Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Waini

Bocah Srimulat

Muchamad Iwan Rahadi oleh Muchamad Iwan Rahadi
7 Juni 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kepolosan anak kecil terkadang menjadi sebuah komedi spontan yang bisa menyegarkan suasana, seakan mereka lahir untuk menjadi bocah pemain Srimulat. Namun, entah kenapa kepolosan ini hanya akan lucu jika dilakukan oleh anak kecil. Di video-video viral, kita kerap terpingkal-pingkal karena tingkah anak-anak. Tingkah yang sama jika dilakukan orang dewasa tak akan sama lucunya.

Ini kisah Akila, anak saya yang baru berusia lima tahun, usia ketika seorang anak sedang lucu-lucunya.

***

Suatu Jumat saya dapat WA dari istri.

“Yah, air di botol dekat TV punya Ayah?”

“Iya, kok tahu?”

“Kata Akila, ‘Itu air terminalnya Ayah, Ma, tak (aku) minum ya?’”

Dengan polosnya kata-kata terminal meluncur dari mulut kecil itu. Maksudnya air mineral. Ah, tak apalah, yang penting ada “al”-nya. Akila memang sering tertukar dalam menyebut kata-kata.

Namun, istri saya selalu mengingatkan jika saya agak gemas dengan kebiasaan Akila yang satu itu.

“Coba, siapa yang dulu menyebut daster dengan sebutan destar?” tanya istri saya.

“Tapi destar itu lebih cocok untuk menyebut pakaian jenis itu, Ma, bukan daster.”

Ya, saya akui, saya yang menyebut pakaian favorit ibu-ibu rumah tangga itu destar. Jangan tanya alasannya, menurut telinga saya sebutan itu lebih cocok. Tapi, itu dulu waktu saya masih kecil. Sekarang sih, kadang-kadang ya masih salah sebut.

***

Tawa Akila meledak melihat video yang tersimpan di hape saya.

Iklan

“Ma, Ma, lihat, Ma,” kata Akila sambil menunjukkan sebuah video anak kecil belajar membaca. Dalam video itu ada adegan anak kecil yang sedang diajar membaca oleh seseorang (mungkin kakak atau ibunya) dengan menggunakan media buku bergambar. Di bawah gambar itu ada tulisan yang menyebut nama gambar.

Adegannya begini, sang anak mengeja,

“Je-a, ja. Ge-o, go.”

“Dibaca?”

Sang anak diam beberapa saat, kemudian menjawab,

“Pitik ….” (ayam)

“Lha kok iso pitik ki lho?” (Lah, kok bisa jadi ayam?)

“Lha kuwi gambare pitik lho.” (Lah, itu gambarnya ayam.)

Akila tertawa karena mendengar logatnya, (mungkin) logat Malang/Surabaya, yang memang kurang familier di telinganya. Selama ini yang sering dia dengar ya logat nggalek (Trenggalek) dari ayah dan mbahnya, dan logat Caruban dari mamanya.

Setelah melihat video tersebut beberapa waktu, Akila bersuara,

“Benar kan, Ma, itu gambar pitik.”

Iya, Nduk, itu gambar pitik.

***

“Ma, lampunya dimatikan, ya … di luar banyak rawon,” teriak Akila suatu malam.

“Rawon?” tanya saya.

Istri saya melongok keluar.

“Laron, Yah,” ujarnya

Ooo.

***

“Kok sepi, Akila mana, Ma ?” tanya saya.

“Di dalam kamar.”

Sebelum saya membuka pintu kamar sudah terdengar teriakan dari dalam. “Jangan dibuka dulu, Yah!”

Oke, saya kembali ke depan TV. Tidak berapa lama Akila keluar dari kamar dan berteriak

“Halo, Ayaaah.”

Dengan memakai jarik merah milik mbahnya yang dililitkan di pinggang, dan dibiarkan terseret di lantai, ia membawa penggaris yang dilem dengan potongan kertas berbentuk bintang, daaan … kulot mamanya dipakai di kepala.

“Akila jadi apa hari ini?” tanya saya sambil menahan tawa.

“Akila princess, ini tongkatnya (penggaris), ini gaunnya (jarik), dan ini rambutnya (kulot).”

Ooo … paham sih princess berambut panjang. Tapi kenapa kulot?

***

Kepolosan anak kecil terkadang menjadi sebuah komedi spontan yang bisa menyegarkan suasana, seakan mereka lahir untuk menjadi bocah pemain Srimulat. Namun, entah kenapa kepolosan ini hanya akan lucu jika dilakukan oleh anak kecil. Di video-video viral, kita kerap terpingkal-pingkal karena tingkah anak-anak. Tingkah yang sama jika dilakukan orang dewasa tak akan sama lucunya. Saya pernah mencoba memakai kulot di kepala, dan … hasilnya bukan lucu, malah saya enek melihatnya.

Terakhir diperbarui pada 28 Oktober 2019 oleh

Tags: anak-anaklucusrimulat
Muchamad Iwan Rahadi

Muchamad Iwan Rahadi

Artikel Terkait

Marwoto: Stand Up Comedian Itu Cerdas-Cerdas, Ngolah Bahannya Cepat
Video

Marwoto: Stand Up Comedian Itu Cerdas-Cerdas, Ngolah Bahannya Cepat

22 November 2024
strict parents mojok.co
Kilas

Strict Parents Sudah Ketinggalan Zaman, Bisa Bikin Anak Jadi Pembully

13 Januari 2023
Anak sakit mojok.co
Kesehatan

Gagal Ginjal Misterius Pada Anak, Ini Gejala dan Pencegahannya

13 Oktober 2022
obat batuk mojok.co
Kesehatan

Mengenal Sirup Obat Batuk dari India yang Tewaskan 69 Anak di Gambia

12 Oktober 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cara Pamit Megadeth Agak Cringe, Tapi Jadi Eulogi Manis Buat Menutup Perjalanan Empat Dekade di Skena Thrash Metal.MOJOK.CO

Album “Pamitan” Megadeth Jadi Eulogi Manis dan Tetap Agresif, Meskipun Agak Cringe

30 Januari 2026
DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF MOJOK.CO

DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF

31 Januari 2026
Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen yang Nggak Perlu Ngomongin Toleransi MOJOK.CO

Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen Kok Nggak Ngomongin Toleransi

2 Februari 2026
bencana.MOJOK.CO

Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana

4 Februari 2026
Film "Surat untuk Masa Mudaku" tayang di Netflix. MOJOK.CO

Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi

5 Februari 2026
Derita punya pasangan hidup sandwich generation apalagi bonus mertua toxic MOJOK.CO

Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia

5 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.