Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Berkorban Perasaan di Hari Raya Kurban

Puthut EA oleh Puthut EA
24 September 2015
A A
Berkorban Perasaan di Hari Raya Kurban

Berkorban Perasaan di Hari Raya Kurban

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sehari menjelang Idul Adha, ada begitu banyak kisah yang saya jumpai. Kisah pertama adalah tentang Cak Rusdi Mathari. O, tentu saja bukan kisah asmara. Masak baru pembukaan langsung ke inti soal.

Situsweb Republika memuat status Cak Rusdi, tentu dengan predikat yang sepatutnya kita sematkan di dirinya: Blogger Kondang. Mestinya, sih, Republika juga menyebut bahwa sosok yang statusnya dikutip lengkap ini juga seorang penulis dan wartawan. Bahkan sastrawan. Ya, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa laki-laki dari Situbondo ini juga menulis puisi dan cerita pendek.

Saya tidak tahu bagaimana hukum tentang media yang memuat status seseorang. Terlebih untuk sebuah media massa sebesar Republika. Apakah Republika sebelumnya telah minta izin terlebih dulu atau tidak, itu bukan persoalan saya. Republika tentu jauh lebih baik daripada PKS Piyungan yang sering mengutip status orang tanpa izin. Tetapi, mengutip, lebih tepatnya mengutip secara keseluruhan sebuah status di Facebook, tentu membuat saya geleng-geleng kepala.

Kalau mau, Republika sebetulnya bisa meminta tulisan Cak Rusdi untuk dimuat dalam format esai mandiri. Bukan campuran yang tak jelas antara berita dan esai. Semoga saja Republika sudah meminta izin Cak Rusdi untuk mengutip utuh seluruh statusnya. Sebab jika belum, berarti sehari sebelum Hari Raya Kurban, Cak Rusdi rupanya sudah lebih dulu mengorbankan statusnya.

Belum tuntas soal korban-mengorbankan, eh, ternyata tepat di saat azan Isya bergema, seorang laki-laki flamboyan mengetuk pintu rumah saya. Baru saja saya bukakan pintu, Nody Arizona sudah mengeluarkan kegundahannya.

“Nggapleki, arek-e akhirnya pacaran, Mas…”

Saya masih belum ngeh dengan maksud kalimatnya.

“Kok ya tega-teganya dia, gak pakai ngomong sama saya, malah memajang status pacaran di Facebooknya.”

Oalah, saya akhirnya mulai paham. Salah satu gebetan Nody ternyata resmi punya pacar.

“Lha kok bisa dia pacaran sama orang lain, Nod? Bukannya dia runtang-runtungnya sama kamu?”

“Targetku sebenarnya sih enggak muluk-muluk, Mas. Dia kan pacaran paling hanya hari Sabtu malam. Sisanya kan bisa sama aku.”

Saya diam. Mencoba berempati.

“Kalau begini, ya sudah, mau bagaimana lagi…” ungkapnya seperti sedang ngobrol dengan diri sendiri sambil duduk di atas kursi batu, di teras rumah saya.

“Ya sudah, ayo kita makan malam. Besok Hari Raya Kurban. Jangan terlalu bersedih,” hibur saya.

Iklan

“Iya, besok Hari Raya Korban. Malam ini aku sudah korban asmara, Mas…”

Saya yang awalnya ingin ikut berempati, malah akhirnya menahan tawa sendiri. Lalu kami berdua makan malam.

Saat makan malam, Nody tetap terlihat sedih. Saya tawari makan, dia hanya menggelengkan kepala sambil memesan minuman jeruk hangat.

“Tumben pesen jeruk anget, Nod?”

“Biar sekalian kecut hatiku, Mas…”

Mie rebus di mulut saya tiba-tiba seperti menolak untuk ditelan.

Usai makan, kami berdua bingung mau ke mana. Jalanan macet. Rombongan pawai takbiran begitu ramai. Saking bingungnya, akhirnya saya memberhentikan mobil di pinggir jalan. Tiba-tiba saya teringat sosok novelis Mahfud Ikhwan yang sohor itu. Segera saya telepon.

“Di mana, Fud?”

“Kenapa?” terdengar suara dari seberang malah bertanya balik.

“Lama enggak ketemu. Ngopi, yuk!“

“Aku lagi di kampung halaman. Merayakan Lebaran.”

Saya langsung lemas. Tapi untuk basa-basi, saya bertanya, “Menyembelih apa besok?”

“Nyembelih perasaan,” ungkapnya dengan suara datar. Saya langsung tertawa ngakak. Banyak sekali orang berkurban malam ini.

