• 10
    Shares

MOJOK.CO Mojok Institute mendata jenis-jenis latah yang paling umum agar kamu memahami “penderitaan” kami, para orang latah, dan nggak cuma bisa ketawa-ketiwi begitu.

Dikagetin sampai latah adalah hal yang kerap kali ditertawakan. Manusia-manusia latahan harus rela menjadi alasan kawan-kawannya bikin lelucon lantaran sikapnya yang memang lucu setelah dikejutkan mendadak.

Padahal nih ya, FYI aja, orang latah juga capek keleus dikit-dikit kaget dan dikit-dikit diketawain. Maksud saya, memangnya kami pengin latah, gitu, dari lahir??? Memangnya kami cita-citanya dari kecil itu jadi orang latah??? Hmm???

Eh—kami???

Sebelum bahasan ini berisi amarah dan protes mengenai lelucon untuk orang latah, Mojok Institute telah menyodorkan rilis terbaru terkait hal ini. Sebagai media yang mengayomi banyak bidang populer, termasuk bidang kesengsaraan kehidupan, Mojok Institute telah menemukan jenis-jenis latah yang paling umum ditunjukkan oleh para penderitanya. Untuk apa tulisan ini dibuat?

Ya tentu saja biar kamu memahami ‘penderitaan’ kami dan nggak cuma bisa ketawa-ketiwi begitu, lah. Enak aja~

1. “Eh iya, lompat, lompat…”

Jenis latah pertama bernama ekopraksia, yaitu latah yang wujudnya meniru gerakan orang lain. Dibandingkan latah biasa (akan dibahas di poin berikutnya, Gaes, sabar~), latah jenis ini dianggap lebih parah dan bisa membahayakan nyawa.

Ya bayangin aja kalau yang ngagetin ini atlet renang dan dia mengejutkan si orang latah sambil terjun ke dalam air di kolam renang, padahal si orang latah nggak bisa berenang—apa malah nggak berbahaya? Hmm?

Jadi, tolong, kalau ada orang terdekatmu terindikasi ekopraksia, jagalah dia dengan baik. Genggam tangannya. Rangkul Hatinya. Eh.

2. “Dor, dor, dor, eh iya dor…”

Ekolalia adalah jenis latah berikutnya, yaitu latah dengan mengulangi perkataan orang lain. Konon, latah ini terjadi karena indera mata, mulut, dan telinga si penderita mengalami gangguan sehingga sulit dikontrol. Alhasil, ia pun harus rela terpapar kata-kata aneh yang dilemparkan orang-orang di sekelilingnya.

Tapi mbok ya kamu jadi teman agak tahu diri. Nggak perlulah mendekati kawanmu yang latah lalu berkata, “Kamu tahu nggak? Kami… kami… KAMI KHAWATIR!” demi membuatnya tampak meyakinkan sedang berlagak menjadi Neno Warisman yang lagi berdoa. Hadeeeeh~

3. “Eh kata kotor, kata kotor, kata kotor!”

Jenis latah yang satu ini bernama koprolalia dan—bukan, artinya bukanlah bahwa orang-orang bernama Lia disuruh koprol—justru bermakna bahwa orang latah mengucapkan kata-kata yang dianggap tabu dan kotor selepas ia dikagetkan.

Saking epiknya latah jenis ini, banyak sekali yang menjadikannya bahan candaan nomor satu dalam hal ngaget-ngagetin orang latah. Seolah-olah, mendengar kata-kata kotor adalah obat tawa paling ampuh di seluruh dunia, padahal obat nomor satu kan senyummu.

Duh, plis lah, Teman-teman sekalian. Daripada kamu-kamu menertawakan ke-‘bodoh’-an kami, mending setiap kami latah kayak gini tu kamu teriak, “Tiiiiiiiit!” biar kayak bunyi sensor otomatis di televisi!

4. “Masak aer, iya masak aer!”

Latah yang teridentifikasi berikutnya adalah automatic obedience, alias pemenuhan perintah dari orang lain secara spontan. Seseorang bisa saja sedang duduk-duduk di kursi teras, sebelum seorang kawannya datang dan tahu-tahu berteriak, “Beli siomay!”

Namanya juga anak automatic obedience, si orang latah ini pun akan bangkit dan segera pergi untuk membeli siomay, walaupun beberapa detik kemudian ia tersadar sedang dikerjai.

Meski lucu, jenis latah ini juga berbahaya, Teman-teman. Namun, meski berbahaya, jenis latah ini sepertinya bisa kita terapkan pada kekasih hati yang kebetulan latah. Caranya, dekati dia perlahan-lahan, lalu katakan, “Lamar aku!!!”

Hehe, namanya juga usaha~

  • 10
    Shares


Loading...



No more articles