• 917
    Shares

MOJOK.CO – Seorang mahasiswa tingkat akhir sedang galau untuk memutuskan fokus mengerjakan skripsi atau asyik berorganisasi dulu.

TANYA

Hai Mojok, pertama izinkan saya memperkenalkan diri. Saya biasa dipanggil Ang. Sekarang saya tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan di salah satu Universitas di Jawa Barat. Saat ini saya mahasiswa semester 7 serta telah mengontrak TA (Tugas Akhir/Skripsi) dengan harapan saya dapat menyelesaikan studi saya dalam jangka waktu 3,5 tahun.

Untuk menceritakan permasalahannya, saya akan mulai dengan kilas balik 3 tahun silam. Ketika itu, saya baru saja merasakan status sebagai mahasiswa. Masa-masa itu pikiran dan tindakan saya sedikit feodalisme, artinya saya melihat status mahasiswa tidak akan jauh beda dengan menjadi siswa di SMA dulu. Belajar di sekolah, nongkrong, pulang ke rumah, dan hura-hura bersama teman-teman. Hal yang hampir sama seperti itu, juga saya terapkan ketika menjadi mahasiswa, sampai semester 5.

Keadaan berubah ketika saya memasuki perkuliahan di semester 6, saat itu teman baik saya baru saja menjadi Ketua Himpunan Jurusan Ilmu Pemerintahan untuk periode setahun ke depan. Kebetulan saya ditawari untuk mengepalai divisi dalam himpunan tersebut. Dengan tidak terlalu banyak pertimbangan saya menerima tawaran teman saya itu. Dikarenakan, pertama: saya belum pernah merasakan sedikit pun berkecimpung dalam organisasi kemahasiswaan, khususnya internal kampus. Kedua: saya ingin sedikit keluar dari zona kebosanan dari rutinitas perkuliahan. Yang ketiga: saya ingin membantu teman baik saya itu dalam memimpin organisasi himpunan dengan menjadi pengurus di dalamnya.

Nah seiring berjalannya kepengurusan ini, saya semakin menemukan passion saya di sini. Saya dapat mengimplementasikan keilmuan yang sudah saya dapatkan di perkuliahan ke dalam sistem kerja organisasi. Di sini juga sesungguhnya saya baru menyadari rasa dilema yang teramat berat. Kepengurusan ini masih berjalan sekitar 6 bulan lagi, di sisi lain saya juga telah disibukkan oleh aktivitas sebagai mahasiswa tingkat akhir, pengajuan judul skripsi, berbagai macam bimbingan, revisi, bahkan telah memasuki masa UP (usulan penelitian). Ingin rasanya saya menunda dulu untuk menyusun skripsi. Tetapi merujuk pada petuah “ridha Allah mengikuti ridha orang tua”, orang tua saya menyuruh atau memberi saya amanah untuk menyelesaikan studi saya dalam waktu 3,5 tahun. Tapi kesibukan saya saat ini memberi saya ruang untuk mendapatkan segalanya. Aktivitas yang produktif, jaringan organisasi, pengalaman, dan yang paling penting saya telah menyadari bahwa sesungguhnya saya telah memperoleh jati diri saya yang sebenarnya.

Baca juga:  Tentang Etika Mahasiswa Menghubungi Dosen via SMS dan WhatsApp

Inti dari semua ini adalah memilih, menurut Mojok saya harus memilih yang mana? Patuh terhadap amanah orang tua yang artinya segala urusan ke depannya juga akan dilancarkan oleh Allah SWT atau mengikuti proses kesibukan ini, yang sebetulnya inilah jati diri saya yang sesungguhnya. Terima kasih….

JAWAB

Hai Ang yang sedang galau dengan dua pilihan di persimpangan jalan kehidupan. Saya yakin, sebetulnya sampeyan sudah tahu apa yang sampeyan inginkan. Mengirimkan tulisan curhat ke Mojok ini, karena sampeyan ingin diyakinkan dengan pilihan tersebut, kan? Iya, kan? Udah ngaku aja~

Tenang saja, Ang. Saran dari kami sama seperti yang sampeyan pengin, kok!

