Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Prinsip ‘Parenting’ versi Gus Baha: Bikin Anak Mengidolakan Orang Tuanya

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
12 Mei 2021
A A
Bikin Anak Mengidolakan Orang Tuanya

Bikin Anak Mengidolakan Orang Tuanya

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ada yang unik dari cara Gus Baha dalam mendidik anak-anaknya. Prinsipnya sederhana: buatlah situasi agar anak mengidolakan orang tuanya.

Apa pencapaian terbesar orang tua terhadap anaknya? Bisa ngumpulin duit 100 juta sebelum ulang tahun ke-25? Keterima PNS? Atau lolos Tes Wawasan Kebangsaan?

Kalau kamu menanyakan itu pada KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau biasa disapa Gus Baha, maka jawaban yang bakal kamu dapat tidak bakal muluk-muluk. Sederhana.

Ketika anak bisa salat sendiri, mengucap takbir untuk mengawali salat, atau bisa melantunkan bacaan-bacaan ketika salat, itu semua sudah menjadi pencapaian spesial bagi Gus Baha.

“Saya melatih anak saya salat. Sudah salat, ‘Allahu Akbar’. Dan bagi saya ‘Allahu Akbar’ itu kalimat yang spesial. Anak saya sujud. Ya sudah, membaca subkhana robbial a’la, itu bagi saya spesial,” kata Gus Baha seperti dilansir dari Santri Gayeng.

“Sesuatu yang spesial itu harus dipertahankan,” terang Gus Baha lagi.

Nah, cara mempertahankan keimanan atau kebiasaan seperti ini harus diperhatikan betul oleh orang tua. Tidak hanya oleh orang tua yang muslim, tapi orang tua seluruh dunia. Untuk mendidik anak yang baik, orang tua jangan sampai menciptakan rasa kecewa ke anak.

“Minimal, seorang anak jangan kecewa sama bapaknya. Kalau anak itu suka jajan, maka belikan jajan. Kalau dia suka makan enak, ya kasih makan enak,” kata Gus Baha.

“Tapi semuanya ini demi mengawal kalimat tauhid dan kebenaran-kebenaran Islam yang (sedang) kamu tanamkan,” tambah Gus Baha.

Bukan bermaksud memanjakan anak, dalam usia yang masih sangat dini, sangat berbahaya jika seorang anak sampai punya pikiran merasa kecewa dengan bapaknya, atau orang tuanya.

“Jangan sampai kamu jadi kiai zuhud, anak dikekang, kemudian anak ini pertama naik sepeda motor dipinjemi temannya yang nggak salat. Pertama kali nonton tv juga dipinjemi tetangga yang nggak salat. Sampai anak ini mengidolakan keluarga yang tidak salat,” jelas Gus Baha.

Hal ini bisa saja terjadi ketika anak dikekang luar biasa oleh orang tuanya. Bermain dibatasi, menonton tv dilarang sama sekali, jajan tidak pernah diperbolehkan. Pada tahap seperti itu, seorang anak bisa merasa trauma dan kecewa dengan keluarganya—terutama kalau si anak pernah mencicipi hal-hal begitu dari orang lain.

Dan ketika seorang anak merasa kecewa dengan keluarganya, omongan orang tuanya bakal tidak didengar, justru omongan orang lain bakal lebih diperhatikan, dituruti, dan dijalankan.

“Kalau udah besar, (ketika) anaknya nakal, itu semua bisa terjadi karena sejak kecil tak pernah mengidolakan bapaknya sendiri,” kata Gus Baha.

Iklan

Bahkan Gus Baha menceritakan riwayat bagaimana Nabi Muhammad diam saja ketika Hasan dan Husein, cucunya, sering menaiki punggung Nabi ketika salat. Bahkan Nabi Muhammad masih bisa melanjutkan salat meski tubuhnya dijadikan arena bermain untuk cucu-cucunya.

“Bahkan semua ulama rawi mengatakan, ketika Malaikat Jibril janjian dengan Nabi, Jibril tidak bisa masuk karena di kolong tempat tidur Nabi ada jirwan. Jirwan itu anak anjing. Karena Hasan Husein itu main sama anjing,” kata Gus Baha.

Itulah kenapa Gus Baha mengaku tidak mempermasalahkan anaknya bermain ayam, bermain dengan kambing, apalagi sampai membawa binatang-binatang masuk kamar. Gus Baha tak pernah memarahi anak-anaknya karena itu.

