Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Setop Memaklumi Penguasa

Arman Dhani oleh Arman Dhani
19 September 2017
A A
170919 Esai berhenti memaklumi Jokowi untuk penuntasan HAM

170919 Esai berhenti memaklumi Jokowi untuk penuntasan HAM

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pemakluman dan sikap permisif itu mengerikan. Seorang pendukung presiden meminta agar junjungannya jangan ditekan, sekarang sang presiden menurutnya punya banyak musuh; sang presiden baru bisa bicara HAM nanti kalau terpilih di periode kedua. Presiden disandera para jenderal dan politisi yang menolak penuntasan kasus pelanggaran HAM di masa lalu, sehingga ia tak bisa memenuhi janjinya.

Saya menolak percaya hal ini. Logika begini adalah logika kekuasaan; logika yang menganggap bahwa untuk menegakkan keadilan dan menjamin hak asasi manusia, seseorang mesti melakukan kompromi kepada penjahat. Penjahat diberi keleluasaan, ditunggu dan diayomi, dituruti apa maunya supaya mereka mau diadili, sesederhana karena mereka kuat dan berkuasa. Saya tak mau ambil bagian membenarkan nalar ini.

Demokrasi adalah tirani mayoritas. Demokrasi kerap kali tidak bicara siapa yang paling benar, tapi siapa yang paling banyak mengantongi suara. Dari ini kita dibuat percaya bahwa pada praktiknya demokrasi melayani kepentingan orang paling banyak, bukan yang paling butuh.

Seorang teman menyebut bahwa presiden kita sedang melayani kepentingan orang banyak. Negara ini sedang butuh perbaikan infrastruktur, pemerataan dan keadilan ekonomi, dan lapangan pekerjaan yang lebih banyak.

Kawan saya bilang harus ada yang dikorbankan; kita tak bisa mencapai pertumbuhan ekonomi yang baik dengan menjamin supremasi hukum. Kalau ingin proyek infrastruktur baik, pasokan material harus terjamin: semen, aspal, dan lahan. Negara kerap harus menyediakan itu semua, meski dalam usaha itu ia harus mengorbankan banyak orang. Lahan pertanian yang subur dihancurkan untuk pembangunan bandara, gunung kapur penyimpan air harus dihancurkan demi pabrik semen, dan pantai yang baik-baik saja harus dikeruk untuk proyek reklamasi.

Pemakluman dan sikap permisif itu mengerikan.

Pembangunan selalu menghasilkan korban. Mereka yang direbut rumahnya, terancam lingkungannya, dan mereka yang memberontak dipenjara, dipersekusi, lantas dibuat buruk citranya. Saat kita bersuara membela orang-orang ini, dengan data, dengan advokasi, tidak sedikit dari kita yang diancam penjara; Joko Prianto dikriminalisasi dengan tuduhan pemalsuan dokumen, Dandhy Laksono diancam penjara melalui UU ITE karena dianggap menghina mantan kepala negara.

Tapi apakah kita harus berdamai dengan keadaan lantas diam saja?

Presiden jangan dibebani utang penuntasan kejahatan HAM masa lalu. Biarkan dia fokus pemerataan pembangunan. Bukankah saat ini harga BBM merata di seluruh nusantara? Bukankah kita akan memiliki bangunan perpustakaan tertinggi di dunia? Bukankah proyek-proyek infrastruktur yang dulu mangkrak satu per satu dituntaskan pemerintah.

Pemakluman dan sikap permisif itu sungguh mengerikan.

Pakde, begitu para pendukungnya memanggil, merasa bahwa ia perlu dijauhkan dari janjinya sendiri, komitmen yang ia ucapkan saat kampanye.

Para pendukung Pakde menyebut tak elok ngotot memintanya menegakkan HAM. Orang yang bijak harus fokus memandang ke depan, agar bisa maju, masa lalu sebaiknya dilupakan saja. Terlalu banyak orang yang berkuasa terlibat kasus pelanggaran HAM di masa lalu. Jangan mengekang Pakde.

Mengerikan sekali.

Mungkin para pendukung Pakde itu benar. Tapi tak kuasa hati ini meminta ibu-ibu yang kehilangan anaknya secara misterius, kakek-nenek yang masa mudanya direnggut oleh penjara, dan mereka yang dirampas hak dasarnya, untuk tak menuntut keadilan.

