Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Tenang, Gagal SBMPTN Itu Penting dan Perlu

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
12 Juli 2019
A A
pengumuman sbmptn
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ini mungkin bukan motivasi yang paling ingin kamu dengar karena, yah, bagaimanapun, gagal SBMPTN itu tetaplah sebuah kegagalan.

Pengumuman SBMPTN telah dibuka. Berturut-turut, sejak hasilnya resmi diumumkan, ada banyak gembira yang terlihat di media sosial—screenshot nama dan jurusan kuliah yang berhasil didapatkan. Sorak sorai komentar selamat tumpah ruah.

Tapi di sisi lain, ada banyak emoji sedih yang betebaran. Seperti orang-orang yang berhasil, nggak sedikit juga orang-orang yang gagal melihat namanya terdaftar sebagai calon mahasiswa di universitas incaran. Di kelompok ini, jelas, pilu yang menyebar—sekilas mengingatkan kita pada perasaan patah hati gara-gara gebetan tiba-tiba menghilang dan jadian sama orang lain padahal deketnya sama kita bertahun-tahun—kan nyebelin, dasar buaya!!!!1!!!!!11!!!!

Eh, maaf, maaf, saya jadi emosi. Ehm.

Demi membangkitkan hati dan semangat mereka-mereka yang gagal SBMPTN, kalimat motivasi bahkan thread di Twitter pun bermunculan. Rata-rata isinya adalah cerita yang meromantisisasi (iya, yang benar itu “meromantisisasi”, bukan “meromantisasi”!) perjuangan.

Beberapa motivasi dimulai dengan ungkapan semacam, “Gagal SBMPTN itu nggak apa-apa karena kamu bisa daftar Gojek sekarang ini adalah awal kesuksesanmu. Lihat aku—beberapa tahun lalu aku gagal dan sekarang aku bisa sesukses ini. Hehe.”

Tenang, tenang, itu cuma contoh. Nggak usah tersinggung gitu, dong.

Gagal SBMPTN adalah Kegagalan, Mau Apa Pun Alasannya

Banyak sekali orang baik di dunia ini, termasuk mereka-mereka yang nggak lelah menyemangati kita dengan meyakinkan diri bahwa gagal SBMPTN bukanlah akhir dunia dan kita semestinya nggak sedih-sedih amat.

Tapi—hey—akui saja, bagi sebagian dari kita, gagal SBMPTN itu merupakan sesuatu yang SEDIH BANGET.

Nggak semua peserta SBMPTN adalah orang yang baru pertama kali ikut ujian. Bisa jadi, mereka adalah siswa yang sudah lulus tahun lalu dan mencoba peruntungan hanya untuk—sayangnya—gagal kembali. Ini, Saudara-saudara, bisa jadi hal yang jauuuuuh lebih bikin galau ketimbang permasalahan asmara.

Ha gimana nggak; pejuang-pejuang ini kan sudah belajar siang-malam, les  pagi-sore, belajar mati-matian, berdoa, dan salat malam tiap hari—masa masih gagal juga?!

Di zaman saya lulus SMA, ujian masuk yang digelar pertama adalah ujian masuk tiap universitas. Saya ingat betul saya mendaftar ikut UM UGM dan mengincar Jurusan Hubungan Internasional dengan keinginan stadium akhir.

UM UGM gelombang 1, saya gagal. Ujian SNMPTN (serupa dengan SBMPTN zaman sekarang), saya gagal. UM UGM gelombang 2, saya gagal lagi. Pada akhirnya, saya memang nggak masuk UGM sama sekali. Hahaha.

Kegagalan itu, bagi saya, adalah kegagalan beneran—bukan semata-mata “kegagalan sebelum kesuksesan”. Nyatanya, selepas gagal masuk UGM, saya masuk Unpad dan tetap merasakan kegagalan. Kali ini, saya gagal bertahan alias pindah jurusan.

Iklan

Jelas, tidak ada kesuksesan di sana.

Jadi, menurut saya, sih, gagal SBMPTN itu wajar-wajar saja kita sebut sebagai kegagalan beneran. Gagal, yang membuatmu boleh menangis dan mengeluh sebentar.

Gagal—yang bukan semata-mata karena “kayaknya-ini-gara-gara-kita-kurang-mendekatkan-diri-pada-Tuhan”, melainkan gagal yang manusiawi.

Sangat manusiawi.

