MOJOK.COUntuk menghindari calon tunggal, seorang istri rela maju melawan suaminya pada pemilihan kepala desa di Gresik. Isi “visi-misi”-nya jadi viral karena terlalu jujur.

Kayak gini bisa disebut bucin level politik nggak sih? Sang istri yang bernama Yati jadi calon nomor 1 sedangkan suaminya, Suja’i, mendapat nomor urut 2. Keduanya berkompetisi di pemilihan kepala desa Jebreng, Kecamatan Dukun, Gresik, Jawa Timur, periode 2019-2025. Poster surat suara kemudian dipasang di tempat umum dan kemudian malah jadi viral di Internet.

Pasalnya, dalam kolom visi-misi, Yati mencantumkan poin-poin yang tidak biasa.

Visi:

Menjadi istri sholehah.

Misi:

1. Mendampingi suami (SUJA’I) mencalonkan menjadi Kepala Desa Jrebeng agar memenuhi persyaratan proses PILKADES dapat dilaksanakan pada tanggal 31 Juli 2019.

2. Mendukung, Mendampingi dan mendo’akan suami (SUJA’I) ketika menjabat kepala desa dan seterusnya baik dalam susah maupun senang. 

Foto ini diambil dari timesindonesia.co.id.

Visi-misi seperti ini kalau dikoreksi sama konsultan politik profesional, ya jelas bakal langsung direvisi. Kalau saya yang disuruh ngedit, semua visi-misi itu akan langsung saya hapus dengan alasan: (1) Visi Yati akan langsung tidak terwujud jika ia menang, (2) poin misi nomor 1 sudah terlaksana bahkan sebelum dia jadi kepala desa, serta (3) misi poin ke-2 justru langsung membayangkan lawannya lah yang akan menang.

Baca juga:  Dinasti Politik di Kudus: 19 Pasutri Bersaing Jadi Kades dan Manfaat Melawan Suami Sendiri

Saya pikir, kejadian yang misal dibikinin FTV bisa dijuduli ini Aku Mendukung Suamiku dengan Melawannya ini adalah bukti bahwa bikin visi-misi itu memang susah. Mungkin Yati membuatnya di malam terakhir sebelum pendaftaran pilkades ditutup setelah didesak suaminya agar pilkades bisa terus jalan. Di depan laptop, Yati bingung mampet, ini kolom visi-misi mau diisi apa, dan kemudian keluarlah pernyataan visi-misi yang sangat jujur itu.

Suja’i mengatakan, istrinya memang maju agar dirinya tak menjadi calon tunggal. “(Ia maju) Atas dasar menyelamatkan demokrasi, kalau tidak ada lawan, gagal Pilkades; untuk mendampingi suami. Dengan kata lain, (menjadi) istri salehah,” kata Suja’i kepada Suara. Jangan-jangan Pak Sudja’i sendiri yang membuatkan visi-misi istrinya???

Pada akhirnya, Suja’i keluar sebagai pemenang pilkades yang digelar Rabu kemarin (31/7). Ia mendapat 606 suara, sementara istrinya mendulang 88 suara.

Fenomena pasangan suami istri saling melawan di pemilu bukan terjadi sekali ini saja. Sepasang suami istri di Jepara pernah melakukannya karena nggak ada calon lain yang berani/mau maju di pilkades melawan petahana. Praktik yang sama juga terjadi di Brebes oleh empat pasutri dan di Semarang oleh lima pasutri.

Memilih orang terdekat untuk menjadi lawan gadungan di pemilu memang solutif mengatasi ketiadaan calon. Tapi, cara ini berbahaya untuk masa depan demokrasi. Selain karena lawannya, umumnya para istri, tidak terlalu berniat memenangkan pemilu, cara ini juga bisa melanggengkan kultur dinasti politik.

Baca juga:  Pengetahuan Soal Seks Itu Perlu, Berpengalaman dengan Seks? Ya, Belum Tentu

Entah kenapa warga Indonesia seperti tidak kapok dengan dinasti politik meski sudah punya pengalaman dengan Keluarga Cendana. Bahkan keluarga yang aslinya nggak berminat bikin dinasti pun dipancing untuk bikin, kayak yang terjadi di hasil survei pilwakot Solo yang mendaulat putra Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, sebagai calon wali kota terfavorit.

BACA JUGA Dinasti Politik Mbulet ala Klaten