Kebodohan atau Keberanian: Inilah yang Saya Siapkan ketika Memutuskan Resign Menjelang Usia 30 dan Hidup Sebagai WNI Kelas Menengah Supaya Tidak Berakhir Menderita dan Gila

Persiapan Resign di Usia 30 Supaya Tidak Menderita dan Gila MOJOK.CO

Ilustrasi Persiapan Resign di Usia 30 Supaya Tidak Menderita dan Gila. (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.COUsia saya hampir 30 tahun dan saya memutuskan untuk resign. Inilah yang saya siapkan supaya tidak berakhir menderita dan gila.

Saya tidak tahu harus menyebut keputusan ini apa. Kebodohan, mungkin. Atau sebuah keberanian. Resign di tengah situasi krisis ekonomi seperti saat ini. Entahlah. Menjelang usia 30 tahun, masih WNI, masih kelas menengah, dan memutuskan untuk resign.

Saya resign beberapa bulan sebelum umur saya menyentuh usia 30. Bukan dengan gestur heroik membusungkan dada, bukan dengan pidato perpisahan yang membuat orang menangis. 

Saya resign dengan cara yang menurut saya jauh lebih jujur. Pelan-pelan, penuh hitung-hitungan, dan dengan rasa takut yang tidak hilang sampai hari terakhir saya mengirimkan surat pengunduran diri.

Beberapa minggu sebelum memutuskan resign, kepala penuh dengan hitung-hitungan. Lagu “Berdansalah, Karir Ini Tak Ada Artinya” dari Hindia jadi semacam soundtrack tidak resmi selama proses itu. 

Saya mendengarkan lagu itu di kereta menuju Jogja untuk menjadi buruh nine-to-five. Semakin sering saya dengar, semakin sadar satu hal. Bahwa berhenti sebentar dan menepi bukan sebuah kegagalan.

BACA JUGA: Nekat Resign Kerja di Jakarta demi Rintis Usaha di Jogja, “Bisnis Rasa Nongkrong” Malah Hasilkan Omzet Besar dan Buka Tiga Cabang

Entah kebodohan atau keberanian, saya resign sebagai WNI kelas menengah di tengah klaim krisis ekonomi

Saya tidak tahu harus menyebut keputusan ini apa. Kebodohan, mungkin. Atau sebuah keberanian. Yang saya tahu, kondisinya sangat cocok untuk menjadi premis film slice of life macam film Tunggu Aku Sukses Nanti atau Home Sweet Loan.

Bagaimana tidak, segala kemuraman ada di depan mata. Linimasa sedang penuh pencari kerja. Lalu, berita PHK massal sempat ramai. Sekarang, daya beli terus melemah. 

Belum lagi ada diskursus yang tak ada ujung dengan tajuk “kelas menengah turun kelas”. Ketika semua kemuraman itu muncul bertubi-tubi, saya, seorang WNI, masih berstatus kelas menengah, menjelang usia 30, memutuskan untuk berhenti kerja secara sukarela.

Saya sempat berpikir, jangan-jangan ini privilese. Toh tidak semua orang punya pilihan untuk resign di tengah situasi seperti ini. Banyak yang justru sedang berjuang mati-matian supaya tidak jadi korban PHK berikutnya. 

Tapi, semakin memikirkannya, semakin saya sadar bahwa “kelas menengah” yang saya sandang ini bukan kelas menengah yang aman. Ia kelas menengah yang setiap bulan habis tepat di tanggal yang sama, yang dana daruratnya, kalaupun ada, terkumpul dari recehan sisa tagihan.

Jadi mungkin, ini bukan privilese dalam arti saya punya banyak pilihan. Mungkin ini lebih ke titik di mana dua ketakutan bertemu dan salah satunya harus menang. Ketakutan akan ketidakpastian kalau resign, melawan ketakutan yang sudah pasti menimpa di depan mata.

