Baca cerita sebelumnya di sini.

Aku berharap ini hanya mimpi, mungkin April Mop atau prank dari Sonya. Dia memang suka menjahiliku. Tapi please, ini tidak lucu, Sonya.

Sudah beberapa pesan dan panggilanku tidak dijawabnya. Terakhir, aku bertanya tentang narasumber untuk acara minggu depan, dan dia bilang akan membahasnya di kantor saja. Aku mulai cemas. Aku hafal kebiasaannya: jika dia bilang seperti itu, dia pasti sedang bertengkar dengan suaminya.

Darahku selalu mendidih tiap mendengar nama suaminya disebut. Lelaki itu selalu menyakiti Sonya. Aku tidak pernah menyukainya dari dulu.

Aku ingin segera mengetahui kabar Sonya, tapi aku ingat besok dia sudah izin tidak masuk kerja. Baiklah, aku akan bersabar menunggunya masuk dan bercerita. Semoga dia memang tidak apa-apa. Hari itu, kugunakan waktuku untuk menyusun program acara sebulan ke depan. Aku sibuk sampai lupa menghubungi Sonya lagi.

Semalaman aku tidak menyalakan telepon selulerku. Setelah bangun pagi, aku ingin menghubungi Sonya. Belum juga hal itu kulakukan, banyak pesan masuk yang membuat tubuhku membeku.

“Dim, benarkah Sonya dibunuh?”

“Kamu di mana, Dimas? Aku ingin memastikan kabar yang beredar di media sosial itu tidak benar.

“Mas Adimaaass, tolong angkat teleponku. Aku sudah di depan rumahmu dari subuh tadi.

Pesan terakhir datang dari Rilla. Dia adalah sahabat perempuan Sonya yang paling kukenal. Aku menguatkan diri untuk membuka pintu. Ternyata Rilla masih di depan rumahku. Dia duduk sambil terisak.

“Rilla?”

Rilla langsung berdiri memelukku, tangisnya semakin pecah.

“Mbak Sonya, Mas. Mbak Sonya…”

“Tenangkan dirimu. Kita sama-sama pergi ke rumahnya, ya,”

Kami berdua pergi ke sana. Sebenarnya, diriku tidak kuat menyetir, tapi aku harus menenangkan Rilla. Aku bahkan tidak sempat bertanya kapan dia datang ke sini! Tempat tinggalnya dari kota ini saja sejauh lima jam perjalanan, pasti dia capek sekali. Dan, dari mana pula dia mendapat kabar itu?

Rumah Sonya sudah penuh dengan orang-orang yang ingin memastikan kabar itu. Banyak wartawan juga di sana. Garis polisi sudah terpasang. Aku dan Rilla kesulitan mendekat ke rumahnya. Kami sempat mendengar percakapan beberapa orang di situ.

“Suami macam apa yang tega membunuh istrinya sendiri, masukin jenazahnya ke kulkas!”

“Kasihan Mbak Sonya. Dia orang yang menyenangkan tapi bernasib tragis.”

Aku tak bisa menahan diriku ketika melihat petugas membawa jenazah Sonya untuk diautopsi. Aku meneriakkan namanya dan ingin menghambur memeluknya, tapi Rilla dan beberapa orang mencegahku. Aku hanya bisa menatap mobil jenazah yang menjauh meninggalkan rumahnya. Rilla memelukku.

Aku limbung. Di mana si brengsek itu? Aku ingin menghabisinya saat itu juga.

***

Kalian harus tahu kenapa aku sangat membenci Aran. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menjaga Sonya dari lelaki brengsek manapun di dunia ini. Aku sudah tidak tahan dia disakiti oleh kekasihnya dahulu, Bayun. Aku tidak ingin dia jatuh ke lelaki yang salah lagi.

Aran adalah orang yang sangat obsesif untuk memiliki Sonya. Caranya mengejar Sonya pada awalnya sempat membuat Sonya tak nyaman, sampai aku harus mengawalnya. Ketidaksetujuanku akan hubungan mereka bertambah ketika aku minta Rilla untuk menjelaskan siapa Aran.

