• 1.7K
    Shares

MOJOK.CODalam standar moral masyarakat, jika ada kasus prostitusi mencuat, maka seolah-olah hanya perempuan—sebagai pemberi jasa—yang pantas untuk diberikan hukuman sosial dengan mengekspos identitas mereka.

Beberapa hari yang lalu, kita digegerkan dengan sebuah kasus prostitusi yang ternyata ada artis yang tersangkut di dalamnya. Berbagai media langsung mem-blow up kasus tersebut. Menjadi headline berita di mana-mana serta menjadi trending di berbagai sosial media. Sejak kasus tersebut mencuat, hanya dalam waktu sepersekian menit saja, sebuah akun gosip langsung menemukan siapakah si artis yang dimaksud. Siapakah artis yang tertangkap dan menerima sorotan dari berbagai kamera—meski sudah berusaha keras menutup wajahnya dengan bantal.

Tentu saja, ketika identitas si artis yang disebut-sebut sebagai pemberi jasa dalam prostitusi online tersebut dibeberkan dengan bermodal (((othak athik gathuk))) warna baju dan inisial, si artis ini langsung menerima berbagai cercaan dari masyarakat. Bahkan ketika identitas itu masih sekadar praduga. Media sosial pun menjadi sangat hiruk pikuk dan ramai-ramai memberikan komentar tentang…

…betapa tidak bermoralnya si artis yang rela menjajakan dirinya tersebut.

Hingga kita melupakan satu hal, bahwa prostitusi ini adalah sebuah bisnis. Dia tidak akan dapat berjalan tanpa permintaan. Seperti hukum ekonomi, tidak akan penawaran jika tidak ada permintaan. Si artis ataupun pekerja seks yang lain, tidak akan rela menjadi pemberi jasa, jika tidak ada permintaan dari lelaki-lelaki hidung belang yang sanggup membayar. Intinya, selama tidak ada permintaan pasar, tentu saja nggak ada yang rela-rela saja memberikan jasa dengan cara yang dianggap tidak bermoral bagi masyarakat itu.

Sayangnya, di berbagai pemberitaan, hanya identitas si pemberi jasa saja yang diungkap. Pemaparan identitas ini, ternyata tidak berlaku bagi lelaki hidung belang yang meminta. Yang disebut-sebut sanggup membayar hingga 80 juta tersebut.

Baca juga:  Melihat Aksi Gerebek yang Cuma Mentok di Hotel Melati

Lantas, mengapa hukuman sosial hanya diberikan kepada perempuan saja? Apakah ini memang karena pemberitaan ini ramah bagi pageviews? Apalagi selain dia perempuan, ia juga berprofesi sebagai artis. Sungguh lebih menggiurkan lagi untuk dijadikan konten yang clickbait, bukan?

Hal ini bukan hanya terjadi sekali ini. Ia sudah terjadi berulang-ulang. Coba ingat-ingat, beberapa kasus prostitusi yang menyeret beberapa nama public figure dalam beberapa tahun belakang. Coba bandingkan, berapa banyak nama pemberi jasa yang disorot dan berapa banyak pihak yang meminta jasa tersebut, yang identitasnya dapat terungkap?

Lalu, coba ingat-ingat lagi, bagaimana judge dan respon yang diberikan oleh masyarakat pada si pemberi jasa ini?

Perempuan dan dunia bisnis memang seakan-akan telah menjadi dua hal yang sulit dipisahkan. Pasalnya, perempuan dianggap sebagai makhluk yang diciptakan indah, cantik, dan memesona. Anggapan tentang citra perempuan ini menjadi kesempatan yang tidak dilepaskan dengan mudah oleh ‘kaum kapitalis’ untuk pengembangan usaha mereka. Lihat saja, bagaimana media memberitakan kasus kecelakaan pesawat beberapa waktu lalu. Hanya untuk mendorong lebih banyak pageviews, bisa-bisanya sebuah media memberikan judul, “Inilah potret cantik pramugari yang menjadi korban kecelakaan pesawat…” Ya, mereka memilih mengeksploitasi ‘potret cantik’ sang pramugari yang menjadi korban. Demi sebuah konten!

Hehehe, selamat datang di Indonesia. Selamat datang di tengah masyarakat yang dengan mudahnya mempublikasikan identitas pekerja seks untuk dihujat dan dijadikan guyonan. Namun, bagi pelaku yang melakukan permintaan, namanya cukup disamarkan. Toh, dipublikasikan pun, tidak akan ‘terlalu’ mencuri perhatian. Nggak bakal laku di pasaran. Jadi buat apa~

Baca juga:  Curhat Shaming: Jadi Superior Sejak dari Nanggepin Curhatan

Suka maupun tidak suka, nyatanya seks bebas memang terjadi di mana-mana. Namun yang menjadi tidak adil dalam hal ini, ketika pikiran kita telah membentuk stigma bahwa: perempuan selalu salah dalam hal ini. Padahal dalam banyak kasus, justru perempuan yang menjadi korban.

Belum lagi ada beberapa media yang dengan begitu mudahnya, langsung men-judge bahwa si artis melakukan hal tersebut demi gaya hidup glamour dan sosialita. Tunggu dulu, kok bisa dengan mudahnya mengungkapkan hal tersebut, dijadikan judul dalam sebuah berita lagi. Apakah yang menuliskan berita tersebut sudah betul-betul menanyakan pada si artis yang bersangkutan? Apakah penghasilannya yang bekerja dari prostitusi itu betul-betul untuk foya-foya? Apakah ini hanyalah sebuah prasangka? Yang dengan mudahnya dilontarkan untuk membentuk persepsi kuat dalam masyarakat bahwa: yang dia lakukan jahat betul-betul tidak bermoral.

Dalam standar moral masyarakat, tentu saja persepsi bahwa perilaku tersebut tidak elok semakin kuat. Melakukan seks di luar nikah atau tidak dengan pasangan sah saja, sudah dianggap tidak bermoral. Apalagi jika hal ini dilakukan untuk sebuah kehidupan foya-foya. Sungguh, betapa tidak berakhlaknya orang-orang yang terjebak di dalamnya.

Meski mengubah persepsi bukanlah hal yang mudah. Namun, semoga kasus ini dapat menjadi pengingat kita bersama. Bahwa dalam sebuah kasus prostitusi, tidak hanya pemberi jasa yang terlibat di dalamnya. Ia adalah sebuah bisnis, yang ada karena permintaan. Tidak adil rasanya, jika hukuman sosial hanya kita berikan pada salah satu pihak saja.

  • 1.7K
    Shares


Loading...



No more articles