Saya tidak bisa mengontrol krisis ekonomi atau berapa banyak orang yang akan kena PHK. Tapi, ada satu hal yang masih bisa saya kontrol, dan justru karena situasinya seperti inilah hal itu jadi lebih penting dari sebelumnya. Bagaimana saya mengelola uang yang saya punya, sebelum saya benar-benar melepaskan gaji bulanan saya? Itu.

Sebelum “resign”, saya mendadak jadi konsultan keuangan untuk hidup saya sendiri.

Sebelum resign, saya membuat berbagai kalkulasi yang sederhana. Ini membantu saya tetap stabil secara keuangan setelah resign.

Langkah pertama, berhenti menebak-nebak pengeluaran dan mulai membaca mutasi rekening. Saya tarik tiga bulan ke belakang, kemudian mengelompokkan pengeluaran. 

Dari situ saya mendapat satu angka, yaitu berapa biaya hidup saya per bulan kalau saya benar-benar hemat mampus. Ingat, yang saya catat bukan biaya hidup dalam keadaan normal seperti saat masih gajian.

Langkah kedua, saya tidak memakai rumus mengumpulkan dana darurat, tapi menyesuaikan dengan situasi yang sebenarnya. Rumus enam bulan pengeluaran sering muncul di mana-mana, dan itu bukan rumus yang salah. Saya susun ulang berdasarkan situasi sendiri, bukan situasi orang lain. Jangan sampai terjebak dan memaksakan rumus yang sama untuk dua situasi yang sangat berbeda.

Langkah ketiga ini yang menurut saya paling sering dilupakan. Urus hal-hal yang selama ini “ditanggung kantor”. BPJS Kesehatan, misalnya

Selama jadi karyawan, semua otomatis diurus kantor. Begitu resign, status itu berubah. Saya harus tahu apa konsekuensinya sebelum hari pertama tanpa gaji, bukan setelahnya.

Nah, semua hal kecil ini, kalau kamu abaikan, akan jadi masalah besar tepat di minggu-minggu pertama setelah resign. Jangan sampai energi habis untuk mengurus berbagai administrasi.

Terakhir, bangun sumber penghasilan lain. Beruntungnya, saya sudah memulainya jauh-jauh hari. Bukan proyek sampingan ambisius, tapi lebih sebagai cara untuk tahu. Kalau nanti tidak ada gaji bulanan, apakah saya punya sesuatu yang bisa menghasilkan, meski kecil? 

Jawabannya tidak harus “ya, dan jumlahnya cukup”. Cukup tahu jawabannya saja sudah mengurangi banyak kecemasan.

Dari 4 langkah yang saya pelajari selama menjadi “konsultan keuangan pribadi” mungkin saja bisa beda dengan yang lain. Dan bisa saja tidak cocok untuk kamu ikuti. 

Saya paham, semua ini bukan resep yang harus diikuti persis mak ketiplek. Saya membagikannya karena ini yang membuat saya agak tenang menjalani hari-hari menjadi WNI.

Masa depan setelah resign itu bukan liburan panjang, walaupun seminggu pertama terasa seperti itu.

Seorang teman, fresh graduate yang belum bekerja, mengingatkan saya kalau minggu-minggu pertama setelah resign itu menyenangkan. Sangat menyenangkan, bahkan. 

Saya bisa bangun tanpa alarm, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, hari Senin tidak terasa seperti ancaman. Lepas seminggu kemudian, mulai muncul gelisah diikuti kecemasan yang makin hari makin akut rasanya.

Dan dari pernyataannya, saya mulai menyusun rencana saat gelisah dan cemas itu muncul ke permukaan. Di titik ini saya belajar beberapa hal yang menurut saya cukup penting, terutama buat siapa saja yang melakukannya menjelang usia 30 dan belum punya rencana.

Pertama, saya harus tahu berapa lama tabungan bisa menahan biaya hidup minimal saya, dan saya cek angka itu secara berkala. Meskipun kadang tidak enak dilihat, selalu lebih bisa ditangani daripada kecemasan yang tidak punya bentuk. Paling minimal saya bisa mengukur sampai kapan saya mampu bertahan dan tidak paranoid.