Sonya pernah cerita kalau Aran ini tetangganya Rilla. Menurut penuturan Rilla, Aran adalah seorang pegawai bank dan juga komikus lepas (jadi, komikus dengan nama Aranz yang sok misterius itu orang ini?). Dia berasal dari keluarga yang tidak harmonis. Ibunya meninggalkan ia dan ayahnya yang akhirnya mati gantung diri.

Bukannya aku tidak simpati, tapi aku takut dia melakukan hal yang sama pada Sonya.

“Dim, aku mau menikah,” kata Sonya suatu hari. Tiba-tiba.

Aku yang berada di depan monitor komputer kantor melongok, “Kamu yakin?”

Absolutely, yes. Dia mencintaiku, aku mencintainya. Tidak ada alasan bagiku untuk menolaknya”

Banyak hal yang ingin kukatakan padanya. Aran mungkin mencintainya. Lagi pula, ia memang mengejar Sonya—berbeda dengan hubungan Sonya yang dulu, di mana Sonya-lah yang mengejar Bayun. Bayun bahkan mungkin tidak pernah menganggap Sonya ada karena dia tidak mencintai Sonya.

Aran mencintai Sonya, tapi cintanya sungguh overdosis. Aran sangat pencemburu dan over protective. Ini tidak baik untuk perkawanan kami. Aku dan Sonya adalah partner yang tak terpisahkan. Kami bekerja di sebuah balai budaya yang dinaungi yayasan budaya, yang juga menaungi tiga balai budaya lain di kota berbeda. Ini impian kami sejak dulu: bekerja di bidang seni budaya dan sastra, tapi tetap mendapat gaji yang lumayan.

Baca juga:  Film Patah Hati Wajib Tonton Sebelum Kamu Terkena Quarter Life Syndrome

Pada dasarnya, aku dan Sonya tidak mungkin berpisah karena kami partner yang solid dalam membuat program. Kalau kami punya pasangan, idealnya bukan seseorang yang pencemburu. Tapi, demi melihat binar mata Sonya hari itu, aku tidak kuasa mengatakannya. Aku memeluknya dan memberinya selamat. Aku juga yang menemaninya membeli seserahan untuk lamarannya, menjadi panitia di hari pernikahannya. Aku akan melakukan apapun demi kebahagiaan Sonya. Apalagi akhirnya, dia merasa dicintai, tidak seperti beberapa saat lalu, saat tidak ada kehidupan yang kulihat di matanya. Suwung.

Sonya adalah tipe perempuan yang sulit mencintai dan sulit melupakan. Aku masih ingat ketika malam itu dia mengirimiku pesan. Dia bercerita baru saja bertemu dengan laki-laki. Laki-laki itu naik motor dari kota tetangga dan menemuinya di kantor, mengaku sebagai pembaca tulisan Sonya. Aku sedang ke luar kota waktu itu.

“Aku tadi mengajaknya jalan-jalan. Makan mie ayam, ke Taman Hiburan Rakyat. Ah, kau tahu, kan, sebentar lagi tempat itu mau dirobohkan pemerintah kota? Aku ingin dia melihat pendhapa-nya sebelum dirobohkan. Lalu kami muter-muter, mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Dan kau tahu? Sepertinya aku jatuh hati padanya.”

Aku kaget membaca pesannya “Kamu waras, kan, Son? Baru bertemu satu kali dan kamu bilang kamu jatuh cinta? Ah, kamu pasti sedang berkhayal. Aku tahu sifatmu. Kamu tidak mudah jatuh cinta.”

“Aku juga heran, Dim. Ini anomali. Tapi, entahlah. Dia mengingatkanku pada Mbah Kung dan Bapak. Kamu mungkin juga akan tertawa jika kubilang bahwa yang membuatku jatuh cinta adalah aroma tembakau, cengkih, dan juga klobot yang berasal dari tubuhnya. Itu aroma rindu, Dim. Aku langsung ingat pabrik rokok Mbah Kung yang sekarang dipegang Paklil. Aku juga ingat aroma kulit jagung ketika ikut Bapak ke sawah semasa kecilku dulu. Ah, anak kota sepertimu mana paham?”

Ah, Sonya, sepertinya kamu terlalu meromantisasi suasana.

“Siapa nama lelaki itu?”