Gagal Membuatmu Belajar, Bukannya Gagal Belajar

Satu-satunya alasan kenapa saya rasa gagal SBMPTN ini penting dan perlu adalah karena kegagalan mungkin akan jadi satu-satunya cara untuk kita memahami diri sendiri. Pada kasus saya, perlu waktu cukup panjang (dan agak sia-sia sekaligus boros) untuk menemukan apa yang sebenarnya paling ingin saya lakukan.

Setelah gagal UM UGM dan SNMPTN sekaligus gagal menyelesaikan kuliah Sarjana di Unpad, saya memutuskan pindah ke universitas lain dan kembali “ke Jawa” (begitulah bagaimana teman-teman saya di Unpad merujuk pada daerah Jawa Tengah atau Yogyakarta).

Tapi, upaya ini juga nggak mulus-mulus amat: Lagi-lagi, saya gagal di SNMPTN tahun kedua saya. Di saat yang bersamaan, saya merasakan kegagalan lain: dapat nilai E untuk mata kuliah Kimia Organik.

Percayalah, pada titik itu, saya sudah kenyang membaca ulasan soal betapa J.K. Rowling ditolak banyak penerbit sebelum akhirnya berhasil merilis Harry Potter atau betapa Jack Ma gagal masuk universitas sebanyak 10 kali. Maksud saya—yang saya rasakan saat itu cuma keheranan: kenapa saya nggak bisa dapat yang saya mau dengan mudah dan malah disuguhi petuah soal J.K. Rowling???

Tapi, satu hal yang saya syukuri dari kegagalan (dan, tentu saja, kesialan) itu adalah betapa saya jadi tahu bahwa saya ternyata cukup kuat untuk menempuh segala sesuatunya. Lagi pula, kalau dipikir-pikir, teman-teman dan keluarga jelas menjadi kekuatan yang luar biasa. Waktu kita jatuh dan terpuruk karena terlalu sedih, mereka-lah yang bakal duduk dan memegang tangan kita, meyakinkan bahwa sesuatu yang baik sedang menunggu kita di luar sana.

Pilihannya ada pada kita: percaya atau tidak. Berjuang lagi atau mencari jalan lain. Maju atau putar arah.

Saya, waktu itu, memutuskan maju dan ikut ujian masuk universitas lain. Beruntung, saya diterima. Namun begitu, permasalahan hidup masih banyak: saya bisa gagal di beberapa hal selagi kamu gagal SBMPTN (lagi).

Tapi, yah, kadang kita perlu memahami satu hal: hidup memang terbentuk dari banyak kegagalan.

Terakhir diperbarui pada 12 Juli 2019 oleh

Tags: gagal SBMPTNjurusan kuliahMahasiswasnmptnUM UGM
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung MOJOK.CO
Esai

Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung

6 April 2026
Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya MOJOK.CO
Esai

Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya

27 Maret 2026
Ortu dihina karena miskin. Anak kuliah sebagai mahasiswa jurusan Psikologi UIN buktikan lulusan PTN ecek-ecek malah hidup lebih terhormat MOJOK.CO
Edumojok

Ortu Miskin Dihina Saudara Kaya saat Anak Kuliah di UIN, Dicap PTN Ecek-ecek tapi Lulus Punya Karier Lebih Terhormat

25 Maret 2026
Tabungan penting, tapi mahasiswa Jogja yang masih harus irit demi makan kesulitan menabung
Sehari-hari

Tabungan Itu Penting, Tapi Mahasiswa Jogja yang Masih Harus Gali Lubang Tutup Lubang Demi Makan Mana Bisa

10 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO

Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna

6 April 2026
Tinggalkan Jakarta demi punya rumah desa untuk slow living, berujung kena mental karena ulah tetangga MOJOK.CO

Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga

7 April 2026
Innova Reborn: Mobil Keluarga yang Paling Punya Adab (Wikimedia Commons)

Ketika Bapak Semakin Ngotot Membeli Innova Reborn untuk Jadi Mobil Keluarga, Anak-anaknya Khawatir Hidup di Desa Jadi Cibiran Tetangga

4 April 2026
Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)

Orang Tajir Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa karena Menolak Srawung Itu Omong Kosong Kebanyakan Gagal Betah karena Ulahnya Sendiri

7 April 2026
kuliah s2.MOJOK.CO

Penyesalan Lanjut S2 Cuma karena Pelarian dan FOMO: Nganggur dan Dicap Overqualified, Sudah Kerja pun Gaji Setara Lulusan SMA

5 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

7 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.