Baca cerita sebelumnya di sini.

Langkah kaki itu semakin dekat. Tak hanya langkah seseorang, namun terdengar seakan ada beberapa orang lain. Aku mulai bersiap. Suara langkah kaki tadi kian mendekat, dadaku pun semakin berdebar lantaran gugup. Akhirnya, pintu periksa dibuka dan masuklah tiga orang: dua polisi dan seorang berpakaian biru dongker dengan borgol yang mengikat tangannya.

Perlahan dia duduk di kursi depanku. Tangannya yang terborgol ditaruhnya di atas meja yang menjadi perantara kami berdua. Matanya yang sedikit memerah itu memandangku dengan tatapan kosong. Aku melihat ada yang hampa di sana. Wajah sesungguhnya tampan, hanya saja saat ini terlihat demikian kacau. Brewok dan jambangnya mulai melebat. Rambutnya acak-acakkan. Selepas memandangku sekilas, ia lebih banyak menundukkan kepala.

“Selamat siang, Pak Aran. Perkenalkan, saya Tribhuwana Wijayatunggadewi Jayawisnuwardhani. Saya pembela Anda di persidangan nanti,” aku mengulurkan tangan.

“Betapa beruntungnya saya, pengacara saya langsung dikirim dari Majapahit,” sergah Aran sembari tersenyum tipis.

Mendengar ucapannya aku tergagap. Ah, dia ternyata paham bahwa namaku menyilih nama ratu kerajaan Majapahit.

“Ya, begitulah kiranya. Itulah nama yang diberikan ibu saya,” ucapku sambil lalu.

Aran kembali menunduk. Dia seolah tak terlalu menginginkan perbincangan ini. Tapi itu tak jadi soal. Aku harus menggali informasi tentang dirinya dan mendiang istrinya. Tugasku adalah meringankan tuntutan jaksa nanti. Jadi, informasi darinyalah kunci keberhasilan tugasku nanti.

“Pak Aran, saya ingin bertanya guna melengkapi catatan saya. Apa Anda bersedia?” Aku mengawasinya dengan saksama.

Aran memandangku dengan tatapan yang tak bisa diterka.

“Saya malahan berpikir, untuk apa saya dibela? Kan saya sudah bersalah, dan memanglah bersalah,” Aran menjawab dengan malas.

“Bukan begitu. Berdasarkan hukum di negara kita, meski bersalah, tetaplah ada pendampingan. Anda tentu mengerti maksud saya kan, Pak?” Aku berusaha meyakinkan Aran.

Seringai di bibirnya terlihat, tapi ia masih terlihat begitu enggan. Matanya hanya menatap kedua tangannya yang diborgol. Rahangnya terkatup rapat. Aku melirik ke seorang polisi yang berjaga di pintu, kuberikan kode untuk bersabar. Sejak melakukan laporan tentang pembunuhan istrinya, mental Aran memang terguncang. Penyidik sudah memberitahukan hal itu kepadaku saat kali pertama aku ditunjuk sebagai pembelanya.

“Pak Aran,” aku mencondongkan tubuhku, “apakah bapak sengaja membunuh Ibu Sonya?”

Mendengar pertanyaanku, Aran bereaksi. Dia segera menegakkan punggungnya. Wajahnya terlihat sangat marah.

“Saya sangat mencintainya! Saya tak pernah berpikir akan menghabisinya. Pertanyaan tolol macam apa itu?!” Aran berdiri dari duduknya.

Melihat dia bereaksi sekeras itu, petugas polisi yang sejak tadi berjaga segera menenangkannya. Aku segera mencatat di buku catatan bahwa ia tak memiliki kesengajaan untuk menghabisi nyawa istrinya.

“Baiklah, Pak Aran. Baiklah. Saya percaya jika Anda tentu tak memiliki keinginan untuk menghabisi Ibu Sonya. Saya pun berkeyakinan seperti itu saat mendengar cerita dari penyidik. Tetapi, saya juga ingin bertanya hal lain.” Aku memberi jeda sebentar untuk melihat reaksi Aran dan memastikan dia sudah terlihat tenang kembali.

Lalu sambungku, “Apa motivasi Anda menyimpan jasad Bu Sonya di lemari pendingin?”

Aran kembali terdiam. Dia terlihat terpekur memandangi meja di hadapannya. Napasnya terdengar berat. Melihatnya, aku iba. Dalam beberapa kasus yang aku tangani, baru kali ini aku melihat seorang pembunuh menjadi sehancur ini.

