Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Balbalan

Kecuali Mbappe, Neymar, Ronaldo, Nyatanya Beli Pemain Mahal Ratusan Juta Tak Berefek Apa-apa

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
1 Februari 2020
A A
transfer pemain sepak bola termahal kylian mbappe neymar ronaldo Pogba Joao Felix Hazard Coutinho Dembele Griezmann mojok.co

transfer pemain sepak bola termahal kylian mbappe neymar ronaldo Pogba Joao Felix Hazard Coutinho Dembele Griezmann mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ekspektasi tinggi, realitasnya anjlok. Transfer pemain sepak bola mahal yang dilakukan tim-tim dunia lebih pantas disebut demi tujuan iklan ketimbang memperkuat tim. Sejumlah faktor membuat pemain mahal tak seberuntung Kylian Mbappe, Neymar, dan Ronaldo.

Saya tetap tidak bisa menerima fakta bahwa dalam hidup saya yang membosankan ini, saya melalui masa ketika ada pemain sepak bola dibeli dengan harga ratusan juta euro. Waktu kecil, harga Zidane saja bagi saya sudah tidak masuk akal. Tapi ketika Neymar ditebus PSG dengan harga 222 juta euro, dinding logika seakan runtuh.

Fenomena itu tidak berhenti pada Neymar saja. Mbappe, Pogba, Joao Felix, Hazard, Coutinho, Dembele, dan Griezmann adalah nama-nama yang menyusul Neymar menjadi pembelian klub yang menyentuh atau melebihi 100 juta lebih. Pemain mahal ini ditebus dengan satu ekspektasi, yaitu menambah kekuatan tim untuk menancapkan dominasi.

Apakah berhasil? Jawabannya sejauh ini: rata-rata belum menunjukkan hasil.

Joao Felix yang digadang-gadang sebagai “Ronaldo baru” belum terlihat menunjukkan performa yang menyenangkan. Griezmann masih biasa-biasa saja. Dembele sedang berteman sepi karena cedera. Hazard kelebihan berat badan dan baru mencetak satu gol, ditambah cedera selama 3 bulan. Dan tentang Pogba serta Coutinho, saya tidak tega menuliskannya.

Ekspektasi kita akan otomatis meninggi ketika melihat pemain berbanderol tinggi. Fans seketika menganggap, tim kesayangannya baru saja mendapuk pemain kualitas bintang yang akan membawa tim menuju gelar. Memangnya apa lagi yang kau inginkan ketika kau punya pemain berharga di atas 100 juta di timmu?

Alih-alih memberi kepuasan, harga tinggi itu membebani si pemain. Coutinho gagal total menunjukkan kualitasnya. Pogba lebih diingat gaya rambutnya daripada kemampuannya mengubah pertandingan. Hazard seakan kehilangan jati diri, meski mulai seirama dengan permainan Madrid. Joao, Dembele, dan Griezmann belum menunjukkan bukti bahwa ada harga, ada rupa.

Salah satu faktor yang membuat pemain ratusan juta itu terlihat gagal adalah ketidakcocokan mereka pada sistem permainan dan pelatih. Kedatangan Dembele, Griezmann, dan Coutinho ke Barcelona terjadi di saat Barcelona dilatih Valverde yang terlalu bergantung dengan Messi dan tidak punya sistem jelas. Pemain-pemain mahal itu jadi kebingungan memaksimalkan potensi. Sementara pemain kreatif macam Joao Felix kehilangan ruangnya di tangan Simeone.

Contoh lain adalah Harry Maguire. Di Leicester dan timnas Inggris, dia bermain amat bagus. Di tangan Ole, dia terlihat seperti bek liga tarkam. Permainan Maguire di tangan Ole bukan tak seperti yang kau harapkan dari bek termahal di dunia. Jelas bahwa pelatih berandil besar membuat pemain mahal gagal.

Nasib Pogba lebih buruk. Dia tidak dipercaya Mou, atau persisnya, ia tidak diinginkan Mou. Ed Woodward yang terlalu ikut campur urusan pelatih dengan mendatangkan Pogba mendatangkan petaka berupa konflik dan cacian tak masuk akal untuk si pemain. Serbasalah juga kalau jadi Pogba, mau juara bagaimana jika tandem setimnya pemain macam Lingardinho dan Jones? Dan dalam kasus Hazard, dia sendiri yang berulah dengan tidak menjaga kondisi fisik hingga menyulitkan dirinya sendiri.