Kedua, persiapan ini muncul dari overthinking saya saat melihat konten dari @infiapop  “Siapa Kamu Kalau Semua Merek itu Dilepas?” Dan menurut saya, ini yang paling personal harus ditemukan jawabannya pelan-pelan.

Saya menghadapi pertanyaan yang ternyata jauh lebih besar dari soal uang: “Siapa saya sebenarnya?” atau “Apakah aku gagal selama ini?” 

Pertanyaan ini tentu akan muncul mengganggu waktu tidurmu. Lamat-lamat datang saat saya menatap langit-langit kos yang terdapat bekas bocor. Sebab selama bertahun-tahun, identitas saya menempel dari apa yang saya kerjakan selama ini. Begitu pekerjaan itu hilang, ada ruang kosong yang harus diisi, dan mengisinya butuh waktu, bukan butuh keputusan yang impulsif.

Ini bagian yang paling saya sarankan. Biarkan dulu masa depan ini tidak punya plot yang jelas. Dan saya rasa, itu tidak apa-apa. Saya tidak tahu persis akan bekerja di mana, atau melakukan apa, dalam beberapa bulan ke depan. 

Saya memberikan jatah waktu untuk seperti ini. Mewujudkan Icarus dalam diri ini; terbang bebas, berkelana, namun jangan sampai terbakar matahari kemudian mati.

BACA JUGA Nekat Resign After Lebaran karena Muak Kerja di Kantor Toxic, Pilihan “Ngawur” untuk Cari Happy tapi Stres Tetap Tak Terhindarkan

Berdansalah, menunggu 19 juta lapangan kerja tak ada artinya

Sembilan belas juta itu angka yang sangat besar untuk diucapkan di podium. Tentu saja angka sebesar itu serupa angin segar untuk jutaan pengangguran produktif. Tapi begitu menengok realitas, ia menguap entah ke mana.

Jujur, saya tidak pernah percaya sejak detik pertama janji dia ucapkan. Bukan karena saya sinis, tapi karena saya sudah muak. 

Satu-satunya kepercayaan yang tersisa adalah rencana yang saya susun harus berdiri di atas sesuatu yang sepenuhnya bisa saya kontrol: tabungan yang saya hitung sendiri, kebutuhan yang saya petakan, dan keterampilan yang saya rawat.

Ada benarnya lirik Hindia dari lagu “Berdansalah, Karir ini Tak Ada Artinya”. Ada momen ketika karier memang terasa tidak ada artinya dibanding hal-hal lain yang lebih dekat dengan diri kita. Soal waktu untuk diri sendiri, kesehatan, orang-orang yang kita sayangi. 

Tapi ada satu hal yang sering kita lupakan karena dimabuk sikap heroik saat resign. Menghitung ulang dana dan kebutuhan saat gaji bulanan tidak lagi masuk ke rekening. Hindia lupa memasukkan perasaan paling penting manusia modern; sebuah kecemasan soal eksistensi dan rasa was-was menjelang tidur.

Saya resign menjelang usia 30. Bukan karena saya yakin semuanya akan baik-baik saja. Yang nyata, menjadikan usia 30 sebagai deadline untuk semuanya harus beres adalah cara yang sangat efektif untuk membuat dirimu sendiri menderita. 

Karena tidak ada satu pun manusia yang benar-benar beres di garis usia 30. Yang ada hanya orang-orang yang berbeda-beda caranya dalam menampilkan ketidakberesan itu kepada dunia.

Saya hampir 30. Baru saja mengirimkan surat resign. Rencana saya masih berupa titik-titik yang belum semua terhubung. Dan mungkin akan berbahagia atas keputusan ini. Atau menderita karena nekat. Sudahlah. Tidak apa-apa.

Penulis: Deby Hermawan

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Dilema Gen Z: Resign Kerja Kena Mental karena Mulut Ortu dan Tetangga, tapi Bisa “Gila” Kalau Bertahan di Kantor yang Isinya Orang Toksik dan tips finansial lainnya di rubrik CUAN.

Exit mobile version