Baca juga:  SEBELUM HARI H: SEBUAH FILM PENDEK

“Saya… Saya mengira bahwa Sonya bercanda saat tak sadarkan diri. Di beberapa kesempatan, ia kerap bercanda seperti itu. Pura-pura pingsan,” ujar Aran perlahan.

“Saya memang mencekiknya ketika kami bertengkar, saya tekan lehernya, tapi tidak terlalu kuat. Saat itu dia terlihat lemas, tapi saya kira dia hanya berpura-pura, maka saya ambil satu bantal tidur dan membekapnya sebentar untuk sekadar menakut-nakutinya.”

“Lantas, apa yang terjadi selanjutnya?” Aku kembali mencatat apa yang dikatakan Aran.

“Dia tak sadarkan diri. Saya kira dia hanya pingsan, maka saya tidurkan di ranjang. Tapi mendekati tengah malam, tubuh Sonya berubah pucat membiru. Di situlah saya tahu, bahwa ia telah meninggal. Saya sangat kebingungan.”

Aku memberikan Aran waktu untuk menenangkan diri, sebelum aku bertanya lagi motivasinya memasukkan jenazah istrinya ke lemari pendingin.

“Sonya terlihat masih cantik. Dia sangat merawat dirinya. Jadi saya pikir, sebelum saya melaporkan ke kantor polisi, akan lebih baik jika dia saya simpan di lemari pendingin. Agar kecantikannya tidak rusak, seperti selama ini yang dia lakukan.”

Mendengar penuturan Aran, aku tak bisa berkata-kata. Cinta macam apa yang sedang mereka jalani? Betapa rumit cinta yang sedang mereka sedang tempuh! Terbunuh di atas cemburu kekasih yang sejatinya setia. Membunuh kekasihnya sendiri yang sesungguhnya peduli. Untuk sesaat, aku tak tahu apa yang ingin aku tanyakan dan katakan. Kupandangi saja laki-laki di depanku itu. Matanya nyalang memandang tembok pucat yang mengungkung kami.

Ia tampak rapuh dan terluka. Rasa bersalah seolah menjadi ombak yang melamun kepalanya. Aku sudah melihat foto mendiang istrinya. Wanita muda yang cantik dengan tatapan mata yang penuh percaya diri. Seorang yang sedang naik kariernya. Masa depan yang teramat baik sudah menantinya di depan, tapi sayangnya ia harus terhenti di tangan suaminya sendiri.

“Pak Aran, apakah Anda berkenan menceritakan latar belakang Anda dan Bu Sonya?” Dengan hati-hati, aku bertanya, khawatir jika reaksi klienku ini seperti tadi.

“Saya butuh sketch book dan pensil,” jawab Aran datar.

Segera, aku meminta tolong petugas polisi yang sedang berjaga untuk membantu membelikan apa yang diminta Aran. Tak lama setelahnya, seorang polisi muda sudah kembali membawa sebuah sketch book dan pensil. Tanpa banyak berkata-kata, Aran mulai menggambar. Tapi, tangannya yang diborgol membuatnya tak leluasa.

“Maaf, bisakah borgol di tangannya dilepas? Saya yang akan tanggung.”

Seorang polisi segera melepas borgol yang membelenggu tangan Aran. Aran kini lebih leluasa menggambar.

Hening. Yang terdengar hanya coretan-coretan tangan Aran. Aku sendiri tahu bahwa selain bekerja di sebuah bank swasta, Aran juga seorang komikus lepas. Ia mahir menggambar, dengan gerakan yang cukup cepat.

Dia menggambar sebuah pohon besar yang terlihat sangat rindang, kemudian sebuah kolam besar dan aliran sungai di sisi lain. Seorang laki-laki digambarkan bersembunyi di balik pohon. Di sisi kolam, dia menggambarkan seorang perempuan berambut agak panjang sedang mencuci baju.

“Oh, cerita Joko Tarub!” celetukku saat melihat gambar itu.

“Bukan! Ini pertemuan pertama saya dengan Sonya. Dia sedang mencuci baju di sendhang. Saya melihatnya dan mulai tertarik dengannya,” sahut Aran menjelaskan gambarnya. Senyum tergambar di bibirnya. Mungkin dia sedang mengingat pertemuan pertama kali dengan istrinya.

