fbpx

MOJOK.COVideo life hack yang beredar di media sosial kebanyakan sok tahu. Tampaknya mereka perlu belajar dari konten yang dibikin Lizi Qi.

Hai para konten kreator video-video life hack yang suka bikin kami yang menontonnya seolah dapat insight padahal mah itu hanyalah fatamorgana. Sebaiknya, sudahi saja video satisfying yang kalian bikin itu. Kalau nyatanya, itu sama sekali nggak masuk akal jika kami terapkan di dunia nyata. Lebih baik, belajarlah sedikit pada video bikinan Lizi Qi, seorang vlogger masak yang bikin video-video dengan nuansa pedesaan. Bahwa membuat suatu hal yang “bernilai” itu prosesnya panjang. Bukanlah yang penting terlihat gampang diterapkan semata.

Dalam akun Youtube-nya dengan 6,84 juta subscriber, seorang Lizi Qi betul-betul mengajari kita tahap demi tahap untuk membuat suatu hal yang sederhana. Dengan memanfaatkan apa yang alam beri untuk kita di setiap musim-musimnya. Tanpa berusaha sok tahu dan sok mengajari. Ia lakukan itu semua seperti suatu hal yang sudah biasa ia lakukan sehari-hari.

Percayalah, yang ditunjukkan Lizi Qi dalam videonya adalah life hack yang sesungguhnya. Bagaimana tidak? Lagi-lagi ia memanfaatkan betul apa yang ada di sekitar untuk membuat sesuatu yang memang benar-benar dibutuhkan. Bukannya seperti video life hack seperti yang ini.

Kalau dia memang perlu menyendok bubur, bukankah itu bisa dilakukan dengan semudah membalik sendoknya, Maemunah? Terus, kenapa harus ribet-ribet dengan memalu bagian belakang sendok supaya wujudnya jadi lebih cekung? Ada masalah apa si konten kreator video ini? Apakah ia sedang merayakan hari kebalikan?

Baca juga:  Video Life Hack Terlalu Satisfying, Kita Sampai Nggak Sadar Isinya Belum Tentu Benar

Lagi-lagi, yang namanya video life hack tentu berusaha memecahkan persoalan sehari-hari dengan cara yang lebih cerdas. Bukannya malah bikin kita bodoh. Lizi Qi misalnya, ia mengajari kita untuk tidak menggunakan kompor gas kalau ternyata ada tungku dengan bahan kayu bakar yang bisa dimanfaatkan. Atau memilih tidak membuang satu pun isi labu kuning begitu saja, kalau itu bisa dikeringkan dan dapat dikonsumsi menjadi kuaci.

Yang dilakukan Lizi Qi, jelas bukanlah suatu yang kesia-siaan. Ia mengambil baik dari ladang pribadi, hutan, atau sungai, secukupnya dan tidak merusaknya. Tidak jahat pada alam. Dan ngasih tahu, kalau alam itu punya musim. Nggak semua hal yang kita pengin saat itu dapat disediakan oleh alam saat itu juga. Dan yang jelas, ide-ide yang dimunculkan tidak mendatangkan masalah baru. Nggak seperti video life hack yang sering kali nggak pakai riset itu, meskipun tayangan mereka ini memang satisfying banget plus hiburan buat mata.

Ada ketangguhan dalam setiap aktivitas Lizi Qi memanggul hasil kebun, membuat tungku, atau bahkan membuat bangku bambu. Namun, tidak sekadar tangguh, Lizi Qi juga memperlihatkan kelembutan dari senyum ramahnya ketika mengolah makanan, atau saat ia sedang mengiris-iris bahan-bahan. Yang jelas, pemilihan musik dan nuansa pedesaan yang ciamik, berhasil menenangkan kita di tengah kehidupan yang sangat hiruk-pikuk dengan sejumlah deadline yang sangat membebani. Tanpa mendesak kita untuk tergesa-gesa.

Baca juga:  Akeh Bakul Takjil ing Sasi Pasa, Apa Para Ibu Wis Wegah Masak?

Lizi Qi juga mengajarkan kepada kita untuk bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan dengan cara mudah. Ada sebuah proses yang cukup panjang dalam setiap makanan yang ada di depan kita. Meskipun kita menikmatinya dari Go-Food sekalipun, yang tinggal tidur-tiduran dan pencet-pencet hape itu. Hal ini sungguh berkebalikan dengan video-video yang ditayangkan oleh life hack yang sering kali menujukkan pada kita cara-cara instan untuk bikin sesuatu. Cas cis cus, tapi minim makna. Dan pelan-pelan melatih kita untuk jauh dari proses bersabar.

BACA JUGA Video Life Hack Terlalu Satisfying, Kita Sampai Nggak Sadar Isinya Belum Tentu Benar atau artikel Audian Laili lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles