Dua Kisah Bisnis Cuan, Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo yang Membuat Penjualnya Menderita dan Tips Memulai Sebuah Bisnis

Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo, Tak Cuan Bisnis Melayang MOJOK.CO

Ilustrasi Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo, Tak Cuan Bisnis Melayang. (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.COBisnis es teh jumbo terlihat gampang cuan. Siapa yang nggak suka teh? Namun, nyatanya, bisnis ini gampang bikin pemiliknya menderita.

Selain mie ayam dan kopi gerobakan, beberapa tahun ke belakang, kita bisa sangat mudah menemukan sebuah usaha bernama es teh jumbo. Nah, usaha ini, sebenarnya, muncul dari dua aspek yang menyatu.

Pertama, budaya ngeteh yang sudah mengakar di masyarakat. Kedua, memoles format minuman murah dengan ukuran jumbo. Sehingga, teh menjadi produk minuman modern dan banyak orang bisa menirunya.

Konsep usaha es teh jumbo dengan booth ini mulai cuan mengoyak pasar sekitar 2021 hingga 2023. Model usaha ini menjadi sangat terkenal berkat pemberitaan media bisnis lokal dan viral di media sosial. Setelah ramai, muncul kemudian waralaba-waralaba es teh jumbo yang beberapa di antaranya menguasai pasar hingga saat ini.  

Minuman yang dulunya hanya sebatas teman makan, menjadi bisnis yang selalu siap mendulang cuan. Minimal untuk cita-cita mewujudkan kemandirian ekonomi. 

Tapi, di balik ceritanya yang gemilang, es teh jumbo sebagai sebuah bisnis nyatanya belum bisa menawarkan kepastian. Lumrahnya sebuah usaha, tetap ada saja yang gagal mengelolanya. Meski terlihat sepele, bisnis ini sebetulnya “nggak sepele” juga.

Beberapa kisah suram datang dari dua teman saya yang gagal dengan bisnis yang katanya menguntungkan ini. Izinkan saya bercerita.

Salah logika ketika berbisnis es teh jumbo

Kawan pertama membuka bisnis es teh jumbo secara mandiri. Niatnya berangkat dari logika paling sederhana. Semua orang minum es teh, jadi pasti panen cuan. Tapi, yang luput dari logika itu adalah, karena saking mudahnya, semua orang juga bisa menjual es teh. Di sinilah letak tantangan dari bisnis ini.

Lapak es teh jumbo mandiri yang kawan saya kembangkan mati secara perlahan. Sepi merayap perlahan seperti kanker dalam tubuh yang tak terlihat. Hari pertama terlihat begitu ramai, memasuki minggu kedua mulai jarang, dan pada akhirnya, karyawan kawan saya lebih banyak melamun.

Pengalaman kawan saya ini adalah wajar karena inilah penyakit dari bisnis yang kategorinya disebut Low Entry Barrier Market (Pasar dengan Hambatan Masuk Rendah). Sebab, gelombang viral yang membarengi membuat banyak lapak buka bersamaan. Tentu, produk yang terlalu sederhana atau mudah, justru melahirkan persaingan yang tidak masuk akal.

Ketika tidak ada paten rasa, nggak perlu teknologi rumit, plus nggak ada hambatan masuk,  siapa saja bisa ikutan. Maka, yang tersisa hanya soal harga, rasa, dan jarak. 

Tak cuan karena tidak menghitung kondisi di lapangan

Semua soal siapa yang lebih murah, unik, enak rasanya, dan lebih dekat ke konsumen. Ketika perang harga yang menjadi patokan, yang cuan bukan perkara produk, tapi siapa yang punya modal paling tipis.

Dalam perhitungan, margin es teh jumbo itu juga tidak segemuk yang kamu bayangkan. Ketika menghitungnya dalam kepala, semua tampak menggiurkan. Namun, kadang, yang memulai usaha ini tidak menghitung kondisi nyata di lapangan.

Mislanya, ketika di lapangan, margin itu bocor oleh hal-hal sepele. Mulai dari cup, tutup, sedotan, es batu yang mencair, minuman gagal racik, listrik, retribusi, dan kondisi sepi selama berhari-hari tanpa pembeli.

