Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Mop

Ungke Memergoki Papa

Rizal Syam oleh Rizal Syam
19 Juli 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ekskavator

Pada suatu waktu ada proyek pembangunan jalan di pedalaman Halmahera. Terjejer alat berat berupa ekskavator, dump truck, dll. Saat itu sedang ada perundingan pembebasan lahan oleh masyarakat dengan pemerintah.

“Kami akan membayar sesuai dengan kesepakatan”.

“Ah kalo saya tra usah, Bapak. Saya tra butuh uang,” bantah salah seorang warga.

Semua orang kaget. Sembari jari telunjuknya mengarah ke ekskavator yang terparkir ia berucap dengan penuh keyakinan.

“Beta cuma mau minta binatang itu punya anak saja, Bapak.”

***

Saya yang sedang serius menatap layar ponsel tak bisa menahan tawa saat mendengar cerita di atas dituturkan salah seorang kawan di pangkalan ojek. Dahi yang mengerut karena pusing menyimak polemik yang tak ada habisnya di media sosial hilang seketika berubah menjadi keceriaan.

Mop sudah sejak lama ada di tanah Papua dan Maluku, dan menjadi populer di luar Papua dan Maluku sekira dua dekade terakhir karena sebuah film lokal Papua yang lumayan terkenal berjudul Melody Kota Rusa. Ini adalah film komersil pertama yang dibuat di Kota Merauke, tepatnya di Desa Muting, perbatasan Indonesia—Papua Guinea Baru. Film yang hampir semua pemainnya berasal dari tanah Papua ini berdampak pada populernya mop. Aktor-aktor dalam film Melody Kota Rusa di kemudian hari menjadi pemeran serial Epen Cupen di YouTube.

Salah-satu tokoh utama Melody Kota Rusa, Dodi, pemuda bertampang sangar tapi kerap berperilaku bodoh itu menjadi ikon mop dalam memvisualisasikan cerita lucu dari Papua tersebut. Kini, serial itu sudah memasuki generasi kedua dengan wajah-wajah baru. Dodi yang dulu kondang lama tak terlihat.

Jika di Papua ada istilah mop untuk cerita lucu, di Maluku tak ada istilah khusus. Selain di dua wilayah ini, mop juga populer di Sulawesi Utara. Dari mana asal mop itu bisa kita tengarai dari nama tokoh-tokohnya. Jika Papua punya Yaklep atau Dodi, maka Manado punya Ungke seperti di kisah berikut.

Apa Saja Ungke Tahu

Ungke baru pulang sekolah, ketika melewati gang dekat lapangan bola ia melihat mobil bapaknya sedang terparkir. Penasaran, Ungke mendekat dan mengintip ke dalam mobil itu. Ternyata di dalam bapaknya sedang berduaan dengan Tante Lisa tentangganya. Ungke pun buru-buru pulang ke rumah dan melaporkan apa yang ia lihat barusan ke mamanya.

“Ma, tadi Ungke ada lihat Papa deng Tante Lisa di dalam oto.”

Iklan

“Hah?! Ngana ada lihat di mana, Ungke?!”

“Di sana, di gang dekat lapangan bola.”

Tiba-tiba si bapak pulang mendapati istrinya yang sudah memegang sebilah parang yang digosokkan ke tembok. Bapaknya Ungke seketika pucat, ia tahu sedang dalam masalah.

“Coba ceritakan lagi, Ungke, apa yang tadi ngana ada lihat!” perintah si mama geram.

“Iii … iii … itu tadi Ungke ada lihat Papa deng Tante Lisa dalam oto.”

“Trus dorang ada bikin apa?”

Ungke memutar otak, berpikir keras mencari kata yang pas sebab ia belum tahu istilah hubungan intim. Sedangkan si bapak sudah keringat dingin.

“Bilang, Ungke!” bentak mamanya

“Nggg … itu … Papa deng Tante Lisa bikin sama seperti waktu itu Mama deng Om Bram bikin.”

Mama pingsan.

Bukan Tebak-tebakan

Yaklep baru pulang sekolah, tiba-tiba dia lihat dia punya tete sedang mancing di sungai.

“Tete … Tete … tadi di sekolah sa belajar matematika,” ucap Yaklep bangga.

“Bah, ko ini kira tete tidak tahu matematika ka?”

“Coba 2 + 2 = berapa, Tete?”

“Dulu kalau zaman Tete itu tiga, tidak tahu mungkin sekarang sudah naik jadi 7 ka.”

Kentut

Yaklep adalah seorang sopir angkutan kota di Jayapura. Ketika sedang asik menyetir tiba-tiba Yaklep cium bau busuk dari bangku penumpang.

“Bah, sapa su buang angin ini?!”

Tak ada penumpang yang mengaku

“Ah kau yang kentut ka?” tanya Yaklep ke seorang pemuda.

“Tidak, om.”

“Berarti ko yang kentut toh?” sergah Yaklep ke pemuda lainnya.

“Sa tra kentut. Sueer!”

Karena telanjur kesal dengan bau busuk tersebut, Yaklep memutar otak untuk mencari tahu siapa si pelaku.