“Samudraning Pambayun. Panggil saja dia Bayun.”

***

Aku mencari namanya di media sosial. Samudraning Pambayun. Ketua Kofimu, Komunitas Filolog Muda. Sejak mengenal Bayun, Sonya semakin sering mengerjakan transliterasi naskah. Kadang aku bertanya naskah apa yang dia kerjakan. Kemarin dia mengerjakan naskah Serat Katuranggan.

“Ini serat tentang bagaimana cara merawat dan memilih kuda yang baik, Dim. Terdiri dari 7 naskah. Anonim. Memang tidak ada pengarangnya karena biasanya dipersembahkan untuk raja. Sayang, ada halaman yang hilang.”

Lain waktu dia menjelaskan tentang serat yang lain. “Kalau ini, Suluk Sakaratul Maut. Bercerita tentang proses mendekati ajal dan pengetahuan akan kematian. Ah, aku nanti gimana matinya ya, Dim? Pernah nggak kamu memikirkan bagaimana caranya kamu mati?” Sonya menatapku dengan serius. Aku melemparnya dengan buku. Aku paling tidak suka topik tentang kematian.

“Sudahlah, mending besok kamu persiapkan diri untuk pulang ke rumah Mbah Kungmu. Kamu harus menyelesaikan esaimu, Son. Diskusi tentang kretek tinggal menghitung hari. Jangan lupa kewajibanmu,” aku mengingatkan Sonya agar tak terlalu capek membantu Bayun. Memang, dia tidak pernah mengabaikan pekerjaannya, tapi kulihat energinya habis untuk menyenangkan Bayun.

Sonya memang bisa membaca naskah kuna, tapi sebenarnya konsentrasi dia, kan, bukan di situ. Apa itu bukan cinta namanya? Melakukan apa pun untuk menyenangkan orang yang dicintainya. bahkan puisi-puisi Sonya di bukunya juga dipersembahkan untuk Bayun.

Sonya memang perempuan cerdas. Aku membaca esai yang akan didiskusikan minggu depan. Dia menulis tentang bisnis keluarganya yang masih melestarikan rokok klobot. Rokok klobot merk Sinuwun memang legendaris. Konsumen setianya adalah nelayan ujung pulau, rata-rata merupakan nelayan tua. Aku baru tahu kalau ternyata alasan loyalitas mereka adalah karena klobot tahan akan air laut. Sonya juga menyoroti tentang pekerja perempuan yang mengabdikan diri sebagai buruh sampai mereka sendiri minta pensiun atau meninggal.

“Tugasku riset ke Kota Kretek sudah selesai kan, Dim? Aku besok izin ke tempat Bayun, ya? Ada acara di sana. Aku membawakan banyak rokok klobot buatnya. Dia itu aneh loh, Dim. Rasa klobot itu tidak lazim untuk bibir anak muda, tapi kok dia suka, ya?”

Baca juga:  Kepercayaan yang Hilang Perlahan-lahan Laksana Asap

“Pasti itu yang membuatmu semakin mencintainya, ya? Ya sudah pulanglah, istirahat. Kamu tidak mau menemuinya dalam keadaan kucel, kan?”

“Hahaha. Siap, Bos!”

Dalam keadaan capek begitu saja, dia masih semangat membantu Bayun. Aku sering berpikir kalau sebenarnya Bayun hanya memanfaatkan Sonya. Bayangkan, tiap ada acara di kota tempat tinggal Bayun, Sonya pasti ke sana. Naik kereta. Tapi ketika ada acara di sini, aku tidak pernah melihat batang hidungnya Bayun!

Tapi, Sonya selalu membelanya. Bahkan ketika Bayun telat menjemputnya di stasiun pun, dia masih membelanya. Padahal, Sonya itu tipe perempuan yang tidak suka menunggu lama dan benci dengan orang yang tidak komitmen dengan janji. Tapi, tiga jam menunggu, Sonya tidak marah juga.

Ugh! Kamu itu cerdas, Sonya, tapi selalu bodoh ketika bertemu dengan yang namanya cinta.

“Dia bilang nyaman denganku, kok, Dim,” katanya suatu hari ketika aku mulai protes. Aku protes karena Sonya sakit. Dia tidak bisa kena air hujan dan dia memilih hujan-hujanan dengan Bayun.

