Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Khotbah

Cara Asyik Tuhan Menegur Gus yang Merasa Pantas Dipanggil Kiai

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
4 Januari 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sejenak Gus Mut merasa ujub ketika seorang tamu memanggillnya dengan sebutan “Pak Kiai”. Sampai Tuhan langsung menegur sikap ini dengan cara yang asyik.

Datang seorang tamu mendatangi kediaman Gus Mut sore itu. Dari wajah tamu yang baru datang ini Gus Mut menduga, tamunya kali ini dari jauh. Terlihat dari wajah tamunya yang cukup lelah.

“Dari mana ini, Kang?” tanya Gus Mut.

“Dari Jember, Kiai.”

“Wah jauh juga ya,” komentar Gus Mut.

Sebenarnya Gus Mut sedikit risih kupingnya ketika dipanggil “kiai”. Bukan apa-apa, meski sudah punya banyak murid dan dikenal oleh banyak orang sebagai pemuka agama, beberapa orang memang ada saja yang lebih suka memanggilnya dengan sebutan Kiai Mut.

Bukan semata karena ayah Gus Mut, Kiai Kholil masih sehat walafiat, melainkan karena Gus Mut merasa nggak pantas jika sosok sepertinya disebut Kiai. Lagian Kiai Kholil yang rumahnya cuma selemparan kentut dari rumah Gus Mut juga masih aktif mengisi pengajian ke mana-mana.

Kurang pantas saja rasanya kalau ada dua kiai dalam satu keluarga. Apalagi jika hubungan keluarganya masih bapak-anak seperti Gus Mut dan Kiai Kholil. Namun karena kali ini tamu yang menyebut demikian dari jauh dan kelihatan masih lelah, Gus Mut menahan diri untuk menegur.

Maklum, tuan rumah kan harus memuliakan tamu, jadi Gus Mut membiarkan saja. Lagian asyik juga kalau sekali-kali Gus Mut dipanggil Pak Kiai. Begitu pikir Gus Mut.

“Ada acara apa ini kok sampai jauh-jauh ke Jogja, Kang?” tanya Gus Mut.

“Ini Pak Kiai, kami mau mengadakan acara pengajian di Pondok Pesantren kami di Jember. Kebetulan Pak Kiai, pengasuh kami mengutus kami untuk menanyakan, apakah panjenengan berkenan mengisi pengajian di tempat kami?” tanya tamu tersebut.

Hati Gus Mut bungah mendengarnya. Siapa yang tak senang ketika mendengar bahwa ada seorang kiai dari jauh mengenal sosok Gus Mut dan memintanya mengisi pengajian? Namun karena ingin tetap berwibawa, Gus Mut memperlihatkan air muka yang biasa saja. Tetap cool.

“Untuk kapan ya?” tanya Gus Mut.

“Kami ikut Pak Kiai saja bisanya kapan? Tapi kalau bisa sih sekitar bulan Rajab gitu. Biar nggak bentrok sama acara pesantren di bulan-bulan lain,” kata tamu tersebut.

Iklan

“Sebentar saya lihat jadwal dulu,” kata Gus Mut sambil beranjak masuk ke dalam.

Melihat jadwal kata Gus Mut?

Walah, Gus Mut belum ada jadwal pengajian sampai bulan Rajab ke depan, jadi untuk apa mengecek jadwal? Oh, ternyata ini cuma gaya-gayaan saja biar mendapat kesan bahwa Gus Mut ini orang sibuk. Agar dirinya dikira punya jadwal mengisi pengajian yang lain oleh tamunya.

“Bagaimana kalau tanggal 18 saja? Gimana?” kata Gus Mut keluar.

Si tamu tidak menjawab. Terlihat tanggal itu bukan tanggal yang dikehendaki oleh si tamu.

“Oke deh, sebenarnya kalian mau bikin acara pengajiannya tanggal berapa?” tanya Gus Mut.

“Kalau bisa sih tanggal 20 Rajab. Tapi kalau Pak Kiai bisanya tanggal 18, saya koordinasi dulu sama panitia di Jember,” kata si tamu.

“Ya sudah, tanggal 20 Rajab nggak apa-apa,” kata Gus Mut.

“Serius ini, Pak Kiai?” tanya si tamu bungah.

“Iya nggak apa-apa. Tanggal 20 saja ya?” kata Gus Mut santai.

“Kalau begitu, beberapa hari ini kami akan kirim surat undangan resminya ke alamat Pak Kiai,” kata si tamu.

“Oh, nggak perlu. Saya cuma perlu ditelepon saja dua atau tiga hari sebelum acara untuk diingatkan,” kata Gus Mut.

“Baik, Pak Kiai. Anu, sebelum saya pamit, kalau boleh, untuk kelengkapan bikin pengumuman pengajian. Boleh saya minta dituliskan nama lengkap Pak Kiai? Biar nggak ada ejaan yang salah waktu penulisan nama,” kata si tamu.

“Oh, boleh,” jawab Gus Mut.

“Ini Pak Kiai, silakan tulis di sini,” ujar si tamu memberikan pulpen dan secarik kertas.

Gus Mut pun menuliskan nama lengkapnya di secarik kertas.

“Ini, Kang,” kata Gus Mut sambil memberikan kertas tersebut ke tamunya.

Si tamu sejenak membacanya.

“Oh, kok aneh ya?” kata si tamu tiba-tiba.

“Aneh gimana, Kang?” tanya Gus Mut heran.

“Nama lengkap Pak Kiai ternyata nggak ada kata ‘Kholil’-nya sama sekali ya? Saya kira Pak Kiai Kholil siapa gitu,” kata si tamu menyalami Gus Mut dan langsung pamitan keluar.

Gus Mut mematung kaget mendengar perkataan tamunya tersebut. Baru si tamu mau keluar rumah, mulut Gus Mut tak kuasa untuk bersuara…

“Kang, sebentar, Kang… sini dulu.”


*) Diolah dari kisah yang ditulis Gus Yahya Cholil Staquf.

Terakhir diperbarui pada 8 Januari 2019 oleh

Tags: gusJemberJogjakiaipak kiaipengajianyahya cholil staquf
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO
Ragam

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
Kos horor di Jogja.MOJOK.CO
Ragam

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)
Pojokan

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
Mobilitas bus pariwisata menjadi tantangan tersendiri bagi Kawasan Sumbu Filosofi (KSF) dan tata kelola di Jogja MOJOK.CO
Liputan

Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata

10 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

2016, Tahun Terakhir Gen Z dan Milenial Merasa Berjaya. MOJOK.CO

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Keluar dari organisasi mahasiswa ekstra kampus (ormek) PMII, dicap pengkhianat tapi lebih sukses MOJOK.CO

Nekat Keluar PMII karena Tak Produktif: Dicap Pengkhianat-Nyaris Dihajar, Tapi Bersyukur Kini “Sukses” dan Tak Jadi Gelandangan Politik

13 Januari 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas, Pemutar Ekonomi Bangsa MOJOK.CO

Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas Abadi yang Menolak Fitur Keselamatan demi Memutar Ekonomi Bangsa

13 Januari 2026
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.