Yak betul, yaudah, lanjut organisasi dulu aja. Mumpung ada kesempatan menduduki jabatan strategis di bidang yang sampeyan suka dan dapat mempertajam pemahaman keilmuan sampeyan. Daripada, nanti nyesel pas sudah lulus karena telah membuang sia-sia kesempatan mempebanyak amal ibadah pengalaman sebagai mahasiswa. Ingat, Ang. Seperti kata pepatah: penyesalan selalu datang di akhir. Kalau di awal namanya perencanaan.

Lagian, ya, Ang. Apa sih yang mau sampeyan dapatkan dengan kuliah 3,5 tahun selain apresiasi pujian dari khalayak khususnya teman-teman—yang diam-diam justru menyimpan perasaan iri dan dengki? Terus setelah maju dan mendapatkan predikat sebagai lulusan tercepat, lalu apa? Lalu apa, Kisanak?!!11!

Mengenai keinginan orang tua yang pengin sampeyan segera lulus, saya rasa jika mereka diberi pengertian dan alasan yang kuat, pasti mau menerima, kok. Toh, sampeyan nggak segera lulus, juga bukan karena malas-malasan atau karena pergaulan bebas juga, kan? Yang namanya orang tua kan pengin yang terbaik bagi anaknya. Saya yakin mereka pasti mau mengerti jika diberikan pemahaman yang baik.

Baca juga:  Harus Memanggil Teman Sendiri “Bang” di Organisasi, Itu Rasanya Aneh Sekali

Selain itu, apa ya, sampeyan yakin setelah lulus—dengan cepat—nanti, keberadaan sampeyan langsung bermanfaat bagi masyarakat? Ya, mohon maaf nih, Ang. Takutnya kan ilmu-ilmu pengetahuan yang begitu banyaknya dari kuliah 3,5 tahun ini, masih belum cukup lentur untuk langsung diaplikasikan ke masyarakat. Jadi, kegiatan organisasi yang sampeyan ikuti itu, sebetulnya diperlukan dan menjadi solusi untuk melenturkan keilmuan yang sampeyan dapatkan tersebut. Eman-eman loh kalau ilmu selama 7 semester terlupa begitu saja dan hanya berakhir dalam makalah dan angka~

Toh menambah 6 bulan lagi sebagai mahasiswa, sebetulnya nggak lama-lama amat, kok. Dengan memperlama waktu sampeyan sedikiiiit saja sebagai mahasiswa yang haus akan ilmu dan pengetahuan, Insyaallah sampeyan bakal punya modal lain yang lebih mumpuni ketika menjadi sarjana nanti. Bukan sekadar sarjana yang bermodal ijazah dan belarian ke sana ke mari menjajakan ijazahnya. Namun sampeyan juga berkesempatan untuk menjual softskills yang sampeyan miliki yang didapatkan selama ikut organisasi.

Ya kalau pun ternyata softskills tambahan ini nggak membangga-banggakan amat, setidaknya kan pengalaman tersebut bisa memperpanjang sedikit Curriculum Vitae (CV) sampeyan. Jadi, kalau lagi ngelamar pekerjaan, CV sampeyan nggak kelihatan kosong dan sepi pengalaman lah—yang berpotensi untuk tidak terlihat menarik di depan perekrut kerja. Nah, kalau kayak gini, gimana bisa keterima kerja kalau dari CV-nya saja, belum cukup mengundang.

Ehmmm, tapi kalau memang sampeyan nggak pengin kerja di orang lain dan berkeinginan untuk bikin usaha sendiri, jadi nggak butuh CV. Atau ternyata sampeyan ini nggak suka riya dengan menuliskan pengalaman semacam itu di CV. Ya, nggak apa-apa. Tenang saja, tak perlu merasa rugi memperlama sedikit saja masa kuliah untuk ikut organisasi. Bagaimana pun juga, pengalaman organisasi semacam ini, nantinya tetap bisa buat bahan cerita ke anak cucu, kok.

Cerita ke anak cucu itu bukan pamer, loh. Namanya, berbagi ilmu kehidupan. Tolong bedakan.

  • 917
    Shares


Loading...



No more articles