Akhirnya saya putuskan untuk main ke kantor Mojok. Di kantor itu ada Eddward Samadyo Kennedy, Azka, dan Arlian Buana. Azka adalah desainer visual yang sedang mengerjakan sampul buku ketiga Agus Mulyadi. Cocok ini. Lumayan punya teman menghabiskan malam.

Arlian tampak semringah. Sementara Eddward agak suntrut, meski ketampanannya tetap saja terpancar terang. Saya cek Twitter sebentar, pas di saat itu, mantan Arlian yang sepertinya sedang dalam proses balikan tengah berkicau: Alangkah bahagianya kalau nanti kita berdua bisa bersama menunaikan Lebaran Haji di Tanah Suci.

Subhanallah, seru saya dalam hati, sambil melirik Arlian yang tertawa sedang khusyuk menghadapi gawainya dan sesekali tertawa sendiri.

Wajah itu kontras dengan sosok yang persis di depannya: Eddward alias Edo alias Panjul.

“Enggak ke Solo, Njul?” tanya saya mencoba memecah beku.

“Enggak, Mas.” jawabnya begitu tenang, persis seperti seorang bangsawan.

“Lho, kamu enggak ngapelin cewekmu?”

“Enggak, Mas.”

“Sudah putus, kah?” tiba-tiba saya ingin tahu.

“Enggak, Mas.”

“Tapi masih pacaran, kan?”

“Enggak, Mas.”

“Lho, gimana sih, pacaran enggak, putus juga enggak. Kok enggak jelas?”

“Ya enggak perlu jelas, Mas. Di Idul Adha saja enggak jelas siapa sebetulnya yang disembelih, tetap saja ramai dirayakan.”

Lagi. Satu korban jatuh di malam ini. Tapi benar kata Panjul, tetap ada yang perlu dirayakan dan dihayati. Termasuk kisah asmara yang retak berkali-kali.

Selamat memperingati Hari Raya Idul Adha. Semoga semua yang kita korbankan makin berguna dan makin berharga. Juga rasa cinta. Tapi situ saja yang berkorban cinta. Saya cukup korban kambing saja.

Terakhir diperbarui pada 10 Agustus 2021 oleh

Tags: Hari RayaHari Raya KurbanIdul AdhaKurban
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

Momen hari raya kurban Iduladha di Lapas Wirogunan Yogyakarta. MOJOK.CO
Aktual

Makna “Kurban” bagi Para Napi di Lapas Wirogunan: Memalingkan Kepentingan Pribadi demi Menjadi Pribadi Lebih Baik Lagi

6 Juni 2025
Sisi gelap kurban (Idul Adha) di desa. Orang miskin nelangsa, tapi orang kaya pesta daging MOJOK.CO
Ragam

Ironi Kurban di Desa: Saling Jegal demi Raup Keuntungan, Orang Miskin Tak Kebagian Daging sementara Orang Mampu Berpesta

6 Juni 2025
SOBSI dan Kisah Perjuangan Buruh Mendapatan THR
Video

SOBSI dan Kisah Perjuangan Buruh Mendapatan THR

5 April 2025
daging kurban mojok.co
Sosial

Jangan Suuzon Dulu, Ini Alasan Ilmiah Daging Kurbanmu Tidak ‘Seenak Itu’

30 Juni 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Honda Supra X 125

Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah

24 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
Minyak Jelantah Warga Jogja Kini Dibeli Pertamina Rp5.500 Per Liter, Cek 10 Titik Tukarnya! MOJOK.CO

Minyak Jelantah Warga Jogja Kini Dibeli Pertamina Rp5.500 Per Liter, Cek 10 Titik Tukarnya!

23 Februari 2026
Perfeksionis

Derita Jadi Orang Perfeksionis: Dianggap Penuh Kesempurnaan, padahal Harus Melawan Diri Sendiri agar Tak Kena Mental

27 Februari 2026
Pakai hp android Samsung S26 terintimidasi user iPhone. Tapi tak berpaling karena Samsung lebih berguna dari iPhone yang hanya memperdaya pengguna MOJOK.CO

Pakai Samsung Terintimidasi User iPhone, Tak Berpaling karena Lebih Berguna dari iPhone yang Memperdaya Penggunanya

26 Februari 2026
Sejahtera ekonomi di Negeri Jiran ketimbang jadi WNI. Tapi berat terima tawaran lepas paspor Indonesia untuk jadi WN Malaysia MOJOK.CO

WNI Lebih Sejahtera Ekonomi dan Mental di Malaysia tapi Susah Lepas Paspor Indonesia, Sial!

21 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.