Gambarannya seperti ini. Misalnya menjual es teh jumbo dengan harga Rp3.000 sampai Rp3.500 per cup. Biaya per cup yaitu teh, gula, es, air, plus cup, tutup, dan sedotan. Kalau menghitungnya, kita akan dapat kisaran Rp1.400 sampai Rp1.500. Berarti, margin kotor per cup cuma sekitar Rp1.500 kalau jual Rp3.000 atau sekitar Rp2.000 kalau jual Rp3.500.

Ingat, itu masih margin kotor. Seperti yang saya bilang, ada biaya-biaya kecil tambahan. Misalnya seperti es yang mencair, minuman gagal racik, plastik, dan lain-lain. Ternyata, ketika menjumlahkan beberapa biaya kecil ini, bisa habis Rp30 ribu per hari.

Maka, dalam kondisi itu, pedagang harus menjual sekitar 20 cup hanya untuk menutup biaya harian. Kelihatannya sih mudah. Tapi, apakah selalu bisa menjual 20 cup ketika musim hujan? Target tersebut bisa bikin pening.

Baca halaman selanjutnya: Tak ada usaha yang mudah.

Beban karyawan es teh jumbo

Beban akan semakin terasa karena harus menggaji karyawan. Pendapatan harian bisa habis hanya untuk membayar gaji karyawan. Karena kalau hitungannya harian, skema gaji karyawan yang 5 hari kerja dengan durasi waktu 8 hingga 12 jam kerja, upah yang umumnya diberikan adalah Rp50 ribu sampai Rp60 ribu per hari. Itu berarti dalam seminggu, gajinya bisa Rp250 ribu sampai Rp300 ribu.

Kalau membuat rata-rata per hari jualan, beban gaji saja sudah sekitar Rp50-Rp60 ribu. Begitu biaya operasional (sekitar Rp30 ribuan) dijumlahkan dengan gaji, maka beban minimal per hari bisa menyentuh Rp80 ribu sampai Rp95 ribu. 

Dengan margin Rp1.500 per cup, kawan saya perlu menjual lebih dari 50 cup biar aman. Dan 50 cup per hari, apa nggak pening itu kalau kondisinya hujan?

Waralaba es teh jumbo

Kawan saya yang lain yang membuka usaha es teh jumbo melalui waralaba nggak kalah memprihatinkan. Di Benak orang, bisnis waralaba itu bisnis terima beres dan gampang cuan. Brand sudah terkenal, mereka menyediakan booth, SOP rapi dan detail, dan bahan baku disuplai. Tinggal buka dan jualan.

Walaupun modal awalnya nggak kecil, bisa sampai dua digit, tapi bagi sebagian orang termasuk kawan saya, harga itu setimpal. Ya karena mereka membeli sistem bisnisnya. Dia memegang erat anggapan itu sampai masalah pertama muncul, yaitu paradoks biaya.

Dari curhatan kawan saya, saya menyimpulkan begini. Bisnis es teh jumbo dari waralaba itu struktur biayanya kaku, yaitu modal awal, kewajiban beli bahan tertentu, standar tampilan, belum lagi sewa titik dan gaji orang yang jaga 8-12 jam. 

Semua itu harus terus jalan meski pembeli sedang sepi. Di sisi lain, produk es teh itu minuman murah yang harganya mentok di Rp3.000-Rp3.500. Harga jual tidak bisa terlalu tinggi karena konsumen itu sensitif.

Akibatnya, jarak antara biaya dan pendapatan menjadi sangat jomplang. Karena kalau misalnya hari ini terjual 60 cup sementara esok harinya cuma 10 cup, tapi di sisi lain beban biaya yang dikeluarkan oleh teman saya tetap, nggak ikutan turun. Sedikit saja penjualan turun, usaha langsung megap-megap.

Rapuhnya usaha waralaba

Ini yang membuat bisnis waralaba itu begitu rapuh. Bangkrutnya bukan karena satu hari zonk, tapi karena penjualnya yang turun tak menentu sementara biayanya tetap. Ketika kondisi seperti itu, si penyedia waralaba tidak mau tahu.