Ribuan tekel yang berhasil tidak akan diingat fans, satu blunder terjadi maka selesai hidupmu, dan itulah sifat fans yang tidak bisa kita mungkiri. Harga mahal dan status bintang yang para pemain mahal itu pikul membuat mereka tertekan. Alih-alih bermain dengan bahagia, mereka terpaksa berhati-hati agar tidak membuat kesalahan.

Berhasilnya Mbappe dan Neymar membuat ekspektasi orang terhadap pemain mahal ratusan juta menjadi absurd. Belum tentu dalam satu siklus kehidupan ada pemain baru macam Ronaldo dan Mbappe, namun semua orang memukul rata bahwa jika hargamu mahal, minimal harus seperti mereka.

Potensi flop yang mulai terlihat sejauh ini untuk pemain mahal tidak akan menghentikan tim-tim membeli pemain dengan harga kelewat tinggi. Namun, seharusnya yang perlu diperhatikan tim adalah apakah uang yang mereka keluarkan itu karena kebutuhan tim atau semata karena logika dagang. Galacticos jilid pertama adalah contoh bagaimana uang tidak bisa membeli prestasi.

Kepentingan tim harusnya jadi prioritas utama dalam pembelian pemain, apalagi jika menyangkut pemain mahal. Real Madrid belajar lewat kegagalan Galacticos. Juventus merekrut pemain gratis dengan kualitas bintang. Chelsea mempercayakan tim kepada talenta muda.

Iklan

Harga gila-gilaan tidak lagi bisa diterjemahkan sebagai kualitas, sekadar situasi pasar yang gila. Atau anggap saja manajemen sebenarnya sedang membeli bintang iklan. Kalau sudah begitu, para pelatih dan manajemen klub mesti mendengarkan kata-kata Ronaldo, “Sekarang pemain bisa dihargai 100 juta euro meski ia belum membuktikan apa-apa.”

BACA JUGA Bukayo Saka dan Resonansi Awal Karier Bellerin di Arsenal dan juga artikel menarik lainnya di BALBALAN.

Terakhir diperbarui pada 1 Februari 2020 oleh

Tags: mbappeNeymarpemain mahalRonaldo
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Hobi main game dan suka nulis otomotif.

Artikel Terkait

Mungkinkah Cristiano Ronaldo Pindah ke Liga Indonesia?
Video

Mungkinkah Cristiano Ronaldo Pindah ke Liga Indonesia?

16 Agustus 2023
Kekecewaan Netizen Pada Kasus Fortuner Vs Brio Dan Centang Biru Berbayar
Video

Kekecewaan Netizen pada Kasus Fortuner Vs Brio dan Centang Biru Berbayar

23 Februari 2023
Misi Ronaldo ke Arab Adalah Usaha Membangkitkan Islam di Semenanjung Iberia
Video

Misi Ronaldo ke Arab Adalah Usaha Membangkitkan Islam di Semenanjung Iberia

5 Januari 2023
Diluar Nalar! Duit Zakat Disikat! Banyak Konser Gagal Dihelat!
Video

Diluar Nalar! Duit Zakat Disikat! Banyak Konser Gagal Dihelat!

7 Desember 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beasiswa LPDP selamatkan hidup seorang difabel yang kuliah S2 di Amerika Serikat (AS). MOJOK.CO

Bangkit usai “Kehilangan” Kaki dan Nyaris Gagal Jadi Sarjana, Akhirnya Lolos LPDP ke AS agar Jadi Ahli IT Pustakawan di Indonesia

22 Februari 2026
Upaya 1 tahun Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang kerja untuk warga, apa hasilnya? MOJOK.CO

Upaya 1 Tahun Pemkot Semarang Bekerja untuk Warga di Tengah Ragam Tantangan dan Keterbatasan, Apa Hasilnya?

23 Februari 2026
Mie ayam surabaya untuk quality time. MOJOK.CO

Makan Mie Ayam, “Quality Time” Orang Surabaya dan Balas Dendam Terbaik untuk Melampiaskan Getirnya Hidup

25 Februari 2026
Mekanisme beasiswa LPDP untuk kuliah di luar negeri masih silang sengkarut, awardee cemas jadi "WNI" MOJOK.CO

Mekanisme dalam Beasiswa LPDP (Masih) Silang Sengkarut: Awardee Cemas Jadi WNI, Negara Punya PR yang Harus Diberesi

23 Februari 2026
Toyota Avanza Perusak Gengsi, Gak Waras Gak Berani Beli MOJOK.CO

Toyota Avanza Bekas Perusak Gengsi, tapi Orang Waras Pasti Tidak Ragu untuk Membeli Mobil yang Ramah Ekonomi Keluarga Ini

24 Februari 2026
Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya MOJOK.CO

Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya

27 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.