolombia vs Jepang Skor 1-2

1. La Nyalla Mattaliti

Baiklah, kami tahu La Nyalla Mattaliti adalah nama yang cukup tidak disukai oleh banyak penggemar sepak bola tanah air. Mantan Ketua Umum MPW Pemuda Pancasila Jawa Timur ini punya reputasi mentereng. Seperti misalnya sukses melawan Kemenpora untuk mereformasi sepak bola tanah air.

Bahkan La Nyalla juga sukses membuat PSSI di-banned oleh FIFA selama satu tahun dan melimpahkan kesalahan itu ke Kemenpora. Selain itu, La Nyalla juga sukses lolos dari status tersangka dugaan korupsi dana hibah Kamar Dagang Indonesia dengan mengembalikan duit yang dikorupsi.

Dari beragam kesuksesan itu, ada baiknya Pak Edy mempertimbangkan kembali untuk memilih La Nyalla. Lagipula, La Nyalla juga merupakan Wakil Ketum PSSI, jadi itu sudah otomatis. Kalau Pak Edy memilih untuk mundur ya La Nyalla ini yang akan menjadi Ketum PSSI-nya untuk sementara. Kecuali kalau Pak Edy Rahmayadi selama ini jebul ogah mundur karena tahu kalau La Nyalla jadi ketum lagi, nanti nasib sepak bola Indonesia bagaimana? Mau masalah sama Kemenpora lagi terus di-banned FIFA lagi?

2. Jorge Sampaoli

Kekalahan 3-4 Argentina dari Perancis pada babak 16 besar Piala Dunia 2018 menjadi ancaman bagi pelatih Argentina, Jorge Sampaoli. Mantan Pelatih Sevilla ini memang gagal membawa negaranya untuk maju lebih jauh dan membuatnya terancam dipecat, akan tetapi ada beberapa formulasi yang apik jika Pak Edy mau mempercayai Sampaoli menjabat sebagai Ketum PSSI menggantikan dirinya.

Pertama, jika nantinya dipecat dari kursi kepelatihan Argentina (yakin deh bentar lagi), Bang Sampaoli pasti nganggur. Dengan reputasi buruknya memimpin Lionel Messi selama Piala Dunia, jelas belum ada klub-klub mentereng yang akan berniat mengontraknya. Nah, barangkali PSSI bisa serobot saja dengan menawarinya jadi Ketum PSSI. Lho kapan lagi PSSI dipimpin orang yang pernah melatih Messi—si pemain terbaik dunia itu?

Kedua, sebagai seorang pelatih sepak bola, Bang Sampaoli adalah sedemokratis-demokratisnya pelatih. Hal ini bisa dibuktikan dengan beredarnya video saat pertandingan Argentina melawan Nigeria, rumor yang berkembang Bang Sampaoli sempat bertanya kepada Messi apakah dirinya perlu memasukkan Sergio Aguero atau tidak. Messi pun menunjukkan gestur seolah-olah berkata, “Aku ogah, Paoli.”

Baca juga:  Argentina Bakal Menjuarai Piala Dunia 2018

Padahal sebagai seorang pelatih kepala, Sampaoli bisa saja memutuskan sesuatu tanpa bertanya kepada Messi. Tapi sebagai sosok yang demokratis dan ingin mendengar pendapat anak buahnya, maka Sampaoli perlu bertanya. Hasilnya? Ya, Argentina menang melawan Nigeria, meski untuk pertandingan selanjutnya langsung keok melawan Perancis.

Tentu saja menarik melihat gaya demokratis Sampaoli jika nanti memimpin PSSI. Kalau kemudian Sampaoli dianggap nggak pede sebagai seorang pemimpin, mungkin Pak Edy Rahmayadi bisa menularkan rasa kepercayaan dirinya ke Sampaoli. Tentu bagi Pak Edy, hal ini tak sesulit rangkap jabatan Gubenur dan Ketum PSSI ya kan?

3. Puthut EA

Selama Piala Dunia 2018 berlangsung Mojok mengeluarkan tebak skor yang diampu langsung oleh Kepala Suku. Sudah diketahui bersama beberapa skor yang dipasang banyak (hampir selalu) meleset. Bahkan tidak cuma meleset, beberapa skor pun kadang kebalik. Beberapa orang di media sosial memang ada yang mencak-mencak karena—mungkin—pasang taruhan mengandalkan tebakan Kepala Suku Mojok dan harus rela duit taruhannya amblas dibawa bandar.

Ya kalau menurut kami, itu yang pasang taruhan saja yang goblok. Sudah tahu situs satire kok ya masih dijadikan rujukan taruhan. Namanya juga satire ya jelas bakal kebalik-lah prediksinya.

Selain itu, tebak skor ini juga menjadi salah satu bukti bahwa Kepala Suku Mojok sangat peduli dengan kebiasaan judi bola di Indonesia. Dengan konsisten memberikan tebak-tebakan skor satire, hal ini sebenarnya merupakan upaya agar para penjudi sepak bola di Indonesia itu segera kapok lalu bertobat.

Kepedulian menghilangkan praktik pejudian di sepak bola Indonesia inilah yang perlu diperhatikan oleh Pak Edy. Sebagai sosok yang juga berkontribusi membuat makin kere para penjudi dan memperkaya bandar, Kepala Suku ingin agar tidak ada lagi penjudi-penjudi sepak bola di tanah air.

Nah, kalau penjudi sudah pada tobat, bandar kan sudah tidak punya konsumen lagi. Hasilnya? Para bandar bakalan ikut kukut karena sudah tidak ada lagi yang setor duit. Lalu cerita soal pengaturan skor oleh para bandar judi jadi berkurang di sepak bola Indonesia. Benar-benar mulia bukan niatnya?

Tentu saja ada banyak lagi hal-hal soal Kepala Suku yang bisa diceritakan di sini, tapi tidak bisa dicantumkan. Sebab, ya seperti yang pembaca Mojok tahu, yang nulis ini kan juga masih harus mempertimbangkan kariernya di Mojok.