Masalah kedua adalah mindset yang kurang tepat dari kawan saya. Banyak yang memegang prinsip bahwa brand terkenal selalu berarti brandnya dicari. Padahal tidak selalu begitu. 

Banyak orang tau merek es teh jumbo tertentu karena sering muncul, bukan karena cinta. Konsumen membeli bukan karena loyalitas, tapi karena kebetulan lewat. Begitu ada lapak lain lebih dekat atau sedikit lebih murah, mereka pindah tanpa beban.

Masalah ketiga adalah tidak punya fleksibilitas. Sebab dalam usaha sendiri, kawan saya yang pertama bisa menyesuaikan rasa, mencari supplier yang lebih murah, atau menjual produk lainnya untuk menambal kebocoran biaya. 

Nah, dalam waralaba, fasilitas itu tersandera. Alasannya ya karena bahan harus dari pusat, resep harus sama, kemasan harus standar. Ketika harga bahan naik atau pasokan terlambat, adalah pemilik gerai yang menanggung risiko, bukan pemilik merek.

Dari situ saya menyimpulkan bahwa bisnis waralaba, dengan standarnya yang seragam, justru membuat mitranya jadi tidak punya sentuhan lokal, tidak punya keotentikan personal. Akibatnya, banyak usaha yang bermula dari kemitraan waralaba mati konyol seperti es teh jumbo milik kawan saya. 

Es teh jumbo waralaba kawan saya bahkan nggak bertahan sampai satu tahun. Dia sudah kelimpungan menyiasati gap antara biaya dan pendapatan harian.

Tips mengawali sebuah usaha biar lebih gampang cuan

Dari kisah dua kawan saya, saya jadi mengerti. Baik usaha mandiri maupun waralaba, bangkrutnya usaha es teh jumbo nggak selalu karena rasa yang buruk. Usaha yang “kelihatan sepele” ini gagal karena:

Pertama, kekeliruan membaca fenomena bisnis. Kedua, terlalu yakin bahwa produk sepele berarti pengelolaannya pun mudah. Ketiga, terlalu percaya kalau sudah punya nama besar, artinya aman dan cepat balik modal. Keempat, terlalu naif menganggap bahwa pasar besar artinya semua bisa kebagian.

Tapi kembali lagi, kisah dua kawan saya tidak lantas membuat es teh jumbo menjadi bisnis yang tak bakal cuan. Usaha ini memang nampak sederhana tapi menuntut pengelolaan dengan kepala dingin tanpa berharap semuanya bisa instan. 

Nah, kalau pembaca ingin membuka bisnis es teh jumbo atau bisnis apa saja, terapkan prinsip 4P dalam marketing mix. Misalnya Place, di mana seseorang harus menemukan lokasi yang bukan sekadar ramai, tapi yang bikin orang berhenti (sekolah, kampus, lingkungan kosan, dan lain-lain). Price, yang mana harga ditentukan berdasarkan kapasitas dan modal yang dimiliki.

Kemudian soal Product, yang meski teh adalah produk yang sederhana, bukan berarti asal-asalan. Perhatikan konsistensi takaran, kebersihan, kerapian, dan kecepatan yang bisa jadi pembeda mikro, yang menentukan orang balik atau kapok. 

Terakhir adalah Promotion yang sangat penting untuk menjaga es teh jumbo tetap eksis di telinga para pembeli. Jadi nggak sekadar mengandalkan “murah” untuk menarik kerumunan.

Pada akhirnya, es teh jumbo akan selalu menjadi minuman segar yang proses pembuatannya sederhana. Tapi, sebelum membuka lapaknya, pastikan kamu siap menghadapi hari-hari ketika yang terasa justru bukan kesegaran cuan, melainkan pahitnya warung sepi dan membuatmu menderita.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Es Teh Jumbo Kalah Gimmick, tapi Akhirnya Tetap Jadi Pemenang karena Bisa Bertahan di Segala Musim dan artikel helpful lainnya di rubrik CUAN.

Exit mobile version