Baca juga:  Kereta Ekonomi: Pemersatu Hati yang Rindu, Pemisah Hati yang Tak Ingin Terpisah

Aran kemudian menggambar adegan lain. Di sebuah peron stasiun kereta. Di gambar berikutnya, mulai muncul gambar-gambar figur lain.

Seorang laki-laki lain mulai dia gambar. Saat menggambar sosok ini, wajahnya berubah dingin. Matanya menyipit seolah membenci sosok tersebut.

“Dia ini Adimas Hardoyo, kawan baik istri saya. Tapi dia seperti lintah. Suka menempel ke mana saja jika Sonya pergi,” ujar Aran sembari menambahkan dua pasang tanduk di kepala figur yang disebut Adimas Hardoyo.

“Anda sangat cemburu dengannya?” tanyaku selepas membaca laporan yang kubawa.

“Dia ingin merebut Sonya!” Mata Aran melotot.

Aku mengangguk-angguk mendengar ucapannya.

Lalu Aran mulai menggambar gambar lain. Kali ini, coretannya lebih cepat. Dia seperti menahan marah. Dia menggambar seorang anak kecil laki-laki, seorang perempuan, dan seorang laki-laki dewasa. Aku yakin itu bukan mengenai dirinya dan Sonya karena, dari informasi yang kudapat, mereka belum memiliki anak.

“Mereka ibu dan ayah saya. Mereka gemar bertengkar di depan saya,” terang Aran dengan nada datar.

Aran mulai menggambar lagi. Kali ini, seorang laki-laki lain muncul, dia menambahkan dua tanduk di kepala figur itu, seperti saat menggambar Adimas Hardoyo. Di gambar itu, dia menggambar sosok ibu bergandengan tangan dengan laki-laki bertanduk dan meninggalkan dia serta si sosok ayah.

Aku memijit kening saat melihat gambar itu. Polisi yang turut berjaga sampai mengerutkan dahi.

“Ibu saya pergi dengan laki-laki lain. Dia meninggalkan ayah dan saya.”

Aran kemudian menggambar anak kecil yang duduk di meja makan sendirian, sedangkan di sudut lain, ayahnya duduk di lantai sembari menunduk.

“Ayah saya depresi berat. Saya merasa sendirian,” terangnya lagi.

Aku memejamkan mata mendengar penjelasannya. Masa lalu seperti apa yang dia punya?

Pensil Aran menari lagi. Dia menggambar tangga rumah. Dirinya yang berdiri di sudut bawah tangga mendongak ke atas. Ayahnya terlihat menggantung di sela-sela teralis pegangan tangga paling atas.

Astaga, aku kehilangan kata-kata.

“Ayah saya memilih menyerah daripada melihat ibu saya dengan laki-laki lain.” Aran berhenti menggambar.

“Saya tak ingin seperti ayah, jadi saya sangat menjaga  Sonya agar dia tak pernah pergi dari diri saya. Tapi, tololnya saya, sayalah yang membuat dia pergi!”

Aran menelungkupkan kepalanya di atas meja. Tangisnya terdengar. Aku tak bisa berucap sepatah kata pun. Tapi, kutuliskan di catatanku apa yang melatari dia kerap bersikap cemburu berlebihan hingga melahirkan KDRT di rumah tangganya: masa lalu yang kelam, keluarga yang tak harmonis, kematian ayahnya yang tragis, dan ketakutan ditinggalkan istri yang sangat dia kagumi.

“Saya sangat berdosa. Saya sangat menyesal dengan apa yang saya perbuat,” ucap Aran perlahan sembari memandangku dengan tatapannya yang suram. “Bolehkah saya bertanya sesuatu, Bu Tribhuwana?”

“Silakan bertanya,” aku mengangguk.

Senyap. Aran terdiam dan memejamkan mata sebelum bertanya.

“Bisakah saya memutar waktu untuk kembali masa lalu? Saya ingin menghidupkan Sonya kembali.”

Pertanyaan itu diucapkan Aran begitu saja. Lepas, namun begitu ketara ada permintaan di sana. Aku menjawab “tak bisa”, meski aku sendiri sesungguhnya memiliki pertayaan yang sama dengannya.

Bisakah waktu diputar kembali? Bisakah?

Baca cerita berikutnya di sini.



Loading...



No more articles