“Ini masih enteng, dulu Hasan Husein itu main-mainnya sama anjing,” terang Gus Baha yang disambut tawa hadirin pengajian kitabnya.

Meski begitu, Gus Baha mengakui bahwa konsep parenting yang dia lakukan membuatnya sering dicibir. Apalagi kebiasaan agak melonggarkan anak itu tidak lazim di Indonesia.

“Anak kok dimanja, bikin ngelunjak,” kata Gus Baha menirukan orang yang mencibirnya.

Padahal apa yang dimaksud Gus Baha itu bukan memanjakan anak, “Pikiran saya itu sederhana, saya itu pasti mati. Setiap saat saya bisa mati. Dan yang meneruskan tauhid itu pasti anak saya, karena saya sudah mati.”

“Karena santri itu siapa sih? Orang lain. Paling ketika haul mereka kirim alfatihah, atau ketika hatinya sumpek, santrimu ingat lalu dicari kuburanmu, itu pun nunggu sumpek dulu. Tapi kalau anak, mau dia niat kirim al-Fatihah ke bapaknya atau tidak, asalkan anakmu beramal saleh, otomatis kamu dapat kiriman amal.”

Bahkan Gus Baha menemukan dalam kitab Mizan Kubro, “Di antara adab para nabi ialah memuliakan anak, tapi di Jawa itu tidak populer. Lho kalau memang pantas, saya itu boso (bahasa Jawa alus) ke anak kok. Anakku tidak boso ya nggak apa-apa,” kata Gus Baha.

Kenapa adabnya para nabi adalah memuliakan anak? “Karena anak lah yang kelak lebih panjang waktunya untuk membawa tauhid.”

BACA JUGA Yang Unik dari Cara Gus Baha Melihat Ramadan dan tulisan soal Gus Baha lainnya.

Terakhir diperbarui pada 12 Mei 2021 oleh

Tags: anakcucu nabiGus Baha'nabi muhammadorang tuaparentingriwayatsantri gayeng
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

orang tua.MOJOK.CO
Sehari-hari

35 Tahun Bekerja Keras demi Anak, tapi Kesepian di Masa Tua karena Dianggap Tak Pernah Hadir untuk Keluarga

24 Februari 2026
Salat tarawih 8 rakaat di masjid 23 rakaat. Siasat mengejar sunnah di tengah lelah MOJOK.CO
Sehari-hari

Tarawih 8 Rakaat di Masjid yang Jemaahnya 23 Rakaat, Ganggu karena Pulang Dulu tapi Jadi Siasat Mengejar Sunnah di Tengah Lelah

19 Februari 2026
Ibu yang sudah menua sering diabaikan anak
Catatan

Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya

13 Februari 2026
orang tua, ortu temani anak utbk ugm.MOJOK.CO
Sehari-hari

Jangan Minder Kalau Kamu Belum “Jadi Orang” di Usia 30-an, Itu Masuk Akal Secara Biologis dan Sosial

11 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Culture shock mahasiswa Kalimantan dengan budaya guyub Jawa di Jogja

Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman

26 Februari 2026
Mekanisme beasiswa LPDP untuk kuliah di luar negeri masih silang sengkarut, awardee cemas jadi "WNI" MOJOK.CO

Mekanisme dalam Beasiswa LPDP (Masih) Silang Sengkarut: Awardee Cemas Jadi WNI, Negara Punya PR yang Harus Diberesi

23 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP serba salah, penerima beasiswa LPDP dalam negeri dan LPDP luar negeri diburu

Penerima LPDP Dalam Negeri Terkena Getah Awardee Luar Negeri yang “Diburu” Seantero Negeri, padahal Tak Ikut Bikin Dosa

25 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO

Sarjana Cumlaude PTN Jogja Adu Nasib ke Jakarta: Telanjur Syukuran Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Bulan Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Honda Supra X 125

Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah

24 Februari 2026
Kuliah online di universitas terbuka: meski tak ngampus tapi dirancang serius untuk mudahkan mahasiswa, meski diserang hacker MOJOK.CO

Kuliah Online di Universitas Terbuka (UT): Meski Tak Ngampus tapi Tak Asal-asalan, Sering Diserang Hacker tapi Tak Mempan

23 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.