Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Donald Trump adalah Kemaluan Terbesar bagi Kebanyakan Warga Amerika

Bule Botak oleh Bule Botak
7 September 2015
A A
Donald Trump adalah Kemaluan Terbesar bagi Kebanyakan Warga Amerika
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebagai warga Amerika Serikat, yang sudah menjadi tersesat banget karena sudah satu tahun tinggal di Indonesia, aku mesti berterimakasih kepada seluruh politikus Indonesia. Aku berterimakasih atas kesempatan mengamati tontonan politik Indonesia yang kacau—tak kalah kacau dengan politik AS.

Perlu kamu ketahui sebelumnya, Amerika punya reputasi sebagai salah satu penduduk dengan tingkat nasionalisme yang paling tinggi. Saking patriotiknya kami, bahkan kami sangat yakin bahwa demokrasi Amerika telah memberi spektakel yang paling kacau dan paling menghibur di dunia. Tak akan ada negara lain yang dapat mengalahkan kekacauan politik dalam negeri kami. Hingga kemudian aku melihat Indonesia. Haha. Ternyata kami salah.

Iklan

Sejak aku datang ke Indonesia, aku menyadari Indonesia benar-benar adalah kawan untuk AS. Memang, di antara seluruh demokrasi besar di dunia, itu AS dan Indonesia yang paling menghibur. Kalau kamu mau bukti, aku akan kasih skandal Donald Trump—yang lahir di salah satu negara demokrasi terhormat, AS, dan baru-baru ini melebarkan sayapnya sejauh ke satu negara demokrasi terhormat yang lain: Indonesia.

Siapa bisa bersaing dengan demokrasi-demokrasi kita?

Memang masih ada nama India sebagai negara demokratis terbesar. Bahkan jauh lebih besar dari AS dan Indonesia. Dan proses pemilihan umum di India memakan waktu hingga enam minggu lamanya. Karena panjangnya durasi tersebut, tontonan politiknya juga menghibur. Kamu mau demokrasi yang disesaki korupsi dan jual-beli suara? Pemilu India jelas tak akan mengecewakanmu. Atau kamu ingin partai politik yang menjalin kerja sama dengan kelompok ekstrimis beragama? Oh, itu juga ada.

Tapi politik India hanya menarik di sekitar pemilu saja. Politik sehari-harinya membosankan. Kalah jauh dibanding AS dan Indonesia. Kalau kamu mau bukti bahwa demokrasi Indonesia dan AS punya situasi politik yang sangat kacau dan menghibur, sekali lagi tolong periksa skandal Donald Trump. Lihat bagaimana dua negara demoktratik paling besar di dunia tertelan oleh satu orang gila.

Siapa sih Donald Trump, yang menurut Fadli Zon adalah tokoh yang sangat disukai orang Indonesia?

Pertama-tama, aku harus menjelaskan satu hal tentang politik Amerika. Ada banyak orang Indonesia (bahkan mungkin di antara pembaca-pembaca artikel ini) yang berpikir semua hal berjalan dengan baik di Amerika—berdasarkan pendapat bahwa Amerika adalah negara maju. Nggak! Kalau kamu mau mengerti fenomena pencalonan Donald Trump, kamu harus tahu bahwa AS, negara yang benar-benar aku cintai, punya banyak masalah besar.

Kami bukan bangsa yang seratus persen progresif, atau 70 persen, atau bahkan 60. Kami hanya 55 persen saja yang progresif. 55 persen penduduk ini (kira-kira) yang memilih Barrack Obama sebagai Presiden. Kira-kira 55 persen itu yang mengerti masih ada masalah rasisme di Amerika, yang mengerti agama dan pemerintahan tidak seharusnya bercampur. Ada 45 persen yang konservatif, dan dari populasi itu ada sekitar 25 persen yang sangat marah tentang situasi Amerika saat ini. Mereka marah karena AS hari ini adalah negara dengan suku bermacam-macam. Marah karena ada banyak pendatang baru dari Amerika Selatan, Timur Tengah, dan Asia Timur yang berkulit cokelat yang nggak bisa bicara bahasa Inggris.

