MOJOK.COBagi perempuan yang memakai kerudung, kerudung merupakan salah satu aspek penampilan yang perlu diperhatikan. Ada beberapa hal terkait berkerudung yang terkadang bikin ribet tipis-tipis.

Semakin saya dewasa, rasa-rasanya teman perempuan saya semakin banyak yang memakai kerudung dalam menjalani aktivitasnya sehari-hari (ngomong-ngomong sengaja saya gunakan istilah “kerudung” supaya lebih terkesan nusantara). Dulu waktu SMP, di kelas saya hanya ada empat orang yang mengenakan kerudung di kelas. Sementara, saat saya SMA, kebalikannya, hanya dua orang yang nggak mengenakan kerudung di kelas. Saya rasa orang yang memutuskan berkerudung makin meningkat, apalagi dengan maraknya gerakan hijrah akhir-akhir ini. Sepertinya berbisnis jualan kerudung dan fashion muslim bakal laris manis. Nggak heran kalau sekarang begitu banyak bermunculan brand fashion yang membawa-bawa nama artis.

Sebagai salah seorang perempuan yang memakai kerudung sejak SD, ternyata pilihan kerudung saya masih gini-gini aja. Mentok di model kerudung segiempat, yang kebanyakan berbahan paris dengan harga nggak sampai Rp15 ribu. Meski sekarang udah lumayan naik tingkat ke kerudung berbahan double hicon atau pollycotton. Yang harganya lebih mahal dikit dari paris, sekitar 100 ribu dapat 3-5 pcs. Bahan ini biasanya kalau di onlineshop disebut, Hijab Bella Square—soalnya, bahan kerudungnya memang dipopulerkan sama Laudya Cynthia Bella.

Oke, cukup membahas soal bahan dan harga kerudung. Begini, selama saya mengenakan kerudung, ada beberapa hal yang terkadang bikin rutinitas harian saya jadi agak ruwet. Mungkin, hal semacam ini juga dirasain oleh temen-temen lain yang memakai kerudung. Apa sajakah itu? Akan saya jelantrahkan setelah ini.

Pertama, soal kucir rambut.

Saat mengenakan kerudung sungguh wajib hukumnya untuk mengucir rambut—kalau kamu memang punya rambut, sih. Akan tetapi, mengucir rambut ini butuh teknik tertentu: untuk nggak terlalu kencang tapi juga harus kencang. Kalau terlalu kuat, yang ada kepala kita jadi pusing seharian. Sementara kalau kurang kencang, nanti rambut kita jadi mudah bersliweran. Belum lagi kalau kucir rambutnya gampang terlepas, walah, sungguh rambut yang awut-awutan di dalam kerudung hanya bikin sumuk belaka. Jelas, bakal mudah bikin kita nggak nyaman dalam melakoni aktivitas sehari-hari.

Baca juga:  Surat Terbuka untuk Mami Nikita Mirzani

Belum lagi, ada beberapa keyakinan yang melarang kuciran rambut kita tampak seperti punuk onta. Hal ini tentu bakal ribet orang-orang yang rambutnya terlalu panjang. Namun, kalau rambutnya terlalu pendek, juga bermasalah. Rambut terlalu pendek membuatnya tidak bisa dikucir. Lagi-lagi, dia bakal jadi sumber dari segala ke-sumukan yang hakiki.

Kedua, galaunya pas pakai ciput.

Mengenakan ciput saat memakai kerudung juga meninggalkan dilemanya tersendiri. Kalau nggak dipakai, rambut depan kita bakal kelihatan dan rambut kecil-kecil bakal keluar-keluar. Akan tetapi, kalau dipakai sering kali menjadi tampilan kerudung kita nggak se-ciamik kalau nggak pakai ciput. Begini, bagi saya—dengan bentuk kepala agak bulet, memakai ciput menjadikan kerudung kurang presisi ketika digunakan. Hasilnya, kepala saya jadi kelihatan lebih bunder dan pipi semakin kelihatan tembem. Belum lagi pada beberapa bahan ciput yang telalu ngetat, sehingga bikin suara jadi kurang terdengar dengan baik. Na… namun… nggak pakai ciput juga bisa bikin tampilan kerudung jadi gampang berantakan. Hayooo lohhh, cem mana~

Ketiga, saat memakai headset.

Memakai kerudung sering kali bikin kita ribet kalau mau pakai headset. Masang-masang si speaker kecil di telinga kita yang tertutupi kerudung, itu sungguh gampang bikin kerudung berantakan. Untuk mengatasi masalah sederhana yang nggak sederhana ini, akan lebih baik belilah headphone yang harganya berkali-kali lipat lebih mahal itu. Supaya apa? Supaya ukhti-ukhti sekalian jadi gampang pasang copotnya kalau diajak ngobrol sama orang lain di tengah bekerja pakai headphone-nya. (((Yes, ngasih solusi!)))

Baca juga:  Kami yang Hijrah Mungkin Kurang Nakal, tapi Bukan Berarti Kami Tak Punya Akal

Keempat, waktu untuk keramas.

Ketika kita telah terbiasa memakai kerudung dalam aktivitas sehari-hari, biasanya akan ada kegalauan untuk memutuskan: kapan waktu yang tepat untuk keramas? Pasalnya, tahapan keramas ketika kita memutuskan bepergian memakai kerudung, sungguh memakan waktu yang—lumayan—panjang. Kita semua tahu kalau berkerudung saat rambut masih basah, itu sungguh tidak diperkenankan. Baik karena alasan kesehatan maupun kenyamanan. Akan tetapi, mengeringkan rambut juga butuh waktu yang tidak sebentar, meskipun kita telah memilih menggunakan hair driyer. Selain suaranya bising, menggunakan si pengering rambut ini juga bikin capek dan membosankan. Tidak terlalu menjadi masalah kalau kita telah menyelesaikan aktivitas di sore hari. Jadi, bisa milih keramas pas sore-sore. Namun, kalau baru nyampek rumah atau kosan malem-malem? Sementara kalau akan memulai aktivitas di pagi hari, kita termasuk dalam orang-orang yang suka siap-siap mepet. Percayalah, sekadar memilih waktu yang tepat untuk keramas, tidak lagi semudah itu.

Kelima, kerudung yang letoy.

Kerudung yang letoy dan nggak tegak sering kali dianggap sebagai masalah. Lantaran, ketegakan sebuah kerudung secara tidak langsung menjadi pertanda dari kerapian penampilan kita. Biasanya, kalau kerudung yang akan gunakan acak-acakan, kita bakal menyetrikannya terlebih dulu. Namun ternyata, sering kali menyetrika tidak menyelesaikan masalah dan justru menimbulkan masalah baru: kerudung jadi letoy. Supaya tulisan ini ada manfaatnya tipis-tipis dan nggak sekadar gerundelan belaka, ada berkerudung-hack yang akan saya berikan. Ini sungguh sederhana, pakailah hairspray di bagian kerudung yang letoy tersebut, niscaya bagian tersebut jadi kaku dan dapat dibentuk semaumu. Begitu.

Btw, tulisan ini nggak bermaksud bikin kamu-kamu jadi enggan memakai kerudung, ya. Ya, ini saya mah cuma cerita-cerita doang, kok. Jadi, jangan jadikan hal-hal kecil ini sebagai penghalang hijrahmu, Ukhti~