Iklan

Para pendukung Pakde merasa yang terpenting saat ini adalah menjamin beliau terpilih kembali. Ini momen penting di mana orang sipil bisa memimpin. Seolah-olah presiden ketiga, keempat, dan kelima berasal dari kalangan pedagang dan kolektor bedil.

Mereka lupa bahwa yang membuat presiden keempat kita jadi istimewa, jadi diingat, dan jadi sosok penting karena ia memegang janji, berkomitmen pada kemanusiaan serta anti kompromi.

“Tapi bukankah ia akhirnya digulingkan?” kata mereka.

Benar ia digulingkan dari kekuasaannya. Benar, ia terjungkal. Tapi kita tahu bahwa ia membawa perubahan; orang Tionghoa tak lagi perlu sembunyi-sembunyi menjalankan keyakinannya, dan mereka yang ditindas bisa sekali lagi merasakan harapan.

Kita tidak sedang berdiskusi dengan rampok yang menyandera rumah, kita sedang bicara tentang pemimpin tertinggi negara yang memiliki akses kekuasaan untuk memenuhi janji-janjinya. Tentu kita boleh mengalah, tapi ia adalah pilihan terakhir; bukan satu-satunya pilihan.

Jika pemimpin tak mengeksplorasi pilihan dan langsung memilih menyerah sebelum bertindak, ia sebenarnya sedang jadi pengecut. Mutu seorang pemimpin tidak hanya diuji ketika dia memiliki kekuasaan absolut, tetapi juga pada saat ia tak punya kekuasaan tetapi berani bertindak benar.

Kalau kalian mau memberikan sikap maklum, permisif, dan berpikir bahwa pemerintah harus mengalah dengan para penjahat kemanusiaan, silakan. Tapi saya pikir kita tidak bisa berunding dengan para bramacorah untuk perkara keadilan.

Pemakluman dan sikap permisif itu berbahaya. Sungguh berbahaya.

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2021 oleh

Tags: HamPara Jenderal Pelanggar HAMPelanggaran HAM
Arman Dhani

Arman Dhani

Arman Dhani masih berusaha jadi penulis. Saat ini bisa ditemui di IG @armndhani dan Twitter @arman_dhani. Sesekali, racauan, juga kegelisahannya, bisa ditemukan di https://medium.com/@arman-dhani

Artikel Terkait

Alasan Soeharto tak layak dapat gelar pahlawan, referensi dari buku Mereka Hilang Tak Kembali. MOJOK.CO
Aktual

Buku “Mereka Hilang Tak Kembali”, Menyegarkan Ingatan bahwa Soeharto Tak Pantas Dapat Gelar Pahlawan, tapi Harus Diadili

1 November 2025
pam swakarsa, militer.MOJOK.CO
Mendalam

Riwayat Pam Swakarsa, Tukang Gebuk Bayaran Tentara yang Berupaya Dihidupkan Kembali. Ancaman Serius bagi Demokrasi

5 September 2025
Belajar Bahasa Inggris Cocok untuk Atlet Brain Rot kayak Kamu MOJOK.CO
Esai

Belajar Bahasa Inggris Adalah Tahap Awal untuk Memanusiakan Diri bagi Atlet Brain Rot seperti Saya

10 Juni 2025
Festival Ham 2024
Kilas

Festival HAM 2024 Bukan Sekadar Selebrasi, Buah Manis 10 Tahun Upaya Menciptakan Ruang Aman dan Inklusif di Daerah

29 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Salah kaprah pada orang yang kerja di Surabaya. Dikira gaji besar dan biaya hidup murah MOJOK.CO

Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan

4 Februari 2026
Film "Surat untuk Masa Mudaku" tayang di Netflix. MOJOK.CO

Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi

5 Februari 2026
Derita punya pasangan hidup sandwich generation apalagi bonus mertua toxic MOJOK.CO

Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia

5 Februari 2026
Sarjana pegasuh anak, panti asuhan Muhammadiyah di Surabaya. MOJOK.CO

Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

5 Februari 2026
Krian Sidoarjo dicap bobrok, padahal nyaman ditinggali karena banyak industri serap kerja dan biaya hidup yang masuk akal MOJOK.CO

Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

5 Februari 2026
blok m jakarta selatan.mojok.co

Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign

5 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.