“Ya ampun, Sonyaruri. Kamu sadar nggak, sih, kalau itu racun? Perasaan nyaman itu memang lebih berbahaya dari rasa cinta itu sendiri. Kamu sadar nggak, sih, kalau kamu dibohongi?”

Aku baru sadar kalau sedang berhadapan dengan orang yang dimabuk cinta. Bukankah sia-sia menasehati orang yang jatuh cinta atau patah hati? Mereka bisa tiba-tiba bebal. Malah, kulihat hubungan mereka semakin dekat dan aku tidak bisa protes.

Namun begitu, aku sahabat Sonya sejak dulu. Feeling-ku jarang meleset. Suatu hari, lelaki itu mengunggah foto pernikahannya dengan perempuan lain. Sonya seperti burung yang terluka sayapnya. Dia lebih memilih mati daripada tidak bisa terbang.

“Harga diri burung itu ada di sayap, Dim. Bagaimana aku bisa hidup tanpa sayap?”

“Tapi kamu masih bisa berjalan, kan, Son? Mungkin kamu bukan burung yang bisa terbang, tapi kamu masih punya kaki. Kamu masih makhluk Tuhan.”

Sonya melempar gelas yang dipegangnya. Aku hanya bisa menyaksikan gelas itu pecah berkeping-keping. Mungkin dia ingin menunjukkan begitulah keadaan hatinya.

“Aku akan membersihkan pecahan gelas itu, Son, atau orang lain akan celaka karenanya. Orang bisa terluka karena pecahan itu. Begitu pula hatimu. Hatimu boleh hancur, tapi jangan sampai membuat orang lain terluka juga.”

Sonya makin meledakkan tangisnya.

“Kamu tahu, Dim? Terakhir aku bertemu dengannya di forum? Aku membawakannya rokok klobot kesukaannya. Tebak, apa katanya? Dia bilang, dia ingin hidup sehat. Dia tidak mau merokok lagi. Dia berkata seperti itu di hadapan teman-temannya. Aku merasa hina sekali, Dim, seakan-akan akulah yang membuatnya rusak.

“Padahal, dia yang memintaku untuk membawakan klobot ketika aku pulang kampung. Aku tidak masalah, kok, kalau dia ingin berhenti. Tapi itu, kan, kebiasaan, Dim. Aku bahkan tidak bisa mengubah kebiasaannya yang lain yang lebih menjengkelkan orang lain daripada merokok. Lantas, siapa lagi yang bisa mengubahnya kalau bukan perempuan lain, dan dia mencintainya? Apalagi yang membuat seseorang mau melakukan apa pun kalau bukan cinta, Dim?

“Aku tertolak. Sebegitu tidak diinginkannya diriku. Dia ingin menghapus jejakku dengannya. Bukankah yang membuat aku jatuh cinta dengannya adalah aroma tembakau dan klobot darinya?”

Aku memegang bahu Sonya. Memang, akan ada orang yang tidak tahu cara memutus hubungan dengan orang lain selain membuatnya membencinya. Aku tidak suka orang-orang seperti ini. Tidakkah lebih enak kalau mengajak ngobrol baik-baik?

“Luka memang akan mendewasakanmu, Son. Tapi, terluka berkali-kali oleh orang yang sama itu namanya penyiksaan. Tinggalkanlah. Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik lagi,” hiburku. Aku memeluknya lama sekali.

Dengan masa lalu Sonya yang seperti itu, wajar saja aku meragukan rencananya untuk menikah dengan Aran. Bukankah sebelumnya dia sudah mati rasa dengan laki-laki? Dia bahkan perlu tiga tahun untuk melupakan Bayun!

Benarkah dia merasa nyaman dengan kehadiran Aran yang selalu memanjakannya? Sonya memang susah ditebak. Bahkan kematiannya juga susah ditebak. Aku masih ingat kata-katanya tentang bagaimana cara kita mati.

Son, aku tidak peduli bagaimana caraku mati.

Aku lebih tertarik menentukan bagaimana cara suamimu mati.

Baca cerita berikutnya di sini.



Tirto.ID
Loading...

No more articles