Keadaan ini, dan pandangan bahwa pemerintah AS terlalu peduli minoritas dan mengaibakan kulit putih, membuat kelompok konserfatif marah banget. Kemarahan mereka itu membuat mereka dukung Donald Trump—yang baru bertemu dengan anggota DPR yang terhormat.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Donald Trump adalah salah seorang biliuner yang membenci banget kaum imigran. Menurut pikirannya, kombinasi masyarakat kulit hitam dan kulit “berwarna” lain hanya akan membawa kehancuran bagi warga kulit putih—yang dianggap Trump sebagai penduduk asli Amerika. Dia enteng saja mengatakan bahwa para pendatang itu “Membawa narkoba ke Amerika. Mereka pemerkosa.”  Dia berjanji akan mengusir 11 juta orang yang tinggal di Amerika tanpa izin jika terpilih jadi presiden. Walapun semua ahli sepakat itu kebijakan mustahil, dan mewujudkan itu akan menciptakan tragedi HAM.

Trump juga dikenal sebagai seorang yang seksis. Beberapa waktu lalu, misalnya, ketika ada seorang jurnalis perempuan yang mengkritik dia, Trump dengan santai ngomong, “perempuan itu pasti sedang menstruasi”. Ajaibnya, Trump menolak meminta maaf setelah membuat pernyataan seperti itu.

Trump tahu dia terlalu kontroversial untuk menjadi presiden. Tapi dia narsis banget, jadi dia bilang hal-hal jahat terhadap minoritas untuk menarik perhatian media, dan menarik lebih banyak lagi penduduk yang marah tentang situasi Amerika.

Tapi percayalah, dia tetap tidak mungkin jadi presiden Amerika, meski dicalonkan oleh Partai Republik sekalipun (itu lho, partai sayap kanan yang dulu diwakili George Bush—yang punya kebijakan satu juta perang, tapi kalah melulu). Karena tidak ada satupun yang bukan sayap kanan yang akan dukung Trump. Padahal untuk menang Pemilu AS, kamu harus bisa meraih suara swing voters dan kalau bisa pemilih dari kelompok seberang.

Iklan

Ringkasnya, Donald Trump adalah kemaluan besar yang memalukan kebanyakan warga AS. (Maaf kalau bahasa Indonesia aku belum sempurna. Kemaluan berarti seseorang atau sesuatu yang membuat orang malu, kan?)

Ok, jadi itulah alasan Trump menghebohkan penduduk Amerika. Perkembangan terbarunya, kegiatan Trump juga menghebohkan penduduk Indonesia. Dan penduduk total dari dua negara hebat kita adalah 600 juta orang! Selamat, Pak Trump.

Tapi Trump menghebohkan orang Indonesia tidak terkait reputasi dia sebagai rasis yang sangat diskriminatif, melainkan terkait pimpinan DPR yang ditemuinya, Setya Novanto dan Fadli Zon. Dan sepertinya, alasan orang Indonesia marah terhadap duo-DPR itu adalah: 1) biaya petualangan mereka ke Amerika sangat mahal, 2) Karena Setya dan Fadli pimpinan DPR, dan Trump adalah bakal calon presiden, kesannya seperti pemerintah Indonesia mengendorse Trump sebagai calon presiden. 3) Ketika Donald Trump (yang mewakili aspek paling jelek, sombong, dan chauvisnis tentang AS) bertanya kepada Setya, “Apakah mereka cinta saya di Indonesia?” Seakan-akan semua orang Indonesia punya pendapat sama, Setya menjawab, “Ya. Sangat.” Parah banget, seolah-seolah semua orang Indonesia menyembah Pak Trump yang hebat.