Sesampainya di terminal semua penumpang turun, setelah semua penumpang membayar ongkos, tiba-tiba Yaklep teriak.

“Bah, itu yang kentut tadi belum bayar!”

“Ko sembarang saja, sa bayar paling pertama tadi!” bantah salah satu pemuda.

Gigi Motor

Egon baru pulang dari rantau ke kampung halamannya di Halmahera. Saat sedang menunggu angkutan di pelabuhan, Egon tersadar ternyata bapaknya datang menjemput dengan motor baru.

“Wiiih, motor baru ka?”

“Iyo, anak, hasil jual kopra kamarin.”

“Aiiih, mantap eee.”

“Ayo, ose naik sudah, se pung mama su tunggu itu di rumah.”

Di perjalanan Egon merasa ada yang aneh, sepeda motor baru itu seperti tak mampu berjalan. Ternyata Egon baru tahu sedari tadi bapaknya tak mengganti ke gigi dua.

“Bapak, itu ganti gigi dua. Bapak ini biking motor rusak saja!”

“Ini … ini … anak muda memang seng bisa sabar, gigi satu belum habis su suruh ganti ke gigi dua.”

Kulit Pisang

Ada orang Ambon sedang di Jakarta, lagi jalan-jalan. Ketika ia sedang jalan-jalan itu ia tak sengaja terpeleset karena menginjak kulit pisang.

Kebetulan yang diinjak adalah kulit pisang ambon.

Dengan penuh amarah karena malu dilihat orang banyak. Ia berdiri dan menghardik si kulit pisang.

“Ah, ose ini bagimana, masa suku makan suku?!”

***

Mop bisa menjadi cara untuk berbaur dengan lingkungan. Seorang kawan pendatang di Kota Ternate, misalnya, menjadi sangat cepat beradaptasi dengan kenalan setelah diketahui ia adalah pencerita lelucon yang hebat. Ialah yang mengisahkan cerita ekskavator tadi.

Dalam konteks hari ini, bagi manusia-manusia milenial yang setiap hari berhadapan dengan masalah-masalah yang tak kunjung sudah, mop bisa menjadi jawabannya. Dan syukur, dofu-dofu Mojok sudah mewadahi itu. Kecup basah.

Terakhir diperbarui pada 20 Juli 2017 oleh

Tags: dodimalukuManadoPapuaungkeyakleb
Rizal Syam

Rizal Syam

Artikel Terkait

papua.MOJOK.CO
Sosok

Tolak Tawaran Kerja di Amerika Demi Mengajar di Pelosok Papua, Berambisi Memajukan Tanah Kelahiran

18 Februari 2026
literasi rendah di Papua dan upaya mahasiswa BINUS. MOJOK.CO
Ragam

Tantangan Mahasiswa BINUS bikin Cerita Bergambar Soal Kehidupan Sehari-hari Anak Papua dan Guru Relawan

8 Januari 2026
Lupakan Garuda Indonesia, Pesawat Terbaik Adalah Susi Air MOJOK.CO
Otomojok

Lupakan Garuda Indonesia, Citilink, dan Lion Air: Naik Pesawat Paling Menyenangkan Justru Bersama Susi Air

10 Desember 2025
Rugi Buka SPBU di Papua? DPR Bisanya Cuma Omong Kosong MOJOK.CO
Esai

Rugi Buka SPBU di Papua? Kalau DPR Menantang, Korporasi Bisa Menantang Balik karena DPR Cuma Bisa Melempar Retorika

3 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Burger Aldi Taher Juicy Lucy Mahalini Rizky Febian DUAR CUAN! MOJOK.CO

Memahami Bagaimana Aldi Taher dan Jualan Burgernya yang Cuan Mampus dan Berhasil Menampar Ilmu Marketing Ndakik-Ndakik

17 Maret 2026
Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali MOJOK.CO

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 

17 Maret 2026
Makanan Khas Jawa Timur Obat Rindu Kala Mudik ke Surabaya (Aly Reza/Mojok.co)

Makanan Khas Jawa Timur di Jogja yang Paling Bikin Perantau Surabaya Menderita: Kalau Nggak Niat Mending Nggak Usah Jualan, Bikin Kecewa

14 Maret 2026
mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah ISI Jogja dihujat. MOJOK.CO

Sisi Lain Penerima KIP Kuliah yang Tak Dipahami Para Mahasiswa “Polisi Moral”, Dituntut Untuk Selalu Terlihat Miskin dan Menderita

12 Maret 2026
Orang Jawa desa pertama kali coba menu aneh (gulai tunjang) di warung makan nasi padang (naspad). Lidah menjerit dan langsung merasa goblok MOJOK.CO

Orang Jawa Desa Nyoba “Menu Aneh” Warung Nasi Padang, Lidah Menjerit dan Langsung Merasa Goblok Seketika

15 Maret 2026
Mahasiswa Pariwisata UGM Jogja belajar dari kepala suku di Raja Ampat, lebih dari ilmu kuliah

Mahasiswa UGM Belajar Kehidupan dari Kepala Suku di Raja Ampat, Merasa “Kecil” karena Ilmu di Kuliah Sebatas Teori tanpa Aksi Nyata

13 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.