Ya, aku mengerti kenapa orang Indonesia dihebohkan persekutuan Setya-Fadli dan Trump. Dan menurut aku, orang Indonesia benar sekaligus salah. Untuk poin 1, kamu benar ketika mempertanyakan kenapa uang rakyat yang membiayai kunjungan Setya dan Fadli ke AS dipakai untuk bertemu Trump. Untuk poin 2, kamu salah, karena Trump cuma selebriti, bukan calon serius, dan tidak ada orang Amerika yang menginterpretasi peristiwa Setya-Trump sebagai endorsement. (Soal ini belum ada disebutkan di pers Amerika.)

Dan akhirnya, untuk poin ke-3, ketika Setya bilang orang Indonesia menyukai Trump, orang Indonesia seharusnya lebih marah lagi. Karena orang Indonesia yang toleran tidak akan suka Pak Trump. Pak Trump yang bilang bahwa dunia kita punya “masalah muslim”, dan dalam Islam terdapat “kebencian yang sangat kuat”. Orang Indonesia suka yang begitu? Pasti nggak.

Kebanyakan orang Amerika juga tidak suka dengan kebencian Pak Trump terhadap minoritas di Amerika, termasuk terhadap muslim. Jadi, Pak Setya Novanto dan Pak Fadli Zon seharusnya minta maaf kepada warga Indonesia. Karena orang Indonesia tidak mungkin menyukai Trump—setidaknya orang Indonesia yang aku sudah kenal.

Terakhir diperbarui pada 18 Februari 2021 oleh

Tags: Donald TrumpFadli ZonSetya Novanto
Bule Botak

Bule Botak

Artikel Terkait

Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik India menjalin kesepakatan kerja sama konservasi terhadap Candi Perwara Kompleks Candi Prambanan MOJOK.CO
Kilas

Menerjemahkan Candi Prambanan sebagai Bukti Historis Hubungan Nusantara-India

8 Juli 2026
Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Wali Kota Agustina Wilujeng ajak anak muda mengenal sejarah Kota Semarang lewat kartu pos MOJOK.CO
Kilas

Kartu Pos Sejak 1890-an Jadi Saksi Sejarah Perjalanan Kota Semarang

20 Desember 2025
Gedung Sarekat Islam, saksi sejarah dan merwah Semarang sebagai Kota Pergerakan MOJOK.CO
Kilas

Upaya Merawat Gedung Sarekat Islam Semarang: Saksi Sejarah & Simbol Marwah yang bakal Jadi Ruang Publik

20 Desember 2025
Pacu Jalur Direcoki Pemerintah Jadi Cringe dan Nggak Seru Lagi MOJOK.CO
Esai

Saat Negara Turut Campur Aura Farming Pacu Jalur, Semua Jadi Terasa Cringe dan Nggak Seru Lagi

14 Juli 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga hingga Bikers Pecinta Touring.MOJOK.CO

Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga bahkan Cocok Bagi Bikers Pecinta Touring

12 Juli 2026
Selain ke petugas Sensus Ekonomi, warga desa juga jengah dengan program sensus dari mahasiswa KKN MOJOK.CO

Warga Desa Juga Jengah dengan Sensus dari Mahasiswa KKN: Tak Nemu Gunanya, Tak Srawung tapi Korek Privasi Orang

8 Juli 2026
spmb 2025, zonasi.MOJOK.CO

Ketika SPMB Berubah Jadi Pasar Gelap Kursi Sekolah

6 Juli 2026
Anak-anak bermain bola di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. MOJOK.CO

Ketika Lapangan Hijau Berbayar Kalah Mewah dengan Paving Gratis Masjid Kauman

11 Juli 2026
Saat mengantar anak mencari kos untuk persiapan kuliah di PTN Jogja: anak antusias jadi mahasiswa baru (maba), orang tua justru menyimpan kecemasan yang tidak hanya persoalan UKT mahal MOJOK.CO

Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas

8 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.